dr. Adam Prabata: Mengulas Vaksin, Harapan Mempercepat Berakhirnya Pandemi

Indonesia sudah memulai program vaksin COVID-19 Januari 2021 lalu. Program vaksinasi yang baik dan mencapai target akan mempercepat berakhirnya pandemi.

dr. Adam Prabata: Mengulas Vaksin, Harapan Mempercepat Berakhirnya Pandemi

dr. Adam Prabata: Mengulas Vaksin, Harapan Mempercepat Berakhirnya Pandemi

Indonesia sudah memulai program vaksin COVID-19 Januari 2021 lalu. Program vaksinasi yang baik dan mencapai target akan mempercepat berakhirnya pandemi.

Indonesia sudah memulai program vaksin COVID-19, dimulai dengan Presiden Joko Widodo yang mendapatkan vaksin Sinovac dosis pertama dan kedua pada Januari 2021. Sebagian masyarakat menyambut antusias, karena vaksinasi ini menjadi harapan mempercepat berakhirnya pandemi. Namun tak dipungkiri, ada pula sebagian masyarakat yang meragukan bahkan menolak vaksin dalam upaya mengakhiri pandemi. Ada dua hal yang menjadi concern masyarakat yang bersikap ragu-ragu atau menolak. Pertama, karena efikasi vaksin Sinovac yang saat ini diberikan pada masyarakat hanya 65,3%, lebih rendah dari efikasi Pfizer dan Moderna yang 95%. Kedua, semua vaksin COVID-19 yang beredar saat ini belum ada yang sudah selesai uji klinis fase 3. Vaksin yang ada saat ini beredar karena ada izin penggunaan darurat dari hasil analisis interim pada uji klinis fase 3.

Namun sebetulnya, masyarakat tidak perlu khawatir. Karena, syarat izin penggunaan darurat untuk vaksin itu cukup ketat, yang tujuan utamanya adalah keamanan. Jadi, kalau tidak terbukti aman, maka tidak akan muncul izin penggunaan daruratnya. Baru syarat berikutnya adalah efikasi.

Bahkan, kalau sewaktu-waktu terbukti vaksin tidak aman, izin penggunaan darurat bisa ditarik kembali. Kemungkinan vaksin COVID-19 yang beredar sekarang sudah mendapatkan izin yang akan selesai uji klinis fase 3. Artinya, penelitian vaksin-vaksin ini sudah selangkah lebih maju dibandingkan yang lain.

Vaksin yang beredar sekarang aman

Perbedaan efikasi antara vaksin dapat terjadi karena banyak faktor yang secara garis besar dapat dibagi menjadi faktor vaksin, virus, dan manusia. Perbedaan jenis vaksin, contohnya Moderna dan Pfizer yang berisi messenger RNA (mRNA) dengan Sinovac yang berisi vaksin inaktif, tentu berpotensi menyebabkan perbedaan. Vaksin yang berisi mRNA merupakan vaksin yang menggunakan komponen materi genetik yang direkayasa sehingga menyerupai kuman atau virus tertentu. Sementara vaksin inaktif merupakan vaksin yang berisi virus yang telah dilemahkan.

Selain itu, perbedaan efikasi juga disebabkan oleh faktor virus, misalnya strain apa yang ada di suatu negara dan bagaimana penularannya. Kemudian, ada juga faktor manusia, misalnya seperti apa karakteristik orang yang dilibatkan untuk mendapatkan hasil efikasi vaksin tersebut. Bahkan ada studi yang menyatakan kalau vaksin yang sama, diuji klinis di tempat dan waktu yang berbeda, ada potensi efikasinya akan berbeda pula.

Jadi vaksin Pfizer dan Moderna yang terbukti lebih tinggi efikasinya dibandingkan Sinovac, belum tentu angkanya akan 95% juga bila diuji coba di Indonesia. Selain itu, kalau mau benar-benar membandingkan efikasi vaksin yang satu dengan yang lain itu perlu ada penelitian lagi yang berbeda dan tujuannya memang untuk membandingkan efikasi.

Jadi kesimpulannya, vaksin yang efikasinya lebih dari sama dengan 50% dan terbukti aman sebetulnya sudah cukup untuk diberikan pada masyarakat. Bukti efikasi vaksin COVID-19 yang ada sekarang adalah untuk mencegah munculnya COVID-19 bergejala. Program vaksinasi yang baik dan mencapai target orang yang disuntik akan membantu mempercepat berakhirnya pandemi. Sebetulnya tidak bisa ditebak butuh berapa berakhirnya pandemi setelah ada vaksin, karena terlalu banyak faktor yang berpengaruh, mulai dari efektivitas vaksin yang ada, kecepatan produksi, distribusi, dan penyuntikkan vaksin, hingga adanya mutasi virus yang tidak efektif dengan vaksin.

Ini juga menjelaskan mengapa efikasi vaksin di suatu bisa berubah. Mungkin kamu juga mengetahui, belum lama ini efikasi vaksin virus corona di Brazil berubah, dari semula 78% menjadi 50%. Jadi, efikasi ini sebetulnya bukan turun, tapi patokan efikasi yang digunakan berbeda. Efikasi 78% itu untuk mencegah COVID-19 bergejala ringan-berat, sedangkan 50% adalah efikasi untuk pencegahan gejala sangat ringan.

Selain itu, tubuh juga memerlukan waktu untuk pembentukan antibodi. Itu sebabnya, dosis pertama dan dosis kedua membutuhkan rentang 14 hari untuk merangsang antibodi COVID-19 hingga level tertentu. Kemudian, pemberian dosis kedua akan meningkatkan antibodi tersebut. Jadi secara garis besar, dibutuhkan waktu sekitar 28 hari untuk pembentukan antibodi setelah tubuh disuntik vaksin COVID-19.

Jika pandemi sudah berhasil dikontrol, dan jumlah kasus berhasil diturunkan bahkan hingga tidak ada, maka kondisinya akan aman untuk golongan orang yang tidak bisa divaksin untuk beraktivitas seperti biasa.

Yang terbaru, masyarakat juga sempat bingung dengan adanya berita seorang pejabat daerah yang terinfeksi COVID-19 setelah divaksin. Faktanya, vaksin Sinovac yang diberikan pada masyarakat saat ini merupakan vaksin virus inaktif, yakni virus yang tidak punya kemampuan menginfeksi. Jadi vaksin ini tidak dapat menyebabkan seseorang terinfeksi COVID-19. Begitu pula dengan vaksin lainnya yang sudah uji klinis fase 3 seperti AstraZeneca, Pfizer, Moderna, Gamaleya, dan Sinopharm, juga tidak menyebabkan infeksi COVID-19. Jadi, kemungkinan besar orang yang dinyatakan positif COVID-19 setelah divaksin disebabkan karena infeksi tersebut terjadi sebelum vaksin COVID-19 diberikan atau sebelum imunitas penuh terbentuk.

Lantas, ada juga masyarakat yang beranggapan bahwa harga vaksin mempengaruhi kualitas, efektivitas dan efikasinya. Anggapan ini keliru. Efikasi vaksin tidak tercermin dari harganya. Harga setiap vaksin bisa berbeda-beda karena banyak pertimbangan, meliputi bahan penyusun hingga biaya pendukung produksinya.

Mengenal syarat orang yang bisa menerima vaksin COVID-19

Tidak semua orang bisa menerima vaksin COVID-19. Ada sejumlah syarat bagi orang yang bisa menerima vaksin. Beberapa syarat itu antara lain belum pernah terkonfirmasi terinfeksi COVID-19, tidak sedang demam, tidak memiliki tekanan darah di atas 140/90 mmHg, tidak sedang hamil dan menyusui, tidak memiliki gejala ISPA dalam tujuh hari terakhir, tidak memiliki penyakit ginjal, tidak memiliki hipertiroid atau hipotiroid, tidak memiliki penyakit autoimun, tidak memiliki penyakit jantung, dan sebagainya.

Sebetulnya, syarat tersebut muncul karena orang-orang dengan syarat tersebut tidak diikutsertakan dalam uji klinis vaksin fase 3, sehingga keamanan dan efektivitas vaksin jika disuntikkan pada orang-orang tersebut belum diketahui pasti. Sejauh ini tidak diketahui pasti dampak jika vaksin disuntikkan kepada orang-orang yang tidak memenuhi syarat menerima vaksin, karena bukti ilmiahnya belum ada.

Orang yang pernah terinfeksi COVID-19 dan waktu terkena tidak bergejala pun sebetulnya tetap aman bila diberikan vaksin COVID-19. Hanya saja, saat ini mereka bukan prioritas penerima vaksin. Begitu pula dengan orang yang tidak sadar sedang terinfeksi COVID-19 dan tanpa gejala, lalu mendapatkan vaksin, vaksin pun dikatakan relatif aman, namun belum diketahui pasti akan seperti apa efeknya.

Bagi orang yang tidak memenuhi syarat sebagai penerima vaksin, tidak perlu khawatir. Jika pandemi sudah berhasil dikontrol, dan jumlah kasus berhasil diturunkan bahkan hingga tidak ada, seperti di beberapa negara, maka kondisinya akan aman untuk golongan orang yang tidak bisa divaksin untuk beraktivitas seperti biasa.

Vaksin aman untuk lansia

Baru-baru ini, Sinovac mengumumkan bahwa vaksin buatannya aman untuk lansia. Pengumuman ini muncul setelah Sinovac meneliti efek samping pasca vaksin disuntik pada 20% lansia yang disuntik. Hasilnya, ada lansia yang menunjukkan efek samping ringan dan sedang seperti nyeri di lokasi suntik, demam, lelah, dan sakit kepala.

Sehingga, berdasarkan hasil uji klinis fase 1 dan 2, vaksin Sinovac dinyatakan aman dan bisa ditoleransi oleh lansia sehat. Penelitian uji klinis ini dilakukan di China, di mana fase 1 menyertakan lansia usia rata-rata 65,8 tahun dan uji klinis fase 2 menyertakan lansia usia rata-rata 66,6 tahun. Sinovac juga melakukan uji klinis fase 3 di Brazil dan hasilnya vaksin ini dinyatakan terbukti efikasinya untuk mencegah COVID-19 bergejala, termasuk pada lansia. Hasil uji klinis ini menjadi harapan mengingat lansia merupakan kelompok orang yang perlu diprioritaskan untuk pemberian vaksin COVID-19 selain tenaga kesehatan. Di Indonesia, kelompok orang berusia di atas 60 tahun juga mencapai 47,3% yang meninggal dunia. Vaksin Sinovac ini pun telah diberikan pada lansia di negara lain, seperti Brazil dan Turki.

Sebelumnya, muncul kekhawatiran akan keamanan vaksin COVID-19 bagi lansia setelah Norwegia melaporkan sejumlah lansia diberitakan meninggal setelah menerima vaksin Pfizer. Lansia meninggal tersebut diduga disebabkan oleh efek samping yang biasanya ringan pada orang dewasa sehat, namun ternyata cukup berdampak pada lansia yang punya penyakit komorbid dan kondisinya kurang baik. Namun, pihak Norwegia menyatakan bahwa kematian para lansia tersebut belum pasti sepenuhnya terkait dengan vaksin Pfizer.

Sudah divaksin, tetap perlu mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak

Hingga saat ini, vaksin COVID-19 untuk anak-anak memang masih dalam tahap penelitian. Itu sebabnya, vaksin ini belum diberikan untuk anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Namun sebetulnya, bila pandemi sudah berhasil dikontrol meskipun belum selesai, seperti yang terjadi di beberapa negara, kegiatan sekolah dapat berlangsung dengan beberapa pembatasan.

Kemudian, program vaksinasi COVID-19 ini juga ada kaitannya dengan herd immunity, atau kekebalan kelompok. Herd immunity bisa tercapai bila orang yang telah divaksin mencapai jumlah tertentu. Namun jumlahnya bisa berbeda-beda, tergantung efektivitas vaksin yang digunakan dan kemampuan penularan virus.

Namun, setelah divaksin pun kita tetap perlu melakukan protokol kesehatan seperti memakai masker ketika beraktivitas di luar rumah, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan sering mencuci tangan. Karena, vaksin yang beredar sejauh ini hanya terbukti melindungi manusia dari COVID-19 bergejala, namun belum terbukti bisa mencegah seseorang dari tertular COVID-19 dan kemudian menularkannya ke orang lain, maka setiap orang yang sudah divaksin tetap melaksanakan protokol kesehatan.

 

Lagipula, maksimal kekebalan dan efektivitas COVID-19 setelah disuntik vaksin Sinovac belum diketahui pasti. Yang jelas, sebanyak 99,23% orang yang disuntik vaksin Sinovac masih memiliki kekebalan terhadap COVID-19 hingga tiga bulan pasca disuntik. Jadi, masyarakat tetap perlu melakukan protokol kesehatan setelah menerima vaksin.

Berakhirnya pandemi memang belum diketahui kapan akan terwujud. Tetapi dengan mengikuti program vaksinasi, kita dapat berperan mempercepat berakhirnya pandemi. Untuk perlindungan optimal, miliki pula Medicare Premier, asuransi tambahan yang menawarkan jaminan perawatan rumah sakit one bed one bathroom hingga seluruh dunia tanpa kenaikan inflasi. Medicare Premier memberikan uang pertanggungan (UP) mulai dari Rp3 miliar hingga Rp30 miliar per tahun. Miliki pula Program Santunan untuk Keluarga Penderita COVID-19 hingga Rp120 juta per tahun yang bisa kamu miliki jika menjadi nasabah bancassurance Astra Life. Stay safe!

dr. Adam Prabata

PhD Candidate in Medical Science at Kobe University Dokter (UI 2009)

Artikel Lainnya

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Subscribe ke LoveLife Daily Blog untuk mendapatkan newsletter artikel ter-update!

Selamat Anda telah tergabung menjadi subscriber blog LoveLife

Terdapat kesalahan dari permintaan anda. Mohon coba lagi.

Love Life will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.