Ibu Bekerja vs Ibu di Rumah: Pilihan yang Tak Semestinya Jadi Pertentangan

ibu bekerja atau ibu di rumah

Sejak pertama kali istilah “perang ibu” tercetus pada sekitar tahun ’80-an hingga sekarang, ketegangan antara para ibu bekerja dan ibu yang memilih untuk tinggal di rumah masih terus terjadi. Bahkan, sepertinya jauh dari kata reda.

Ya, seperti yang mungkin banyak orang sudah ceritakan, menjadi ibu itu mempunyai banyak tantangan—di samping kebahagiaan—yang melebihi bayangan sebelumnya. Ketika seorang anak lahir, kekhawatiran akan sanggup atau tidaknya kita memberikan yang terbaik bagi anak-anak adalah sesuatu yang tak terelakkan. Dan, itu adalah sesuatu yang wajar. Keraguan adalah bagian dari pola asuh yang tak akan pernah lepas dari diri kita sebagai orangtua sampai kapan juga. Padahal sudah ada banyak contoh pola asuh yang bisa Anda terapkan.

Dari waktu ke waktu, kita umumnya ketakutan saat memikirkan apakah yang kita lakukan untuk anak sudah benar atau belum. Apa kita sudah memberikan makanan yang sehat, memberikan kasih sayang yang cukup, hingga pendidikan yang terbaik. Standarnya memang tinggi. Apalagi kalau sudah bersinggungan dengan norma di masyarakat.

Baca juga: 10 Film Keren yang Wajib Ditonton Bersama Keluarga

Ketika seorang ibu melakukan hal yang berbeda dari kebiasaan yang ibu kebanyakan lakukan, orang akan berkomentar. Perasaan gelisah lalu biasanya hadir sebagai dampak dari perbedaan tadi. Kegelisahan sebenarnya mungkin adalah bentuk pembelaan terhadap pilihan yang kita ambil. Akan tetapi, menjadi hal yang salah saat perasaan itu kemudian berubah menjadi dorongan untuk menjatuhkan seseorang yang telah mengambil pilihan yang berbeda.

Apa Anda pernah mendengar komentar seperti ini: “Setiap hari kerja. Pulang malam. Apa nggak kasihan dengan anak? Nggak pedulian banget,” ujar seorang ibu rumah tangga melihat tetangganya yang seorang ibu bekerja. Sementara ibu bekerja yang merasa digunjingkan merespons dengan jawaban, “Daripada tidak melakukan apa-apa di rumah dan akhirnya cuma menggosipi orang, lebih baik ngantor. Kurang kerjaan, deh.” Dan seterusnya. Ini pun pada akhirnya bisa menjadi dilema ibu pekerja.

Tanpa bermaksud mengecilkan kedua pihak, komentar-komentar sinis sebenarnya hanya dampak dari ketidaksensitivan antar sesama ibu. Seandainya mereka mau mencari tahu atau setidaknya sekadar mempertimbangkan apa dasar seorang ibu memilih untuk bekerja atau sebaliknya, hal itu tentu tidak akan terjadi.

Lalu, bagaimana cara menjembatani jurang perbedaan antara kedua kubu? Berikut beberapa poin mengenai ibu bekerja dan ibu rumah tangga yang patut kita cerna.

1. Setiap ibu itu “bekerja”

Setiap orang, entah itu ibu yang menghabiskan waktunya di kantor atau di rumah, memiliki kewajiban. Dan, kewajiban itu harus mereka tuntaskan.

Sebagian orang memilih bekerja agar keluarganya bisa membayar sewa rumah, sebagian bekerja karena ingin menyekolahkan anaknya di sekolah yang bagus, sementara sebagian lainnya mungkin bekerja hanya agar bisa mengaplikasikan ilmunya dan supaya tetap waras. Meski begitu, bukan berarti para ibu ini tidak memikirkan anak-anak mereka. Banyak dari ibu bekerja yang tetap memiliki ikatan kuat dengan anak-anaknya karena memanfaatkan waktunya bersama anak secara berkualitas.

Begitu pun ibu di rumah. Keputusannya untuk berada di rumah, tidak ada hubungannya dengan ketidakmampuannya menghadapi dunia kantoran. Banyak ibu rumah tangga yang memiliki kebisaan bahkan titel pendidikan yang tinggi. Pengaturan rumah tangga pun membutuhkan kemampuan yang baik, lho, agar bisa berjalan mulus. Jadi, jangan anggap mereka tidak bisa apa-apa.

Baca juga: Pentingnya Meminta Maaf kepada Anak

2. Kita semua berusaha melakukan yang terbaik untuk anak-anak

Rasanya hampir tidak pernah ada orangtua yang tidak memikirkan apa yang terbaik untuk anak-anaknya atau tidak mau berusaha demi mewujudkan impian itu. Itu mengapa sebagian ibu memilih untuk tinggal di rumah dan mengawasi serta membimbing langsung perkembangan anak-anaknya. Sementara sebagian lainnya pergi bekerja untuk bisa memenuhi kebutuhan lain di luar kebutuhan dasar seperti makanan dan pakaian.

3. Kita boleh berubah pikiran

Saat kecil, sosok yang kita lihat mungkin adalah ibu yang selalu berada di rumah, yang siap sedia kapan pun kita membutuhkannya. Tidak heran ketika memiliki anak, figur seperti itulah yang kita pikir anak kita juga inginkan. Akan tetapi, kenyataannya kebutuhan ekonomi sekarang tidak sejalan dengan kondisi ideal yang kita harapkan. Agar anak-anak bisa mendapatkan pendidikan yang layak, kita harus mulai bekerja dan menabung. Apa salah? Tidak. Kalaupun seorang ibu harus bekerja untuk menunjang kebutuhan keluarganya, tidak ada yang salah dengan hal itu.

Bekerja dari rumah menjadi kondisi yang ideal karena dengan begitu kita bisa tetap mengawasi perkembangan anak sambil juga menghasilkan pendapatan. Namun, kalau tidak memungkinkan, jangan jadikan itu masalah. Kita, toh, sedang mengusahakan yang terbaik bagi anak kita. Begitu pun sebaliknya. Saat kita harus berhenti bekerja demi menemani pertumbuhan anak yang ternyata membutuhkan pendampingan khusus, jangan sedih. Setiap perubahan yang terjadi di dalam kehidupan kita adalah perkembangan yang membuat kita cukup bagi anak-anak kita. Yang hanya kita butuhkan adalah siasat-siasat terbaik saat meninggalkan Anak waktu bekerja.

4. Malam hari adalah waktu yang paling menantang

Ini berlaku bagi orangtua manapun, tidak peduli di mana atau bagaimana Anda menghabiskan 12 jam sebelumnya. Saat Anda pulang dari kantor, waktu mengantarkan anak-anak ke tempat tidur bisa jadi tidak semudah mengerjakan tugas kantor.

Rasa rindu yang anak-anak simpan hingga akhirnya lepas saat bertemu dengan Anda umumnya mempersulit rutinitas seperti sikat gigi, mencuci kaki, dan berganti pakaian tidur. Cobalah untuk bersabar dan habiskan sedikit waktu untuk sekadar berbagi cerita atau membaca buku untuk memuaskan rasa rindu mereka. Baru setelah itu, antarkan mereka untuk pergi tidur.

Nah bagi ibu yang di rumah, bukan berarti hal yang mudah pula. Energi yang sudah menipis biasanya juga membuat kesabaran menurun. Setelah seharian meladeni anak-anak untuk makan, menyelesaikan tugas sekolah, membuat prakarya, dan sebagainya, membacakan buku sebelum tidur saja rasanya membutuhkan kekuatan super agar bisa terlaksana. Jadi, tak perlu iri pada ibu bekerja ataupun ibu di rumah. Semua melalui ini dan keduanya punya tantangannya masing-masing.

Baca juga: Manfaat Liburan Bagi Rumah Tangga

5. Tidak ada di antara kita yang beristirahat

Yap. Tidak ada kata istirahat, baik untuk ibu bekerja atau ibu di rumah. Kita, ‘kan, orangtua. Kalaupun Anda tidak mengurus langsung anak-anak di rumah, Anda pasti tetap memikirkan mereka. Kepedulian Anda terasa lewat usaha untuk memenuhi segala kebutuhannya—termasuk soal biaya kuliah yang sudah tidak murah, membawakan makanan saat pulang kantor, atau sekadar menelepon untuk menanyakan bagaimana ia melalui satu hari di sekolah.

Perjuangan menjadi ibu bekerja biasanya terasa saat kita harus menemukan transisi yang tepat antara menjadi produktif di kantor dan tetap ada saat anak-anak membutuhkan. Untuk mendukung perjuangan ibu bekerja ini, alangkah bijaknya memiliki perlindungan jiwa bagi ibu yang menjadi pencari nafkah. Saat ini tersedia beragam perlindungan jiwa, salah satunya Siap JiwaKu dari Astra Life. Siap JiwaKu memberi manfaat berupa Uang Pertanggungan (UP) yang terkandung di dalam polis sebagai pengganti nafkah bagi keluarga yang ditinggalkan, sebagai warisan, sebagai dana pendidikan anak, atau sebagai penutup biaya akhir seperti biaya pemakaman, jika Tertanggung wafat. Artinya, kehidupan keluarga tetap berjalan meskipun pencari nafkah tutup usia.

Sementara perjuangan menjadi ibu di rumah terasa saat kita dituntut untuk bisa melewati hari tanpa menjadi terjebak pada rutinitas yang membosankan. Dibutuhkan pula perlindungan bagi ibu di rumah seperti asuransi kesehatan. Kini, tersedia beragam asuransi kesehatan salah satunya Siap SehatKu dari Astra Life. Selain memberi santunan rawat inap hingga Rp 300.000/hari, Siap SehatKu juga memberi perlindungan tambahan terhadap 6 penyakit kritis, termasuk diabetes. Intinya, tidak ada jeda dalam menjalani tugas sebagai orangtua.

Cobalah saling menyemangati tanpa harus mencampuri atau memaksakan sudut pandang kita kepada pihak yang berlawanan. Ingat, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kalau perlu, nikmatilah pilihan yang kita ambil tanpa perlu repot memikirkan komentar orang lain. Toh, kita yang menjalani hidup ini, ‘kan, bukan mereka? Jadi, #AyoLoveLife dengan semangat tinggi, apapun jalan yang Anda pilih!




« | »
Read previous post:
davina1
Davina Hariadi, Memilih Alam Demi Menjawab Panggilan Hati

Menjalani profesi sebagai model dan aktris di Indonesia sejak dua dekade lalu, tak lantas membuat Davina Veronica Hariadi selalu identik...

Close