Kenali 5 Mitos Seputar Investasi dan Tips Mengakalinya

27307127_L

Investasi kini menjadi tren dan gaya hidup masyarakat kelas menengah di Indonesia. Investasi, dinilai sebagai salah satu cara ampuh melawan kenaikan inflasi yang terjadi tiap tahun. Namun, ada beberapa pandangan seputar investasi yang dipahami secara keliru oleh sebagian orang dan akhirnya menjadi mitos negatif. Apa saja mitos seputar investasi?

#1 Mitos: Investasi adalah hal serius, sebaiknya dilakukan saat sudah berkeluarga

Fakta: Tidak ada kata terlalu muda untuk memulai investasi. Semakin muda usia Anda mulai berinvestasi maka akan semakin besar hasilnya di kemudian hari. Lagipula, kebutuhan dana akan lebih besar pada saat Anda sudah berkeluarga dibandingkan saat Anda masih berstatus single.

#2 Mitos: Investasi mahal dan butuh dana besar

Fakta: Banyak orang mengira jika memiliki gaji Rp 5 juta tidak bisa berinvestasi. Misal saja membeli tanah, rumah, saham, obligasi ritel atau bahkan membeli emas batangan. Faktanya, saat ini banyak jenis investasi yang bisa dimulai dengan dana kecil seperti reksa dana. Cukup dengan bujet mini, misal Rp 100 ribu sebulan, Anda sudah bisa menjadi investor.

#3 Mitos: Investasi itu berisiko tinggi

Fakta: Salah satu alasan orang enggan berinvestasi adalah karena faktor risikonya. Beberapa kasus penipuan berkedok investasi, membuat ciut nyali orang untuk melakukan hal ini. Akibatnya, banyak orang lebih memilih menyimpan dananya di tabungan dan investasi berjangka, alih-alih memilih investasi di saham.

Tabungan dan deposito berjangka punya kenaikan bunga yang pasti, sementara saham sangat mudah terpengaruh sentimen pasar dan kondisi global. Faktanya, produk tabungan akan tergerus inflasi karena bunganya sedikit, demikian pula dengan produk tabungan berjangka.

Emas dan obligasi adalah dua investasi yang cenderung stabil. Sementara reksadana menawarkan beragam tipe investasi yang dapat disesuaikan dengan tipe kepribadian Anda; penyuka risiko atau cari aman.

#4 Mitos: Investasi dulu baru berasuransi

Fakta: Banyak orang menyepelekan urusan asuransi sebab memandang asuransi hanya perlu saat sakit saja, sehingga ketika masih muda dan sehat, tidak perlu asuransi. Padahal, ada beragam macam asuransi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu. Misal asuransi rumah, asuransi kebakaran, asuransi mobil, motor dan lain sebagainya.

Selain itu, banyak pula pihak yang menyepelekan produk unitlink, yakni campuran antara asuransi dan investasi, sebab memiliki hasil pengembalian (return) yang sedikit, misal dibanding reksa dana saham. Padahal, tidak semua unitlink demikian. Asli Rencana Optima dari Astra Life memberikan nilai investasi yang cepat berkembang, karena pemegang polis hanya perlu membayar asuransi di dua tahun pertama. Setelah itu, dana yang ada akan dikembangkan dalam produk-produk investasi untuk pengembalian yang optimal. Selain itu asuransi ini memberikan bonus loyalitas sebesar 25% dari premium dasar, di akhir tahun ke-10 dan ke-25.

#5 Mitos: Hindari berinvestasi di masa resesi

Banyak pihak menganggap, investasi di masa resesi ekonomi atau perlambatan ekonomi nasional di saat seperti ini adalah hal yang konyol. Sebab, masyarakat masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari ketimbang berinvestasi.

Fakta: Justru pada saat resesi, peluang investasi muncul. Contoh kasus untuk investasi saham. Para pakar saham mengatakan bahwa saat bursa anjlok, merupakan saat yang tepat untuk membeli saham.

Tips Investasi di Masa Resesi

Benarkah membeli saham di saat resesi merupakan langkah yang baik? Bila ya, saham apa yang harus dibeli? Langkah bijak apa saja yang harus diterapkan saat akan berinvestasi di masa resesi? Mari kita bahas lebih lanjut.

Untuk berinvestasi di masa resesi, ada beberapa pakem yang harus diikuti terlebih dahulu.

Pertama, uang kas adalah raja. Oleh sebab itu di masa krisis, porsi dana darurat bisa dinaikkan 2-3 kali lipat. Setelah krisis mulai memperlihatkan tanda mereda, porsi ini bisa dikurangi secara bertahap kembali ke level normal yaitu 3 sampai 6 kali pengeluaran bulanan.

Kedua, Anda dapat mulai mempertimbangkan investasi pada instrumen investasi lain yang aman. Untuk investasi jangka pendek, berinvestasilah di hard assets yang likuid, seperti emas. Harga emas akan meningkat pesat didorong oleh inflasi global sekaligus juga depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Harga emas sebelum krisis biasanya lebih murah dibanding saat krisis.

Untuk investasi jangka menengah (sampai dengan 3 tahun), Anda bisa mempertimbangkan investasi di Obligasi Ritel Indonesia (ORI), atau Sukuk Ritel Indonesia (SUKRI).

Untuk investasi jangka menengah-panjang, bisa dipertimbangkan investasi di obligasi (atau reksa dana pendapatan tetap yang berinvestasi di obligasi) pemerintah atau Sukuk, dengan jangka waktu 5-8 tahun. Ingat bahwa pertimbangan keamanan tetap menjadi faktor penting dalam keputusan ini.

Ketiga, setelah investasi jangka pendek sampai menengah terpenuhi, barulah investor bisa mulai mempertimbangkan investasi jangka panjang, misalnya rumah atau tanah.

Selain itu, ada hal-hal yang tidak disarankan saat krisis terjadi.

  1. Tidak disarankan untuk memegang asset berupa rumah atau tanah menjelang krisis, terutama apabila pembelian tersebut dibiayai oleh hutang bank. Sebab, harga rumah/tanah akan cenderung turun pada saat krisis dan sebaliknya cicilan hutang akan membengkak karena kenaikan suku bunga pinjaman. Sebagai catatan pada saat krisis tahun 2001-2002, bunga pinjaman bank mencapai 30% per tahun.
  2. Tidak disarankan memegang saham pada saat menjelang krisis, karena harga saham akan turun dengan drastis. Dan tidak disarankan untuk melakukan average down buying saat harga turun.
  3. Tidak disarankan memilih produk deposito jangka panjang dalam mata uang rupiah, karena rupiah bisa ter-depresiasi, sedangkan kita tidak bisa mencairkan deposito tersebut pada saat resesi, juga tidak bisa menikmati suku bunga tinggi saat resesi. Jadi rugi 2 kali.

Jika krisis mencapai puncak dan keadaan jadi sedikit tenang, yang harus Anda lakukan adalah:

  1. Jual dollar dan emas Anda untuk ambil untung (profit taking).
  2. Beli saham blue chips pada saat harga saham turun drastis, biasanya pada saat orang justru tidak ingin memiliki saham dan berbondong-bondong menjual sahamnya.
  3. Bila masih ada uang lebih, dapat dibelikan asset murah dan potensial berupa rumah atau tanah di lokasi yang menjanjikan, namun dengan harga obral. Biasanya saat resesi, seringkali pengembang memberikan diskon besar-besaran.

Baca juga tips finansial lainnya di sini.




« | »
Read previous post:
30133191_L
Asuransi Kesehatan untuk Melengkapi BPJS Kesehatan Anda

Setelah melalui proses cukup panjang, akhirnya Indonesia memiliki asuransi kesehatan nasional yang memberikan akses kesehatan untuk semua warga negara Indonesia...

Close