Komunitas Lintas Merapi FM, Berdedikasi untuk Menyelamatkan Nyawa Warga Merapi

Letusan Gunung Barujari, anak Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat, sejak akhir Oktober lalu sempat membuat penerbangan di Bali dan sekitarnya lumpuh akibat abu vulkanik. Taman Nasional Gunung Rinjani ditutup dan ratusan wisatawan serta pendaki dievakuasi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan letusan Barujari bisa berlangsung tiga bulan. Prediksi ini mengingatkan pada erupsi panjang Gunung Raung di Jawa Timur selama enam bulan dan Gunung Sinabung di Sumatera Utara lebih dari 1,5 tahun.

Kepulauan Indonesia terletak di jalur cincin api Pasifik (ring of fire) dan memiliki gunung api terbanyak di dunia, sehingga punya sejarah panjang bencana vulkanik. Beberapa letusan telah mengguncang dunia dan berdampak besar bagi kehidupan: menelan nyawa manusia dan mengubur jejak peradaban.

Merapi merupakan salah satu gunung aktif yang paling mematikan di Indonesia. Bukan akibat dahsyatnya letusan, melainkan karena merupakan gunung api yang padat penduduk. Terletak di antara Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Merapi dikepung pedesaan di empat kabupaten – Sleman, Klaten, Boyolali, dan Magelang – yang jaraknya kurang dari lima kilometer dari puncak.

Melatih_anak-anak_dalam_penyelamatan_bencana__Foto_Lintas_Merapi_

Meskipun erupsi bisa dideteksi oleh teknologi, luncuran awan panas piroklastik (wedhus gembel) sering mengagetkan karena radius jangkauannya yang tak terduga. Misalnya, tragedi awan panas yang menyapu desa Turgo di Sleman 1994 yang menewaskan 66 orang telah menimbulkan trauma bagi masyarakat lereng Merapi.

Sukiman Mohtar Pratomo, seorang pemuda di Deles, Klaten, sisi tenggara Merapi berusaha mencari sebab kegagalan antisipasi pemerintah yang kurang sigap dan berdampak fatal. Ia menemukan fakta bahwa jalur informasi peringatan erupsi terlalu panjang dan birokratis.

Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengirim informasi peringatan erupsi ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang kemudian diteruskan ke setiap bupati di sekeliling Merapi. Bupati meneruskan ke camat, lalu ke kepala desa, kepala dusun, dan baru sampai ke penduduk.

“Ini memakan waktu paling cepat satu jam. Jarak desa kami hanya empat kilometer dari puncak, hanya butuh kurang dari 30 menit bagi awan panas untuk sampai ke sini. Kami butuh informasi yang cepat,” ujar Sukiman.

Ia kemudian menghimpun pemuda di sekeliling Merapi dan memelopori terbentuknya Paguyuban Masyarakat Gunung Merapi (Pasag Merapi) pada 1995. Paguyuban ini bertugas memantau aktivitas Merapi secara rutin dan berbagi informasi antar-anggota.

Pasag Merapi kemudian berkembang menjadi komunitas relawan yang bekerja membantu dan melatih masyarakat untuk tanggap bencana. Komunitas ini memiliki sedikitnya 600 relawan bersertifikat mitigasi bencana yang tersebar di empat kabupaten. Mereka secara rutin mengajari ibu-ibu, lansia, dan anak-anak untuk menyelamatkan diri dalam situasi darurat.

Sukiman kemudian menggagas sebuah radio komunitas untuk membantu komunikasi antar-anggota dan dari anggota ke masyarakat lereng Merapi. Pada 2002, berdiri stasiun radio Lintas Merapi FM di Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, yang menjangkau sedikitnya 9.000 pendengar. Melalui radio ini, informasi resmi BPPTKG real time bisa langsung disiarkan kepada masyarakat, sehingga memotong jalur birokrasi informasi.

Sukiman__pendiri_Pasag_Merapi__dan_anak-anak_muda_yang_belajar_tentang_radio_komunitas_dan_mitigasi_bencana_di_studio_Lintas_Merapi_FM

 

“Kami butuh media untuk menyebarkan informasi terkini tentang Merapi. Stasiun radio adalah media tercepat karena penduduk lereng Merapi suka mendengarkan radio,” kata Sukiman.

Lintas Merapi teruji ketika erupsi pada 2006 dan 2010. Radio komunitas ini menyiarkan informasi dari BPPTKG kepada penduduk tentang aktivitas vulkanik dan zona berpotensi terdampak bancana. Di wilayah jangkauan frekuensi Lintas Merapi, tidak ada korban manusia (zero victim) dalam dua erupsi terakhir.

Baca Juga : Kisah Sukses Tim Basket Putri Indonesia di SEA GAMES

Radio komunitas dibiayai sendiri oleh dana patungan relawan. Terkadang, mereka juga mendapatkan donasi dari warga, seperti uang dan makanan, saat menggelar acara off air dan on air tentang bencana, lingkungan, kesehatan, dan pertanian. Semua penyiar tidak ada yang dibayar.

“Radio ini dikelola sendiri oleh komunitas dan masyarakat, karena kami sadar bahwa ini milik bersama,” kata Sukiman yang sudah membagi pengalaman mengelola radio komunitas untuk mitigasi bencana sampai ke Swiss dan Jepang ini.

Relawan Pasag Merapi juga ikut membantu bencana erupsi Kelud dan Sinabung dengan mengajarkan relawan sekitar untuk membangun radio komunitas. Mereka juga memanfaatkan internet dan media sosial untuk menggalang donasi, menyediakan informasi lokasi pengungsian dan kebutuhan logistik.

Meskipun saat ini informasi bergerak cepat lewat dunia maya, masyarakat petani tradisional di lereng Merapi masih belum tersentuh revolusi gadget. Satu-satunya informasi yang mereka percaya hanyalah radio.

“Kami semua lebih percaya berita terkini yang disiarkan Lintas Merapi daripada televisi. Informasi radio ini dari kami sendiri yang sehari-hari hidup di Merapi,” kata Slamet, seorang petani dan penyiar radio komunitas itu.

Radio menjadi primadona hiburan masyarakat desa lereng Merapi dengan berbagai siaran favorit penduduk seperti wayang kulit, karawitan, dan musik campursari. Siaran seluruhnya menggunakan bahasa Jawa, karena penduduk yang homogen.

Masyarakat desa memiliki kebiasaan mendengar daripada menonton, karena bisa dilakukan sambil bekerja. Ini alasan mengapa di desa, orang menyetel volume radio atau tape sangat keras. Mendengarkan radio adalah kebiasaan saat mereka berkebun, mengurus ternak, atau menjemur daun tembakau di halaman.

Setiap jeda program, stasiun radio menyiarkan pesan layanan masyarakat tentang erupsi dan langkah-langkah evakuasi – mulai dari menyelamatkan ternak, lansia, hingga anak-anak. Lintas Merapi didirikan bukan sekadar mengudarakan informasi, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat agar tangguh dan mandiri dalam mengurangi risiko bencana.

Tidak hanya melatih evakuasi, Lintas Merapi juga membantu membuatkan rekening Tabungan Siaga Bencana untuk warga desa sebagai bekal mereka dalam pengungsian. Semuanya dipersiapkan sejak dini agar setiap keluarga bisa menopang hidupnya sendiri selama bencana tanpa terlalu berharap belas kasih dari sumbangan bencana.

“Setiap keluarga bisa menyisihkan Rp 1.000 sampai Rp 5.000 setiap hari, dan bisa diambil di bank saat mereka di pengungsian,” kata Sukiman.

Baca Juga : Kisah Kakek Sadiman, Pahlawan Kehidupan dari Lereng Gunung Gendol

Relawan juga realistis untuk tidak hanya berfokus pada mitigasi bencana, tetapi juga mendorong geliat ekonomi di setiap desa. Misalnya, mereka menggandeng penyuluh pertanian untuk membantu masyarakat meningkatkan panen serta membuka akses pasar yang lebih besar untuk produk pertanian organik mereka.

“Intinya, jika masyarakat secara ekonomi semakin berdaya, mereka juga semakin siap menghadapi bencana. Setiap keluarga bisa membeli sepeda motor untuk memudahkan evakuasi tanpa bergantung yang lain,” kata Sukiman.

Konservasi juga menjadi perhatian relawan karena mereka menyadari bahwa perilaku satwa gunung, seperti burung dan monyet, menjadi salah satu indikator bencana. Keberadaan satwa itu penting bagi penduduk untuk menandai gejala awal erupsi, sehingga tidak boleh punah. Lintas Merapi beberapa kali telah melakukan penanaman pohon buah-buahan di hutan atas sebagai cadangan bagi satwa serta melarang perburuan.

Usaha dan semangat Lintas Merapi FM ini berhasil mencegah korban lebih banyak dalam bencana merapi. Semoga nantinya banyak lagi komunitas yang mendermakan waktu dan tenaganya demi masyarakat.