Tanamkan Kebiasaan Bersyukur Pada Anak Untuk Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Anak Bersyukur

Banyak orang tua mengajari anaknya untuk mengucap rasa terima kasih sejak buah hatinya berusia balita. Oleh karena itu, umumnya anak akan mudah mengucap rasa terima kasih ketika ia mendapat hadiah, bantuan, atau saat keinginannya terpenuhi.

Namun, ia belum tentu dapat mensyukuri segala anugerah atau rezeki yang telah ia dapatkan. Karena mengucap rasa terima kasih tidak sama dengan mengucap syukur. Mengucap terima kasih adalah suatu sikap atau perilaku yang baik. Sementara, bersyukur adalah konsep yang lebih dalam dari itu; bersyukur merupakan bagian dari pola pikir dan gaya hidup.

Menurut sejumlah penelitian, kemampuan untuk bersyukur merupakan suatu hal yang positif, baik bagi orang dewasa maupun anak-anak. Salah satunya studi yang dilakukan oleh Dr. Robert A. Emmons of the University of California, Davis, yang mengungkap bahwa menumbuhkan rasa syukur dapat meningkatkan kebahagiaan, percaya diri, harapan, empati, optimisme; dan membuat hidup lebih berarti.

Lalu, bagaimana caranya mengajari anak untuk bersyukur?

Memahami hal-hal positif

Seseorang tidak akan mampu bersyukur jika ia tidak memahami hal-hal positif dalam hidupnya; yang patut ia syukuri. Anda dapat mengajari hal ini kepada anak; misalnya, sampaikan bahwa mereka beruntung karena memiliki mainan dan barang-barang yang mereka sukai. Faktanya, tidak semua anak dapat seberuntung mereka. Oleh karena itu, mereka harus bersyukur dengan cara antara lain menjaga dan merawat mainan dan barang-barang mereka atau meminjamkannya kepada teman yang tidak memilikinya.

Tumbuhkan nilai ketabahan

Nilai kedua yang memengaruhi rasa syukur adalah ketabahan (kemampuan mengatasi kesulitan). Ketabahan adalah kekuatan diri dalam menghadapi penderitaan dan kesulitan. Karena ingin selalu membahagiakan anak, tak sedikit orang tua “lupa” mengajarkan hal ini kepada anaknya. Padahal, anak juga perlu memahami bahwa hidup tidak selalu mudah dan membahagiakan. Ada kalanya mereka akan menemui kesulitan, merasakan kondisi saat keinginannya tidak terpenuhi, merasa kecewa, dan sedih.

Dengan memiliki ketabahan, anak akan memiliki mental yang kuat dan mampu mensyukuri apa yang ia miliki. Anda dapat mengajarkan nilai ini dengan bersikap konsisten; misalnya, anak berjanji akan membereskan kamarnya, namun ternyata tidak dilakukan. Tunjukkan konsekuensi dari ketidakpatuhannya, seperti melarangnya menyalakan komputer atau ponsel, ataupun bermain bersama teman-temannya.

Bersyukur bersama

Jadikan sikap bersyukur sebagai suatu kebiasaan dalam keluarga. Misalnya, saat sedang berkumpul bersama di ruang keluarga atau di waktu makan malam, setiap orang secara bergiliran mengutarakan hal yang ia syukuri pada hari atau minggu itu. Lalu, Anda sebagai orang tua bisa mengajak anak-anak untuk juga mensyukuri hal-hal yang mungkin selama ini dianggap “tidak penting”, seperti ibu yang menyiapkan makanan untuk mereka setiap hari; rumah bersih, rapi, dan tidak bocor di kala hujan; kamar tidur yang nyaman; dan sebagainya.

Berlomba untuk tidak mengeluh

Sesekali, coba minta seluruh anggota keluarga untuk melakukan kegiatan ini: berlomba untuk tidak mengeluh dalam 24 jam. Tantang anak apakah mereka bisa melakukannya. Tujuan dari kegiatan ini tentu bukan untuk mendapatkan hadiah, namun untuk menunjukkan apakah Anda maupun anak-anak sudah bisa mempraktikkan gaya hidup bersyukur. Setelah 24 jam, berkumpullah kembali, lalu bandingkan hasil masing-masing. Apakah ada yang berhasil tidak mengeluh sama sekali? Siapa yang memiliki daftar keluhan terbanyak? Apa saja keluhannya? Mengapa ia banyak mengeluh? Diskusikan bersama-sama secara santai sambil berusaha memperbaiki diri, baik dalam menghadapi kesulitan atau kekecewaan maupun meningkatkan kemampuan untuk bersyukur.

Selain mengajari anak mengenai pentingnya bersyukur, Anda juga dapat menumbuhkan nilai-nilai positif lain dengan menceritakan kisah-kisah inspiratif di ilovelife.co.id. Contohnya: cerita Angkie Yudistia dan Surya Sahetapy, dua generasi muda difabel yang sukses mewujudkan mimpi mereka. Selain itu juga kisah seorang ibu perawat taman yang selalu bersikap ikhlas dan positif dalam menjalani hidup dan perjuangan tukang becak yang sukses memberi pendidikan bagi anaknya. #AyoLoveLife dengan mulai membiasakan bersyukur kepada anak sejak dini. Selain itu, siapkan rencana masa depan sang Anak sejak dini dengan asuransi Siap RencanaKu dari Astra Life.




« | »
Read previous post:
menu sehat untuk buka puasa
Mengatasi Masalah Kesehatan yang Umumnya Muncul Saat Berpuasa

Satu di antara keistimewaan Islam adalah Ramadan. Di bulan suci tersebut, Anda pasti ingin mengisi waktu dengan beribadah secara total....

Close