Merencanakan Investasi di Tahun Babi Tanah? Siapa Takut!

Investasi Tahun Babi Tanah

Menyiapkan masa pensiun tanpa kesulitan finansial harus dimulai dari ketika kita sedang berada di puncak-puncaknya usia produktif. Yaitu, saat karier sudah level menengah ke atas, keuangan pun tak lagi pusing dengan kebutuhan-kebutuhan dasar harian.

Berhubung sebentar lagi Tahun baru China (Imlek) 2570, tidak salahnya Anda mulai memikirkan masa depan dengan perencanaan keuangan yang tepat. Apalagi, tahun yang memiliki simbol babi tanah tersebut dianggap sebagai masa penuh peruntungan.

Jadi, tak ada salahnya persiapan pensiun pun dirancang sekarang, siapa tahu keberuntungan babi tanah menyertai. Seperti apa cara mengakomodasi perencanaan keuangan yang baik pada Imlek tahun ini? Silakan cek penjelasannya di bawah ini:

Tidak cuma ingin untung

Investasi untuk menyiapkan masa pensiun tentu tidak hanya butuh perencanaan keuangan yang semata memburu keuntungan sebesar-besarnya. Jaminan kepastian nilai pada masa yang tepat akan lebih baik jadi alasan utama. Tapi, semua instrumen investasi tetap boleh dipakai, kalau memang kondisi keuangan tidak memungkinkan bagi pilihan langkah-langkah besar keuangan.

Baca juga: 5 Langkah Perencanaan Keuangan untuk Anda, Keluarga Single Income

Kabar baiknya, 2019 yang juga adalah tahun politik buat Indonesia, diyakini tidak akan menjadi sentimen negatif bagi perekonomian dan investasi. Apalagi, pemilu yang digelar serentak antara pemilu legislatif dan pemilu presiden akan membuat proses konsolidasi politik berlangsung lebih cepat, sehingga kepastian kebijakan yang berdampak pada ekonomi dan investasi pun diharapkan sama cepatnya terlihat.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia yang pada perdagangan perdana 2019 dibuka di level 6.200 pun diproyeksikan akan mencapai level 7.200 pada akhir tahun. Seperti empat tahun pemilu sebelum ini—1999, 2004, 2009, dan 2014—, IHSG selalu ditutup menguat.

Penguatan nilai tukar rupiah (kurs) sejak awal 2019 di kisaran bawah Rp 14.000 per dolar AS, bahkan sempat menguat ke bawah Rp 14.000 per dolar AS, juga patut dicatat sebagai sinyal bagus perekonomian. Seperti dikutip dari Bloomberg, rupiah menguat 2 persen terhadap dolar AS dalam enam bulan terakhir, menjadikannya mata uang dengan penguatan terbesar di Asia Tenggara dan bahkan nomor dua di dunia.

Lantas, dari sinyal-sinyal yang ada, apa saja instrumen yang bisa dipilih buat kita yang tengah merencanakan masa pensiun berkesehatan finansial?

Tabungan dan deposito

Menabung tentu saja langkah paling naluriah ketika kita menginginkan sesuatu pada masa depan. Tantangannya, bunga tabungan perbankan sekarang rata-rata tak sampai 3 persen, masih ada pula biaya pemeliharaan rekening. Kalau nominal saldo tabungan besar, besaran biaya ini tak terlalu perlu diintip, beda cerita bila saldo mengendap tak sampai Rp 10 juta.

Namun, menyiapkan masa pensiun semata mengandalkan tabungan juga harus bersiap menghadapi kenyataan nilai tukar riil yang tergerus. Buat gambaran, nilai Rp 100 juta pada sepuluh tahun lalu sudah bisa dipakai untuk membeli rumah di kawasan Serpong. Sekarang, uang Rp 100 juta baru cukup untuk uang muka rumah ukuran kecil di kawasan itu.

Deposito juga semata mengandalkan bunga simpanan. Bedanya dengan tabungan, deposito kerap disebut sebagai instrumen buat orang yang memang aslinya sudah kaya tujuh turunan. Sekarang, rata-rata bunga deposito kurang dari 7 persen, untuk jangka lebih dari satu tahun.

Meski begitu, tren kekinian mendapati, bank juga menyediakan pilihan-pilihan deposito berjangka lebih pendek, bahkan mulai dari 1 bulan. Bunganya, ada di kisaran 4 persen sampai 5 persen.

Reksadana dan saham

Reksadana dikenal sebagai pilihan investasi yang paling ramah investor awam. Artinya, risiko fluktuasi tak “sekejam” investasi langsung ke bursa saham yang butuh naluri tajam investasi untuk membaca kinerja emiten. Nilai awal untuk berinvestasi reksadana pun bisa dimulai dari Rp 100.000 per bulan.

Pilihannya, ada reksadana tetap, reksadana saham, reksadana campuran, dan reksadana pasar uang. Peluang imbal hasil tertinggi bisa didapat dari reksadana saham, tentu saja, sebanding dengan risiko perdagangan saham itu sendiri, mulai dari kemungkinan adanya capital loss (kerugian dari selisih harga jual dan harga beli saham), tidak mendapat deviden karena perusahaan mengalami kerugian, hingga risiko suspend saham oleh otoritas bursa efek.

Baca juga: Siapkan 4 Jenis Tabungan Ini untuk Masa Depan Finansial Anda

Lalu apa bedanya reksadana saham dan investasi langsung saham? Reksadana saham adalah investasi reksadana yang maksimal 80 persen penempatannya adalah ke portofolio saham. Kalau investasi langsung saham itu berarti beli saham emiten.

Investasi reksadana dilakukan melalui perusahaan manajer investasi dan perusahaan agen penjual reksadana. Yang dapat menjadi agen penjual reksadana adalah bank dan perusahaan perantara pedagang efek.

Adapun pembelian dan penjualan saham dapat dilakukan melalui perusahaan perantara pedagang efek, lebih dikenal dengan istilah broker atau perusahaan sekuritas. Calon investor membuka rekening di perusahaan broker lalu investor saham dapat membeli dengan memesan melalui jasa broker atau melalui fasilitas online trading yang disediakan oleh perusahaan. Nah, untuk investasi saham, nominal minimalnya adalah Rp 5 juta.

Keuntungan dari investasi saham adalah kenaikan harga (capital gain) saham dan dividen dari emiten. Khusus investasi lewat reksadana saham, saat ini jarang ada dividen yang dibagikan kepada investor karena kebijakan reinvestasi atas keuntungan, meski langkah reinvestasi juga berpeluang menaikkan nilai aktiva bersih per unit penyertaan (NAB per UP) yang ujungnya juga pendapatan buat investor.

Karena sama-sama ada label “saham”, investasi langsung maupun reksadana saham punya risiko terbesar berupa penurunan harga saham. Karakter investasi saham adalah high risk, yang bila terjadi bisa turun harga puluhan persen dalam hitungan hari.

Di sini, memilih jalur reksadana dapat meminimalkan kerugian, karena ada kewajiban diversifikasi dan penempatan investasinya dibatasi maksimal 10 persen pada satu saham emiten. Praktiknya, rata-rata manajer investasi reksadana akan menempatkan dana ke lebih dari 30 emiten.

Bermain saham juga harus jeli. Tidak semua saham aktif diperdagangkan. Karena itu, investor bisa berhadapan dengan risiko likuiditas, yang artinya tak akan bisa sewaktu-waktu mencairkan dana ketika saham yang dipilih ternyata tidak sedang aktif diperdagangkan. Lagi-lagi, reksadana lebih jadi jalur pilihan, karena manajer investasi wajib melakukan pembayaran ke investor maksimal 7 hari kerja ketika ada perintah pencairan dana.

Obligasi dan obligasi ritel

Untuk rencana investasi yang sudah siap dana besar, obligasi bisa jadi pilihan, terutama obligasi terbitan pemerintah. Modal awal yang diperlukan paling tidak adalah Rp 1 miliar. Daya tarik obligasi terbitan pemerintah adalah kepastian pembayaran. Sebaliknya, tahan dulu membeli obligasi korporasi yang diterbitkan perusahaan selama tahun politik ini.

Baca juga: Ingin Asuransi Kesehatan Anda Tetap Aktif sampai Hari Tua?

Kabar baiknya, buat investor pemula sekarang juga ada obligasi ritel, termasuk terbitan pemerintah yang bernama Obligasi Ritel Indonesia (ORI). Modal awalnya Rp 1 juta saja. Soal keuntungan, kupon ORI015 yang terbit pada Oktober 2018 adalah 8,75 persen.

Nah, para begawan investasi sering berbagi tips bagi para pemilik dana besar, untuk memulai investasi pada awal tahun dengan investasi di obligasi. Lalu, di pertengahan tahun, investasi mulai dialihkan ke saham.

Perlindungan

Dengan gambaran proyeksi perekonomian tahun babi tanah sekaligus tahun politik 2019 seperti di atas, semua pilihan instrumen investasi yang ada di pasar bisa jadi pilihan buat bekal menyiapkan masa pensiun. Tinggal tentukan rencana besar pada masa pensiun yang hendak diwujudkan agar semuanya dapat berjalan dengan baik.

Selama mengatur rencana keuangan tersebut, jangan lupa untuk melindungi diri Anda dengan perlindungan yang tepat. Anda dapat menggunakan produk iPrime dari Astra Life, yang akan memberikan perlindungan jiwa dan kesehatan hingga usia 99 tahun, dalam varian produk menggunakan mata uang rupiah atau dolar AS. Premi dasar minimalnya hanya Rp 12 juta. Jadi, #AyoLoveLife dan lindungi diri Anda dalam jangka panjang untuk masa depan yang lebih baik.




« | »
Read previous post:
Tips THR
5 Tips Agar THR Anda Tidak Berlalu Begitu Saja

Tunjangan Hari Raya atau THR yang kita terima di bulan ini umumnya dipakai untuk berbelanja kebutuhan Lebaran atau bersilaturahmi dengan...

Close