Nila Tanzil, Berikan Keberanian Bermimpi untuk Anak-Anak Indonesia Timur

nila_tanzil1

Nila Tanzil punya hobi berpelesiran. Itu pula yang membuatnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan lamanya. Padahal, kariernya sedang di puncak dengan menduduki jabatan sebagai kepala komunikasi di salah satu perusahaan swasta ternama.

Penat dengan rutinintas kehidupan perkotaan, Nila nekat tinggal di Pulau Komodo selama satu tahun. Di sana, dia hanya menyelam dan bermain di pantai.

Saat berinteraksi dengan penduduk lokal, ia melihat anak-anak kecil berlalu-lalang menyusuri sungai untuk pergi ke sekolah dengan perjalanan dua jam lamanya. Terkadang mereka harus mendaki gunung tanpa alas kaki untuk tiba di sekolah. Pengalaman tersebut membuka mata Nila untuk berbuat sesuatu agar bisa mengedukasi anak-anak tersebut. Hingga muncul ide membangun Taman Bacaan Pelangi.

Selain bergelut membangun Taman Bacaan Pelangi, perempuan berputra satu ini pun memiliki Travel Sparks. Tak sekadar menawarkan paket perjalanan ala turis, social enterprise ini menyediakan perjalanan penuh makna. Selain memberikan pengalaman berinteraksi langsung dengan kebudayaan dan gaya hidup lokal, juga kegiatan sosial dalam membangun komunitas lokal.

Untuk mengetahui lebih dalam mengenai Nila, berikut hasil wawancara tim I Love Life dengan wanita berusia 37 tahun tersebut.

Bisa cerita bagaimana muncul ide mendirikan Taman Bacaan Pelangi?

Indonesia bagian timur memiliki banyak potensi, tapi masih menjadi daerah yang tertinggal dan kekurangan pembangunan infrastruktur. Indonesia bagian timur juga merupakan daerah yang memiliki tingkat melek huruf paling rendah. Tantangan ini membuat Taman Bacaan Pelangi untuk fokus di bagian timur Indonesia, menyediakan buku anak-anak ke daerah terpencil dengan tujuan untuk memelihara kebiasaan membaca anak sejak dini.

Yang memprihatinkan, anak-anak di sana tidak punya mimpi. Profesi yang mereka tahu hanyalah apa yang mereka lihat. Bila ditanya apa cita-cita mereka kelak, maka jawabannya hanya ada dua yaitu menjadi pastor atau menjadi guru. Tidak terbayang oleh mereka profesi lainnya, karena mereka tidak memiliki akses ke luar.

Baca Juga: Muhammad Ridwan Alimuddin, Nakhoda Perahu Pustaka

Kenapa namanya Taman Bacaan Pelangi?

Karena yang terlibat dalam kegiatan ini berasal dari berbagai suku, ras, dan jenis kelamin. Jadi seperti pelangi. Kami warna-warni, tetapi kami memiliki satu tujuan. Tujuannya adalah menumbuhkan minat baca di kalangan masyarakat terutama di Indonesia Timur.

Apa kendala awal saat merealisasikan Taman Bacaan Pelangi?

Di antaranya lokasi Taman Bacaan Pelangi yang jauh. Karena lokasinya terpencil, pengiriman buku pun biayanya cukup tinggi. Mencari local champion juga merupakan sebuah tantangan. Menjadi pengelola TBP dibutuhkan komitmen yang tinggi dan passion di bidang pendidikan. Pengelola yang notabene adalah tenaga sukarelawan dari daerah setempat diharapkan untuk bisa membuat kegiatan membaca di perpustakaan minimal seminggu sekali. Kesadaran dan pemahaman guru bahwa membaca itu bukan melulu berarti belajar. Reading is fun. Membaca buku cerita yang berkualitas juga penting dan justru mampu mendorong anak-anak menjadi cinta membaca. Hal ini yang masih kurang dipahami oleh para guru di daerah terpencil. Beberapa guru masih menganggap anak-anak harus membaca buku pelajaran saja, bukan buku cerita.

nila tanzil mendirikan taman bacaan pelangi
Nila di antara anak-anak yang menjadi pengunjung Taman Bacaan Pelangi. (sumber: tamanbacaanpelangi.com)

Bagaimana perkembangan Taman Bacaan Pelangi sekarang? Sudah ada berapa dan di mana saja?

Taman Bacaan Pelangi berdiri sejak tahun November 2009 di Flores. Bekerja sama dengan tokoh masyarakat, saya pertama kali mendirikan perpustakaan di Roe, sebuah kampung kecil di kaki gunung Flores dengan menyediakan 200 buah buku. Sekarang, dengan bantuan dari para donor dan relawan, perpustakaan Roe memiliki 2000 buah buku anak-anak.

Pada 2013, Taman Bacaan Pelangi telah terdaftar secara resmi sebagai sebuah yayasan dengan nama “Yayasan Pelangi Impian Bangsa.” Ini adalah langkah penting untuk semakin merealisasikan mimpi kami untuk memberikan akses pengetahuan lewat buku kepada anak-anak di daerah pelosok di Indonesia Timur.

Bulan Mei ini kami akan membangun dua Taman Bacaan Pelangi di Papua. Dengan tambahan itu, kami memiliki 39 perpustakaan yang tersebar di 15 pulau, yakni Flores (termasuk Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Messah, dan beberapa pulau kecil di sekitarnya), Timor, Alor, Sulawesi, Lombok, Sumbawa, Banda Neira (di Pulau Banda, Kepulauan Maluku, Pulau Bacan (Halmahera Selatan), dan Papua. Setiap perupastakaan memiliki setidaknya 1000 judul buku anak-anak dan sampai 3000 buku. Program kami telah dirasakan oleh lebih dari sepuluh ribu anak di Indonesia Timur dan menyediakan akses ke lebih dari 80.000 buku cerita.

Banyak orang bilang, budaya literasi masyarakat Indonesia masih kurang karena lebih kental budaya lisan. Apa tanggapan Anda?

Saya setuju dengan pernyataan itu. Hal itu juga bisa dilihat dari rasio tingkat literasi masyarakat Indonesia menurut data UNESCO. Dari data tersebut disebutkan bahwa hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang memiliki minat membaca buku (indeks minat baca di Indonesia adalah 0,001, Red). Karena itu yang harus kita lakukan adalah menumbuhkan minat membaca kepada anak sejak dini dengan memperkenalkan buku yang sesuai dengan perkembangannya.

Ide membuat TravelSparks darimana? Bagaimana menggabungkan Travel Sparks dengan Taman Bacaan Pelangi?

Travel Sparks adalah social enterprise pertama di Indonesia. Ini merupakan perusahaan yang seluruh keuntungannya didonasikan untuk Taman Bacaan Pelangi. Jadi wisatawan yang ikut Travel Sparks berwisata sambil mendonasikan buku. Kami satu-satunya agen travel yang mengkombinasikan antara wisata dengan kegiatan sosial. Wisatawan bisa berkontribusi langsung untuk Taman Bacaan Pelangi dan bahkan berinteraksi langsung dengan anak-anak yang kerap datang ke perpustakaan kami.

Nila Tanzil, membuka cakrawala anak-anak Indonesia Timur lewat buku di Taman Bacaan Pelangi. (sumber foto: tamanbacaanpelangi.com)
Nila Tanzil, membuka cakrawala anak-anak Indonesia Timur lewat buku di Taman Bacaan Pelangi. (sumber foto: tamanbacaanpelangi.com)

Buku terakhir yang Anda baca apa?

Adultery karya Paulo Coelho.

Bisa tolong sebutkan lima buku yang Anda rekomendasikan untuk dibaca pembaca?

The Alchemist karya Paulo Coelho
The Curious Incident of the Dog in the Night-Time karya Mark Hadden
The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger
Tin Tin karya Herge
The Giving Tree karya Shel Silverstein

Apa arti mencintai kehidupan bagi Anda?

Love life itu kalau kita embrace every minute of life dan menjalani hidup semaksimal mungkin! Anda juga bisa melakukannya.

Perlahan tapi pasti, Nila menjalani mimpinya dalam membantu mewujudkan kecintaan membaca bagi anak-anak di pelosok Indonesia. Baginya, mimpi menjadi lebih bermakna bila hal itu bermanfaat bagi orang lain. Jadi, apakah Anda sudah siap mengejar mimpi?




« | »
Read previous post:
female-daily
Kisah Sukses Hanifa Ambadar dan Affi Asegaf Membawa Female Daily Menjadi Forum Wanita Terbesar di Indonesia

Sejak sekolah dasar, Hanifa Ambadar punya hobi menulis. Topik yang ditulisnys beragam. Mulai dari kegiatan sehari-hari yang ditulis dalam buku...

Close