Pahlawan Kehidupan dari Lereng Gunung Gendol

Pak_Sadiman_telah_menanam_dan_menghijaukan_hutan_selama_20_tahun.__Ari_Susanto_

Sadiman (61) adalah petani di Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, Wonogiri, ujung timur Jawa Tengah. Selain mengurus sepetak sawah, sehari-hari ia mencari rumput di hutan Gunung Gendol untuk kambing peliharaannya.

Hidup Sadiman sangat sederhana, jika bukan jauh dari cukup. Namun, di tengah keterbatasannya, diam-diam ia membuat perubahan besar bagi lingkungan sekitar. Ia berhasil membebaskan desanya dari bencana kekeringan. Karena dari tangannya sendirilah, mata air yang sudah mati selama puluhan tahun kembali mengalir.

Sejak 20 tahun lalu, Sadiman menghijaukan hutan negara yang dikelola Perhutani di lereng Gunung Gendol. Hutan itu pernah terbakar tahun 1970-an dan ditebang habis, yang kemudian menyebabkan lahan gundul dan gersang. “Sejak itu mata air mati. Namun setiap musim hujan, desa dilanda banjir, dan kekeringan sepanjang kemarau,” ujar Sadiman. “Akhirnya, banyak penduduk terserang penyakit kulit dan korengan.”

Baca juga: Hackaton, Usaha Hackers Melindungi Petani dari Tengkulak ‘Nakal’

Kondisi ini membuat penduduk nelangsa. Mereka susah mendapatkan air bersih. Bahkan untuk minum, warga Desa Geneng harus menimba dari belik atau sumur alami yang muncul di tepi aliran sungai. Tergugah oleh kesengsaraan para tetangganya, Sadiman tergerak untuk menanami hutan dengan pohon beringin. Alasan dia, beringin memiliki akar yang kuat untuk dan mampu menyimpan cadangan air.Pak_Sadiman_dan_pohon_beringin_yang_ia_tanam_di_hutan_Gunung_Gendol

Tapi Sadiman tak punya uang guna membeli bibi. Ia pun mencangkok pohon beringin di hutan. Selanjutnya, dia mengembangkan pembibitan cengkih di halaman rumah untuk ditukar dengan bibit beringin. Bibit cengkih itu juga ia jual seharga Rp10.000 per batang, hasilnya dikumpulkan untuk membeli bibit beringin.

Menurut pendataanPemerintah Kabupaten Wonogiri, hingga kini Sadiman sudah menyedekahkan 11.000 pohon untuk alam, sekitar 4.000 di antaranya pohon beringin. Semuanya ia tanam dan rawat sendiri, dengan biaya pribadi yang dikumpulkan sedikit demi sedikit.

Tak hanya menanami hutan. Sadiman juga membuat jalur setapak di lereng terjal untuk memudahkan penanaman dan pemupukan. Di beberapa jalur, Sadiman membuat plang kecil berisi larangan penebangan pohon. Peringatan ini ditujukan bagi siapa saja, terutama anak-anak muda untuk ikut peduli merawat hutan.

Sebab awalnya, kebanyakan orang tak peduli dengan penghijauan. Ketika mata air kembali mengalir, mereka mulai membuat jaringan pipa swadaya untuk mengalirkan air ke rumah-rumah. Hingga akhirnya mendukung upaya Sadiman menanami hutan Gunung Gendol. “Mata air ini belum lama mengalir, baru beberapa tahun belakangan. Di atas juga ada lagi yang langsung dialirkan ke pipa-pipa,” kata Sadiman.

Baca juga: Dari Juru Parkir, Undang Dirikan Sekolah Gratis

Mata air ini sedikitnya telah menghidupi 3.000 jiwa di dua desa. Sekarang, Desa Geneng tak lagi menunggu bantuan jatah tangki air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) saat kemarau. Mata air yang melimpah masih cukup untuk kebutuhan minum dan sanitasi.

Meski demikian, Sadiman beranggapan usahanya belum selesai. Ia ingin debit mata air meningkat agar bisa dinikmati lebih banyak orang. Untuk itu, ia masih membutuhkan sekitar 20.000 bibit siap tanam untuk lebih menghijaukan hutan di daerah tangkapan hujan dan memperbesar cadangan air tanah.Mata_air_Gunung_Gendol_kembali_mengalir_karena_upaya_penghijaun_yang_dilakukan_Pak_Sadiman__Ari_Susanto_

Usaha Sadiman utnuk menghijaukan hutan tentu tidak bebas kesulitan. Beberapa kali ia menemukan pohonnya mati, tercabut, atau dimakan ternak. Tetapi ia bukan orang yang mudah menyerah, karenanya terus mengganti dengan bibit pohon baru.

Sadiman merupakan satu-satunya orang yang mendapatkan izin Perhutani untuk menanami pohon di hutan negara itu. Tetapi, masalah justru muncul dari penduduk desa sendiri yang menyewa lahan hutan untuk merumput. Jika mendapati pohon di tanah yang disewanya, mereka tak segan-segan mencabutnya. Namun, Sadiman tak pernah marah. “Saya jual kambing, uangnya saya bayarkan ke penyewa lahan sebagai ganti rumput, agar saya bisa menanami tanah itu tanpa diganggu,” katanya.

Sadiman tidak pernah bercerita tentang penghijauan kepada istrinya. Hingga suatu saat sang istri tahu sendiri bahwa suaminya telah berbuat banyak untuk memperbaiki lingkungan hutan tempatnya merumput. “Setiap pergi, saya pamit cari rumput buat kambing. Asal saya pulang bawa rumput, istri saya tidak pernah tanya apa yang saya lakukan di hutan,” katanya.

Baca juga: Marzuki Kill The DJ, Tinggalkan Popularitas Demi Misi Mulia di Kampung Halaman

Menurut tokoh desa, Sadiman merupakan sosok teladan yang bekerja ikhlas tanpa berharap imbalan dari siapa pun. Ia lebih memikirkan nasib lingkungan desa dan hutan daripada nasibnya sendiri. “Pak Camat pernah memberinya uang. Semua untuk beli bibit pohon, tidak ada yang diambilnya untuk kebutuhan pribadinya. Padahal, uang itu sebagai pemberian pribadi, bukan bantuan penghijauan,” kata Tarno, Kepala Desa Geneng.

Menurut Tarno, kontribusi Sadiman tidak bisa dinilai dengan uang. Lebih dari 600 keluarga di Desa Geneng sudah menikmati air segar dari Gunung Gendol, sedangkan di Desa Conto, yang bersebelahan, ada dua dusun yang juga ikut mengakses air. “Sekarang desa kami cukup air karena jerih payah Pak Sadiman,” lanjutnya.

Saat ini, Sadiman sedang mengkader para pemuda desa untuk menjadi penerusnya, melestarikan hutan, pohon, dan mata air untuk kehidupan masyarakat.

Baca Cerita LoveLife lainnya di sini.




« | »
Read previous post:
A group of three smiling business people working at a laptop computer
Sembilan Strategi Agar Mampu Bersaing di Dunia Kerja

Peningkatan karir erat kaitannya dengan memenangkan persaingan kerja. Ya, Anda harus bisa menunjukkan kalau Anda yang terbaik dan layak mendapatkan...

Close