Pelajaran Hidup untuk Selalu Memberi dari Seorang Ibu Perawat Taman

Ibu Perawat Taman

Bagi Niscaya Puri, pelajaran tentang kehidupan tidak hanya bisa diserap buku-buku soal kehidupan seperti Chicken Soup for Soul. Pun dari hikayat tokoh-tokoh besar. Semua hal tersebut memang memuat inti-inti soal kehidupan. Tapi Niscaya justru banyak belajar hidup dari lingkungan. Bahkan dari orang biasa seperti Musinah.

Ibu Musinah, begitu biasa disapa Niscaya, hanya seorang pemilik warung kecil di gang sempit dekat Taman Plumpang Semper, Jakarta Utara. Niscaya pertama kali bertemu Musinah pada 2013. Tiap pagi, Niscaya naik bus ke kantornya di bilangan Jakarta Barat.

Pada suatu ketika, Ibu Musinah melihat Niscaya. Musinah pun menghampiri dan memulai percakapan dengan menanyakan dari mana asal Niscaya. Pembicaraan pun mengalir tanpa beban. Mereka ngobrol ngalor-ngidul tentang berbagai hal.

Niscaya merasa ‘nyambung’ ngobrol dengan Ibu Musinah karena beliau bisa menimpali berbagai topik yang dibahas Niscaya. Wawasannya sangat luas. Sampai-sampai Niscaya malu sendiri lantaran Musinah tidak ada habisnya membahas masalah-masalah yang mereka diskusikan. “Beliau selalu bisa menemukan sisi positif dari segala sesuatu, nggak gampang ngeluh, dan sangat suka memberi,” kata Niscaya.

Wanita berusia 27 tahun ini kagum dengan cara Ibu Musinah memandang dan menjalani hidup. Ikhlas dan positif. Dua kata yang dipelajari Niscaya dari Ibu Musinah. Niscaya melihat Ibu Musinah selalu mementingkan orang lain terlebih dahulu dibandingkan dengan diri sendiri. Niscaya menjaga persahabatan mereka hingga sekarang. Mereka saling bertukar nomor telepon genggam.

Ibu Musinah selalu bisa melihat hal positif dari segala kejadian yang buruk. Pesan Ibu Musinah yang masih melekat di benak Niscaya adalah soal sakit. “Harus bersyukur jika diberi kesempatan untuk sakit. Hikmah pertama dari sakit adalah diberi waktu untuk istirahat, tidak hanya kerja. Yang kedua karena sakit, kita jadi mengerti nikmatnya sehat.”

Tak lama setelah berkenalan, Niscaya kaget melihat pemandangan saat hendak menunggu bus untuk berangkat kerja. Warung Ibu Musinah lenyap. Tempat yang biasanya ramai dan penuh orang yang merokok dan minum kopi tiba-tiba sepi. Usut punya usut, Niscaya mengetahui ternyata warung Ibu Musinah digusur Satuan Polisi Pamong Praja.

Keesokan harinya, Niscaya kembali ke Taman Plumpang untuk menunggu bus. Dia melihat Ibu Musinah dengan sepeda onthel khasnya, berdiri di bekas tempat warungnya. Tak berpikir lama, Niscaya langsung menghampiri Ibu Musinah dan bertanya apa yang terjadi.

“Biasalah kena Satpol PP,” jawab Ibu Musinah.

“Lalu gimana? Akan dibangun lagikah?” Niscaya kembali bertanya.

“Iya. Tapi mungkin enggak dalam waktu dekat,” kata Ibu Musinah.

“Kalau warung tutup, apa yang Ibu lakukan di sini?” tanya Niscaya.

“Menunggu orang-orang yang menitipkan barang-barang dagangan mereka di warung datang untuk mengembalikan sisa barang titipan. Selain itu saya juga mau kasih uang pendapatan mereka hasil titipan barang yang kemarin laku,” kata Ibu Musinah.

Ibu Musinah lantas mengeluarkan secarik kertas dan segepok uang yang diikat dengan karet gelang.
“Nih, saya punya semua daftar orang yang nitip barang dagangannya di saya. Laku berapa, sisa berapa, ada catatannya di kertas ini. Dan semua ingin saya kembalikan ke mereka. Tapi ya gitu, kalau orang-orang tahu warung digusur, biasanya mereka suka pada sengaja nggak mau ngambil,” tutur Ibu Musinah.

“Kalau begitu barang sisa dan uang hasil yang laku itu bagaimana?” tanya Niscaya.

“Ini sudah hari kedua. Saya tunggu sampai besok. Kalau besok enggak datang juga, saya akan menyumbangkan semua barang dagangan sisa ini atas nama mereka. Kalau uangnya saya tunggu sampai seminggu. Kalau enggak diambil juga, ya saya sumbangin juga atas nama mereka. Wong ini bukan punya saya,” kata Ibu Musinah.

Niscaya terperanjat mendengar jawaban Ibu Musinah. Di saat banyak orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, seorang ibu penjaga warung yang warungnya baru digusur malah ingin menyumbangkan uang dan makanan yang sudah ada di tangannya ke tempat ibadah. Padahal, si pemilik uang dan barang tersebut seperti sudah mengikhlaskannya ke Ibu Musinah.

Sejak saat itu, kekaguman Niscaya terhadap Ibu Musinah kian bertambah. Niscaya pun makin dekat dengan Ibu Musinah. Pelajaran yang diserap Niscaya dari Ibu Musinah tidak berhenti sampai di situ.

 

niscaya2

 

Ketika Niscaya hendak menikah pada 5 Agustus 2017 dan mengundang Ibu Musinah, ia mengatakan ada 2 pasangan lain yang juga mengundangnya di hari yang sama. Namun Ibu Musinah berkata tetap mengusahakan untuk hadir. Saat hari H pernikahannya, Niscaya tidak melihat keberadaan Ibu Musinah. Dia mengira Ibu Musinah tidak jadi hadir.

Baru belakangan Niscaya mendapat cerita dari teman kantornya yang menjadi penerima tamu, bahwa saat pernikahan ada seorang ibu tua yang datang sedikit terlambat. Ibu tua tersebut memberi kado yang dibungkus kertas kado batik. Ketika Niscaya menanyakan nama ibu itu, teman kantornya mengaku tidak tahu. Sebab, di buku tamu, ibu tua tersebut tidak menuliskan namanya. Dia justru menulis sebuah pesan. Teman Niscaya sempat menyarankan agar ibu tua itu menuliskan namanya agar Niscaya tahu kado itu dari siapa. Tapi ibu tua itu menjawab, “Enggak usah. Niscaya pasti tahu itu dari siapa.”

Cerita temannya itu terus terngiang-ngiang di kepala Niscaya. Sampai di rumah, dia langsung membongkar buku tamu saat pemberkatan pernikahannya. Ketemu. Pesannya berbunyi: Tetap semangat! Niscaya lantas mencari kado kotak yang dibungkus kain batik. Alangkah kaget Niscaya ketika membuka kado tersebut. Isinya ternyata gelang rantai emas. Selain gelang emas, ada sebuah surat yang diselipkan di dalamnya. Pesannya, gelang rantai tersebut menjadi simbol pengikat Niscaya dan suaminya agar selalu bersatu dan terikat sampai selamanya. Pesan tersebut membuat Niscaya tak mampu membendung air matanya. Dia pun langsung memanggil suaminya dan menceritakan kejadian tersebut.

“Saya sungguh tidak dapat berkata-kata apapun. Seperti tidak masuk akal rasanya. Seorang penjaga warung dan tukang sapu taman, mampu menunjukkan kasihnya yang begitu besar bagi seseorang yang dianggapnya sahabat. Baru kali ini saya bertemu dengan seseorang seperti beliau dan saya merasa sangat beruntung diberi kesempatan Tuhan untuk boleh mengenal sosok seorang Ibu Musinah,” kata Niscaya.

Dari hubungan Niscaya dengan Ibu Musinah, terpetik pelajaran bahwa kaya atau miskin itu bukan soal harta, tetapi soal hati. Ada orang yang sangat berada tapi miskin hati dan sulit sekali memberi, hanya mementingkan diri sendiri. Ada orang yang secara finansial berkekurangan tetapi memiliki mental yang kaya. Yuk, selalu berusaha memberi #KebaikanTanpaSyarat seperti halnya Niscaya dan Ibu Musinah.

Related Posts

#LoveLifeTalks: Menemukan Diri Sendiri dengan Yasa Singgih

Siapakah kamu? Seorang akuntan. Seorang manajer. Seorang pemilik usaha. Pertanyaan sederhana itu mungkin terdengar m...

Yusuf Adirima, Mantan Teroris yang Berubah dari Berani Mati Menjadi Berani Hidup

Di sebuah dapur rumah makan di tengah Kota Solo, Jawa Tengah, seorang laki-laki berperawakan kecil sibuk memeriksa aneka...

Inspirasi Penuh Haru antara Anak Majikan dan Pengasuh yang Kini Erat bagai Saudara Kandung

Terlalu banyak kenangan indah dengan Taniah atau Mbak Niah yang mengendap di benak Fransisca Maria. Masa delapan tahun F...




« | »
Read previous post:
Gaji Istri Lebih Dari Suami
Intip Komunikasi dan Perencanaan Keuangan yang baik saat Gaji Istri Lebih Besar

Istri memiliki penghasilan yang lebih tinggi dari suami bukanlah hal yang baru. Kondisi di mana perempuan bekerja dan melanjutkan pendidikan...

Close