Satu Kaki Tak Cukup Hentikan Keinginan Sabar Gorky Capai Seven Summit

306308_11525620052015_sabar

Gulungan awan hitam dengan cepat menutupi langit Lembah Danau Danau, Pegunungan Jayawijaya, Jayapura, Papua sore itu, Sabtu, 15 Agustus 2015. Dalam hitungan menit, badai salju dan es mengamuk dengan hebat, memaksa para pendaki yang berniat menaklukkan salah satu puncak gunung tertinggi di dunia, Carstensz Pyramid, untuk menghentikan langkah mereka.

Para pendaki itu pun tertahan. Selama lebih dari 12 jam, mereka berjuang melawan rasa dingin dan kaku serta terjangan badai di balik tenda-tenda di Lembah Kuning. “Kita tertahan dari jam 3 pagi sampai jam 3 sore,” kenang Sabar Gorky, pendaki yang ikut dalam ekspedisi Rakyat Merdeka, Agustus lalu.

Perjuangan Sabar beserta 35 anggota tim ekspedisi Marinir Rakyat Merdeka malam itu tak sia-sia. Tepat tanggal 17 Agustus 2015 pukul 12.00 WIT, mereka berhasil mengibarkan Bendera Merah Putih raksasa berukuran 15 x 20 di Puncak Carstensz Pyramid yang ketinggiannya mencapai 4.884 mdpl.

Pengalaman itu menjadi salah satu kenangan tak terlupakan bagi Sabar. Ia berhasil melewati medan pendakian yang bahkan orang normal pun kepayahan menjajakinya.

img_0787-copy_resize

Ya, meski sekilas tak tampak ada perbedaan antara dirinya dengan pendaki yang lain, Anda akan terhenyak begitu menyadari selama pendakian Sabar hanya bertumpu pada kaki kiri. Ya, kaki kanan Sabar telah diamputasi setelah terjatuh dari kereta api, 25 tahun yang lalu.

Hebatnya lagi, selain pendamping, Sabar mengaku tidak menggunakan alat khusus apapun selama pendakian. “Perlengkapan yang saya siapkan ya itu tongkat sebagai alat bantu saya berjalan,” jelas ayah satu putri ini.

Capaian itu menambah daftar puncak gunung tertinggi di dunia yang sudah ia daki. Pada 2011 lalu, Sabar merupakan tunadaksa pertama di dunia yang mampu mencapai puncak gunung tertinggi di Eropa, Gunung Elbrus (5.642 mdpl) serta Gunung Kilimanjoro (5.895 mdpl), puncak tertinggi di Afrika hanya dalam waktu empat bulan.

Meski sudah menggapai tiga dari tujuh puncak gunung tertinggi di tujuh benua, serta 15 puncak gunung lainnya di Indonesia, Sabar merasa masih belum cukup. Ia ingin menjadi tunadaksa pertama di dunia yang menjadi Seven Summiter alias pemungkas tujuh puncak tertinggi di tujuh benua.

“Saya ingin buktikan kepada dunia, kepada masyarakat, di dunia tak ada yang tidak mungkin, asal kita diberi kesempatan,” kata Sabar.

Sabar memang sudah jatuh hati pada kegiatan mendaki sejak tahun 1986. Bagi pria kelahiran 19 September 1968 itu, mendaki merupakan perjalanan jiwa mencari ketenangan sekaligus kesenangan. “Hidup ini harus dinikmati. Banyak kejadian yang tidak kita inginkan, tapi kita tidak boleh larut oleh masa lalu,” ungkap pria yang sehari-hari menjalankan bisnis laundry gedung itu.

Karenanya ia mengaku tak suka disebut sebagai penakluk gunung. “Saya inginnya bersahabat dengan gunung, dengan alam. Saya bukan penakluk,” tegasnya.

November nanti, giliran Gunung Aconcagua, gunung tertinggi di Amerika (6.959 mdpl), yang akan ia coba jadikan sahabat. Jika usahanya berhasil, Sabar cukup tambahkan tiga gunung lagi untuk menjadi Seven Summiter tunadaksa pertama di dunia. Sebab kondisi sebagai tunadaksa memang tidak menjadi hambatan bagi Sabar untuk mencapai impiannya. “Sebagai pendaki bisa menyelesaikan tujuh puncak di tujuh benua, itu sesuatu, itu semuanya. Itu berarti penyelesaian suatu visi,” kata dia.

Baca juga Cerita-LoveLife lainnya di sini.




« | »
Read previous post:
amal
4 Cara Ajarkan Anak tentang Konsep Berbagi

Hampir setiap orang tua atau guru pernah mendapat keluhan dari anak-anak, tentang temannya yang tidak mau berbagi makanan atau mainan....

Close