Mengintip Tradisi Khas Ramadan di Negara-negara Berpenduduk Mayoritas Non-Muslim

Khas Ramadan

Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, wajar bila Indonesia memiliki bermacam tradisi dalam menyambut dan merayakan bulan suci Ramadan. Namun, ternyata sejumlah negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim pun memiliki budaya ataupun tradisi unik setiap memasuki bulan Ramadan. Jika Anda kebetulan sedang atau akan menjalani ibadah puasa di salah satu negara tersebut, cerita berikut dapat menambah semangat maupun kemeriahan di bulan Ramadan.

Rusia

Dari total 146 juta jiwa penduduk Rusia, sekitar 20 juta di antaranya beragama Islam. Mirip dengan negara-negara di Eropa, waktu berpuasa di Rusia juga termasuk lama yakni sekitar 17 jam. Saat Ramadan, warga Muslim di Rusia senang berbuka puasa dengan kurma dan roti yang diisi aneka masakan. Roti yang terbuat dari tepung dan berisi labu atau keju disebut khingalsh, sedangkan yang terbuat dari gandum disebut galnash. Sementara, penawar dahaga yang menjadi favorit warga Muslim Rusia untuk berbuka puasa adalah kvass, yaitu minuman non-alkohol yang dihasilkan dari proses fermentasi dan dicampur dengan perasa buah.

India

Credit: www.republika.co.id
Credit: www.republika.co.id

Di India, Ramadan disebut Ramazan. Memasuki bulan suci ini, para pria Muslim di India akan menghias mata mereka dengan kohl (sejenis celak mata). Selain itu, mereka juga akan membersihkan rumah dan mengenakan pakaian tradisional yang disebut Kurta atau Salwar Kameez.

Tak sekadar penampilan yang istimewa di Ramadan. Muslim di India pun memiliki menu favorit untuk berbuka puasa yaitu berbagai makanan yang menggunakan bihun sebagai bahan utamanya. Oleh karenanya, penjualan bihun di India biasanya mengalami peningkatan saat Ramadan. Saat berbuka, hidangan berbahan bihun akan disajikan bersama dengan buah-buahan manis dan ganghui (sejenis sup yang dibuat dari terigu, beras, dan potongan daging). Sementara, menu untuk sahur biasanya haleem atau nonbu kanji, yaitu semacam bubur yang kaya rempah, serta minuman yang disebut harir (terbuat dari kacang-kacangan dan biji-bijian).

Jepang

Credit : https://www.nippon.com
Credit : https://www.nippon.com

Meski mayoritas penduduknya non-Muslim, namun, orang Jepang sangat menghargai orang-orang yang berpuasa. Sejumlah perusahaan bahkan membolehkan karyawan Muslim untuk pulang kantor lebih cepat di bulan Ramadan karena aktivitas kerja di sana sangat padat. Waktu berpuasa di Jepang lebih panjang daripada di Indonesia, yaitu sekitar 19 jam.

Setiap Ramadan, sudah menjadi tradisi bila umat Muslim di Jepang akan berkumpul di satu tempat untuk merasakan kemeriahan Ramadan. Salah satu tempat yang selalu ramai adalah Japan Islamic Center (JIC) di Tokyo. Selain kegiatan berbuka puasa bersama, umat Muslim yang berkumpul di sini biasanya menggelar aktivitas keagamaan seperti dialog keagamaan, majelis taklim, membagikan buku-buku keagamaan, dan salat tarawih berjamaah.

Tiongkok

Credit: http://decode.uai.ac.id
Credit: http://decode.uai.ac.id

Bertahun-tahun lalu, umat Muslim yang tinggal di daerah dekat perbatasan Tiongkok dan Turki kerap melakukan tradisi Muqam untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Tradisi Muqam dilakukan di depan masjid; sejumlah orang menyanyi dan menari dengan tarian khas setempat. Di sekitarnya ada plaza yang menjual makanan khas untuk berbuka puasa.

Kini, tradisi tersebut tidak sering dilakukan di banyak tempat. Untuk menemukan kemeriahan atau suasana Ramadan, warga Muslim di Tiongkok dapat menghampiri masjid-masjid di perbatasan yang biasanya menyediakan takjil berupa roti cokelat, kurma, dan teh. Makanan untuk berbuka di Tiongkok umumnya mirip dengan makanan khas Timur Tengah, yaitu didominasi daging sapi dan kambing yang dibakar atau dipanggang. Selain itu ada juga niuroumian, sejenis mie daging sapi, yang tersedia di restoran-restoran Tiongkok menjelang waktu berbuka puasa.

Jerman

Sebagian besar umat Muslim di Jerman adalah pendatang dari negara-negara di Timur Tengah. Oleh karena itu, tradisi berpuasa di Jerman turut dipengaruhi oleh budaya Timur Tengah, salah satunya Turki. Contohnya saat berbuka puasa, hidangan yang disajikan adalah qata’ef (kue kering yang direndam sirup gula), dan kalladsch (adonan pilo isi kacang-kacangan), suus (minuman berbahan baku gula hitam), dschellab (gula dicampur sirup kurma), dan qamruddin (jus aprikot). Selain itu ada juga hidangan khas Maroko yang disajikan di masjid-masjid seperti sup Harira yang terbuat dari kacang-kacangan dan dilengkapi daging kambing atau sapi.

Menu populer khas Timur Tengah lainnya adalah sellou (kue kecil yang terbuat dari wijen dan almond) dan msemen (semacam panekuk yang disajikan dengan madu atau diisi daging giling). Anda juga dapat berkunjung ke pasar tradisional di Frankfurt, Kleinmarkthalle, yang menyediakan banyak sekali kudapan khas untuk berbuka puasa, seperti aneka kue dan makanan yang diolah menggunakan kurma. Di sini, Anda juga bisa menemukan aneka kurma yang diisi kacang, krim jeruk, dan bermacam olahan lain.

Mesir

source: www.news.okezone.com

Umat Muslim di Kairo, Mesir, selalu menyambut datangnya bulan Ramadan dengan penuh suka cita. Mereka akan memasang lampu tradisional yang disebut fanus di rumah-rumah mereka. Fanus adalah lampu yang terbuat dari kaleng dan gelas warna-warni dengan lilin di dalamnya (disebut juga lampu Aladin). Tradisi memasang fanus sepanjang Ramadan telah dilakukan umat Muslim di Kairo sejak zaman Dinasti Fattimiyah. Dahulu, fanus dipasang untuk menyambut kedatangan pasukan Raja Mesir yang berkunjung pada Ramadan.

Selain di rumah-rumah, fanus juga dipasang di jalan raya dan masjid-masjid. Pada malam hari, Kairo terlihat begitu semarak dan indah berkat nyala cahaya warna-warni dari fanus di selu




« | »
Read previous post:
Ayam_Nasu_Likku
Warna-warni Hidangan Lebaran Nusantara

Tak terasa Lebaran nyaris tiba lagi. Bagi muslim di Indonesia, Idul Fitri selalu ditunggu-tunggu karena inilah saatnya berkumpul kembali dengan...

Close