Dari Marketing Director, Banting Stir Menjadi Guru Yoga

Dian Sonnersted

Bagi banyak orang, keluar dari zona nyaman adalah sebuah langkah yang tak mudah dilakukan. Mereka memilih untuk terus bertahan pada wilayah familiar yang memberikan rasa aman dan nyaman untuknya tersebut. Padahal, keluar dari zona ini bisa menjadi satu cara untuk mengembangkan potensi diri yang selama ini tersembunyi.

Dian Nur Farida Sönnerstedt, misalnya, ia menemukan kesuksesan sebagai seorang instruktur yoga setelah banting stir dari karier kantorannya yang cemerlang.

“Selama sekitar 12 tahun saya bekerja di bidang marketing,” ujar perempuan kelahiran Probolinggo, 4 Februari 1980 ini. Menapaki bidang marketing sejak 2003 pada sebuah agensi, karier Dian terus menanjak. Ia pernah menduduki sejumlah posisi strategis seperti Brand Manager Corporate di Bakrie Telecom, Country Marketing Manager Yahoo! Indonesia dan Marketing Director Guvera. Meski merasa marketing adalah salah satu passion yang ia miliki, Dian mengaku pekerjaan ini memiliki tuntutan yang tinggi dan tak jarang membuatnya stres. “Dulu, saat stres karena pekerjaan saya bisa sesak nafas, seperti terkena panic attack,” katanya.

Pada 2010 ia berkenalan dengan yoga, yang menjadi salah satu program yang ditawarkan oleh gym yang diikutinya. Di tahun pertama, ia mengaku memang tidak begitu mendalami olahraga ini, hanya berlatih tak lebih dari satu minggu sekali. Namun di tahun-tahun setelahnya, ia mulai lebih rajin berlatih, apalagi yoga ternyata mampu menjadi ‘obat stres’ akibat pekerjaannya.

“Saya merasa lebih sehat dan lebih tenang. Karena yoga itu kan bukan hanya olahraga, tapi juga way of living,” kata alumni Jurusan Akuntansi Universitas Sumatera Utara ini.

Baca juga: Yoga untuk Pria, Ya atau Tidak?

Semakin lama Dian berlatih, ia merasa menemukan yoga sebagai passion barunya, di luar marketing. Karena itu, setelah empat tahun berlatih, ia kemudian berpikir untuk lebih memperdalam kemampuannya ini. Ia mengambil cuti kerja selama sekitar tiga minggu, untuk mengikuti pelatihan Teacher Training 200 hours secara intensif. Setelah itu, ternyata banyak rekannya yang meminta untuk diajari yoga.

IMG-20151130-WA0004

“Karena saya sangat enjoy mengajar yoga dan yoga adalah passion saya, saya lalu berpikir mengapa saya tak fokus mengajar saja,” katanya. Sejak awal 2015, ia pun memberanikan diri banting stir pada bidang yang jauh berbeda ini. Dian menyebut, ia beruntung karena keluarga dan orang-orang terdekatnya tidak mempertanyakan keputusan besarnya ini. Sebaliknya, mereka mendukung langkah Dian, bahkan merekomendasikan namanya pada orang yang hendak belajar yoga.

Langkah banting stir ini, tidak dilakukan Dian secara gegabah. Ia telah memikirkan sejumlah pertimbangan dan melakukan persiapan sebelum benar-benar mengeksekusi langkahnya ini. Yang pertama, adalah pertimbangan finansial. Selain menyiapkan tabungan secara cukup, ia juga bekerja sebagai freelance consultant yang tak hanya memberikan income tambahan, namun juga memberikannya ruang untuk memperluas koneksinya.

Selain itu, Dian menyebut dirinya selalu mengevaluasi langkah yang telah diambil, untuk melihat apakah keputusannya tersebut memberikan progress bagi dirinya. Untuk keputusan menjadi instruktur yoga ini misalnya, ia membatasi jangka waktu 12 bulan untuknya mendapatkan progress yang berarti. Bila tidak, ia harus mempertimbangkan kembali niatnya melanjutkan karir sebagai instruktur yoga. “Karena bila tidak ada kemajuan apa-apa, stuck, memang sebaiknya tidak dilanjutkan,” ujarnya.

IMG-20151130-WA0006

Ternyata ia mendapati bahwa langkahnya ini telah berada di jalur yang tepat. Selain Asana Yoga yang telah lebih dulu dikuasainya, ia telah memperluas skillnya, termasuk Prenatal Yoga dan Thai Massage. Kini setelah hampir setahun menjadi instruktur yoga, Dian telah mengajar di banyak tempat. Selain di sebuah studio bilangan Senayan, Jakarta Selatan, ia juga membuka kelas privat dan kelas untuk karyawan kantor pasca jam kerja. Tak jarang, dalam seminggu ia hanya libur mengajar satu hari.“Karena itu, saya rasa ke depannya saya akan terus mengajar yoga,” katanya.

Baca juga: Meminimalisir Rasa Sakit Melahirkan Bersama Komunitas Gentle Birth

Dian menyebutkan saat ini ia merasa lebih bahagia dengan pekerjaannya saat ini, bukan hanya karena manfaat kesehatan dan keleluasaan dalam mengatur waktu yang sekarang dirasakannya. “Karena saya membagi ilmu yang saya miliki sehingga berguna bagi orang lain, saya merasa kepuasan batin tersendiri,” katanya.

Dian, juga berbagi sedikit rahasianya untuk mencintai kehidupan, yakni mencintai dirinya sendiri. Dengan mencintai diri sendiri, seseorang akan menerima kelebihan sekaligus kekurangannya dengan lapang dada, juga selalu merasa berkecukupan. “Dengan begitu, kita akan memiliki passion dalam berbuat kebaikan,” katanya.




« | »
Read previous post:
m-disney
Siapkan Paspor, Ini 6 Maraton Untuk Diikuti Sambil Travelling

Ingin berlari di sepanjang tembok Cina, atau maraton di antara gedung-gedung tua di Roma? Persiapkan fisik, paspor, dan visa Anda....

Close