David Tarigan, ‘Membangun’ Perpustakaan Musik Online Lewat Irama Nusantara

Screen_Shot_2016-03-15_at_8.14.23_PM copy

“Saya lebih suka hanya memiliki satu lemari berisikan rekaman-rekaman yang selalu menggetarkan hati saya daripada ratusan ribu rekaman yang tidak saya dengarkan dengan baik.”

Sejak kuliah, David Tarigan bermimpi membuat sentra data soal musik Indonesia. Cita-cita tersebut muncul lantaran minimnya informasi mengenai musisi Indonesia di era 1950-an. Jangankan karya-karya mereka, informasi soal musisi tersebut saja sulit ditemukan. Iseng-iseng berhadiah, David dan kawan-kawannya membuat situs Indonesia Jumawa. Isinya berupa sampul-sampul rilisan musisi Indonesia jadul. Tapi itu hanya dilakukan di masa senggang saat kuliah. Lantaran kesibukan masing-masing, proyek tersebut terbengkalai.

Hingga akhirnya pada 2013, David dan enam orang lainnya–Norman Ilyas Rumahorbo, Dian Onno, Toma Avianda, Christophorus Priyonugroho, Alvin Yunata–sepakat membuat Irama Nusantara. Irama Nusantara diharapkan menjadi upaya pelestarian dan pengarsipan data serta informasi musik populer Indonesia.

Berikut wawancara tim ILoveLife dengan David soal minatnya terhadap musik dan mimpinya.

Bisa cerita perkenalan Anda dengan musik?

Dari kecil saya sudah suka musik. Bahkan dari balita saya sudah minta beli kaset pita karena tahu isinya adalah lagu-lagu. Sebenarnya orang tua saya tidaklah semusikal itu. Yang saya ingat mereka memang memiliki seperangkat stereo set serta beberapa kaset. Mereka bukan tipe pelanggan toko kaset atau bahkan kolektor musik.

Bagaimana lingkungan membantu Anda hingga total di bidang musik?

Saya tidak pernah dengan sadar merasa ‘total’ di bidang musik. Saya hanya melakukan apa yang saya suka dan merasa beruntung lingkungan saya mendukungnya. Dari mulai kecil dulu, di rumah, sekolah dan setelahnya dalam pergaulan sehari-hari. Saya tidak pernah merasakan sendirian berada di jalan ini.

Rilisan fisik apa yang pertama kali Anda beli? Apa rasanya?

Saat balita saya suka sekali dengan figur John Travolta di film Grease dan Saturday Night Fever. Saya beli kaset pertama saya, soundtrack Saturday Night Fever, karena ada sosok Travolta di sampulnya.

Tidak pernahkah terpikir untuk menjadi musisi?

Saya tidak pernah serius menjadi musisi. Mungkin ini wujud ketakutan saya akan konsep keseriusan serta profesionalitas yang dapat membuat musik kehilangan arti serta kesenangannya. Saya takut kalau saya serius musik menjadi tidak fun lagi, dan itu adalah sesuatu yang amat besar. Karena musik begitu berarti dalam hidup saya.

Sekarang total berapa koleksi rilisan fisik yang Anda punyai? Apakah semuanya Anda dengarkan berulang-ulang? Kalau ya, bagaimana Anda membagi waktunya?

Koleksi rekaman fisik saya sebenarnya tidak banyak. Dulu mungkin cukup banyak, tetapi tidak sekarang. Saya lebih suka hanya memiliki satu lemari berisikan rekaman-rekaman yang selalu menggetarkan hati saya daripada ratusan ribu rekaman yang tidak saya dengarkan dengan baik. Sekarang saya memiliki kurang lebih 2.000 piringan hitam serta sedikit CD dan kaset.

Kenapa mengoleksi rilisan-rilisan musik Indonesia? Apakah Anda juga mengoleksi rilisan musik-musik luar?

Tentu saja saya membeli dan menyimpan rilisan musik-musik luar. Sebab saya tumbuh dengan mereka. Tetapi kalau sifatnya mengoleksi mungkin memang tepat untuk menggambarkan hubungan saya dengan rilisan-rilisan musik Indonesia, terutama dari masa lalu. Walaupun tentunya tidak hanya mengoleksi, tetapi tiap rekaman Indonesia tersebut saya dengarkan untuk terhibur sembari mencermatinya. Itu jadi semacam obsesi, untuk menguak realita ekspresi musik populer Indonesia yang bisa dianggap tertelan oleh zaman. Saya sebagai orang Indonesia yang cinta terhadap musik saja merasa begitu jauh dengan keberadaan musik populer Indonesia dari masa lalu, apalagi umumnya masyarakat Indonesia? Masyarakat Indonesia berhak untuk tahu.

David mendirikan Irama Nusantara bersama 4 orang rekannya:
David mendirikan Irama Nusantara bersama 5 orang rekannya: Norman Ilyas Rumahorbo, Dian Onno, Toma Avianda, Christophorus Priyonugroho, dan Alvin Yunata.

Album apa dan siapa musisi yang rilisannya saat ini Anda paling cari?

Wah, ada banyak. Seperti barusan saja ada seorang teman yang sedang sekolah di kota lain memberitahu penemuan terbarunya, sebuah kaset album dari band Indonesia terlupakan yang belum pernah saya dengar sebelumnya, Black Air Mood Band. Judul albumnya Gaya Intermezo, dirilis di sekitar tahun ’80-an. Teman saya tersebut mengirimkan contoh-contoh lagunya lewat whatsapp, cukup mengesankan.

Saat di Aksara Records, bagaimana cara Anda memilih musisi yang dirilis?

Sederhana saja sebenarnya. Pertama-tama saya dan teman-teman harus benar-benar suka dan yakin dengan musiknya. Kedua, anak-anaknya harus asik, hehehe. Di Aksara pada dasarnya kami berbagi musik yang kami anggap bagus ke orang banyak. Itu saja. Tidak begitu peduli dengan hal-hal lain.

Bisa ceritakan sejarah Irama Nusantara muncul? Ide siapa, bagaimana pembagian kerja dll.

Kalau dari saya, itu semua berawal dari komik terjemahan Perjalanan Musik Rock yang sempat tampil di Majalah Hai di akhir ’80-an. Grafisnya begitu keren, tentang sejarah rock pula. Musik dan seni visual, dua hal yang saya gandrungi. Saat itu saya langsung terinspirasi untuk membuat yang serupa tetapi tentang musik Indonesia. Ternyata hal terseut tidaklah mudah. Nyaris tidak ada informasi tentang perjalanan sejarah musik populer Indonesia. Lalu saya mulai mencari tahu sendiri, mencari rekaman-rekaman Indonesia dari masa lalu di setiap kesempatan, setelah itu membagi informasinya ke teman-teman.

Di akhir ’90-an, saya bersama teman-teman kuliah di Bandung membuat sebuah situs bernama Indonesia Jumawa. Itu prototip dari Irama Nusantara. Iseng-iseng berhadiah saja sebenarnya. Kami menampilkan data-data rilisan fisik musik populer Indonesia seperti coversleevelable, hingga cuplikan lagu-lagunya. Tetapi situsnya tidak pernah diurus. Kami terlalu sibuk main-main saat itu. Hingga kami memutuskan untuk membuat versi seriusnya beberapa tahun yang lalu, Irama Nusantara yang ada sekarang ini. Selain saya inisiatornya ada Chris, Toma, Norman, Alvin dan Dian Onno. Pembagian kerjanya sejauh ini dibuat sederhana saja. Karena tulang punggungnya adalah pengarsipan, kami dibantu oleh beberapa relawan untuk pengarsipan audio, teks, dan visual. Juga seorang relawan general affair. Sisanya sih tergantung kebutuhan saja.

Bagaimana proses Irama Nusantara mengumpulkan sekian banyak rilisan?

Sebenarnya koleksi fisik milik Irama Nusantara cuma sedikit. Utamanya dari koleksi pribadi para inisiator serta beberapa teman dekat yang juga kolektor. Juga koleksi pedagang, atau bahkan barang dagangannya, yang boleh dipinjam untuk diarsipkan. Terima kasih yang tak terhingga untuk mereka semua.

Apa arti mencintai hidup bagi Anda?

Mencintai hidup berarti menjalaninya dengan segenap hati. Sehingga apa yang kita lakukan memang merupakan panggilan hati, bukan mengikuti kata orang lain. Hidup cuma sebentar dan kita sendiri yang menjalaninya, jadi dibuat seru sesuai pilihan kita saja!

Ingin mendengar lagu-lagu yang berhasil dikumpulkan Irama Nusantara? Silakan melakukan perjalanan ke masa lalu, dari sini!

Baca kisah-kisah penuh inspirasi lainnya di sini.




« | »
Read previous post:
wg2 Cropped
Sulap Tampilan Makanan Rumahan Jadi Sajian Resto Bintang 5 Ala @warteggourmet

Berangkat dari kecintaannya terhadap kuliner Indonesia, berkreasilah Dade Akbar dengan makanan Warung Tegal (warteg) lewat akun instagram @warteggourmet. Di tangan Dade,...

Close