<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita LoveLife Archives - Love Life</title>
	<atom:link href="https://ilovelife.co.id/category/life/cerita-lovelife/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://ilovelife.co.id/blog/category/life/cerita-lovelife/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 12 Apr 2022 12:06:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.1</generator>

<image>
	<url>https://ilovelife.co.id/blog/wp-content/uploads/2020/08/cropped-tentang-32x32.png</url>
	<title>Cerita LoveLife Archives - Love Life</title>
	<link>https://ilovelife.co.id/blog/category/life/cerita-lovelife/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>David Tarigan, &#8216;Membangun&#8217; Perpustakaan Musik Online Lewat Irama Nusantara</title>
		<link>https://ilovelife.co.id/blog/david-tarigan-dan-irama-nusantara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Apr 2016 02:00:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita LoveLife]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://ilovelife.co.id/blog/?p=1773</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Saya lebih suka hanya memiliki satu lemari berisikan rekaman-rekaman yang selalu menggetarkan hati saya daripada ratusan ribu rekaman yang tidak saya dengarkan dengan baik.&#8221; Sejak kuliah, David Tarigan bermimpi membuat sentra data soal musik Indonesia. Cita-cita tersebut muncul lantaran minimnya informasi mengenai musisi Indonesia di era 1950-an. Jangankan karya-karya mereka, informasi soal musisi tersebut saja [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://ilovelife.co.id/blog/david-tarigan-dan-irama-nusantara/">David Tarigan, &#8216;Membangun&#8217; Perpustakaan Musik Online Lewat Irama Nusantara</a> appeared first on <a href="https://ilovelife.co.id/blog">Love Life</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>&#8220;Saya lebih suka hanya memiliki satu lemari berisikan rekaman-rekaman yang selalu menggetarkan hati saya daripada ratusan ribu rekaman yang tidak saya dengarkan dengan baik.&#8221;</strong></h2>
<p>Sejak kuliah, David Tarigan bermimpi membuat sentra data soal musik Indonesia. Cita-cita tersebut muncul lantaran minimnya informasi mengenai musisi Indonesia di era 1950-an. Jangankan karya-karya mereka, informasi soal musisi tersebut saja sulit ditemukan. Iseng-iseng berhadiah, David dan kawan-kawannya membuat situs Indonesia Jumawa. Isinya berupa sampul-sampul rilisan musisi Indonesia jadul. Tapi itu hanya dilakukan di masa senggang saat kuliah. Lantaran kesibukan masing-masing, proyek tersebut terbengkalai.</p>
<p>Hingga akhirnya pada 2013, David dan enam orang lainnya&#8211;Norman Ilyas Rumahorbo, Dian Onno, Toma Avianda, Christophorus Priyonugroho, Alvin Yunata&#8211;sepakat membuat Irama Nusantara. Irama Nusantara diharapkan menjadi upaya pelestarian dan pengarsipan data serta informasi musik populer Indonesia.</p>
<p>Berikut wawancara tim ILoveLife dengan David soal minatnya terhadap musik dan mimpinya.</p>
<h3><strong>Bisa cerita perkenalan Anda dengan musik?</strong><strong><br />
</strong></h3>
<p>Dari kecil saya sudah suka musik. Bahkan dari balita saya sudah minta beli kaset pita karena tahu isinya adalah lagu-lagu. Sebenarnya orang tua saya tidaklah semusikal itu. Yang saya ingat mereka memang memiliki seperangkat stereo set serta beberapa kaset. Mereka bukan tipe pelanggan toko kaset atau bahkan kolektor musik.</p>
<h3><strong>Bagaimana lingkungan membantu Anda hingga total di bidang musik?<br />
</strong></h3>
<p>Saya tidak pernah dengan sadar merasa ‘total’ di bidang musik. Saya hanya melakukan apa yang saya suka dan merasa beruntung lingkungan saya mendukungnya. Dari mulai kecil dulu, di rumah, sekolah dan setelahnya dalam pergaulan sehari-hari. Saya tidak pernah merasakan sendirian berada di jalan ini.</p>
<h3><strong>Rilisan fisik apa yang pertama kali Anda beli? Apa rasanya?<br />
</strong></h3>
<p>Saat balita saya suka sekali dengan figur John Travolta di film <em>Grease</em> dan <em>Saturday Night Fever</em>. Saya beli kaset pertama saya, <em>soundtrack</em> <em>Saturday Night Fever</em>, karena ada sosok Travolta di sampulnya.</p>
<h3><strong>Tidak pernahkah terpikir untuk menjadi musisi?<br />
</strong></h3>
<p>Saya tidak pernah serius menjadi musisi. Mungkin ini wujud ketakutan saya akan konsep keseriusan serta profesionalitas yang dapat membuat musik kehilangan arti serta kesenangannya. Saya takut kalau saya serius musik menjadi tidak <em>fun</em> lagi, dan itu adalah sesuatu yang amat besar. Karena musik begitu berarti dalam hidup saya.</p>
<h3><strong>Sekarang total berapa koleksi rilisan fisik yang Anda punyai? Apakah semuanya Anda dengarkan berulang-ulang? Kalau ya, bagaimana Anda membagi waktunya?</strong></h3>
<p>Koleksi rekaman fisik saya sebenarnya tidak banyak. Dulu mungkin cukup banyak, tetapi tidak sekarang. Saya lebih suka hanya memiliki satu lemari berisikan rekaman-rekaman yang selalu menggetarkan hati saya daripada ratusan ribu rekaman yang tidak saya dengarkan dengan baik. Sekarang saya memiliki kurang lebih 2.000 piringan hitam serta sedikit CD dan kaset.</p>
<h3><strong>Kenapa mengoleksi rilisan-rilisan musik Indonesia? Apakah Anda juga mengoleksi rilisan musik-musik luar?</strong></h3>
<p>Tentu saja saya membeli dan menyimpan rilisan musik-musik luar. Sebab saya tumbuh dengan mereka. Tetapi kalau sifatnya mengoleksi mungkin memang tepat untuk menggambarkan hubungan saya dengan rilisan-rilisan musik Indonesia, terutama dari masa lalu. Walaupun tentunya tidak hanya mengoleksi, tetapi tiap rekaman Indonesia tersebut saya dengarkan untuk terhibur sembari mencermatinya. Itu jadi semacam obsesi, untuk menguak realita ekspresi musik populer Indonesia yang bisa dianggap tertelan oleh zaman. Saya sebagai orang Indonesia yang cinta terhadap musik saja merasa begitu jauh dengan keberadaan musik populer Indonesia dari masa lalu, apalagi umumnya masyarakat Indonesia? Masyarakat Indonesia berhak untuk tahu.</p>
<figure id="attachment_1775" aria-describedby="caption-attachment-1775" style="width: 500px" class="wp-caption alignleft"><a href="https://ilovelife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/03/p21-aPreserving-classic-tunes-1.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-1775" src="https://ilovelife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/03/p21-aPreserving-classic-tunes-1.jpg" alt="David mendirikan Irama Nusantara bersama 4 orang rekannya: " width="500" height="313" /></a><figcaption id="caption-attachment-1775" class="wp-caption-text">David mendirikan Irama Nusantara bersama 5 orang rekannya: Norman Ilyas Rumahorbo, Dian Onno, Toma Avianda, Christophorus Priyonugroho, dan Alvin Yunata.</figcaption></figure>
<h3><strong>Album apa dan siapa musisi yang rilisannya saat ini Anda paling cari?</strong></h3>
<p>Wah, ada banyak. Seperti barusan saja ada seorang teman yang sedang sekolah di kota lain memberitahu penemuan terbarunya, sebuah kaset album dari <em>band</em> Indonesia terlupakan yang belum pernah saya dengar sebelumnya, Black Air Mood Band. Judul albumnya <em>Gaya Intermezo</em>, dirilis di sekitar tahun ’80-an. Teman saya tersebut mengirimkan contoh-contoh lagunya lewat <em>whatsapp</em>, cukup mengesankan.</p>
<h3><strong>Saat di Aksara Records, bagaimana cara Anda memilih musisi yang dirilis?</strong></h3>
<p>Sederhana saja sebenarnya. Pertama-tama saya dan teman-teman harus benar-benar suka dan yakin dengan musiknya. Kedua, anak-anaknya harus asik, <em>hehehe.</em> Di Aksara pada dasarnya kami berbagi musik yang kami anggap bagus ke orang banyak. Itu saja. Tidak begitu peduli dengan hal-hal lain.</p>
<h3><strong>Bisa ceritakan sejarah Irama Nusantara muncul? Ide siapa, bagaimana pembagian kerja dll.</strong></h3>
<p>Kalau dari saya, itu semua berawal dari komik terjemahan <em>Perjalanan Musik Rock</em> yang sempat tampil di Majalah Hai di akhir ’80-an. Grafisnya begitu keren, tentang sejarah rock pula. Musik dan seni visual, dua hal yang saya gandrungi. Saat itu saya langsung terinspirasi untuk membuat yang serupa tetapi tentang musik Indonesia. Ternyata hal terseut tidaklah mudah. Nyaris tidak ada informasi tentang perjalanan sejarah musik populer Indonesia. Lalu saya mulai mencari tahu sendiri, mencari rekaman-rekaman Indonesia dari masa lalu di setiap kesempatan, setelah itu membagi informasinya ke teman-teman.</p>
<p>Di akhir ’90-an, saya bersama teman-teman kuliah di Bandung membuat sebuah situs bernama <em>Indonesia Jumawa</em>. Itu prototip dari Irama Nusantara. Iseng-iseng berhadiah saja sebenarnya. Kami menampilkan data-data rilisan fisik musik populer Indonesia seperti <em>cover</em>, <em>sleeve</em>, <em>lable</em>, hingga cuplikan lagu-lagunya. Tetapi situsnya tidak pernah diurus. Kami terlalu sibuk main-main saat itu. Hingga kami memutuskan untuk membuat versi seriusnya beberapa tahun yang lalu, Irama Nusantara yang ada sekarang ini. Selain saya inisiatornya ada Chris, Toma, Norman, Alvin dan Dian Onno. Pembagian kerjanya sejauh ini dibuat sederhana saja. Karena tulang punggungnya adalah pengarsipan, kami dibantu oleh beberapa relawan untuk pengarsipan audio, teks, dan visual. Juga seorang relawan <em>general affair</em>. Sisanya <em>sih</em> tergantung kebutuhan saja.</p>
<h3><strong>Bagaimana proses Irama Nusantara mengumpulkan sekian banyak rilisan?</strong></h3>
<p>Sebenarnya koleksi fisik milik Irama Nusantara cuma sedikit. Utamanya dari koleksi pribadi para inisiator serta beberapa teman dekat yang juga kolektor. Juga koleksi pedagang, atau bahkan barang dagangannya, yang boleh dipinjam untuk diarsipkan. Terima kasih yang tak terhingga untuk mereka semua.</p>
<h3><strong>Apa arti mencintai hidup bagi Anda?</strong></h3>
<p>Mencintai hidup berarti menjalaninya dengan segenap hati. Sehingga apa yang kita lakukan memang merupakan panggilan hati, bukan mengikuti kata orang lain. Hidup cuma sebentar dan kita sendiri yang menjalaninya, jadi dibuat seru sesuai pilihan kita saja!</p>
<p>Ingin mendengar lagu-lagu yang berhasil dikumpulkan Irama Nusantara? Silakan melakukan perjalanan ke masa lalu, <a href="https://iramanusantara.org/">dari sini!</a></p>
<h4><span style="text-decoration: underline;"><a href="https://ilovelife.co.id/blog/category/love-life/cerita-lovelife/">Baca kisah-kisah penuh inspirasi lainnya di sini.</a></span></h4>
<p>The post <a href="https://ilovelife.co.id/blog/david-tarigan-dan-irama-nusantara/">David Tarigan, &#8216;Membangun&#8217; Perpustakaan Musik Online Lewat Irama Nusantara</a> appeared first on <a href="https://ilovelife.co.id/blog">Love Life</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>David Tarigan, &#039;Membangun&#039; Perpustakaan Musik Online Lewat Irama Nusantara</title>
		<link>https://ilovelife.co.id/blog/david-tarigan-dan-irama-nusantara-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Apr 2016 02:00:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita LoveLife]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://ilovelife.co.id/blog/?p=1773</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Saya lebih suka hanya memiliki satu lemari berisikan rekaman-rekaman yang selalu menggetarkan hati saya daripada ratusan ribu rekaman yang tidak saya dengarkan dengan baik.&#8221; Sejak kuliah, David Tarigan bermimpi membuat sentra data soal musik Indonesia. Cita-cita tersebut muncul lantaran minimnya informasi mengenai musisi Indonesia di era 1950-an. Jangankan karya-karya mereka, informasi soal musisi tersebut saja [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://ilovelife.co.id/blog/david-tarigan-dan-irama-nusantara-2/">David Tarigan, &#039;Membangun&#039; Perpustakaan Musik Online Lewat Irama Nusantara</a> appeared first on <a href="https://ilovelife.co.id/blog">Love Life</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>&#8220;Saya lebih suka hanya memiliki satu lemari berisikan rekaman-rekaman yang selalu menggetarkan hati saya daripada ratusan ribu rekaman yang tidak saya dengarkan dengan baik.&#8221;</strong></h2>
<p>Sejak kuliah, David Tarigan bermimpi membuat sentra data soal musik Indonesia. Cita-cita tersebut muncul lantaran minimnya informasi mengenai musisi Indonesia di era 1950-an. Jangankan karya-karya mereka, informasi soal musisi tersebut saja sulit ditemukan. Iseng-iseng berhadiah, David dan kawan-kawannya membuat situs Indonesia Jumawa. Isinya berupa sampul-sampul rilisan musisi Indonesia jadul. Tapi itu hanya dilakukan di masa senggang saat kuliah. Lantaran kesibukan masing-masing, proyek tersebut terbengkalai.<br />
Hingga akhirnya pada 2013, David dan enam orang lainnya&#8211;Norman Ilyas Rumahorbo, Dian Onno, Toma Avianda, Christophorus Priyonugroho, Alvin Yunata&#8211;sepakat membuat Irama Nusantara. Irama Nusantara diharapkan menjadi upaya pelestarian dan pengarsipan data serta informasi musik populer Indonesia.<br />
Berikut wawancara tim ILoveLife dengan David soal minatnya terhadap musik dan mimpinya.</p>
<h3><strong>Bisa cerita perkenalan Anda dengan musik?</strong><strong><br />
</strong></h3>
<p>Dari kecil saya sudah suka musik. Bahkan dari balita saya sudah minta beli kaset pita karena tahu isinya adalah lagu-lagu. Sebenarnya orang tua saya tidaklah semusikal itu. Yang saya ingat mereka memang memiliki seperangkat stereo set serta beberapa kaset. Mereka bukan tipe pelanggan toko kaset atau bahkan kolektor musik.</p>
<h3><strong>Bagaimana lingkungan membantu Anda hingga total di bidang musik?<br />
</strong></h3>
<p>Saya tidak pernah dengan sadar merasa ‘total’ di bidang musik. Saya hanya melakukan apa yang saya suka dan merasa beruntung lingkungan saya mendukungnya. Dari mulai kecil dulu, di rumah, sekolah dan setelahnya dalam pergaulan sehari-hari. Saya tidak pernah merasakan sendirian berada di jalan ini.</p>
<h3><strong>Rilisan fisik apa yang pertama kali Anda beli? Apa rasanya?<br />
</strong></h3>
<p>Saat balita saya suka sekali dengan figur John Travolta di film <em>Grease</em> dan <em>Saturday Night Fever</em>. Saya beli kaset pertama saya, <em>soundtrack</em> <em>Saturday Night Fever</em>, karena ada sosok Travolta di sampulnya.</p>
<h3><strong>Tidak pernahkah terpikir untuk menjadi musisi?<br />
</strong></h3>
<p>Saya tidak pernah serius menjadi musisi. Mungkin ini wujud ketakutan saya akan konsep keseriusan serta profesionalitas yang dapat membuat musik kehilangan arti serta kesenangannya. Saya takut kalau saya serius musik menjadi tidak <em>fun</em> lagi, dan itu adalah sesuatu yang amat besar. Karena musik begitu berarti dalam hidup saya.</p>
<h3><strong>Sekarang total berapa koleksi rilisan fisik yang Anda punyai? Apakah semuanya Anda dengarkan berulang-ulang? Kalau ya, bagaimana Anda membagi waktunya?</strong></h3>
<p>Koleksi rekaman fisik saya sebenarnya tidak banyak. Dulu mungkin cukup banyak, tetapi tidak sekarang. Saya lebih suka hanya memiliki satu lemari berisikan rekaman-rekaman yang selalu menggetarkan hati saya daripada ratusan ribu rekaman yang tidak saya dengarkan dengan baik. Sekarang saya memiliki kurang lebih 2.000 piringan hitam serta sedikit CD dan kaset.</p>
<h3><strong>Kenapa mengoleksi rilisan-rilisan musik Indonesia? Apakah Anda juga mengoleksi rilisan musik-musik luar?</strong></h3>
<p>Tentu saja saya membeli dan menyimpan rilisan musik-musik luar. Sebab saya tumbuh dengan mereka. Tetapi kalau sifatnya mengoleksi mungkin memang tepat untuk menggambarkan hubungan saya dengan rilisan-rilisan musik Indonesia, terutama dari masa lalu. Walaupun tentunya tidak hanya mengoleksi, tetapi tiap rekaman Indonesia tersebut saya dengarkan untuk terhibur sembari mencermatinya. Itu jadi semacam obsesi, untuk menguak realita ekspresi musik populer Indonesia yang bisa dianggap tertelan oleh zaman. Saya sebagai orang Indonesia yang cinta terhadap musik saja merasa begitu jauh dengan keberadaan musik populer Indonesia dari masa lalu, apalagi umumnya masyarakat Indonesia? Masyarakat Indonesia berhak untuk tahu.<br />
<figure id="attachment_1775" aria-describedby="caption-attachment-1775" style="width: 500px" class="wp-caption alignleft"><a href="https://ilovelife2-uat.astralife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/03/p21-aPreserving-classic-tunes-1.jpg"><img decoding="async" class="size-full wp-image-1775" src="https://ilovelife2-uat.astralife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/03/p21-aPreserving-classic-tunes-1.jpg" alt="David mendirikan Irama Nusantara bersama 4 orang rekannya: " width="500" height="313" /></a><figcaption id="caption-attachment-1775" class="wp-caption-text">David mendirikan Irama Nusantara bersama 5 orang rekannya: Norman Ilyas Rumahorbo, Dian Onno, Toma Avianda, Christophorus Priyonugroho, dan Alvin Yunata.</figcaption></figure></p>
<h3><strong>Album apa dan siapa musisi yang rilisannya saat ini Anda paling cari?</strong></h3>
<p>Wah, ada banyak. Seperti barusan saja ada seorang teman yang sedang sekolah di kota lain memberitahu penemuan terbarunya, sebuah kaset album dari <em>band</em> Indonesia terlupakan yang belum pernah saya dengar sebelumnya, Black Air Mood Band. Judul albumnya <em>Gaya Intermezo</em>, dirilis di sekitar tahun ’80-an. Teman saya tersebut mengirimkan contoh-contoh lagunya lewat <em>whatsapp</em>, cukup mengesankan.</p>
<h3><strong>Saat di Aksara Records, bagaimana cara Anda memilih musisi yang dirilis?</strong></h3>
<p>Sederhana saja sebenarnya. Pertama-tama saya dan teman-teman harus benar-benar suka dan yakin dengan musiknya. Kedua, anak-anaknya harus asik, <em>hehehe.</em> Di Aksara pada dasarnya kami berbagi musik yang kami anggap bagus ke orang banyak. Itu saja. Tidak begitu peduli dengan hal-hal lain.</p>
<h3><strong>Bisa ceritakan sejarah Irama Nusantara muncul? Ide siapa, bagaimana pembagian kerja dll.</strong></h3>
<p>Kalau dari saya, itu semua berawal dari komik terjemahan <em>Perjalanan Musik Rock</em> yang sempat tampil di Majalah Hai di akhir ’80-an. Grafisnya begitu keren, tentang sejarah rock pula. Musik dan seni visual, dua hal yang saya gandrungi. Saat itu saya langsung terinspirasi untuk membuat yang serupa tetapi tentang musik Indonesia. Ternyata hal terseut tidaklah mudah. Nyaris tidak ada informasi tentang perjalanan sejarah musik populer Indonesia. Lalu saya mulai mencari tahu sendiri, mencari rekaman-rekaman Indonesia dari masa lalu di setiap kesempatan, setelah itu membagi informasinya ke teman-teman.<br />
Di akhir ’90-an, saya bersama teman-teman kuliah di Bandung membuat sebuah situs bernama <em>Indonesia Jumawa</em>. Itu prototip dari Irama Nusantara. Iseng-iseng berhadiah saja sebenarnya. Kami menampilkan data-data rilisan fisik musik populer Indonesia seperti <em>cover</em>, <em>sleeve</em>, <em>lable</em>, hingga cuplikan lagu-lagunya. Tetapi situsnya tidak pernah diurus. Kami terlalu sibuk main-main saat itu. Hingga kami memutuskan untuk membuat versi seriusnya beberapa tahun yang lalu, Irama Nusantara yang ada sekarang ini. Selain saya inisiatornya ada Chris, Toma, Norman, Alvin dan Dian Onno. Pembagian kerjanya sejauh ini dibuat sederhana saja. Karena tulang punggungnya adalah pengarsipan, kami dibantu oleh beberapa relawan untuk pengarsipan audio, teks, dan visual. Juga seorang relawan <em>general affair</em>. Sisanya <em>sih</em> tergantung kebutuhan saja.</p>
<h3><strong>Bagaimana proses Irama Nusantara mengumpulkan sekian banyak rilisan?</strong></h3>
<p>Sebenarnya koleksi fisik milik Irama Nusantara cuma sedikit. Utamanya dari koleksi pribadi para inisiator serta beberapa teman dekat yang juga kolektor. Juga koleksi pedagang, atau bahkan barang dagangannya, yang boleh dipinjam untuk diarsipkan. Terima kasih yang tak terhingga untuk mereka semua.</p>
<h3><strong>Apa arti mencintai hidup bagi Anda?</strong></h3>
<p>Mencintai hidup berarti menjalaninya dengan segenap hati. Sehingga apa yang kita lakukan memang merupakan panggilan hati, bukan mengikuti kata orang lain. Hidup cuma sebentar dan kita sendiri yang menjalaninya, jadi dibuat seru sesuai pilihan kita saja!<br />
Ingin mendengar lagu-lagu yang berhasil dikumpulkan Irama Nusantara? Silakan melakukan perjalanan ke masa lalu, <a href="https://iramanusantara.org/">dari sini!</a></p>
<h4><span style="text-decoration: underline;"><a href="https://ilovelife.co.id/blog/category/love-life/cerita-lovelife/">Baca kisah-kisah penuh inspirasi lainnya di sini.</a></span></h4>
<p>The post <a href="https://ilovelife.co.id/blog/david-tarigan-dan-irama-nusantara-2/">David Tarigan, &#039;Membangun&#039; Perpustakaan Musik Online Lewat Irama Nusantara</a> appeared first on <a href="https://ilovelife.co.id/blog">Love Life</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>#MomenBarengBokap Astra Life Wujudkan Pesta Pernikahan yang Tertunda 32 Tahun</title>
		<link>https://ilovelife.co.id/blog/momenbarengbokap-astra-life-wujudkan-pesta-pernikahan-yang-tertunda-32-tahun/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2016 05:00:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita LoveLife]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://ilovelife.co.id/blog/?p=1768</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pengky Irawan (64) tak bisa menyembunyikan raut wajah bahagia ketika bersanding di pelaminan dengan belahan jiwanya, Bong Thjio Mong (59), di depan para tamu undangan. Meskipun sederhana, ia tak menyangka bisa menggelar pesta resepsi pernikahan – keinginannya yang tertunda sejak 32 tahun. Selain baru digelar di usia tua, resepsi ini juga semakin unik karena disaksikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://ilovelife.co.id/blog/momenbarengbokap-astra-life-wujudkan-pesta-pernikahan-yang-tertunda-32-tahun/">#MomenBarengBokap Astra Life Wujudkan Pesta Pernikahan yang Tertunda 32 Tahun</a> appeared first on <a href="https://ilovelife.co.id/blog">Love Life</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pengky Irawan (64) tak bisa menyembunyikan raut wajah bahagia ketika bersanding di pelaminan dengan belahan jiwanya, Bong Thjio Mong (59), di depan para tamu undangan. Meskipun sederhana, ia tak menyangka bisa menggelar pesta resepsi pernikahan – keinginannya yang tertunda sejak 32 tahun.</p>
<p>Selain baru digelar di usia tua, resepsi ini juga semakin unik karena disaksikan langsung anak-anak mereka yang sudah dewasa.</p>
<h3><strong data-redactor-tag="strong">Pesta pernikahan yang tertunda</strong></h3>
<p>Pengky menikahi istrinya di Pontianak, pada 1984, dan memiliki empat orang anak, satu laki-laki dan tiga perempuan. Perkawinan Pengky hanya digelar secara adat Tionghoa, dengan upacara teh pai. Pekerjaannya sebagai buruh di pabrik kayu tidak memungkinkan untuk menggelar resepsi pernikahan karena alasan kekurangan biaya. Bahkan, untuk urusan pencatatan akta nikah pun baru dilakukan 10 tahun kemudian.</p>
<p>Beruntung, anak keduanya, Tanri Julianti (28), mengikuti kontes #MomenBarengBokap yang diadakan Astra Life November 2015 lalu. Kontes ini mengajak para peserta untuk mewujudkan impian ayah yang merupakan sosok pahlawan di keluarga mereka. Di sebuah keluarga, adalah hal lazim ketika ayah berkorban untuk bisa membahagiakan keluarganya. Seringkali, mereka harus menguburkan keinginan pribadi demi bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Astra Life berkeinginan mewujudkan mimpi yang tertunda tersebut.</p>
<p>Setiap kontestan mengunggah dua buah foto, yaitu foto masa kecil bersama ayah dan foto reka ulang saat ini dengan pose, kostum, suasana, dan <em data-redactor-tag="em">background</em> yang sama. Peserta juga diwajibkan menuliskan impian ayah, dan menantang dua orang temannya untuk mengikuti kontes dengan <em data-redactor-tag="em">mention</em> akun mereka.</p>
<h4><a href="https://ilovelife.co.id/blog/komunitas-astra-runners-berlari-sambil-beramal/">Baca Juga: Komunitas Astra Runners, Berlari Sambil Beramal</a></h4>
<p>Tanri mendapat informasi kontes dari sang adik di media sosial, lalu ia iseng untuk mencoba ikut. Ia awalnya tidak yakin tentang apa yang menjadi impian dirinya dan ayahnya. Bahkan, untuk mengirim foto bersama ayah saja, Tanri mengaku kesulitan. “Waktunya sudah mepet, tetapi saya tak punya foto dengan Papa. Terpaksa saya minta Papa untuk foto bersama khusus untuk kontes,” katanya.</p>
<p>Di balik kerepotan, terbit berkah tersendiri. Dari foto reka ulang ini, Tanri bisa memiliki waktu berkualitas dengan sang ayah. Mereka sangat menikmati kebersamaan dalam mencari pakaian yang serupa dengan foto Tanri masa kecil hingga ketika sang Ayah mencoba meniru pose di foto lama. Di foto tersebut, Tanri kecil digendong sang Ayah. Rasa geli muncul karena kondisi yang sudah jauh berbeda. Tentu saja, Tanri sekarang sudah besar sehingga cukup merepotkan untuk digendong.</p>
<p>Ayah Tanri adalah tipe pria pendiam dan susah mengungkapkan perasaan sayang, sehingga anak-anaknya lebih dekat ke ibu. Sang ayah dalam banyak hal juga lebih tertutup dan jarang bercerita kepada anak-anaknya.</p>
<p>“Saya bingung mau menulis apa tentang impian Papa. Setiap ditanya, jawabannya tidak ada,” kata Tanri.</p>
<p>Justru impian ayahnya diketahui Tanri dari penuturan ibunya yang lebih banyak bercerita kepada anaknya. Sang ibu ingat bahwa suatu ketika suaminya pernah berjanji mengadakan pesta kecil pernikahan jika ada rezeki kelak.</p>
<p>Namun, resepsi itu urung dilakukan karena banyaknya kebutuhan hidup yang lebih mendesak. Hari demi hari pun berlalu, impian itu semakin terlupakan.</p>
<figure id="attachment_1779" aria-describedby="caption-attachment-1779" style="width: 585px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://ilovelife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/03/Screen-Shot-2016-03-30-at-6.55.26-PM-1.png"><img decoding="async" class="size-full wp-image-1779" src="https://ilovelife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/03/Screen-Shot-2016-03-30-at-6.55.26-PM-1.png" alt="Tetap mesra di usia senja" width="585" height="356" /></a><figcaption id="caption-attachment-1779" class="wp-caption-text">Tetap mesra di usia senja</figcaption></figure>
<h3><strong data-redactor-tag="strong">Perjalanan mewujudkan mimpi</strong></h3>
<p>Tanri ingin sekali memberikan sedikit kebahagiaan bagi sang ayah dengan menggelar pesta perkawinan untuk kedua orang tuanya. Namun, awalnya ia ragu impian itu bakal terwujud karena terasa aneh baginya.</p>
<p>“Sebenarnya saya tidak yakin ini terwujud karena agak aneh, bapak-ibu sudah tua kok baru resepsi pernikahan, disaksikan anak-anaknya lagi,” ujar Tanri.</p>
<p>Namun, ternyata impian itu menjadi kenyataan. Tanri memenangi kontes. Hanya saja, ia belum berani untuk menyampaikan berita gembira itu kepada ayahnya. Justru Tanri lebih dulu mengabarkan kabar gembira ini kepada sang ibu yang meresponnya dengan suka cita.</p>
<p>“Papa itu tipikal orang yang mudah panik. Takutnya kabar ini malah menjadi pikiran, meskipun berita baik. Pasalnya, saya juga belum tahu pasti kapan dan bagaimana acaranya,” kata Tanri.</p>
<p>Setelah semuanya jelas, Tanri baru bercerita kepada ayahnya. Awalnya, sang ayah kaget dan bingung, tetapi menjadi tenang setelah anaknya menjelaskan tentang kontes yang pernah diikuti dengan mencantumkan foto mereka berdua.</p>
<p>Di balik keinginan memberikan kejutan dan kabar gembira, Tanri sebenarnya memendam perasaan yang tak pernah terucapkan kepada ayahnya.</p>
<p>Tanri tak hanya ingin membuat ayahnya merasakan kebahagiaan, tetapi juga ingin membuatnya tersenyum sejak hari itu. Yang lebih penting lagi, Tanri dan saudara-saudarinya sangat berharap agar ayahnya berubah menjadi sosok yang lebih terbuka dan hangat melalui momen Astra Life itu.</p>
<p>“Kami ingin Papa tidak pendiam lagi terhadap anak-anaknya,” ujar Tanri.</p>
<h4><strong>Baca juga: <span style="color: #333399;"><a style="color: #333399;" href="https://ilovelife.co.id/blog/cara-efektif-komunikasi-orangtua/">Hadiah Terbaik untuk Orangtua di Tengah Kesibukan Anda: Komunikasi</a></span></strong></h4>
<h3><strong data-redactor-tag="strong">Menghangatkan hati, mencairkan situasi</strong></h3>
<p>Pengky sebenarnya sosok ayah yang perhatian kepada anak-anaknya. Dulu, ia sering memasak banyak makanan ketika anaknya berkumpul di rumah. Namun sifatnya yang pendiam tidak pernah berubah sampai usia tuanya, membuat anak-anaknya sungkan dan memilih menjaga jarak.</p>
<p>Tanri sendiri sudah pisah dengan sang ayah sejak usia delapan tahun. Ia dititipkan di rumah pamannya di Bekasi untuk bersekolah, sedangkan kedua orang tuanya tinggal di Palembang sebelum akhirnya pindah ke Bogor.</p>
<p>Ia baru hidup serumah dengan ayah-ibunya sejak lulus kuliah bersama seorang adiknya. Sang kakak laki-laki dan adik perempuannya sudah menikah dan pisah dari orang tua.</p>
<p>Karena terbiasa hidup jauh dari sosok ayah, Tanri pun merasakan tidak banyak momen dan kesempatan bersama orang tua laki-lakinya. Terkadang, ia kangen saat bareng ayahnya sewaktu masih kecil – digendong jalan-jalan di sekitar rumah dan dibelikan permen.</p>
<p>Melalui hadiah pesta resepsi, Tanri ingin agar ayahnya tahu bahwa anak-anaknya merindukan ayah yang lebih dekat dengan anak-anaknya, yang sering bicara dan menyapa anaknya setiap waktu.</p>
<p>Dan kerinduan itu terjawab sudah. Sejak momen pesta resepsi itu, sikap Pengky mulai berubah kepada keluarga, terutama terhadap anak-anaknya.</p>
<p>“Sekarang Papa lebih sering bercerita, dan bertukar pikiran dengan kami,” kata Tanri.</p>
<p>Ayah, orang yang paling berarti dalam hidup Tanri, tidak bisa dilepaskan dari perannya sebagai kepala keluarga. Namun, baginya, ayah juga berarti sama dengan ibu, yang seharusnya dekat dengan anak-anaknya tanpa jarak.</p>
<p>Pada 21 Februari lalu, Astra Life mewujudkan impian ayah Tanri dengan menggelar acara resepsi untuk ayah dan ibunya di Jakarta, dengan sejumlah tamu undangan dan kerabat.</p>
<p>Acara yang juga diisi dengan penyematan cincin ini sekaligus menandai cinta kedua orang tua Tanri lebih dari tiga dekade. Senyum mengembang di wajah Pengky, seolah mengawali kembali kehangatan sang ayah dalam keluarga.</p>
<p>#MomenBarengBokap Astra Life akhirnya tidak sekadar mewujudkan impian ayah Tanri tentang resepsi pernikahan. Kesempatan ini juga berhasil mewujudkan impian Tanri dan kakak-adiknya untuk bisa lebih dekat dengan ayahnya yang sebelumnya pendiam dan tertutup terhadap anak-anaknya. Sekali lagi, selamat untuk Tanri dan sang ayah. Penasaran bagaimana sukacitanya pemenang #MomenBarengBokap ini? Nonton aja video ini.</p>
<p><a href="https://www.youtube.com/watch?v=F8zPlORjzDQ">https://www.youtube.com/watch?v=F8zPlORjzDQ</a></p>
<p>Lewat #MomenBarengBokap, Astra Life juga memberikan donasi kepada Yayasan Sahabat Veteran Indonesia senilai Rp 10.000 untuk setiap foto reka ulang peserta kontes yang diunggah dan dibagikan di media sosial. Total donasi yang disumbangkan ke yayasan tersebut sebesar Rp 7.500.000.</p>
<p>Ingin terus ter-update dengan aktivitas kampanye Astra Life yang terus membuat kita Love Life? Follow Twitter dan Facebook @AstraLifeID.</p>
<h4><span style="text-decoration: underline;"><a href="https://ilovelife.co.id/blog/category/love-life/cerita-lovelife/">Temukan kisah inspiratif lainnya di sini.</a></span></h4>
<p>The post <a href="https://ilovelife.co.id/blog/momenbarengbokap-astra-life-wujudkan-pesta-pernikahan-yang-tertunda-32-tahun/">#MomenBarengBokap Astra Life Wujudkan Pesta Pernikahan yang Tertunda 32 Tahun</a> appeared first on <a href="https://ilovelife.co.id/blog">Love Life</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyebar Inspirasi, Membangun Motivasi kepada Anak Indonesia</title>
		<link>https://ilovelife.co.id/blog/komunitas-dongeng-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2016 17:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita LoveLife]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://ilovelife.co.id/blog/?p=1699</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bawang Merah Bawang Putih, Timun Mas, Legenda Sangkuriang, Si Kancil dan Buaya. Masih ingat sederet judul dongeng tersebut? Meski judul-judul cerita anak tersebut masih terekam baik di memori tidak dipungkiri kegiatan mendongeng semakin dilupakan. Berangkat dari realita dan kecintaan terhadap mendongeng, diluncurkanlah gerakan mendongeng untuk anak Indonesia melalui komunitas Ayo Dongeng Indonesia. Dimulai dari kelas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://ilovelife.co.id/blog/komunitas-dongeng-indonesia/">Menyebar Inspirasi, Membangun Motivasi kepada Anak Indonesia</a> appeared first on <a href="https://ilovelife.co.id/blog">Love Life</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bawang Merah Bawang Putih, Timun Mas, Legenda Sangkuriang, Si Kancil dan Buaya. Masih ingat sederet judul dongeng tersebut? Meski judul-judul cerita anak tersebut masih terekam baik di memori tidak dipungkiri kegiatan mendongeng semakin dilupakan.</p>
<p>Berangkat dari realita dan kecintaan terhadap mendongeng, diluncurkanlah gerakan mendongeng untuk anak Indonesia melalui komunitas Ayo Dongeng Indonesia. Dimulai dari kelas belajar mendongeng yang digelar oleh Mochammad Ariyo Farid, komunitas ini resmi berdiri pada 3 Desember 2011. Ariyo kemudian mengajak ketiga temannya, yaitu Rafika Soegarda, Widita Diah Kustrini, Nina Samidi, dan Septia Wulan memprakarsai komunitas Ayo Dongeng Indonesia. Keempat orang yang dikenal dengan sebutan Empat Manggala Dongeng kemudian mengumpulkan para relawan dongeng.</p>
<p>Tujuan utama dari komunitas ini adalah melestarikan kegiatan mendongeng untuk anak di Indonesia. Untuk mewujudkannya, awalnya komunitas ini menggelar kegiatan mendongeng gratis di tempat-tempat publik seperti taman kota atau rumah sakit. Kegiatan ini diharapkan menjadi alternatif kegiatan pilihan orang tua yang biasanya mengajak anaknya ke pusat perbelanjaan, memanjakan anak dengan menonton televisi atau bermain v<em data-redactor-tag="em">ideo game.</em></p>
<p>&#8220;Kami juga mau menyebarkan dongeng motivasi dan inspirasi bagi anak-anak agar mereka mau berimajinasi dan bermimpi serta berani punya cita-cita,&#8221; kata Ariyo yang dikutip dari Tempo.</p>
<p>Saat ini komunitas memiliki 30 relawan dongeng yang tersebar di Jabodetabek. Bertambahnya relawan ini seiring dengan semakin banyaknya kegiatan utama komunitas. Selain mendongeng gratis di ruang publik, komunitas ini juga terus mengadakan kelas mendongeng (<em data-redactor-tag="em">storytelling class</em>). Pada kegiatan ini, para pecinta dongeng yang berasal dari berbagai latar belakang diajarkan untuk mendongeng. Tidak dipungut biaya, para peserta juga diberikan trik dan tips mendongeng.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://ilovelife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/03/AYD4-1.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-1702" src="https://ilovelife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/03/AYD4-1.jpg" alt="AYD4" width="1080" height="607" srcset="https://ilovelife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/03/AYD4-1.jpg 1080w, https://ilovelife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/03/AYD4-1-300x169.jpg 300w, https://ilovelife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/03/AYD4-1-1024x576.jpg 1024w, https://ilovelife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/03/AYD4-1-768x432.jpg 768w, https://ilovelife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/03/AYD4-1-528x297.jpg 528w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></a></p>
<h4><span style="text-decoration: underline;"><strong>Baca juga: <a href="https://ilovelife.co.id/blog/dari-juru-parkir-undang-dirikan-sekolah-gratis/">Dari Juru Parkir Undang Dirikan Sekolah Gratis</a></strong></span></h4>
<p>Kegiatan lainnya adalah kampanye dongeng (<em data-redactor-tag="em">storytelling campaign</em>), yaitu menyebarkan virus mendongeng melalui media sosial. Selain situs resmi di <a href="https://www.ayodongengindonesia.com/">www.ayodongengindonesia.com</a>, komunitas ini juga aktif di Facebook di akun Ayo Dongeng Indonesia yang beranggotakan 720 orang. Sedangkan di akun Instagram @ayodongeng_ind, komunitas ini memiliki 1243 <em data-redactor-tag="em">follower.</em> Berbagai informasi kegiatan komunitas disebarluaskan melalui dua akun media sosial ini. Bahkan melalui media sosial, komunitas ini berusaha mengajak masyarakat untuk merayakan Hari Membaca Nasional yang jatuh setiap tanggal 12 November, hingga mendeklarasikan Hari Dongeng Nasional pada 28 November.</p>
<p>Kegiatan akbar yang selalu dirayakan besar-besaran oleh komunitas ini adalah Festival Dongeng (<em data-redactor-tag="em">storytelling festival).</em> Festival Dongeng Indonesia digelar setiap tahun di Jakarta dan baru-baru ini juga digelar di Bandung. Dalam festival, sebuah keluarga bisa membawa anak-anaknya untuk bersama menikmati dongeng berbagai cerita. Para orang tua pun bisa mengikuti kelas mendongeng, donasi buku-buku cerita anak, hingga membeli buku cerita favorit anak-anak untuk dibaca di rumah.</p>
<p>Untuk memeriahkan festival, komunitas ini pernah bekerjasama dengan pendongeng Indonesia seperti mendiang Pak Raden, hingga penulis buku Clara Ng. Seperti dua tahun sebelumnya, festival dongeng di 2016 direncanakan digelar saat mendekati hari Dongeng Nasional yang jatuh pada bulan November. Meski belum ada jadwal pastinya,Anda bisa mengikuti informasi terbaru berbagai kegiatan komunitas di akun Instagram @ayodongeng_ind dan di akun Twitter @ayodongeng_ind. Pastinya, semua keseruan festival dirangkum dalam situs tersendiri yaitu https://indostoryfest.com/.</p>
<p>Sedangkan kegiatan lain di luar festival juga kerap digelar komunitas bekerjasama dengan komunitas lainnya, seperti kegiatan #PopUpStoryTelling yang diselenggarakan di CFD Harapan Indah Bekasi pada Minggu 20 Maret 2016. Pada acara gratis ini, dijadwalkan kegiatan mendongeng, dibukanya perpustakaan dadakan untuk anak, dan bermain puzzle. Pada tanggal yang sama, digelar juga kegiatan #KelasDongeng yang bekerjasama dengan Rabbit Hole ID di Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan. Untuk kelas dongeng ini diperuntukkan bagi orang tua maupun publik yang tertarik belajar mendongeng dari relawan pendongeng yang sudah ada.</p>
<p>Kemampuan mendongeng para relawan komunitas ke depannya pun terus diasah. Berbagai seminar maupun festival dongeng di luar negeri kerap dihadiri oleh Ariyo selaku pemrakarsa komunitas. Dengan harapan, para relawan dongeng dan masyarakat semakin cerdas dalam mendongeng serta menyebarluaskan kecintaan akan mendongeng maupun didongeng.</p>
<p>Siap membangun imajinasi anak-anak? Mulai dari sekarang Anda bisa mendongeng untuk anak-anak di lingkungan terdekat. Ambil buku cerita favorit lalu bacakan dengan alat peraga yang menarik, dan nikmati kegembiraan bersama.</p>
<h4><span style="text-decoration: underline;"><strong><a href="https://ilovelife.co.id/blog/category/love-life/cerita-lovelife/">Baca Cerita Love Life yang lain di sini!</a></strong></span></h4>
<p>The post <a href="https://ilovelife.co.id/blog/komunitas-dongeng-indonesia/">Menyebar Inspirasi, Membangun Motivasi kepada Anak Indonesia</a> appeared first on <a href="https://ilovelife.co.id/blog">Love Life</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Suksma Ratri, Menularkan Semangat untuk &#034;Kalahkan&#034; HIV Sampai ke Mancanegara</title>
		<link>https://ilovelife.co.id/blog/suksma-ratri-menularkan-semangat-untuk-kalahkan-hiv-sampai-ke-mancanegara-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2016 04:48:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita LoveLife]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Editor]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://ilovelife.co.id/blog/?p=1524</guid>

					<description><![CDATA[<p>Perempuan berambut hitam panjang itu berdiri di atas podium berlogo United Nation—atau Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dengan suara tegas, ia bercerita tentang kelompok termarginalisasi yang memiliki resiko tinggi tertular HIV di Indonesia, seperti pecandu narkoba, pekerja seks komersial, transgender, narapidana hingga pengungsi. Mereka, ujarnya, kerap kali ditolak dan tak mendapatkan akses terhadap pencegahan, perawatan, dan support atas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://ilovelife.co.id/blog/suksma-ratri-menularkan-semangat-untuk-kalahkan-hiv-sampai-ke-mancanegara-2/">Suksma Ratri, Menularkan Semangat untuk &quot;Kalahkan&quot; HIV Sampai ke Mancanegara</a> appeared first on <a href="https://ilovelife.co.id/blog">Love Life</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Perempuan berambut hitam panjang itu berdiri di atas podium berlogo United Nation—atau Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dengan suara tegas, ia bercerita tentang kelompok termarginalisasi yang memiliki resiko tinggi tertular HIV di Indonesia, seperti pecandu narkoba, pekerja seks komersial, transgender, narapidana hingga pengungsi. Mereka, ujarnya, kerap kali ditolak dan tak mendapatkan akses terhadap pencegahan, perawatan, dan support atas HIV/AIDS.<br />
“Di sini saya bertanya, bukankan kita semua adalah manusia yang memiliki hak yang sama,” ujarnya.<br />
Ia, adalah seorang perempuan Indonesia bernama Suksma Ratri. Di tahun 2008, perempuan ini berbicara di depan forum PBB, sebagai perwakilan dari <em data-redactor-tag="em">Coordination of Action Research on AIDS and Mobility (CARAM)</em> wilayah Asia<em data-redactor-tag="em">.</em><br />
HIV, bukan satu hal yang asing dari kehidupan Ima, begitu ia biasa dipanggil. Bahkan sebenarnya, virus ini telah bersarang di tubuhnya, setelah ia didiagnosis positif pada tahun 2006. Namun diagnosis ini, tak lantas membuat Ima kehilangan arah dan semangat hidup. Yang terjadi, justru sebaliknya.<br />
”Pencapaian utama saya setelah dinyatakan positif HIV adalah saya menjadi manusia baru yang lebih optimis dibandingkan saya dulu,” ujarnya, seperti dikutip dalam sebuah media massa.<br />
Selain membesarkan putri semata wayangnya dan bekerja sebagai <em data-redactor-tag="em">Communication Officer</em> pada sebuah organisasi non profit , ia juga aktif sebagai <em data-redactor-tag="em">General Operating Director</em> dalam Inspirasi Indonesia (NSPR12), yakni kelompok kerja yang memfokuskan diri pada kampanye Hak Asasi Manusia dan anti kekerasan seksual.<br />
Virus HIV datang ke kehidupan Ima bersama seorang lelaki yang dinikahinya. Sebelum menikah, ia sebelumnya sudah mengetahui bahwa calon pendampingnya ini adalah mantan pemakai narkoba suntik, karena itu ia mengajaknya untuk melakukan tes HIV/AIDS. Namun calon suaminya ini berkelit pada permintaannya. “Dia bilang sudah pernah tes dan hasilnya negatif, padahal dia belum pernah tes sama sekali sebelumnya,” ujarnya.<br />
Setelah menikah, ada kenyataan pahit lain yang harus diterimanya. Suaminya yang kala itu tak memiliki pekerjaan, ternyata adalah seorang yang kerap melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Tak hanya melakukan kekerasan verbal pada Ima, ia juga mengontrol keuangan dengan sewenang-wenang, mengekang pergaulannya, bahkan melakukan kekerasan fisik saat Ima tengah mengandung. Akhirnya dengan membawa Srikandhi, anak perempuannya, Ima memutuskan bercerai dengan sang suami.<br />
Setahun kemudian datang SMS dari mantan suaminya, yang meminta ia dan anaknya untuk melakukan tes HIV. Hasilnya, ia divonis positif, sementara buah hatinya bebas dari virus tersebut. Yang patut dicatat, Ima menerima vonis ini dengan tenang dan rasional, termasuk saat memberi tahu teman terdekat dan keluarganya. “Rasa sedih dari beberapa anggota keluarga sudah pasti ada, tapi saat mereka melihat kalau saya baik-baik saja, akhirnya<em data-redactor-tag="em">nggak</em> ada kekhawatiran lagi,” ujarnya.<br />
<a href="https://ilovelife2-uat.astralife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/02/81972751_cc5cbc2af9_o-1.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-1525" src="https://ilovelife2-uat.astralife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/02/81972751_cc5cbc2af9_o-1.jpg" alt="81972751_cc5cbc2af9_o" width="1203" height="800" srcset="https://ilovelife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/02/81972751_cc5cbc2af9_o-1.jpg 1203w, https://ilovelife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/02/81972751_cc5cbc2af9_o-1-300x200.jpg 300w, https://ilovelife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/02/81972751_cc5cbc2af9_o-1-1024x681.jpg 1024w, https://ilovelife.co.id/blog/wp-content/uploads/2016/02/81972751_cc5cbc2af9_o-1-768x511.jpg 768w" sizes="(max-width: 1203px) 100vw, 1203px" /></a><br />
Meski HIV dan AIDS memiliki stigma buruk di mata masyarakat, Ima tak pernah menutupi statusnya. Ia bahkan terbuka menjawab pertanyaan tentang kondisinya ini dan menjadi seorang aktivis mengenai AIDS. Ia bergabung dengan Rumah Cemara, LSM yang memperhatikan masalah kaum marginal, hingga menjadi <em data-redactor-tag="em">Communications and Consultations Facility Programme Assistant</em> pada UNAIDS.<br />
Menurutnya, salah satu stigma ini muncul karena masyarakat yang masih banyak yang belum mengerti tentang penyakit ini. Masih ada pandangan bahwa hanya kelompok tertentu yang akan terinfeksi, padahal masyarakat umum, termasuk ibu rumah tangga yang setia pada suaminya pun, beresiko terkena virus ini.<br />
“Saya rasa untuk memerangi stigma dan diskriminasi itu harus dengan keterbukaan dan kejujuran, selain itu juga dengan penerimaan diri,” ujarnya.<br />
Ima, tidak pernah marah dan menyesali kondisinya kini. Ia memilih untuk tetap berkarya dan berpikir positif tentang keadaannya. “Buat saya, HIV ini mungkin menutup satu pintu dalam hidup saya, tapi dia juga membuka seribu jendela. <em data-redactor-tag="em">I see it as a blessing in disguise,”</em> ujar Ima.<br />
Baca Juga :<br />
<a href="https://ilovelife.co.id/blog/pahlawan-kehidupan-dari-lereng-gunung-gendol/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Kisah Kakek Sadiman, Pahlawan Kehidupan dari Lereng Gunung Gendol</a><br />
<a href="https://ilovelife.co.id/blog/pejuang-love-pink-kanker-payudara-tak-mampu-membunuh-semangat-kami/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Kanker Payudara Tak Surutkan Semangat Wanita Ini</a><br />
<a href="https://ilovelife.co.id/blog/relawan-asap-pertaruhkan-hidup-untuk-padamkan-api/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Cerita Tentang Mereka yang Bertaruh Nyawa untuk Memadamkan Api</a></p>
<p>The post <a href="https://ilovelife.co.id/blog/suksma-ratri-menularkan-semangat-untuk-kalahkan-hiv-sampai-ke-mancanegara-2/">Suksma Ratri, Menularkan Semangat untuk &quot;Kalahkan&quot; HIV Sampai ke Mancanegara</a> appeared first on <a href="https://ilovelife.co.id/blog">Love Life</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
