Intip Komunikasi dan Perencanaan Keuangan yang baik saat Gaji Istri Lebih Besar

Gaji Istri Lebih Dari Suami

Istri memiliki penghasilan yang lebih tinggi dari suami bukanlah hal yang baru. Kondisi di mana perempuan bekerja dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, menyebabkan situasi di mana penghasilan istri lebih tinggi daripada suami menjadi hal yang dapat terjadi pada beberapa pasangan.

Namun, pasangan yang memiliki kondisi seperti ini memang harus pintar-pintar berkomunikasi dan mengelola keuangan agar hubungan suami dan istri tetap langgeng dan harmonis. Berikut ialah beberapa tips yang bisa diperhatikan bagi pasangan dengan istri berpenghasilan lebih besar.

1. Kelola keuangan bersama

Pada artikel Kenali Perbedaan Perhitungan Pajak Sebelum dan Setelah Menikah, kita mengetahui bahwa suami dan istri merupakan suatu kesatuan ekonomis di mata hukum. Artinya, setelah menikah, harta suami dan istri merupakan harta bersama. Sama halnya dengan kewajiban, kewajiban suami adalah kewajiban istri, begitu pula sebaliknya.

Karena harta dan kewajiban adalah milik bersama, maka sudah selayaknya keuangan suami-istri juga dikelola bersama. Lembaga perencana keuangan Jouska Consulting Agency menyebutkan, hal yang bisa dilakukan dalam mengelola keuangan bersama ialah dengan memiliki rekening bersama. Setiap suami dan istri memperoleh penghasilan, masing-masing pihak harus lebih dulu mentransfer penghasilannya ke rekening bersama. Rekening bersama ini bisa berfungsi sebagai joint account yang bisa diakses oleh suami dan istri. Dalam bertransaksi, usahakan melakukannya secara cashless. Dengan demikian, Anda dapat memiliki pembukuan keuangan keluarga yang transparan.

Pasangan suami-istri pun perlu menentukanlah salah seorang yang berperan sebagai manajer keuangan. Manajer keuangan ini yang bertanggung jawab mengalirkan dana dari rekening bersama ke bermacam-macam pos kebutuhan seperti belanja bulanan, tabungan, dan proteksi.

Jika kita berpegang pada prinsip pengelolaan keuangan bersama macam ini, siapapun yang memiliki penghasilan lebih tinggi tak lagi jadi masalah. Sebab setiap rupiah adalah milik bersama dan dikelola bersama.

Prinsip pengelolaan bersama ini juga bermanfaat menghindari adanya pihak yang merasa berkontribusi atau berjasa lebih besar atau lebih kecil terhadap anggaran keluarga. Misalnya, sebuah keluarga dengan dua anak memiliki asuransi kesehatan keluarga dengan premi Rp1,5 juta per bulan. Karena dana ini diambil dari rekening bersama, suami atau istri tidak bisa mengklaim memberikan lebih banyak atau lebih sedikit terhadap anggaran asuransi kesehatan keluarga. Prinsip yang sama juga terjadi ketika keluarga menganggarkan dana untuk investasi atau pos anggaran lainnya.

Jika suami dan istri menerima penghasilan dari satu pemberi kerja, maka gaji istri yang lebih besar tidak akan mempengaruhi besaran pajak suami yang gajinya lebih kecil. Karena, kantor akan membayar dan menyetor pajak masing-masing suami-istri sesuai dengan besaran penghasilan suami dan istri. Dengan menyatukan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), suami-istri juga tidak akan mengalami kurang bayar Pajak Penghasilan.

Baca juga: Yuk, Kenali Jenis-jenis Pajak Bisnis Online Shop

2. Bukan 50%:50%

Beberapa pasangan suami-istri mungkin lebih memilih untuk tidak menyatukan rekening. Dalam kondisi seperti ini, pahamilah bahwa adil itu tak selalu berarti sama rata. Karena penghasilan suami dan istri tidak sama, maka sudah selayaknya kontribusi masing-masing pihak tidak disamaratakan 50%:50%, melainkan disesuaikan dengan kesanggupan masing-masing.

Ambil contoh, sepasang suami-istri ingin membeli rumah dengan cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Rp5 juta per bulan. Berhubung gaji istri lebih besar daripada suami, maka sah-sah saja jika istri berkontribusi Rp3 juta terhadap cicilan KPR, sementara suami berkontribusi Rp2 juta.

Prinsip pembagian yang tidak sama rata ini juga berlaku pada kebutuhan yang muncul sesekali seperti biaya liburan keluarga. Istri boleh saja membayar pos-pos yang membutuhkan bujet besar seperti tiket pesawat dan hotel. Sementara suami kebagian membayar biaya makan dan transportasi selama di tempat berlibur.

Dalam membayar biaya rumah tangga sehari-hari, istri sebagai pihak yang memiliki penghasilan lebih besar dapat bertanggung jawab membayar pos-pos bujet yang besar seperti uang sekolah anak dan gaji karyawan. Sementara suami bisa mengambil pos biaya yang lebih ringan seperti biaya listrik dan air.

3. Bertanggung jawab atas pengeluaran pribadi

Memiliki rekening bersama atau tidak, pasangan suami-istri sebaiknya juga tetap memiliki bujet untuk keperluan pribadi. Memiliki bujet pribadi akan memberikan keleluasaan bagi suami dan istri dalam menikmati hasil kerja keras di kantor atau bisnis.

Pengeluaran pribadi ini dapat digunakan misalnya untuk keperluan pribadi seperti makan siang di kantor, transporasi, nongkrong bersama teman, dan shopping. Dana ini bisa digunakan juga ketika hangout di akhir pekan bersama keluarga.

Namun yang perlu diingat, bujet ini harus dibatasi sesuai dengan nilai yang disepakati bersama. Jangan lupa mengkomunikasikan kepada pasangan sebelum melakukan transaksi yang dianggap besar, misalnya lebih dari Rp500.000 atau lebih dari Rp1 juta. Hal yang sama juga berlaku dalam mengatur nilai maksimal utang yang boleh diakses oleh kartu kredit. Karena, utang suami adalah utang istri, begitu pula sebaliknya.

4. Bicarakan keuangan secara transparan

Kunci suatu hubungan agar bisa langgeng ialah adanya keterbukaan. Karena itu, jangan tabu untuk membicarakan hal seputar keuangan bersama pasangan. Suatu artikel yang dilansir oleh Daily Worth beberapa waktu silam menyebutkan, komunikasi yang sehat antara suami dan istri sangat bermanfaat dalam meminimalisir rasa minder, frustasi, atau tersinggung pada suami akibat penghasilan istri yang lebih besar. Komunikasi yang baik mendorong pasangan suami-istri saling menghargai dan menghormati pasangan berdasarkan karakter, bukan dari materi yang dimiliki.

Komunikasi juga memungkinkan suami-istri saling mengerti kemampuan ekonomi pasangan, toleransi, dan melakukan penyesuaian. Misalnya saja, gaji Anda sebagai seorang istri sebetulnya bisa dipakai untuk melakukan hobi berlibur ke luar negeri dua kali dalam satu tahun. Namun, kondisi itu tidak memungkinkan untuk suami Anda. Dengan berkomunikasi, Anda dapat menyesuaikan keinginan Anda dengan kondisi keuangan suami. Begitu pula dengan suami, dengan adanya komunikasi, ia mengetahui bahwa Anda suka pelesir ke luar negeri. Setelah terbuka satu sama lain, Anda dan pasangan bisa sama-sama mencari solusi untuk mewujudkan keinginan namun disesuaikan dengan kondisi keuangan. Misalnya, Anda dan pasangan tetap bisa jalan-jalan ke luar negeri tapi sekali dalam setahun, bukan dua kali setahun.

5. Susun rencana yang hendak dicapai

Setiap rumah tangga perlu menyusun target finansial yang hendak dicapai dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Secara umum, rumus perencanaan keuangan membagi target finansial dalam tiga jangka waktu:

  • Target jangka pendek, yakni target yang hendak dicapai dalam kurun waktu 1-3 tahun, Yang termasuk target jangka pendek misalnya liburan, dana pendidikan anak, dana darurat. Beberapa produk keuangan yang cocok untuk memenuhi target jangka pendek ialah reksa dana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, deposito, dan tabungan valas;
  • Target jangka menengah, yakni target yang hendak dicapai dalam 3-5 tahun misalnya dana pendidikan anak, down payment KPR rumah, mobil, dan aset lainnya. Untuk jangka menengah, investasi yang cocok ialah reksa dana saham, reksa dana campuran, atau surat utang;
  • Target jangka panjang, yakni target yang hendak dicapai lebih dari 5 tahun seperti ziarah keagamaan, dana pendidikan anak, dan dana pensiun. Untuk memenuhi target jangka panjang, beberapa produk keuangan yang cocok ialah investasi saham, emas, properti, asuransi pendidikan anak, asuransi jaminan hari tua, dan bisnis riil.

Setelah mengelompokkan target menurut jangka waktu di atas, pasangan suami dan istri dapat memilih produk-produk finansial yang ingin digunakan untuk mencapai target tersebut.

Baca juga: Keuntungan menggunakan Asuransi secara Cashless

Terlepas dari siapa yang memiliki penghasilan lebih besar, perencanaan keuangan yang apik dapat membawa keluarga Anda pada kemandirian finansial dan kesejahteraan. Dalam mengiringi setiap rencana-rencana finansial Anda, jangan lupa untuk melindungi diri dan keluarga dari risiko tak terduga dengan asuransi jiwa dan asuransi kesehatan dari Astra Life di ilovelife.co.id. #AyoLoveLife dan rencanakan keuangan Anda, sekarang.

Related Posts

Ingin Punya Aset Rp3 M di Usia 30 Tahun? Bisa Kok, Begini Caranya

Mapan di usia muda merupakan impian semua orang. Umumnya, tolok ukur mapan yang paling banyak dipakai ialah jika seseora...

5 Kalimat Ampuh untuk Hadapi Dilema Ibu Bekerja

Yuni masih ingat kegalauan yang ia rasakan setelah melahirkan anak pertamanya sepuluh tahun lalu. Saat itu ia baru beber...

Mengembangkan Bisnis Melalui Instagram

Sejak kemunculan media sosial, peluang untuk menjalankan bisnis lebih terbuka lebar. Hal ini terutama dirasakan oleh par...




« | »
Read previous post:
Francy
Inspirasi Penuh Haru antara Anak Majikan dan Pengasuh yang Kini Erat bagai Saudara Kandung

Terlalu banyak kenangan indah dengan Taniah atau Mbak Niah yang mengendap di benak Fransisca Maria. Masa delapan tahun Francy—sapaan Fransisca—kecil...

Close