Baru Promosi Jabatan? Saatnya Bidik Rumah Idaman

Membeli rumah idaman setelah baru promosi bukan lagi angan-angan. Simak tips-tips di dalam artikel berikut ini.

Promosi Jabatan, Rumah Idaman

Baru Promosi Jabatan? Saatnya Bidik Rumah Idaman

Membeli rumah idaman setelah baru promosi bukan lagi angan-angan. Simak tips-tips di dalam artikel berikut ini.

42% milenial di Indonesia sangat ingin punya rumah tetapi tak mampu membelinya. 1 dari 3 milenial juga tercatat merasa tidak akan bisa membayar uang muka atau down payment (DP) kredit rumah (OnePoll, 2018). Nah, kamu seperti ini juga tidak?

Salah satu keinginan memiliki rumah impian biasanya muncul setelah kamu mendapat promosi jabatan di tempat kerja. Namun, apakah dengan kenaikan pendapatan bulanan itu cukup mewujudkan impian kamu memiliki rumah idaman? Solusinya simak penjelasan dan tips cara mengatur keuangan di bawah ini.

Pantau kenaikan harga rumah

Menurut data salah satu situs properti, kenaikan harga rumah di Indonesia jauh lebih besar dibanding kenaikan pendapatan masyarakat per tahun. Rata-rata kenaikan properti di Indonesia per tahun mencapai 17%. Sebagai contoh, harga rumah berukuran 70 meter persegi di Summarecon Bekasi sudah mencapai Rp1,2 miliar. Sementara, di daerah di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan masih terdapat beberapa rumah yang dibanderol Rp750 jutaan.

Berdasarkan house price to annual income ratio atau rasio harga rumah berbanding pendapatan per tahun, harga rumah ideal yang sebaiknya dibeli maksimal 3 kali dari penghasilan tahunan (asumsi pendapatan tahunan terdiri atas 12 kali gaji bulanan, bonus dan Tunjangan Hari Raya). Jika mengambil rumah harga Rp1 miliar, idealnya kamu harus memiliki penghasilan Rp330-350 juta per tahun, atau dengan gaji Rp23-25 juta per bulan.

Hitung kebutuhan uang muka (DP)

Membeli rumah secara tunai membutuhkan dana yang cukup besar. Kamu bisa menimbang pembelian rumah dengan memanfaatkan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Supaya cicilan KPR tidak membebani keuangan kelak, dibutuhkan manajemen keuangan yang matang.

Yang pertama harus disiapkan adalah kebutuhan uang muka (down payment/DP). Umumnya, besar uang muka KPR sekitar 10%-30% dari harga rumah. Untuk menyiapkannya, mulailah menyisihkan sebagian gaji rutin kamu sebagai tabungan dana persiapan DP. Nah, saat uang muka terkumpul, pastikan juga kamu punya dana untuk biaya-biaya tambahan, seperti untuk bea balik nama, biaya notaris, biaya administrasi, biaya pajak transaksi jual beli, dan sebagainya. Biasanya biaya-biaya tambahan itu mencapai 5%–10% dari harga rumah.

Agar cicilan KPR kelak tidak membuat keuangan kamu berantakan, upayakan untuk mencari KPR yang beban cicilannya tidak melebihi 30%-35% dari total pendapatan rutin. Contoh, pendapatan kamu per bulan Rp15 juta, maka beban cicilan KPR usahakan maksimal sebesar Rp5,25 juta. Bagaimana bila KPR yang bisa kamu dapatkan menetapkan cicilan lebih dari angka tersebut? Ada dua cara yang bisa kamu tempuh. Pertama, memperbesar nilai uang muka sehingga pokok utang tidak terlalu besar. Kedua, memperpanjang tenor KPR sehingga besar cicilan masih terjangkau pendapatan kamu.

Selain itu, upayakan untuk lebih disiplin menghemat pos-pos pengeluaran tersier supaya pos penting seperti pos pengeluaran rutin (belanja dapur, pembayaran utilitas, dan lain-lain), dana darurat dan pembayaran premi asuransi tidak terganggu kehadiran cicilan KPR.

Perluas opsi jenis dan lokasi

Selagi menyiapkan uang muka, cobalah mulai meriset lokasi dan jenis hunian. Teorinya, semakin dekat dengan pusat kota, maka semakin mahal harga hunian. Oleh karena itu, perluas pencarian kamu hingga ke pinggiran kota.

Kuncinya, survei dulu lokasi perumahan yang jadi incaran kamu. Seberapa potensial lokasi tersebut untuk berkembang. Salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah akses transportasi yang akan dibangun di sekitar lokasi. Seberapa mudah akses perumahan itu dengan stasiun kereta listrik (KRL), MRT, LRT, dan pusat transportasi lainnya. Kamu bisa cek LRT Jakarta dan MRT Jakarta untuk update terbaru pembangunan 2 sarana transportasi teranyar penghubung Jakarta dan daerah sekitarnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan ialah fasilitas publik yang ditawarkan pengembang perumahan tersebut. Kamu tentu ingin hunian yang memiliki ruang publik seperti taman, jalur sepeda, jogging track untuk bisa dinikmati keluarga di masa depan. Pertimbangkan juga fasilitas lainnya seperti rumah sakit, sekolah, dan pusat perbelanjaan. Jangan cepat terbujuk promosi dari agen properti.

Harga rumah ideal yang sebaiknya dibeli maksimal 3 kali dari penghasilan tahunan.

Jika masih berkeras ingin punya rumah di ibu kota, apartemen atau rumah susun bisa menjadi pilihan untuk investasi masa depan. Saat ini sudah tersedia banyak jenis apartemen dengan harga yang bervariasi sesuai dengan lokasi dan fasilitas yang ditawarkan.

Untuk memangkas biaya, pilihlah apartemen yang sedang atau hampir rampung dibangun. Biasanya apartemen ‘jenis ini’ masih harga promo sehingga jauh lebih murah ketimbang apartemen yang sudah dibangun.

Namun, selidiki terlebih dahulu rekam pengembangnya karena banyak kasus apartemen ditelantarkan pembangunannya karena pengembang bermasalah. Kamu harus yakin pula dengan status kepemilikian unit apartemen itu. Tidak seperti rumah, kamu tidak bisa mendapat status hak milik jika membeli apartemen.

Sebagian besar apartemen di ibu kota menawarkan status kepemilikian hak guna bangungan (HGB) hak milik. Tapi tidak tertutup kemungkinan statusnya hak pengelolaan lahan (HPL). Pastikan kamu paham hak-hak kamu dengan status-status tersebut. Konsultasikan dengan kuasa hukum, konsultan properti pribadi kamu agar tak menyesal di kemudian hari.

Alokasi dana tak terduga

Dengan masuknya cicilan rumah ke dalam alokasi pengeluaran kamu, perlu strategi perencanaan keuangan untuk menjaga cashflow tetap sehat. Salah satunya adalah dengan alokasi dana yang bisa kamu keluarkan untuk hal-hal tidak terduga, seperti sakit, kecelakaan, bahkan meninggal dunia.

Dalam alokasi dana tak terduga, ada beberapa hal yang dapat kamu lakukan, seperti:

  1. Menyisihkan beberapa persen uang cash dari pendapatan bulanan.
    Misalnya, kamu mendapatkan Rp 18juta per bulan, mungkin kamu dapat mengalokasikan Rp 3juta per bulannya untuk dana darurat. Sehingga, ketika kemudian hari kamu membutuhkan uang cash secara tak terduga, kamu sudah memiliki simpanan untuk dana tersebut.
  2. Membeli dengan asuransi jiwa.
    Asuransi jiwa bekerja dengan cara memberikan kamu manfaat Uang Pertanggungan (UP) yang dapat diberikan kepada keluarga kamu disaat kamu tutup usia. Dengan ini, kamu diberikan ketenangan finansial karena kamu tahu keluarga kamu tidak akan terbebani dengan kepergian kamu karena manfaat yang diberikan oleh perusahaan asuransi. Karena uang pertanggungan tersebut nantinya dapat dipakai oleh keluarga kamu untuk melunasi pembayaran rumah kamu jika kamu tutup usia di tengah masa pelunasan KPR.

Jika kamu mencari asuransi jiwa, ada Flexi Life, asuransi jiwa murni ultra fleksibel dari Astra Life yang memudahkan kita untuk #AturSendiri kebutuhan proteksi yang tepat sesuai dengan perubahan tahap hidup.

Contohnya, ketika kamu  belum membeli rumah, kamu dapat mengatur Uang pertanggungan (UP) sebesar Rp 300juta. Namun, ketika sudah memiliki hunian dengan cicilan KPR yang tengah dilunasi, kamu dapat melakukan upgrade untuk UP hingga Rp 5 Miliar. Lalu, jika cicilan sudah lunas dan mulai memasuki hari tua, kamu dapat melakukan downgrade untuk UP kamu, misalnya menjadi Rp 1 Miliar, sehingga besar uang premi yang dibayarkan pun dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan kamu pada saat itu.

Jadi, ayo wujudkan mimpi kamu memiliki rumah idaman, sekaligus memastikan ketenangan untuk orang-orang yang kita cintai pada masa depan.

Artikel Lainnya

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!