Baru Promosi Jabatan? Saatnya Membidik Rumah Idaman

rumah idaman

Survey OnePoll ada 2018 mengungkapkan, 42% milenial di Indonesia sangat ingin punya rumah tetapi tak punya cukup uang untuk membelinya. Satu dari tiga milenial pun tercatat merasa tidak akan bisa membayar uang muka atau down payment (DP) kredit rumah, sedangkan 27% lainnya berpikir jika mereka akan memiliki rumah, tapi hanya lewat warisan dari orang tua. Nah, Anda seperti ini juga tidak?

Salah satu keinginan memiliki rumah impian biasanya muncul setelah Anda mendapat promosi jabatan di tempat kerja, yang tentunya akan memengaruhi pendapatan bulanan. Namun, apakah dengan kenaikan pendapatan bulanan itu cukup mewujudkan impian Anda memiliki rumah idaman? Solusinya simak penjelasan dan tips cara mengatur keuangan di bawah ini.

Baca juga: Jangan Bingung! Ini Jurus Rahasia Menabung dan Investasi

Kenaikan harga rumah

Menurut data salah satu situs properti, kenaikan harga rumah di Indonesia jauh lebih besar dibanding kenaikan pendapatan masyarakat per tahun. Rata-rata kenaikan properti di Indonesia per tahun mencapai 17%. Sebagai contoh, harga rumah berukuran 70 meter persegi di Summarecon Bekasi sudah mencapai Rp1,2 miliar. Sementara, di daerah di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan masih terdapat beberapa rumah yang dibanderol Rp750 jutaan.

Berdasarkan house price to annual income ratio atau rasio harga rumah berbanding pendapatan per tahun, harga rumah ideal yang sebaiknya dibeli maksimal 3 kali dari penghasilan tahunan (asumsi pendapatan tahunan terdiri atas 12 kali gaji bulanan, bonus dan Tunjangan Hari Raya). Jika mengambil contoh rumah harga Rp1 miliar, idealnya Anda harus memiliki penghasilan Rp330-350 juta per tahun, atau dengan gaji Rp23-25 juta per bulan.

Demikian halnya jika Anda ingin mencari rumah dengan harga sebesar Rp750 juta. Untuk mengakomodasi hal tersebut, Anda setidaknya harus memiliki gaji sebesar 18 juta per bulan, atau 252juta per tahun.

Nah, sekarang silakan hitung pendapatan bulanan Anda di tempat kerja, apakah sudah mencapai nominal itu. Jika tidak, tentu saja diperlukan tips keuangan dan perencanaan khusus untuk mewujudkan impian Anda tersebut.

Merencanakan kebutuhan uang muka

Membeli rumah secara tunai membutuhkan dana yang cukup besar. Anda bisa menimbang pembelian rumah dengan memanfaatkan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Supaya cicilan KPR tidak membebani keuangan kelak, dibutuhkan manajemen keuangan yang matang.

Yang pertama harus disiapkan adalah kebutuhan uang muka (down payment/DP). Umumnya, besar uang muka KPR sekitar 10%-30% dari harga rumah. Untuk menyiapkannya, mulailah menyisihkan sebagian gaji rutin Anda sebagai tabungan dana persiapan DP. Nah, saat uang muka terkumpul, pastikan juga Anda punya dana untuk biaya-biaya tambahan, seperti untuk bea balik nama, biaya notaris, biaya administrasi, biaya pajak transaksi jual beli, dan sebagainya. Biasanya biaya-biaya tambahan itu mencapai 5%–10% dari harga rumah.

Agar cicilan KPR kelak tidak membuat keuangan Anda berantakan, upayakan untuk mencari KPR yang beban cicilannya tidak melebihi 30%-35% dari total pendapatan rutin. Contoh, pendapatan Anda per bulan Rp15 juta, maka beban cicilan KPR usahakan maksimal sebesar Rp5,25 juta. Bagaimana bila KPR yang bisa Anda dapatkan menetapkan cicilan lebih dari angka tersebut? Ada dua cara yang bisa Anda tempuh. Pertama, memperbesar nilai uang muka sehingga pokok utang tidak terlalu besar. Kedua, memperpanjang tenor KPR sehingga besar cicilan masih terjangkau pendapatan Anda.

Baca juga: Baru Berkeluarga, Pengeluaran Banyak dan Susah Menabung? Jalankan 10 Resep Mudah Ini

Selain itu, upayakan untuk lebih disiplin menghemat pos-pos pengeluaran tersier supaya pos penting seperti pos pengeluaran rutin (belanja dapur, pembayaran utilitas, dan lain-lain), dana darurat dan pembayaran premi asuransi tidak terganggu kehadiran cicilan KPR.

Jenis dan lokasi

Selagi menyiapkan uang muka, cobalah mulai meriset lokasi dan jenis hunian. Teorinya, semakin dekat dengan pusat kota, maka semakin mahal harga hunian. Hanya yang benar-benar beruntung yang bisa mendapatkan hunian dengan harga bersahabat di tengah kota. Oleh karena itu, tidak ada salahnya beralih ke pinggiran kota.

Kuncinya, survei dulu lokasi perumahan yang jadi incaran Anda. Seberapa potensial lokasi tersebut untuk berkembang. Salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah akses transportasi yang akan dibangun di sekitar lokasi. Seberapa mudah akses perumahan itu dengan stasiun kereta listrik (KRL), MRT, LRT, dan pusat transportasi lainnya. Anda bisa cek https://www.lrtjakarta.co.id/ dan https://www.jakartamrt.co.id/ untuk update terbaru pembangunan dua sarana transportasi teranyar penghubung Jakarta dan daerah penyangganya.

Dengan demikian, jika ingin langsung menempatinya, tidak perlu khawatir mobilitas Anda akan terganggu. Kalaupun tidak untuk ditempati sekarang, ini akan menjadi investasi mengingat lokasi ini akan berkembang di masa depan.

Hal lain yang perlu diperhatikan ialah fasilitas publik yang ditawarkan pengembang perumahan tersebut. Anda tentu ingin hunian yang memiliki ruang publik seperti taman, jalur sepeda, jogging track untuk bisa dinikmati keluarga di masa depan. Yang tak kalah penting untuk dipertimbangkan adalah fasilitas lainnya seperti rumah sakit, sekolah, dan pusat perbelanjaan. Jangan cepat terbujuk promosi dari agen properti.

Jika masih berkeras ingin punya rumah di Ibu Kota, apartemen atau rumah susun bisa menjadi pilihan untuk investasi masa depan. Saat ini sudah tersedia banyak jenis apartemen dengan harga yang bervariasi sesuai dengan lokasi dan fasilitas yang ditawarkan.

Untuk memangkas biaya, pilihlah apartemen yang sedang atau hampir rampung dibangun. Biasanya apartemen ‘jenis ini’ masih harga promo sehingga jauh lebih murah ketimbang apartemen yang sudah dibangun.

Namun, selidiki terlebih dahulu rekam pengembangnya karena banyak kasus apartemen ditelantarkan pembangunannya karena pengembang bermasalah. Anda harus yakin pula dengan status kepemilikian unit apartemen itu. Tidak seperti rumah tapak, Anda tidak bisa mendapat status hak milik jika membeli apartemen.

Sebagian besar apartemen di Ibu Kota menawarkan status kepemilikian hak guna bangungan (HGB) hak milik. Tapi tidak tertutup kemungkinan statusnya hak pengelolaan lahan (HPL). Pastikan Anda paham hak-hak Anda dengan status-status tersebut. Konsultasikan dengan kuasa hukum, konsultan properti pribadi Anda agar tak menyesal di kemudian hari.

Alokasi dana tak terduga

Dengan masuknya cicilan rumah ke dalam alokasi pengeluaran bulanan, perlu strategi perencanaan keuangan matang untuk menjaga cashflow Anda tetap sehat. Jangan lupa untuk menyisihkan pendapatan untuk alokasi dana tak terduga alias dana darurat, bersiap untuk segala kemungkinan dalam hidup.

Baca juga: Yuk, Kenalan dengan Flexi Life: Asuransi Ultra Fleksibel Pertama di Indonesia

Dalam alokasi dana tak terduga, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan, seperti:

  • Menyisihkan beberapa persen uang cash dari pendapatan bulanan Anda. Misalnya, Anda mendapatkan Rp 18juta per bulan, mungkin Anda dapat mengalokasikan Rp 3juta per bulannya untuk dana darurat. Sehingga, ketika kemudian hari Anda membutuhkan uang cash secara tak terduga, Anda sudah memiliki simpanan untuk dana tersebut.
  • Memproteksi diri Anda dengan asuransi jiwa. Asuransi jiwa bekerja dengan cara memberikan Anda manfaat Uang Pertanggungan (UP) yang dapat diberikan kepada keluarga Anda disaat Anda tutup usia. Dengan ini, Anda diberikan ketenangan finansial karena Anda tahu keluarga Anda tidak akan terbebani dengan kepergian Anda karena manfaat yang diberikan oleh perusahaan asuransi. Karena uang pertanggungan tersebut nantinya dapat dipakai oleh keluarga Anda untuk melunasi pembayaran rumah Anda jika Anda tutup usia di tengah masa pelunasan KPR.

Untuk mencari asuransi jiwa yang oke Anda tidak perlu bingung. Saat ini sudah ada Flexi Life, asuransi jiwa murni ultra fleksibel dari Astra Life yang memudahkan kita untuk #AturSendiri kebutuhan proteksi yang tepat sesuai dengan perubahan tahap hidup. Contohnya, ketika Anda masih lajang dan belum membeli rumah, Anda dapat mengatur Uang pertanggungan (UP) sebesar Rp 300juta.

Namun, ketika sudah berkeluarga dan memiliki hunian dengan cicilan KPR yang tengah Anda lunasi, Anda dapat melakukan upgrade untuk UP Anda hingga Rp 5 Miliar. Lalu, jika cicilan sudah lunas dan Anda mulai memasuki hari tua, Anda mempunyai opsi untuk melakukan downgrade untuk UP Anda, misalnya menjadi Rp 1 Miliar, sehingga besar uang premi yang dibayarkan pun dapat disesuaikan dengan kondisi finansial Anda pada setiap tahap di hidup Anda.

Jadi, ayo wujudkan mimpi Anda memiliki rumah idaman, sekaligus memastikan ketenangan untuk orang-orang yang kita cintai pada masa depan.

Info Lanjut Flexi Life




« | »
Read previous post:
pensiun dana
Anda Karyawan atau Freelance? Yuk, Simak Persiapan Agar Pensiun Mapan Berikut

Persiapan pensiun penting dilakukan sejak dini, baik itu oleh Anda yang berstatus karyawan ataupun bagi pekerja lepas. Namun, karena sistem...

Close