Traditional Sandwich Generation: Warisan yang Tak Perlu Diturunkan

Bagaimanakah cara agar seorang traditional sandwich generation dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, sekaligus dengan kebutuhan anak dan orang tua yang juga menjadi tanggungannya?

Durasi baca: 4 menit

Traditional-Sandwich-Generation-Warisan-yang-Tak-Perlu-Diturunkan

Traditional Sandwich Generation: Warisan yang Tak Perlu Diturunkan

Bagaimanakah cara agar seorang traditional sandwich generation dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, sekaligus dengan kebutuhan anak dan orang tua yang juga menjadi tanggungannya?

Durasi baca: 4 menit

Pastinya, harus menanggung biaya hidup tiga generasi—orang tua, diri sendiri, dan anak–bukanlah kondisi yang ideal. Kebutuhan hidup dengan anak di zaman sekarang semakin mahal, dan akan berpotensi menjadi lebih rumit saat kita juga masih harus membiayai hidup orang tua kita. Hal inilah yang pada akhirnya memunculkan fenomena traditional sandwich generation.

Apa Itu Traditional Sandwich Generation?

Traditional sandwich generation adalah generasi di usia 30-50 tahun yang selain menanggung beban dirinya sendiri, juga berperan menanggung impitan beban dari dua generasi sekaligus: generasi atas dan generasi bawah. Yang dimaksud dengan generasi atas adalah orang tua yang sudah masuk ke kategori lansia (60 tahun ke atas). Sedangkan, generasi bawah adalah anak-anak yang belum bekerja. Jenis sandwich generation ini merupakan jenis yang paling umum ditemukan di Indonesia.

Berdasarkan data dari survei KataData Insight Center (KIC) dan Astra Life, ada jenis lain dari traditional sandwich generation, yaitu extended traditional sandwich generation. Mereka adalah orang-orang yang harus menanggung beban dari generasi atas dan generasi bawah, sekaligus menanggung kakak maupun adiknya. Atau, biasa disebut sebagai tanggungan ke samping.

Gambaran Kondisi Traditional Sandwich Generation

Untuk menjelaskan konsep traditional sandwich generation ini dengan lebih rinci, silakan baca ilustrasi berikut: 

Andi adalah seorang laki-laki berusia 48 tahun yang tinggal di Jakarta. Ia sudah menikah dan saat ini telah memiliki 2 orang anak. Anak pertamanya, Dika, berusia 24 tahun dan anak keduanya, Ica, berusia 19 tahun. Tidak hanya hidup dengan keluarga kecilnya, Andi juga harus merawat ibunya yang tinggal bersamanya. 

Saat ini Andi bekerja di sebuah perusahaan swasta dengan gaji 12 juta per bulan. Ia harus membiayai kehidupan keluarganya dengan kondisi istri yang tidak bekerja dan anak keduanya, Ica, yang masih kuliah. Sempat bekerja dan hidup mandiri selama dua tahun, saat ini Dika (anak pertama) berada dalam posisi tidak bekerja dan harus kembali menjadi tanggungan Andi. Tak hanya itu, di usianya yang menginjak 70 tahun, ibunda Andi juga membutuhkan perawatan khusus karena ia menderita hepatitis C dan diabetes. 

Meski hanya sebuah ilustrasi, namun kondisi yang dialami Andi pada kasus di atas menunjukkan betapa rumitnya menjadi bagian dari traditional sandwich generation. Selain harus membiayai kehidupan keluarga intinya, ia juga harus membiayai hidup ibunya di saat yang bersamaan. Kondisi seperti ilustrasi di atas itulah yang akhirnya kerap membuat seorang traditional sandwich generation merasa tertekan akibat besarnya tanggung jawab yang harus dipikul.

Memutus Rantai Traditional Sandwich Generation

Dalam hasil survei yang dilakukan oleh KataData Insight Center (KIC) bersama Astra Life di bulan September 2021, ditemukan fakta bahwa mereka yang termasuk dalam kategori traditional sandwich generation ini menempati urutan jumlah terbanyak, yakni sebesar 16.2% dari total responden. Sementara proporsi lainnya ditempati oleh open-faced sandwich, extended traditional sandwich, extended open-faced sandwich, dan club sandwich

Rata-rata responden menanggung orang di luar dirinya sendiri, karena mereka yang ditanggung tidak memiliki penghasilan. Sementara sejumlah 32% responden mengaku menjadi satu-satunya pihak yang bisa merawat dan membiayai.

Jika ditelusuri, banyak ahli berpandangan bahwa kondisi sandwich generation ini adalah kondisi turun-temurun yang dimiliki oleh sebuah keluarga. Dengan kultur yang melekat, termasuk kultur dalam mengelola keuangan, kondisi ini juga biasanya telah dialami oleh generasi-generasi sebelumnya.

Meski demikian, bukan berarti kita hanya bisa pasrah menghadapi keadaan, lho. Kita juga bisa berusaha untuk memutus rantai generasi terimpit ini mulai dari sekarang. Berikut adalah beberapa cara yang bisa kita lakukan:

1. Memanfaatkan Potongan PTKP

Kalau kamu termasuk dalam generasi traditional sandwich, salah satu usaha yang bisa kamu lakukan untuk terus bertahan adalah dengan menambah pemasukan. Tidak hanya itu, kamu pun bisa memanfaatkan potongan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) untuk memberikan lebih banyak penghasilan yang dapat dibawa pulang. 

Bagi kamu yang belum tahu, PTKP adalah jumlah pendapatan wajib pajak orang pribadi yang dibebaskan dari PPh Pasal 21. Dengan kata lain, PTKP berfungsi sebagai pengurang penghasilan neto wajib pajak untuk mencari jumlah penghasilan yang dikenakan pajak. Besaran tarif PTKP tiap orang pun beragam sesuai dengan kondisi yang ia miliki. Dalam kasus ilustrasi Andi di atas, selain mendapatkan potongan untuk dirinya sendiri, ia juga bisa mendapat tambahan dengan statusnya yang sudah menikah dan memiliki 3 tanggungan (2 anak dan 1 orang tua).

2. Memberikan Pendidikan Finansial kepada Anak

Salah satu faktor munculnya traditional sandwich generation adalah minimnya pengetahuan seputar pengelolaan keuangan yang diajarkan oleh orang tua pada anak. Keadaan ini membuat anak-anak tumbuh dan berkembang tanpa memiliki bekal literasi keuangan yang baik. Maka dari itu, guna memutus rantai generasi ‘terjepit’ ini, penting bagi kita sebagai orang tua untuk membantu anak kita melek keuangan sejak dini.  

Mengajak anak untuk membiasakan diri menabung adalah salah satu hal sederhana yang bisa kita lakukan. Dengan kebiasaan menabung yang dimiliki sejak dini, harapannya kelak anak-anak dapat menjadi pribadi yang memiliki perencanaan keuangan yang baik. Tak hanya menabung, sebagai orang tua kita juga bisa mengajarkan anak tentang konsep konsumsi atau penggunaan keuangan yang bijak dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini akan mengajarkan anak untuk tidak boros dalam menggunakan keuangan.

Keterampilan pengelolaan keuangan yang baik ini sangat penting bagi anak. Selain untuk membiasakannya memiliki keuangan yang sehat, juga sebagai media untuk mencegah anak-anak kita meneruskan kultur sandwich generation ini.

3. Menyiapkan Dana Pensiun

Bisa menikmati hidup dengan nyaman dan bahagia setelah pensiun tanpa harus membebani anak adalah impian semua orang. Namun, kondisi itu tentu hanya bisa kita dapatkan jika kita mempersiapkannya dengan matang. Persiapan finansial melalui dana pensiun adalah salah satu hal yang dapat kita dilakukan. 

Nyatanya, soal pensiun menjadi salah satu kekhawatiran terbesar generasi sandwich. Fakta ini juga terungkap dalam survei KIC dan Astra Life di bulan September lalu, ketika sebanyak 5,89% responden menyatakan kekhawatiran mereka terhadap persiapan dana pensiun, ditambah juga masalah kepemilikan rumah/properti, kemampuan pembiayaan, pendidikan anak, dan kebutuhan merawat orang tua.

Kekhawatiran ini wajar, karena ketika kita pensiun nanti, kita tidak akan menerima pendapatan tetap seperti yang biasa kita terima tiap bulannya. Kalaupun masih ada uang pensiun yang kita terima, tentu jumlahnya tidak lagi sebesar jumlah yang kita terima saat kita masih produktif bekerja. 

Di sisi lain, kita juga tetap harus bisa memenuhi kebutuhan hidup kita secara mandiri sehingga anak-anak kita tidak akan terjebak dalam kondisi traditional sandwich generation. Kalau kamu belum memikirkan, menghitung, dan menyiapkan dana pensiunmu, segeralah mulai melakukannya dari sekarang. Salah satu langkah yang bisa ditempuh untuk menyiapkan dana pensiun adalah dengan menyisihkan setidaknya 10% dari penghasilanmu sebagai tabungan dana pensiun dan menginvestasikannya sesuai dengan profil risikomu.

4. Proteksi Diri Sendiri dan Keluarga dengan Asuransi yang Tepat

Memiliki asuransi untuk melindungi diri juga merupakan salah satu strategi yang bisa kita lakukan. Sebagai bagian dari generasi traditional sandwich yang harus menanggung banyak pihak, tentunya kamu perlu melindungi diri sendiri dan tanggunganmu dari berbagai kemungkinan buruk yang dapat terjadi.

Untukmu si traditional sandwich generation, sebaiknya kamu memiliki asuransi jiwa untuk melindungi kehidupan pasangan, anak, dan orang tua yang ditinggalkan. Lalu, asuransi pendidikan guna menjamin pendidikan anak sampai jenjang yang diharapkan. Tambahkan juga manfaat untuk pembebasan 100% pembayaran premi dasar berkala, jika pemegang polis meninggal dunia atau mengalami cacat total dan tetap. Dan, tak kalah pentingnya juga, kamu perlu memiliki asuransi kesehatan dan penyakit kritis untuk melindungi aset-asetmu; supaya tidak tergerus biaya kesehatan apabila harus menjalani perawatan kesehatan.

Jika kamu adalah seorang extended traditional sandwich generation, maka kamu sebaiknya menambahkan proteksi dengan asuransi tambahan berupa asuransi kecelakaan dan asuransi penyakit kritis; mengingat tanggunganmu juga lebih besar dibanding traditional sandwich generation biasa.

Salah satu produk yang bisa dipertimbangkan oleh para traditional sandwich generation maupun extended traditional sandwich generation adalah Flexi Life dengan keunggulan UP akan 100% dibayarkan apabila pihak yang diasuransikan meninggal dunia. Hanya dengan membayarkan uang premi mulai dari Rp58.000,-* per tahun, Flexi Life bisa memberikan UP hingga Rp5.000.000.000,-. Nilai UP, masa pertanggungan, dan masa pembayarannya pun dapat diubah sesuai dengan kebutuhan. Ditambah lagi, kamu tidak perlu melakukan pemeriksaan medis untuk membeli polis Flexi Life. Menarik sekali, ‘kan?

Menjadi bagian dari traditional sandwich generation ataupun extended traditional sandwich generation menuntut kita untuk cerdas dalam pengelolaan keuangan. Dengan persiapan dan perencanaan yang matang, bukan hanya kita dapat memiliki jalan keluar dari situasi pelik yang kita hadapi, kita juga memiliki potensi untuk memutus rantai sandwich generation di keluarga kita. Astra Life memiliki berbagai kiat untukmu si traditional sandwich generation dan extended traditional sandwich generation agar bisa menjadi #BetterSandwichGen. Bila kamu merasa adalah bagian dari sandwich generation, namun masih bingung tergolong sebagai jenis apa, kamu dapat memastikannya lewat Sandwich Generator dari BetterSandwichGen.

Buatmu yang tertarik dengan produk asuransi dari Astra Life, kamu dapat mengunjungi website astralife.co.id untuk melihat berbagai pilihan produk perlindungan lainnya. Jangan lupa juga follow Instagram @AstraLifeID untuk mendapatkan tip-tip bermanfaat lainnya. Urusan Sehat No Worries, #iGotYourBack.

Artikel Lainnya

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!