Menikah saat Pandemi, Apa Saja Finansial dan Protokol Kesehatan yang Harus Disiapkan?

“Saya sudah membayangkan pernikahan yang saya impikan dari tahun sebelumnya. Tapi, begitu ada pandemi, impian itu harus berubah total.”

Menikah saat Pandemi, Apa Saja Finansial dan Protokol Kesehatan yang Harus Disiapkan?

Menikah saat Pandemi, Apa Saja Finansial dan Protokol Kesehatan yang Harus Disiapkan?

“Saya sudah membayangkan pernikahan yang saya impikan dari tahun sebelumnya. Tapi, begitu ada pandemi, impian itu harus berubah total.”

“Saya sudah membayangkan pernikahan yang saya impikan dari tahun sebelumnya. Tapi, begitu ada pandemi, impian itu harus berubah total. Perasaan saya jadi campur aduk.” Begitu kesan Intan Prisanti, 27 tahun, menggambarkan hari, di mana ia mengikat janji dengan pasangannya pada Juli 2020 lalu. Ya, tidak ada seorang pun yang berencana menikah saat pandemi.

Namun, jika memang pandemi masih terus berlanjut dan kita tidak tahu hal ini akan berlangsung sampai kapan, tak ada jalan lain selain melanjutkan hidup. Hal itu pula yang membulatkan tekad Natalia Woro Rahayu Setiyani, 37 tahun, untuk menikah dengan pasangannya pada Agustus 2020. Bagi Woro, situasi ini mengingatkannya kembali pada tujuan pernikahan yang sesungguhnya, yaitu, “sakral di hadapan Tuhan dan sah di mata negara.”

Penerapan Protokol Kesehatan saat Pernikahan

Pemerintah memang telah mengizinkan warga yang hendak melangsungkan pernikahan di saat sekarang ini, dengan memenuhi protokol kesehatan yang berlaku.

Pilih lokasi pernikahan di zona hijau

Untuk pertimbangan keamanan, pilihlah lokasi pernikahan di zona hijau. “Lokasi KUA tempat kami terdaftar itu zona merah. Jadi petugas KUA menyarankan agar akad jangan digelar di kantor KUA, tapi di lokasi dekat sana yang tergolong zona hijau,” papar Intan. Kamu juga bisa mengecek lokasi zona merah dan zona hijau penyebaran COVID-19 di sini.

Perhatikan jumlah maksimal tamu yang diperbolehkan

Saat ini, pemerintah hanya mengizinkan maksimal 30 orang yang bisa hadir di upacara keagamaan pernikahan, seperti akad nikah dan pemberkatan nikah. Setelah itu, masing-masing keluarga boleh mengadakan syukuran atau resepsi dengan jumlah tamu yang juga dibatasi. Batasilah tamu undangan untuk acara syukuran sebanyak maksimal 40 orang. Atau, jika kamu berniat mengundang lebih banyak tamu, buatlah jadwal kedatangan untuk menghindari seluruh tamu berkumpul di satu waktu. Alternatif lain, kamu juga bisa mengundang tamu untuk hadir secara online lewat Youtube live atau Zoom.

Prasmanan dengan protokol atau bagikan nasi boks

Selain prosesi keagamaan, ternyata kamu juga masih bisa mengadakan syukuran pernikahan secara sederhana. Agar pembagian makanan berlangsung aman, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Salah satunya pembagian makanan prasmanan oleh satu orang petugas atau bisa juga dengan membagikan nasi boks yang dibungkus plastik dan seal rapat bila memang tidak ingin tamu duduk terlalu lama.

Membuat jadwal kedatangan tamu

Kamu juga bisa membuat jadwal kedatangan tamu untuk menghindari undangan yang berkumpul di satu waktu. Tujuan membuat jadwal kedatangan tamu ini adalah untuk menghindari tamu lansia atau yang berisiko tinggi bertemu dengan tamu muda yang masih banyak beraktivitas di luar di satu waktu yang sama.

Sediakan fasilitas protokol kesehatan yang memadai

Agar protokol kesehatan berjalan maksimal, sediakanlah fasilitas protokol kesehatan yang memadai di tempat pernikahan. Fasilitas ini mencakup wastafel dan hand sanitizer di tempat-tempat yang mudah dijangkau, thermometer untuk mengukur suhu tamu yang datang, serta mewajibkan semua tamu dan vendor untuk memakai masker, face shield, dan bahkan sarung tangan untuk vendor. Siapkan tambahan budget sekitar Rp2 juta untuk fasilitas protokol kesehatan ini. Bisa juga menyewa dalam menyediakan wastafel portable dan mendisinfeksi rumah sebelum acara pernikahan. Infokan juga agar para tamu harus mencuci tangan sebelum masuk. Beri tanda jarak aman di lantai. Sementara untuk tamu yang ingin minum, sediakan satu orang petugas yang mengambilkan minum.

Melakukan Test COVID-19

Untuk memastikan acara menikah saat pandemi berlangsung aman, sediakan pula tambahan biaya untuk mengadakan rapid test bagi tamu dan vendor yang terlibat dalam acara pernikahan.

Mendata riwayat perjalanan tamu

Strategi yang tak kalah penting di kala menikah saat pandemi adalah, melakukan pendataan riwayat perjalanan terhadap tamu dan vendor yang hadir pada acara pernikahan. Data riwayat perjalanan ini bisa dalam bentuk catatan pada buku tamu.

Tidak mengundang orang berisiko

Untuk mencegah penularan ketika menikah saat pandemi, upayakan untuk tidak mengundang sanak saudara yang berisiko, seperti kerabat yang sudah lanjut usia atau 60 tahun ke atas, ibu hamil, memiliki anak balita, dan yang sakit.

Gunakan dompet digital untuk angpao

Untuk mencegah penularan lewat sentuhan, kamu juga bisa menyediakan opsi dompet digital untuk menampung hadiah dari para tamu undangan. Informasi mengenai dompet digital ini bisa kamu umumkan pada undangan, sehingga tamu tidak perlu menyiapkan angpao atau hadiah saat acara pernikahan berlangsung.

Suvenir dikirimkan lewat kurir ke alamat pemberi angpao

Sebaliknya, untuk menjaga keamanan kamu dan pasangan, kamu juga bisa mengirimkan suvenir pernikahan lewat kurir ke sanak saudara, kerabat dan relasi yang tidak menghadiri prosesi pernikahan.

Persiapan Finansial Menikah saat Pandemi

Menabung sejak jauh-jauh hari

Menabunglah untuk persiapan nikah sejak jauh-jauh hari. Sisihkan 10%-30% dari pendapatan. Boleh dikatakan secara ekonomi menyiapkan pernikahan saat pandemi memang berat. Tapi pernikahan di masa pandemi dapat dilakukan dengan penyesuaian budget dan menggunakan tabungan.

Mengalokasikan kelebihan dana untuk dana darurat dan proteksi

Mengingat biaya menikah saat pandemi jauh berkurang ketimbang yang direncanakan, maka upayakan agar kamu dan pasangan sama-sama memiliki pos kelebihan dana yang tidak terpakai. Kelebihan dana yang tidak jadi dipakai ini bisa dipakai untuk pos dana darurat dan proteksi.

Pentingnya asuransi

Pernikahan adalah suatu tahap kehidupan yang penting. Sehingga, salah satu langkah finansial yang dipersiapkan banyak orang ketika masuk ke tahap pernikahan ialah dengan memiliki asuransi, baik asuransi jiwaasuransi kesehatan, dan asuransi penyakit kritis. Dengan memiliki asuransi, pasangan, apalagi kelak ketika sudah memiliki anak bisa terhindar dari pengeluaran yang besar akibat terjadi risiko, seperti jatuh sakit, terkena penyakit kritis atau tutup usia. Kebutuhan akan asuransi ini semakin bertambah seiring dengan kehadiran anak dan bertambahnya usia.

Jika saat ini kamu juga berencana menikah saat pandemi, jangan lupa untuk menyiapkan asuransi. Salah satu asuransi jiwa yang bisa kamu pertimbangkan adalah Flexi Life, asuransi jiwa murni dari Astra Life yang menyediakan uang pertanggungan hingga Rp5 miliar tanpa cek medis. Selain itu, asuransi ini juga dilengkapi manfaat mencakup risiko akibat COVID-19 tanpa masa tunggu.

Artikel Lainnya

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Menikah saat Pandemi, Apa Saja Finansial dan Protokol Kesehatan yang Harus Disiapkan?

Ini adalah rangkuman artikel versi Mobile. Buatlah sekitar 1-2 kalimat untuk rangkuman artikel untuk membimbing pembaca mengerti isi artikel.

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!