Penghasilan Bertambah Tapi Tetap Merasa Kurang? Bisa Jadi Ini Penyebabnya

Pernahkah kamu merasa, penghasilan bertambah tapi kok tetap kurang? Anggaran belanja malah ikut membengkak? Mungkin kamu perlu memperbaiki relasi dengan uang. Bagaimana caranya? Simak ulasan berikut.

Penghasilan Bertambah Tapi Tetap Merasa Kurang? Bisa Jadi Ini Penyebabnya

Penghasilan Bertambah Tapi Tetap Merasa Kurang? Bisa Jadi Ini Penyebabnya

Pernahkah kamu merasa, penghasilan bertambah tapi kok tetap kurang? Anggaran belanja malah ikut membengkak? Mungkin kamu perlu memperbaiki relasimu dengan uang. Bagaimana caranya? Simak ulasan berikut.

Banyak dari kita yang bekerja lebih keras supaya mendapat promosi jabatan agar penghasilan bisa bertambah.  Atau bahkan memutuskan resign dan pindah ke perusahaan baru yang menawarkan gaji lebih tinggi. Semua dilakukan dengan harapan saat pemasukan bertambah maka masalah ekonomi akan teratasi. Namun sayangnya, kenyataan suka berkata lain. Meski sudah berkali-kali naik gaji, banyak orang yang merasa tetap kekurangan untuk memenuhi masalah finansialnya. Ketenangan pun tak kunjung dirasakan.

Kamu mungkin sempat dengar kasus seorang pegawai swasta bergaji fantastis, yang nekat melakukan aksi kriminal untuk menutupi utang yang nilainya juga tak kalah fantastis. Kejadian ini jadi contoh nyata bahwa nominal uang, tak menjamin kebahagiaan dan kepuasan hidup seseorang. Perasaan kurang bisa saja membayangi jika kita tak memiliki relasi yang baik dengan uang.

Memahami Relasi Uang dan Emosi

Banyak pakar keuangan hingga psikolog yang menyebutkan bahwa pengelolaan uang memiliki relasi kuat dengan emosi. Seringkali faktor emosi bereaksi lebih dahulu dibandingkan pertimbangan yang logis dan rasional. Tak jarang hal itu pun menimbulkan tindakan impulsif, yang kemudian kita sibuk mencari pembenarannya. Dalam kondisi ini, seolah-olah kita yang dikontrol oleh uang. Padahal, seharusnya kita yang mengontrol keuangan.

Misalnya, saat kamu melihat sebuah produsen gadget merilis produk terbarunya. Jika uang kita terbatas, akan relatif ‘lebih mudah’ menahan keinginan untuk membelinya. Namun, saat ada uang berlebih, godaan untuk membeli langsung muncul. 

Mulailah muncul sejumlah alasan yang membuat kita merasa butuh gadget terbaru itu. Misalnya merasa butuh storage lebih besar, layar lebih lebar, dan spesifikasi lain yang hanya bisa dipenuhi oleh gadget terbaru itu. Padahal, sebelum produk itu dirilis, kita tidak ada masalah dengan gadget yang ada. 

Jika kita tetap membeli karena ada perasaan butuh terhadap gadget terbaru saat gadget kita tak ada masalah, maka kita seolah telah membuat keputusan yang rasional. Padahal jika dilihat kembali itu adalah keputusan emosional karena mengikuti keinginan sesaat.

Penelitian terkait hubungan emosi dan perilaku keuangan pun telah banyak dilakukan, salah satunya oleh psikolog asal Inggris Adrian Furnham yang menghasilkan teori Money Beliefs. Banyak peneliti lainnya yang akhirnya melanjutkan dan mengembangkan kajian terkait Money Beliefs tersebut.

Pada intinya, money beliefs menggambarkan bagaimana penilaian atau perilaku seseorang terhadap uangnya banyak dipengaruhi oleh emosi yang terbentuk karena kejadian di masa lalu, terutama pengalaman yang traumatik dan memiliki tekanan emosional.

4 Tanda Relasi Tak Sehat dengan Uang

Seseorang yang memiliki relasi tidak sehat dengan uang cenderung mengalami kesulitan dalam mengelola finansialnya. Namun tidak semua orang menyadari hal itu. Berikut beberapa tanda kalau kamu memiliki relasi yang tak sehat dengan uang:

1. Anggaran belanja lebih besar dari penghasilan

Seringkali orang tak sadar terjebak dalam kondisi lebih besar pasak daripada tiang. Mengeluarkan anggaran belanja lebih dari yang sudah dialokasikan atau bahkan melebihi penghasilan yang dimiliki. Godaan tawaran promo atau diskon besar barang yang tak terlalu dibutuhkan seringkali menjadi penyebabnya. Atau adanya kemudahan pembayaran dengan kartu kredit atau fasilitas paylater bisa membuat orang tak sadar sudah membelanjakan uang melebihi pemasukan yang dia punya. Berbagai hal pun bisa menjadi alasan dan membuat seolah keputusan itu rasional. Misalnya membeli untuk menyenangkan anak, atau merasa telah berhemat karena bisa membeli saat harga sedang murah. Jika kamu sering mengalami hal ini, tandanya relasimu dengan uang sedang tidak sehat.

2. Membantu orang dengan berhutang

Membantu orang lain yang sedang kesulitan memang hal yang baik. Namun jika kamu harus berhutang untuk membantu orang lain, maka ada relasi yang tak sehat antara kamu dan keuanganmu. Biasanya orang-orang yang termasuk dalam sandwich generation sering menghadapi hal ini. Merasa bertanggung jawab atas orang tua atau keluarga lainnya membuat dia rela berhutang untuk membantu memenuhi kebutuhan finansial orang lain. Padahal, membantu juga perlu disesuaikan dengan kemampuan finansial kita.

3. Menolak membicarakan uang

Menolak membicarakan masalah uang terutama dengan pasangan, bisa terjadi karena beberapa hal misalnya merasa malu, tidak percaya diri, atau merasa ada hal yang harus dirahasiakan. Jika kondisi ini dibiarkan, maka bisa memunculkan masalah-masalah lainnya di kemudian hari, layaknya bom waktu, yang menunggu ledakan terjadi.

4. Merasa bersalah saat berbelanja

Ada orang-orang yang merasa bersalah setelah membelanjakan uangnya, bahkan untuk keperluan pribadinya. Orang-orang seperti ini biasanya memiliki kebiasaan menyimpan uang secara berlebihan. Ada kekhawatiran berlebih jika suatu saat tidak memiliki uang. Mereka pun akan sangat merasa bersalah jika menggunakan uang untuk merawat dirinya. Padahal, memberi anggaran untuk perawatan diri demi kesejahteraan fisik dan mental juga perlu dilakukan.

Sejumlah gejala relasi yang tak sehat dengan uang di atas bisa dipicu oleh beberapa faktor. Misalnya saja budaya lingkungan kita dalam memperlakukan uang, nilai-nilai yang ditanamkan orang tua terkait pengelolaan keuangan, pengalaman hidup susah di masa lalu, kesenjangan ekonomi, hingga rasa ingin diakui oleh lingkungan sekitar. Jika tak diperbaiki, hal-hal tersebut bisa membuat kamu menjadi sangat impulsif dalam menggunakan uang atau justru sangat ketat dalam mengalokasikan anggaran belanja.

10 Tips Membangun Relasi Sehat dengan Uang

Lalu bagaimana caranya untuk bisa memperbaiki hubungan tersebut? Berikut tips yang bisa kamu coba lakukan untuk bisa membangun relasi sehat dengan uang:

1. Tentukan tujuan keuanganmu secara spesifik

Dengan menentukan tujuan keuangan, kamu bisa lebih mudah untuk melangkah kedepannya. Buatlah tujuan keuangan jangka pendek, menengah, dan panjang. Buatlah tujuan keuangan secara realistis, terukur, dan spesifik sehingga kamu bisa menentukan strategi apa untuk mencapainya. Tujuan yang realistis juga membuat kamu tak merasa lelah atau cepat putus asa dalam upaya mencapainya.

Misalnya jangan buat tujuan: menjadi orang kaya. Tapi coba lebih spesifik ukuran kaya bagi kamu itu saat memiliki penghasilan berapa? Usia berapa targetnya? Dan lain sebagainya. Semakin spesifik, maka strategi yang dibuat juga bisa semakin konkret.

2. Buat rencana keuangan

Setelah memiliki tujuan keuangan, saatnya kamu membuat rencana keuangan. Hal ini penting dilakukan untuk melihat berapa dana yang kamu perlukan untuk mencapai tujuan keuanganmu dan berapa besar kebutuhanmu. Setiap orang tentu memiliki kebutuhan berbeda, tetapi jika kamu bingung kamu bisa mencoba dengan formula 40-30-20-10. Sebanyak 40% untuk kebutuhan hidup bulanan, 30% untuk cicilan (diutamakan untuk rumah dan kendaraan), 20% untuk dana darurat dan investasi, 10% untuk membayar zakat dan bersedekah.

3. Sisihkan anggaran untuk keperluan pribadimu

Seringkali keinginan belanja yang impulsif datang dari rasa bosan dan stress. Atau saat kamu sudah menahan rasa ingin belanja sekian waktu. Untuk itu, kamu perlu menyisihkan anggaran untuk keperluan pribadimu. Misalnya untuk jalan-jalan, membeli makanan atau barang favorit, atau melakukan hobi. Anggaran ini bisa kamu sisihkan dari alokasi kebutuhan hidup bulanan. Saat pikiran dan hati kamu lebih tenang dan bahagia, kamu bisa lebih mengontrol penggunaan uangmu. Tak selalu merasa ‘haus’ untuk jajan.

4. Catat jurnal keuangan dan cek secara berkala

Membuat jurnal atau catatan keuangan dan memeriksanya secara berkala bisa membuat kamu merasa lebih tenang. Meminimalisir kekhawatiran tidak memiliki uang atau bisa mengendalikan rasa ingin belanja terus menerus. Dengan catatan keuangan tersebut kamu jadi bisa memantau berapa sisa dana yang kamu punya dan kemana saja dana yang sudah keluar. Apakah pemakaiannya sudah sesuai dengan anggaran yang kamu buat. Kamu bisa mencatat jurnal keuangan harian dan memeriksanya dua minggu sekali atau sebulan sekali. Kamu juga bisa mengevaluasi rencana keuangan selanjutnya berdasarkan jurnal keuangan tersebut.

5. Hindari utang konsumtif

Hindari tawaran utang dalam bentuk apapun, terutama untuk hal-hal konsumtif. Tak hanya tawaran kartu kredit tetapi juga fasilitas paylater yang seringkali membuatmu tak sadar sudah berbelanja di luar kemampuan.

7. Memberi jeda pada diri sendiri

Saat ada keinginan yang menggebu untuk membeli sesuatu, apalagi harus merogoh kantong cukup dalam, cobalah berikan jeda sejenak agar kamu bisa berpikir secara sadar. Apakah hal itu benar-benar kamu butuhkan atau hanya keinginan saja. Untuk bisa membangun kesadaran penuh atas tindakan yang akan kita lakukan, kamu bisa coba sisihkan waktu sekitar 5-10 menit untuk berlatih meditasi singkat atau olah napas. Sadari setiap emosi yang muncul dalam pikiran. Dengan memberi jeda pada diri sendiri juga bisa melatih kamu untuk bisa hidup pada masa kini. Tak terlalu larut dengan trauma masa lalu atau terlalu khawatir akan masa depan.

8. Berlatih bersyukur

Meskipun terdengar klise, tetapi berlatih untuk bersyukur perlu dilakukan untuk mengurangi rasa ketidakpuasan dalam diri. Coba lihat kembali apa saja yang sudah kamu miliki dan kamu capai hingga saat ini. Ingat kembali apa saja kenikmatan dan kemudahan yang telah kamu dapatkan. Cobalah juga untuk berempati terhadap orang-orang yang tak seberuntung kamu. Dengan memiliki rasa bersyukur kamu bisa lebih menghargai usaha yang telah kamu lakukan.

9. Fokus pada pencapaian diri bukan orang lain

Di era media sosial yang semakin berkembang, akses informasi menjadi tak terbatas. Banyak orang juga yang bisa memamerkan pencapaian mereka lewat platform media sosial. Jika kamu selalu membandingkan pencapaian kamu dengan orang lain rentan membuat kamu terus merasa kurang. Fokuslah pada pencapaian diri kamu sendiri. Jika terus mengikuti keinginan untuk bisa menang dari orang lain, maka tidak akan ada habisnya. Pembuktian yang perlu dilakukan hanya untuk dirimu sendiri. Bandingkanlah kemajuan dirimu saat ini dari sebelumnya. Bukan membandingkan dengan kekayaan orang lain.

10. Berdamai dengan masa lalu

Jika kamu memiliki pengalaman traumatis atau tekanan di masa lalu, coba untuk berdamai dengan kondisi tersebut. Sadari kembali bahwa kamu sudah tidak dalam kondisi yang tertekan seperti masa lalu. Coba lebih fokus pada pengelolaan keuanganmu saat ini dan masa depan.

Memperbaiki relasi dengan uang penting dilakukan untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Kita perlu menyadari dan mengingat bahwa hidup merupakan sebuah proses. Dan setiap orang memiliki waktunya sendiri-sendiri, sehingga kita tak perlu berlomba dengan orang lain untuk mencapai sebuah tujuan. 

Memiliki target dalam hidup itu perlu, tetapi buatlah target yang memang realistis dan terukur. Jika tidak, maka seumur hidup kita hanya akan dipenuhi rasa lelah karena tak pernah mencapai target. Merasa selalu kurang dan khawatir sehingga banyak kesenangan di masa kini yang seharusnya bisa kita nikmati tetapi terlewat begitu saja.

Untuk menambah ketenangan dalam hidup, kamu bisa melengkapi perlindunganmu dengan proteksi dari asuransi. Carilah produk yang bisa memenuhi kebutuhan kamu dan keluarga tetapi masuk juga secara anggaran.

Agar kamu terlindungi dalam mencapai tujuan hidup. Penting untukmu untuk melindungi kesehatan. Nah, bila kamu mencari asuransi kesehatan murni, yang mudah dalam proses klaim dan lengkap, Flexi HS (Hospital and Surgical) dari Astra Life dapat menjadi pilihan yang cocok untukmu. Asuransi ini pun tepat buat kamu yang ada rencana pindah atau resign kerja. Soalnya, Flexi HS bisa dibayar tahunan, sehingga jika ada jarak antara pekerjaan baru dan lama, kamu tak kelimpungan. 

Selain itu, Flexi HS memberikan manfaat rawat inap hingga Rp2 juta per hari tanpa perlu cek medis, fasilitas medical check up setiap 2 tahun, hingga klaim secara cashless, lho. Nah, soal asuransi ini, kamu bisa cari tahu selengkapnya soal hanya di ilovelife.co.id, ya!

Artikel Lainnya

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!