Asuransi Penyakit Kritis: Manfaat, Cara Kerja, dan Kenapa Kita Membutuhkannya

Asuransi penyakit kritis

Sudah seberapa lengkap asuransi yang Anda miliki saat ini? Apakah Anda sudah yakin asuransi yang Anda miliki sudah memadai untuk menutup berbagai risiko finansial? Pada dasarnya, asuransi adalah cara termudah dalam mengelola risiko kerugian keuangan yang mungkin terjadi pada keuangan pribadi. Melalui asuransi, risiko finansial yang Anda miliki dapat dialihkan (risk transfer) atau dibagi (risk sharing) kepada penyedia produk asuransi. Anda bisa memperoleh manfaat pengelolaan risiko itu dengan membayar sejumlah premi.

Dahulu, kebutuhan asuransi seseorang mungkin sudah memadai bila memiliki setidaknya tiga jenis proteksi penting, yaitu asuransi jiwa, asuransi kesehatan, dan asuransi kerugian. Namun, melihat perkembangan industri asuransi dewasa ini, ditambah dengan biaya pengobatan yang semakin mahal, khususnya pengobatan penyakit kritis, maka muncullah asuransi berikutnya, yaitu asuransi penyakit kritis.

 

Apa itu asuransi penyakit kritis?

Sesuai namanya, asuransi penyakit kritis merupakan asuransi yang menanggung risiko kerugian yang terjadi ketika si tertanggung divonis menderita penyakit kritis. Umumnya, yang menjadi cakupan perlindungan asuransi penyakit kritis adalah jenis-jenis penyakit berat seperti stroke, kanker, gagal ginjal, penyakit jantung, juga diabetes.

Jenis-jenis penyakit tersebut menyebabkan kondisi kritis sehingga seringkali harapan akan kesembuhan si penderita begitu kecil. Penyakit kritis juga memakan biaya pengobatan yang besar akibat proses pengobatan yang lama. Seringkali, vonis penyakit kritis lebih terdengar sebagai vonis kematian bagi si penderita.

Proteksi asuransi penyakit kritis umumnya diberikan dalam bentuk pembayaran santunan (lump sump payment) atau sejumlah dana yang besarnya sesuai dengan ketentuan dalam polis. Santunan tersebut diberikan ketika si tertanggung masih dalam kondisi hidup. Ada asuransi penyakit kritis yang memberikan santunan ketika penyakit kritis masih di tahap awal. Ada juga yang asuransi penyakit kritis yang memberikan santunan saat penyakit kritis sudah di tahap lanjut.

Baca juga: Apa yang Harus Segera Dilakukan Jika Terkena Serangan Jantung?

Santunan dari asuransi penyakit kritis tidak dibatasi pemanfaatannya oleh penyedia asuransi. Jadi, pemegang polis bisa menggunakan santunan tersebut untuk menutup biaya pengobatan penyakit kritis, bisa juga untuk menggantikan penghasilan yang hilang akibat kondisi sakit, atau kebutuhan lainnya.

Jadi, asuransi penyakit kritis berbeda dengan asuransi jiwa di mana santunan baru akan cair ketika tertanggung meninggal dunia. Asuransi penyakit kritis juga tidak sama dengan asuransi kesehatan yang umumnya berskema hospital benefit yang mengganti biaya medis dengan batasan tertentu. Asuransi kesehatan juga umumnya hanya memberikan perlindungan  pada jenis-jenis penyakit non-kritis.

 

Mengapa asuransi penyakit kritis dibutuhkan?

Berikut ini kondisi yang membuat Anda perlu asuransi penyakit kritis:

  • Kurang olahraga atau beraktivitas fisik. Penduduk Indonesia yang kurang melakukan aktivitas fisik jumlahnya meningkat dari 26,1% pada 2013 menjadi 33,5% pada 2018 (Kementrian Kesehatan, 2018).
  • Asupan makanan sehat kurang. Badan Pusat Statisik (BPS) mencatat, orang Indonesia hanya mengasup buah dan sayuran sebanyak 173 gram/hari. Jauh di bawah angka kecukupan gizi menurut WHO, yaitu sebesar 400 gram/hari.
  • Merokok dan polusi udara. Risiko penyakit kritis seperti jantung atau kanker paru-paru lebih tinggi dihadapi seorang perokok baik yang aktif maupun pasif. Ditambah lagi buruknya kualitas udara akibat polusi asap kendaraan, membuat risiko penyakit kritis semakin besar dihadapi utamanya oleh kalangan urban.
  • Riwayat penyakit kritis di keluarga. Ini berkaitan dengan struktur genetis seseorang. Mereka yang memiliki orangtua dengan riwayat penyakit kritis, cenderung lebih rentan terserang penyakit yang sama.
  • Kesiapan finansial. Pengobatan penyakit kritis menguras dana yang besar, yaitu hingga ratusan atau miliaran rupiah. Banyak kasus di mana keuangan sebuah keluarga porak poranda ketika salah satu anggota mereka terserang penyakit kritis.

 

Baca juga: Polusi Udara Jakarta Terburuk di Dunia, Apa Ancamannya?

Bahaya menunda asuransi penyakit kritis

Anda bisa saja memilih menghadapi tingginya risiko serangan penyakit kritis tanpa perlindungan asuransi. Namun, ada baiknya Anda menghitung terlebih dulu seberapa besar risiko kerugian finansial yang bisa Anda hadapi jika menunda kepemilikan asuransi penyakit kritis. Berikut ini gambaran biaya pengobatan penyakit kritis yang perlu Anda antisipasi:

  • Penyakit jantung. Kementerian Kesehatan RI mencatat, kurang lebih terjadi 232.000 kasus penyakit jantung di Indonesia yang memakan biaya pengobatan total hingga Rp1,82 triliun. Biaya operasi bypass jantung mencapai Rp150 juta hingga Rp300 juta (Katadata, Juli 2019). Adapun untuk pemasangan ring jantung, biayanya bisa mencapai Rp50 juta-Rp100 juta per pasien.
  • Stroke. Terdapat 172.000 kasus penyakit stroke yang memakan biaya kurang lebih Rp794 miliar.
  • Diabetes. Biaya yang dibutuhkan untuk konsultasi dokter dan pengobatan penyakit gula mencapai Rp13 juta hingga Rp26 juta per tahun. Kementerian Kesehatan mencatat, walaupun kasus diabetes masih di bawah kasus penyakit jantung dan dan stroke, yaitu 75.000 kasus namun biaya pengobatannya cukup tinggi mencapai Rp319 miliar.
  • Gagal ginjal. Seseorang dengan vonis gagal ginjal, membutuhkan biaya pengobatan setidaknya Rp50 juta hingga Rp60 juta per tahun untuk cuci darah.
  • Kanker. Biaya perawatan kanker berkisar dari Rp102 juta hingga Rp106 juta tiap bulan. Termasuk obat-obatan, konsultasi dan kemoterapi.

Besarnya dana yang harus Anda siapkan untuk mengantisipasi biaya pengobatan penyakit kritis memang tak main-main. Ketimbang menyesal di belakang, mengelola risiko finansial tersebut dengan memiliki asuransi penyakit kritis akan jauh meringankan beban Anda kelak.

Bagaimana cara kerja asuransi penyakit kritis?

Asuransi penyakit kritis biasanya memuat daftar penyakit kritis yang diproteksi berikut di tahap apa proteksi tersebut berlaku. Selain itu, asuransi penyakit kritis umumnya mencantumkan persyaratan terkait masa tunggu (waiting period) dan jangka waktu bertahan hidup si tertanggung (survival period).

Baca juga: Cegah Kebangkrutan Akibat Penyakit Kritis dengan Langkah Ini

Cara kerja asuransi penyakit kritis sederhana saja. Santunan akan serta merta cair begitu tertanggung divonis mengidap penyakit kritis sesuai cakupan proteksi di dalam polis asuransi. Ada yang langsung cair 100% santunan, ada juga yang bertahap sesuai perkembangan penyakit kritis yang diderita oleh tertanggung.

Semakin lengkap jangkauan proteksi sebuah asuransi penyakit kritis, akan semakin bagus dalam membantu Anda mengelola risiko. Hanya saja, hal itu akan mempengaruhi premi yang harus Anda bayarkan kelak.

Di Indonesia, asuransi penyakit kritis sudah cukup banyak ditawarkan. Namun, belum tentu tawarannya sesuai dengan kondisi Anda. Acapkali seseorang gamang membeli asuransi penyakit kritis karena preminya dianggap mahal. Atau, bisa jadi karena masih bingung menghitung kebutuhan santunan yang tepat. Belum lagi bila ternyata calon tertanggung tak lolos cek medis sebagai syarat pembelian.

 

Sesuaikan asuransi penyakit kritis dengan kebutuhan

Salah satu produk asuransi penyakit kritis yang perlu Anda pertimbangkan adalah Flexi Critical Illness dari Astra Life. Ada tiga kelebihan utama asuransi penyakit kritis ini.

Pertama, fleksibilitas menentukan santunan dan beban premi sesuai kemampuan keuangan Anda saat ini. Sebagai contoh, ketika Anda masih lajang di usia 25 tahun, Anda mungkin baru membutuhkan santunan sebesar Rp500 juta saja, cukup dengan premi Rp140.500 per bulan. Kelak ketika Anda sudah menikah dan memiliki anak, anggaplah di usia 30 tahun, Anda bisa #AturSendiri santunan menjadi lebih besar hingga Rp1 miliar dengan premi Rp281.000 per bulan.

Kedua, Flexi Critical Illness memberikan perlindungan optimal hingga Rp2 miliar tanpa cek medis dengan syarat masa tunggu yang tidak lama, cukup 90 hari dan masa bertahan hidup singkat yaitu 14 hari saja. Perlindungannya pun bisa diperpanjang hingga tertanggung berusia 85 tahun.

Ketiga, Flexi Critical Illness melindungi Anda dari tiga jenis penyakit kritis utama yaitu, kanker tahap awal dan/atau kanker, stroke dan serangan jantung tahap lanjut. Sehingga, premi yang Anda bayarkan dapat optimal menjaga Anda dari risiko serangan penyakit kritis paling mematikan.

 

Perhatikan jangkauan perlindungan

Asuransi penyakit kritis juga menawarkan  berbagai tawaran jangkauan perlindungan. Semakin luas jangkauan proteksi yang ditawarkan, premi yang harus Anda bayar tentunya semakin besar. Paling tidak ada dua jenis asuransi penyakit kritis bila dilihat dari jangkauan perlindungan yang ditawarkan:

1.Asuransi penyakit kritis yang fokus pada penyakit kritis utama

Alih-alih memberikan proteksi pada banyak jenis penyakit kritis, asuransi jenis ini akan lebih fokus melindungi Anda pada beberapa jenis penyakit kritis saja. Seperti Flexi Critical Illness yang fokus melindungi Anda dari tiga jenis penyakit kritis utama di masyarakat Indonesia yaitu kanker, serangan jantung dan stroke. Kelebihannya, premi yang Anda bayarkan bisa fokus digunakan melindungi penyakit dengan risiko terbesar. Selain itu, karena jangkauan proteksinya lebih compact, premi yang harus Anda bayarkan juga lebih murah.

2.Asuransi penyakit kritis komprehensif

Contohnya, AVA Proteksi Optima 117 dari Astra Life. Asuransi penyakit kritis ini memberikan perlindungan menyeluruh terhadap 117 kondisi penyakit kritis termasuk komplikasi diabetes dan penyakit kritis katastropik sejak tahap awal, menengah hingga lanjut. Nilai santunan asuransi ini mencapai 120% santunan.

 

Perhatikan hal-hal yang menentukan besaran premi 

Sekilas apabila dibandingkan dengan premi asuransi jiwa murni atau asuransi kesehatan, premi asuransi penyakit kritis boleh jadi memang lebih mahal. Itu tidak bisa dilepaskan dari fakta mahalnya biaya pengobatan yang dibutuhkan untuk menanggulangi penyakit kritis.

Berikut ini hal-hal yang mempengaruhi besar kecil premi asuransi penyakit kritis:

  1. Usia masuk tertanggung. Bila Anda membeli asuransi penyakit kritis di usia 25 tahun, kemungkinan besar preminya akan lebih murah dibandingkan saat Anda membelinya di usia 35 tahun. Jadi, lebih awal membeli akan memberikan keuntungan berupa premi yang lebih ringan. Sebaliknya, menunda pembelian akan membuat premi yang harus dibayarkan kian mahal.
  2. Gaya hidup. Premi asuransi penyakit kritis akan lebih mahal bagi Anda yang memiliki kebiasaan merokok.
  3. Nilai santunan. Semakin besar santunan yang Anda butuhkan, semakin besar pula premi yang harus dibayarkan. Untuk mengatasinya, pilih asuransi penyakit kritis dengan santunan sesuai kebutuhan keuangan Anda saat itu dan kemampuan pembayaran premi.
  4. Cakupan proteksi. Semakin banyak jenis penyakit kritis yang menjadi dilindungi, kian mahal pula premi yang harus dibayarkan. Supaya tidak memberatkan keuangan, pilihlah asuransi penyakit kritis yang memberi perlindungan sesuai dengan risiko yang menurut Anda lebih mungkin terjadi.

 

#AmitAmit jika harus terkena penyakit kritis. Tapi kalaupun iya, perlindungan penyakit kritis harus disiapkan. Dengan begitu, risiko guncangan finansial bisa diminimalisir, kesehatan keuangan Anda bisa lebih langgeng. Jadi, masih berani menunda punya asuransi penyakit kritis?

Related Posts

#LoveLifeTalks: 8 Tips Sukses Menjadi Dokter Anak di Tengah Pandemi Corona ala Dokter Miza

Keharusan di rumah saja selama pandemi corona, membawa tantangan tersendiri bagi para orang tua. Bukan hanya dituntut be...

#LoveLifeTalks: Kunci Sebuah Pernikahan Bagi Nucha dan Sheggario

Sempat gagal menikah dalam versi yang berbeda, Nucha Bachri dan Sheggario atau Ario akhirnya dipertemukan dan sukses men...

#LoveLifeTalks: Proses Menemukan Ikigai Bersama Fellexandro Ruby

Karir. Sebuah terminologi yang punya berbagai perspektif. Ada yang menganggap karir adalah sebuah tujuan, ada juga yang ...




« | »
Read previous post:
biaya penyakit kritis
Rincian Biaya Perawatan 4 Penyakit Kritis Penyebab Kematian Tertinggi di Indonesia

Menurut World Health Organization (WHO), 35% kematian di Indonesia disebabkan oleh kardiovaskular dan 12% disebabkan oleh kanker.  Selain kedua penyakit...

Close