Kekerasan Finansial, Bentuk Baru KDRT yang Jarang Disadari

kekerasan finansial keluarga.001

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ternyata juga mencakup urusan finansial. Selama ini, KDRT cenderung diasosiasikan sebagai kekerasan terkait fisik, verbal, dan atau seksual. Namun, Pasal 5 huruf d Undang-undang (UU) Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT tegas memasukkan kekerasan finansial sebagai salah satu jenis KDRT, yaitu lewat klausul penelantaran rumah tangga.

Baca juga: Mengenal Protection Gap, Si Bahaya Laten Keuangan Keluarga

Definisi klausul tersebut diurai di Pasal 9 UU Nomor 23 Tahun 2004. Yang menarik, ayat (2) pasal itu menyatakan masuk pula dalam definisi penelantaran rumah tangga ini adalah kondisi ketika seseorang melakukan tindakan yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan atau melarang pasangan bekerja yang layak di dalam atau luar rumah sehingga korban berada dalam kendalinya.

Di Indonesia, mayoritas suami merupakan pencari nafkah utama di keluarga. Ketika kenyataan ternyata tak ideal, kasus kekerasan finansial rentan terjadi. Catatan Tahunan 2019 Komnas Perempuan, misalnya, menyebutkan, pada 2018 terjadi 1.064 kasus kekerasan ekonomi terhadap perempuan antara lain berupa larangan bekerja untuk menghasilkan uang, penghasilannya diambil oleh suami tanpa izin, serta suami yang menolak memberi uang belanja kepada istri padahal memiliki uang. Temuan kasus ini sebagian besar bersumber dari laporan pengadilan terkait perceraian, yaitu sebagai alasan penyebab pengajuan perceraian tersebut.

Kekerasan finansial

Sebelum mengenali gelagat kekerasan finansial terjadi dalam keluarga, ada baiknya tahu terlebih dahulu fakta soal urusan keuangan keluarga dan posisi perempuan di dalamnya. Di banyak budaya, perempuan sudah jamak jadi “menteri keuangan” dalam keluarga. Namun, yang jadi persoalan, sering kali posisi perempuan hanya “pelaksana” dan “harus terima”.

Misal, istri tidak tahu gaji suami. Berapa pun dikasih uang oleh suami, si istri tidak bisa mempertanyakan dan harus bisa membuatnya cukup untuk memenuhi kebutuhan serumah. Istri tidak dilibatkan dalam perencanaan keuangan atau malah hanya dijatah uang harian untuk segala urusan kebutuhan rumah tangga.

Bila pendapatan dan nafkah dari suami memadai dan mencukupi, situasi itu bisa jadi bukanlah masalah bagi perencanaan keuangan keluarga. Namun, bagaimana bila yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu saat nominal dari suami pas-pasan apalagi kurang? Terlebih lagi ketika suami malah melarang istri bekerja sekadar untuk menambah pendapatan keluarga meski pendapatan suami tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga urusan memenuhi kebutuhan harian pontang-panting, apalagi memikirkan kebutuhan masa depan. Akibatnya risiko ketika kepala keluarga dan tulang punggung keuangan tak ada lagi tidak diantisipasi.

Baca juga: Sebagai Orang Tua Muda, Sadar Tidak Anda Melakukan 5 Kesalahan Ini?

Satu lagi, secara definisi, situasi nafkah tak tercukupi bersamaan dengan kekangan bagi pasangan seperti di atas sudah memenuhi klausul penelantaran. Gelagatnya bisa dikenali dari kesempitan nominal yang dirasakan dengan kesesakan hati karena susah berkomunikasi apalagi mendapat perlakuan setara dari pasangan.

Prinsip keterbukaan

Dalam kehidupan berkeluarga, keterbukaan merupakan awal dari segala langkah positif, termasuk cara mengatur keuangan. Mengetahui sumber dan nominal pendapatan keluarga, menyusun bersama prioritas keuangan keluarga, membangun strategi memenuhi segala kebutuhan sesuai tahap perkembangan hidup, juga memitigasi risiko pada masa depan termasuk urusan biaya sekolah anak, merupakan prinsip-prinsip dasar yang mutlak dilakukan demi mewujudkan keluarga dengan kesehatan keuangan berkelanjutan.

Akan lebih baik lagi bila sekalian disiapkan dana darurat untuk mengantisipasi kejadian tak terduga, seperti bila ada anggota keluarga atau kerabat yang sakit atau urusan bisnis yang butuh suntikan finansial untuk pengembangan.

Salah-salah, tanpa perencanaan keuangan yang sehat dengan menempatkan istri sebagai mitra keuangan yang sejajar, anak-anak yang bakal jadi korban ketika istri tak punya cukup kemampuan untuk menggantikan posisi sebagai tulang punggung keluarga saat terjadi risiko. Tidak mau begitu juga, bukan?

Literasi keuangan dan mitigasi risiko

Beragam fenomena dalam keseharian masyarakat terkait pengelolaan keuangan keluarga yang tak sehat gara-gara pendelegasian pengelolaan keuangan tak tepat, tentu perlu disikapi. Kabar baiknya, sekarang ada banyak lembaga yang konsen mendorong literasi keuangan untuk perempuan, sejak mulai pengelolaan keuangan keluarga, pembukuan keuangan keluarga, sampai pemberdayaan. Banyak pula tersedia jasa konsultasi perencanaan keuangan bahkan ada penasihat keuangan perorangan yang bisa direkrut. Bagaimana pun, pengetahuan adalah pijakan awal dari langkah yang lebih dapat terukur, termasuk soal keuangan.

Untuk urusan mitigasi risiko keuangan keluarga bisa diantisipasi dengan memiliki asuransi jiwa. Memastikan kebutuhan proteksi keluarga terpenuhi adalah salah satu upaya penting mengamankan masa depan finansial keluarga. Itu juga cara mudah untuk menunjukkan rasa cinta dan tanggung jawab pada keluarga. Asuransi Jiwa pun sekarang makin mudah diakses. Ada tahapan hidup yang memang mau tak mau butuh fleksibilitas soal alokasi mitigasi risiko ini. Kini sudah ada asuransi jiwa ultrafleksibel dari Astra Life, Flexi Life.

Baca juga: Ini Alasan Kenapa Pencari Nafkah Harus Memiliki Asuransi Jiwa

Sesuai namanya, Flexi Life memberikan kemudahan bagi Anda untuk #AturSendiri kebutuhan proteksi sesuai perubahan tahapan hidup. Anda bisa leluasa memilih jangka waktu perlindungan mulai satu tahun. Fleksibilitas Flexi Life memungkinkan Anda untuk upgrade atau downgrade Uang Pertanggungan sesuai kondisi finansial. Flexi Life memberikan Uang Pertanggungan hingga Rp5 miliar tanpa syarat cek medis.

Mari, pastikan Rumah Tangga aman dari kekerasan finansial lewat penyusunan perencanaan keuangan yang baik dengan pasangan serta memastikan terpenuhinya rasa tenang dengan memiliki Asuransi Jiwa.

Info Lanjut Flexi Life




« | »
Read previous post:
Protection Gap
Mengenal Protection Gap, Si Bahaya Laten Keuangan Keluarga

Protection gap atau dikenal juga dengan kesenjangan proteksi yang tidak diantisipasi, saat ini masih banyak terjadi dan terus berkembang hingga menjadi...

Close