#LoveLifeTalks: 8 Tips Sukses Menjadi Dokter Anak di Tengah Pandemi Corona ala Dokter Miza

Dokter Miza membagikan tips sukses agar para orang tua sukses menjadi “dokter anak” bagi si buah hati selama pandemi corona.

#LoveLifeTalks: 8 Tips Sukses Menjadi

#LoveLifeTalks: 8 Tips Sukses Menjadi Dokter Anak di Tengah Pandemi Corona ala Dokter Miza

Dokter Miza membagikan tips sukses agar para orang tua sukses menjadi “dokter anak” bagi si buah hati selama pandemi corona.

Keharusan di rumah saja selama pandemi corona, membawa tantangan tersendiri bagi para orang tua. Bukan hanya dituntut beradaptasi dengan ritme work from home semata, para orang tua juga harus mengasuh anak-anak serta menjaga kesehatan anak di tengah wabah besar ini. Melalui program #LoveLifeTalks dari Astra Life dengan tema “Becoming “The Doctor” for Your Children during COVID-19 Pandemic”, yang digelar melalui IG Live Minggu, 26 April lalu, dokter spesialis anak dr. Miza Dito Afrizal SpA BMedSci Mkes membagikan tips menjadi “dokter anak” di tengah pandemi corona.

Tips menjadi dokter anak di tengah pandemi

Di tengah pandemi, sedapat mungkin para orang tua perlu memastikan anak-anak tetap berada di rumah saja agar terhindar dari infeksi COVID-19. Bahkan bila tidak ada kondisi gawat darurat, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyarankan agar kunjungan ke dokter ditunda dulu.

Alhasil, untuk sementara, para orang tua perlu belajar menjadi “dokter anak” bagi si buah hati. Nah, supaya tidak asal mendiagnosis, dr. Miza membagikan tujuh tips yang bisa menjadi bekal para orang tua dalam menjaga kesehatan anak di rumah selama pandemi:

1. Kenali kondisi normal anak

Hal pertama yang sangat mendasar agar sukses menjadi “dokter anak” menurut dr. Miza adalah para orang tua harus mengenali kondisi normal si buah hati. Pasalnya, kondisi normal setiap anak berbeda-beda. Ada anak yang kondisi normalnya adalah sangat aktif, lompat dan lari ke sana-ke mari. Ada juga anak yang kondisi normalnya cenderung lebih tenang.

Mengetahui kondisi normal anak penting menjadi dasar karena ketika sakit, pasti ada perubahan kondisi yang bisa dijadikan indokator oleh orang tua. Misalnya dari suhu tubuh anak. “Ada anak yang suhunya sudah 39 derajat celcius, tapi masih bisa lincah berlari, masih bisa makan dan minum. Sebaliknya, ada yang suhunya 37,8 derajat celcius sudah langsung lunglai. Di sini orang tua harus tahu kondisi stadium 0 anak itu seperti apa,” jelasnya.

Dengan mengetahui kondisi normal anak, orang tua bisa memahami apa yang harus dilakukan dan tidak mudah terjebak kepanikan ketika anak terindikasi melemah kesehatannya. “Jangan pula denial melihat kondisi anak. Bisa fatal bila ada penyangkalan,” imbuh dr. Miza.

2. Cari informasi dari sumber kredibel

Menurut dr. Miza boleh-boleh saja bila para orang tua mencoba mencari informasi tentang gejala sakit anak dari internet. Namun, harus memastikan sumber informasi tersebut kredibel agar terhindar dari kesalahan pemahaman. Sumber yang tepercaya bisa berasal dari jurnal ilmiah yang kredibel. Bila memungkinkan berkonsultasi dengan dokter langganan melalui telepon atau pesan singkat, segera lakukan.

3. Bila perlu obat, pilih obat OTC

Apabila anak atau anggota keluarga yang lain menunjukkan gejala sakit dan membutuhkan pengobatan, sedangkan akses ke dokter atau rumah sakit sangat dibatasi, dr. Miza membolehkan kamu memilih obat yang dijual bebas di pasar. “Orang tua berusaha sebisa mungkin dulu mengatasi penyakit yang tidak terlalu gawat itu. Kalau sampai butuh sekali obat-obatan, pilih obat yang berkode warna hijau,” terang dr. Miza.

Obat berkode warna hijau biasa juga disebut obat OTC (over the counter atau obat bebas) terbilang cukup aman dikonsumsi oleh pasien kendati belum mendapatkan diagnosis selengkap kala diperiksa di rumah sakit. “Pahit-pahitnya apabila salah kasi obat, efeknya tidak fatal,” katanya.

4. Disiplin menerapkan social distancing

Selama pandemi corona belum mereda, pastikan kamu dan keluarga selalu mematuhi keharusan social distancing. Itu berarti kamu juga harus membatasi aktivitas anak-anak agar bermain di dalam rumah saja. Tantangannya memang anak-anak akan lekas merasa bosan dan bisa-bisa menjadi lebih rewel dari biasanya. Tapi, dengan memberi pengertian, kamu bisa mengajak anak-anak untuk beradaptasi agar beraktivitas di rumah saja.

Poin ini penting kendati bila melihat statistik hingga pertengahan April lalu, kata dr. Miza, jumlah pasien positif COVID-19 berusia 0-15 tahun hanya sekitar 45 orang di seluruh dunia. “Walau kecil angkanya, anak-anak tetap memiliki risiko terinfeksi. Bahkan anak-anak bisa menjadi super spreader COVID-19. Maka itu, lebih baik dibatasi aktivitas di rumah saja,” jelas dr. Miza.

Dengan mengetahui kondisi normal anak, orang tua bisa memahami apa yang harus dilakukan dan tidak mudah terjebak kepanikan ketika anak terindikasi melemah kesehatannya. “Jangan pula denial melihat kondisi anak. Bisa fatal bila ada penyangkalan,” imbuh dr. Miza.

5. Jaga asupan gizi

Strategi selanjutnya untuk sukses menjadi “dokter anak” bagi si buah hati ialah dengan menjaga asupan gizi anak. Imunitas tubuh bisa menjadi senjata ampuh melawan penularan virus COVID-19. Karena itu, salah satu cara mudah menjaga kesehatan anak dan meningkatkan tingkat kekebalan tubuh adalah dengan memastikan asupan gizi anak terpenuhi. Menurut dr. Miza, orang tua perlu memastikan asupan makanan untuk anak mengandung empat pilar utama yaitu karbohidrat, lemak, protein, mineral dan vitamin.

Selain itu, anak juga perlu mendapatkan tiga zat mikro yang bersifat immunomodulator yaitu vitamin C, vitamin D dan zinc.  Vitamin C bisa kamu dapatkan dari buah-buahan dan sayuran. Suplemen atau vitamin C pabrikan belum terlalu dibutuhkan selama pasokan dari makanan alami terpenuhi. “Yang alami lebih bagus daripada yang buatan pabrik karena lebih mudah terserap oleh tubuh,” jelas dr. Miza.

Adapun zinc bisa didapatkan dari daging-dagingan, protein hewani dan sayuran. Sedangkan vitamin D, menurut dr. Miza, yang terbaik adalah yang berasal dari sinar matahari pagi yaitu sinar ultraviolet B (UVB). Untuk mendapatkannya, kamu bisa berjemur seminggu tiga kali selama 10-15 menit. Untuk mengetahui kapan ada sinar UVB, kamu bisa memanfaatkan aplikasi seperti UV Index di ponsel pintar. Pasalnya, tiap daerah bisa berbeda-beda waktu berjemurnya.

Bagaimana dengan ramuan herbal yang disebut-sebut bisa menambah kekebalan tubuh? Menurut dr. Miza, walau herbal memiliki kandungan yang baik, namun sejauh ini belum ada penjelasan pasti berapa yang harus dikonsumsi agar manfaatnya bisa dirasakan oleh tubuh.

UV Index application
Sumber foto: Medium, November 2017

6. Ajak berolahraga bersama

Resep selanjutnya untuk menjadi “dokter anak” bagi si kecil adalah dengan membiasakan keluarga rutin berolahraga. Nah, karena selama social distancing, pergerakan dibatasi di rumah saja, kamu bisa mengajak anak berolahraga ringan mengikuti content-content kebugaran di Youtube yang sudah banyak tersedia. Misalnya, mengajak anak yoga bersama, atau olahraga ringan lain yang mudah diikuti secara daring.

Sumber foto: Rawpixel

7. Vaksinasi tetap dilakukan

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah mengeluarkan rekomendasi tentang pentingnya para orang tua untuk tetap memberi vaksin pada anak di tengah pandemi corona. “Yang paling kami takuti adalah apabila sampai terjadi wabah penyakit lain di tengah pandemi corona,” kata dr. Miza.

Maka itu, bagi anak-anak berusia di bawah 2 tahun, sebaiknya tidak ditunda vaksinasinya. Tetap ikuti jadwal yang sudah diberikan oleh dokter anak. Bila memang terpaksa menunda, tundalah maksimal satu bulan saja. Banyak fasilitas kesehatan seperti klinik atau rumah sakit yang menerapkan protokol pemberian layanan kesehatan di tengah pandemi. Misalnya, membuka pendaftaran online, membatasi jumlah pasien per hari supaya tidak terjadi pertemuan antar pasien di ruang tunggu, dan sebagainya.

8. Pastikan kebiasaan higienis di rumah

Berbagai jenis virus termasuk COVID-19 mudah menginfeksi tubuh manusia melalui berbagai media. Membiasakan anak dan anggota keluarga untuk menjaga kebersihan tubuh di rumah juga dapat efektif membantu kamu menjaga kesehatan anak. Sering-seringlah mengajak dan mengingatkan anak untuk mencuci tangan dengan sabun, tidak asal menyentuh wajah selepas menyentuh sesuatu, rajin mandi dan kebiasaan higinis lainnya.

Sumber foto: RawpixelSumber foto: RawpixelSumber foto: Rawpixel

Untuk memberikan kamu ketenangan di tengah pandemi ini, kamu bisa meningkatkan perlindungan kesehatan keluarga dengan AVA iFamily Protection dari Astra Life. Asuransi ini tepat jadi pilihan karena memberi perlindungan lengkap mulai pertanggungan jiwa, penggantian biaya rawat jalan darurat,  hingga santunan rawat inap dan rawat inap ICU. AVA iFamily Protection juga dilengkapi fitur pengembalian premi, diskon premi paket keluarga dengan pilihan cara bayar premi yang fleksibel.

Dengan menerapkan delapan tips di atas, semoga kamu sigap menjadi “dokter anak” bagi si buah hati. Sehingga, kamu sekeluarga bisa tetap terlindungi selama pandemi corona. Jaga kesehatan dan tetap semangat, #iGotYourBack.

Artikel Lainnya

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!