Mencermati Perkembangan Vaksin, Benarkah akan Tercipta Sebentar Lagi?

Virus corona telah menelan korban jiwa lebih dari 1 juta orang. Seperti apa perkembangan vaksin COVID-19? Akankah tercipta dalam waktu dekat?

Mencermati Perkembangan Vaksin, Benarkah akan Tercipta Sebentar Lagi?

Mencermati Perkembangan Vaksin, Benarkah akan Tercipta Sebentar Lagi?

Virus corona telah menelan korban jiwa lebih dari 1 juta orang. Seperti apa perkembangan vaksin COVID-19? Akankah tercipta dalam waktu dekat?

Usia virus COVID-19 memang belum ada setahun. Namun penyebarannya telah menjadi bencana global yang dahsyat. Hingga November 2020, virus ini telah menelan korban jiwa lebih dari 1 juta orang di seluruh dunia. Penyebarannya yang sangat cepat mendorong banyak negara meneliti obat dan vaksin COVID-19. Lalu, seperti apa perkembangan vaksin tersebut? Akankah segera tercipta vaksin virus corona dalam waktu dekat?

Data WHO tentang perkembangan vaksin virus corona hingga 19 Oktober 2020 mencatat sudah ada 44 kandidat virus COVID-19 yang sedang tahap uji klinik. Sebanyak 10 di antaranya sudah memasuki tahap ketiga uji klinik. Selain itu, juga ada 154 kandidat vaksin COVID-19 yang sedang tahap uji pre-klinik.

10 Kandidat Perkembagan Vaksin COVID-19 dalam Tahap III Uji Klinik

VaksinPlatform vaksinLokasi pengujian
SinovacVirus tak aktifBrazil
Wuhan Institute of Biological Products / SinopharmVirus tak aktifUni Emirat Arab
Beijing Institute of Biological Product / SinopharmVirus tak aktifChina
University of Oxford / AstraZanecaVector viralAmerika Serikat
CanSino Biological Inc. / Beijing Institute of BiotechnologyVector viralPakistan
Gamaleya Research InstituteVector viralRussia
Janssen Phmaceutical CompaniesVector viralAmerika Serikat, Brazil, Kolumbia, Peru, Meksiko, Filipina, Afrika Selatan
NovavaxSubunit proteinInggris
Moderna / NIAIDRNAAmerika Serikat
BioNTech / Fosun Pharma / PfizerRNAAmerika Serikat, Argentina, Brazil

Sumber: WHO

“Penelitian vaksin normalnya membutuhkan waktu 10-15 tahun. Dengan adanya calon vaksin COVID-19 yang sedang uji klinik fase III (tahap terakhir sebelum bisa diberikan ke masyarakat), sudah sangat cepat hitungannya,” ungkap dr. Adam Prabata, dokter umum lulusan Universitas Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan Ph.D kardiovaskular di Kobe University, Jepang, kepada ilovelife.co.id, November silam.

Dari 10 kandidat tersebut, salah satu calon vaksin virus corona telah memberikan kabar baik. Seperti diberitakan Kompas pada 10 November 2020, vaksin buatan Pfizer dan BioNTech, 90% efektif mencegah COVID-19. Pada uji klinik fase III, hanya 94 dari 43.538 relawan yang terindentifikasi terpapar virus SARS-CoV-2 setelah mendapat suntikan dosis kedua vaksin atau plasebo. Namun, uji klinik fase masih harus terus dilanjutkan hingga mendapatkan 164 kasus infeksi virus corona yang dikonfirmasi. Selanjutnya, untuk diproduksi massal, Pfizer harus mendapatkan izin dari badan pengawas obat di AS, FDA.

Data WHO tentang perkembangan vaksin virus corona hingga 19 Oktober 2020 mencatat sudah ada 44 kandidat virus COVID-19 yang sedang tahap uji klinik. Sebanyak 10 di antaranya sudah memasuki tahap ketiga uji klinik. Selain itu, juga ada 154 kandidat vaksin COVID-19 yang sedang tahap uji pre-klinik.

WHO pun sudah memperhitungkan, vaksin virus corona bisa tersedia paling cepat pada awal tahun 2021. Lalu, pada akhir tahun 2021, vaksin COVID-19 sudah bisa didistribusikan secara global sebanyak 2 miliar dosis.

Masih butuh waktu panjang memang, tapi ini adalah periode tercepat dalam sejarah pembuatan vaksin. “Penelitian vaksin normalnya membutuhkan waktu 10-15 tahun. Dengan adanya calon vaksin COVID-19 yang sedang uji klinik fase III (tahap terakhir sebelum bisa diberikan ke masyarakat), sudah sangat cepat hitungannya,” ungkap dr. Adam Prabata, dokter umum lulusan Universitas Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan Ph.D kardiovaskular di Kobe University, Jepang, kepada ilovelife.co.id, November silam.

Mengenal Tahapan Pengujian Vaksin

WHO memang mendorong percepatan penelitian dan pengembangan vaksin COVID-19. Sejumlah fase penelitian perkembangan vaksin COVID-19 berlangsung secara simultan dan paralel. Secara garis besar, ada dua tahap pengujian vaksin, yakni uji pre-klinik dan uji klinik. Sebagai gambaran, berikut tahapan pengembangan vaksin COVID-19 menurut WHO.

Uji pre-klinik

Uji pre-klinik disebut studi envitro dan envivo. Ini adalah pengujian terhadap calon vaksin COVID-19 dalam sel kemudian dilanjutkan pada hewan percobaan. Uji pre-klinik untuk mengetahui keamanan calon vaksin COVID-19 apabila diujikan pada manusia.

Uji klinik

Setelah dinyatakan aman dalam uji pre-klinik, calon vaksin COVID-19 dilakukan pengujian klinik berupa penyuntikan ke manusia. Uji klinik terdiri dari tiga fase. Fase pertama untuk menguji keamanan dan keampuhan vaksin. Calon vaksin COVID-19 diuji pada sekelompok orang yang berjumlah kurang dari 100 orang.

Fase kedua untuk menguji keamanan dan efikasi lebih jauh. Efikasi adalah langkah observasi untuk mengetahui besaran daya perlindungan vaksin terhadap virus. Di fase dua, calon vaksin COVID-19 disuntikkan ke sekitar 400-600 orang.

Fase ketiga untuk mengetahui efektivitas dan keamanan vaksin, terutama efek samping yang jarang terjadi. Di fase ini, calon vaksin COVID-19 diujikan pada ribuan atau puluhan ribu orang dan biasanya dilakukan di beberapa negara.

Setelah lolos uji klinik fase III, calon vaksin COVID-19 siap diproduksi massal. Namun, untuk produksi vaksin, butuh persiapan infrastruktur, hingga perizinan, serta rencana distribusi.

Vaksin akan mulai didistribusikan setelah mendapat izin edar dari regulator di masing-masing wilayah. Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan menerbitkan izin edar setelah mempelajari data-data uji klinik vaksin tersebut. Survei keamanan perkembangan vaksin terus dilakukan termasuk saat vaksin sudah digunakan secara resmi. Ini yang disebut fase IV atau Post Marketing Study, yang juga fase penting karena harus mengatasi efek samping lainnya setelah vaksin disuntikkan secara massal.

Penelitian vaksin harus dilakukan banyak pihak. Selain karena kebutuhan vaksin yang besar, ada juga faktor kegagalan dalam penelitian. “Kemungkinan uji klinis vaksin berhasil itu sekitar 30% dan kalau sudah mencapai fase ketiga kemungkinannya mencapai sekitar 80-an%,” jelas Adam.

Perkembangan Vaksin di Indonesia

Di Indonesia juga sedang berlangsung penelitian sejumlah kandidat vaksin COVID-19. Bahkan, salah satunya sudah memasuki uji klinik fase III, yakni vaksin dari Sinovac. Merujuk keterangan di situs covid19.go.id 3 November 2020, Plt Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM Dra Togi J Hutadjulu Apt MHA, Badan POM menyatakan BPOM sedang mengawasi perkembangan vaksin Sinovac tahap uji klinik di Bandung.

Ada 1.590 relawan di Kota Bandung yang sudah mendapat penyuntikan vaksin Sinovac sebanyak dua kali. Hasil sementara atau interim untuk jangka tiga bulan akan selesai pada akhir tahun dan laporannya akan diberikan kepada BPOM pada awal Januari 2021.

Selain itu, Indonesia juga sedang mengembangkan sendiri kandidat vaksin COVID-19 yang bernama vaksin Merah Putih. Vaksin Merah Putih adalah perkembangan vaksin COVID-19 dengan menggunakan isolat virus yang bertransmisi di Indonesia. Pengembangan vaksin dikerjakan oleh ahli Indonesia dan produksinya di Indonesia dengan melibatkan enam institusi yakni Lembaga Eijkman Bandung, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Airlangga (Unair).

Diberitakan Republika pada 8 November 2020, peneliti vaksin COVID-19 dari Eijkman, Prof Herawati Sudoyo menerangkan penelitian vaksin Merah Putih sudah menuju tahap pembuatan antigen sebagai calon calon vaksin. Meski masih jauh dari uji klinik, penelitian vaksin Merah Putih masih sesuai jadwal. Ditargetkan, uji klinik vaksin Merah Putih berlangsung Februari 2021.

Bahkan setelah vaksin ada, bukan artinya protokol kesehatan berhenti untuk dilakukan, baik untuk yang sudah divaksin maupun yang belum divaksin. Ada kemungkinan vaksin hanya mampu mencegah terjadinya infeksi berat.

Disamping itu, pemerintah juga sudah menandatangani perjanjian penyediaan vaksin COVID-19 dengan banyak negara seperti Uni Emirat Arab yang kini melangsungkan uji klinik tahap III vaksin Sinopharm. Indonesia juga menjalin kerja sama dengan Genexine dari Korea Selatan yang kini masih uji klinik fase I dan II.

Menurut Prof. Herawati, pengembangan vaksin Merah Putih tetap harus dilakukan meskipun pemerintah sudah kerja sama dengan banyak negara. Dengan penduduk lebih dari 250 juta, Indonesia butuh vaksin COVID-19 dalam jumlah besar. Indonesia harus memiliki kemandirian dalam vaksin COVID-19.

Adam menambahkan, penelitian vaksin harus dilakukan banyak pihak. Selain karena kebutuhan vaksin yang besar, ada juga faktor kegagalan dalam penelitian. “Kemungkinan uji klinis vaksin berhasil itu sekitar 30% dan kalau sudah mencapai fase ketiga kemungkinannya mencapai sekitar 80-an%,” jelas Adam.

Sambil menunggu datangnya vaksin COVID-19, Adam menyarankan semua orang untuk tetap melakukan protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya. Disiplin jaga jarak, mengenakan masker, dan rajin mencuci tangan adalah vaksin terbaik saat ini untuk mencegah penularan virus corona.

Bahkan setelah vaksin ada, bukan artinya protokol kesehatan berhenti untuk dilakukan, baik untuk yang sudah divaksin maupun yang belum divaksin. Ada kemungkinan  vaksin hanya mampu mencegah terjadinya infeksi berat. “Artinya orang yang sudah divaksin tetap dapat terinfeksi dan menularkan ke orang lain, meskipun risiko orang tersebut mengalami gejala berat menjadi sangat kecil,” ungkap Adam.

Seandainya vaksin mampu mencegah infeksi dan penularan dari orang yang sudah divaksin, protokol kesehatan tetap harus dilakukan hingga cakupan orang yang divaksin tercapai untuk memicu herd immunity. Diperkirakan, butuh penyuntikkan vaksin terhadap 60%-80% orang di suatu area untuk membentuk herd immunity.

Tak hanya menerapkan protol kesehatan, kamu juga perlu melengkapi perlindunganmu dengan asuransi jiwa. Astra Life menyediakan asuransi untuk perlindungan jiwamu yakni Flexi Life, asuransi jiwa ultra fleksibel pertama di Indonesia yang bisa kamu atur kapan saja serta mencakup perlindungan atas risiko COVID-19.

Ingat, pandemi belum berakhir, perkembangan vaksin juga masih berlanjut. Maka, tetap patuhi protokol kesehatan, ya. #iGotYourBack.

Artikel Lainnya

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!