Atur Transaksi Cashless Agar Tak Jadi Less Cash

transaksi cashless

Consumer Payment Attitudes Study yang dirilis Visa (2016) mencatat, 34% orang Indonesia membawa lebih sedikit uang tunai dibandingkan 5 tahun yang lalu. Sekarang kita tak perlu lagi memegang banyak uang tunai di dompet karena menyimpan uang zaman sekarang cukup di ponsel atau kartu saja. Bayar parkir, beli tiket nonton, jajan kopi hingga bayar premi asuransi, semua bisa dilakukan tanpa perlu uang tunai. Inilah era di mana ketebalan dompet berisi uang tunai tidak lagi menjadi standar kemakmuran: era transaksi cashless.

 

Mengapa transaksi cashless jadi pilihan gaya hidup?

Tingginya mobilitas sehari-hari membuat para pekerja muda terkenal sebagai generasi anti-ribet. Menurut Indonesia Millennial Report 2019 yang dirilis oleh IDN Research Institue (2019), sebagian besar millennial sering hanya membawa uang untuk makan, nonton, dan parkir. Untuk bertransaksi lainnya, mereka mengandalkan kartu dan aplikasi di smartphone. Apakah Anda salah satunya?

Sejak kartu ATM dapat digunakan sebagai kartu debit, kebiasaan untuk tidak memegang uang tunai telah dimulai. Tinggal gesek, transaksi pun selesai. Semudah kartu kredit tapi dinilai lebih “aman” karena tidak ada risiko bunga utang, mengingat sumber dana adalah uang Anda sendiri.

Akhir-akhir ini, perkembangan sistem cashless telah bergerak jauh dari sekadar kartu debit. Untuk Anda yang hobi belanja di aplikasi atau situs e-commerce, bisa membayar lewat internet banking atau mobile banking. Tapi, yang kini tengah jadi primadona adalah dompet elektronik alias e-wallet.

Pelajari: Menghemat dengan gaya hidup Green Living

Ingat, siapa yang pegang kendali?

Teknologi bagaikan pisau bermata ganda. Manfaat yang dirasakan sistem cashless di satu sisi bisa mempermudah Anda dalam bertransaksi dan merencanakan keuangan. Tapi, jika tak pandai mengerem nafsu, sistem transaksi cashless bisa bikin rekening cepat kosong, lho.

Hasil riset dari Less Cash Sociey (2015) memaparkan bahwa kehidupan dengan sistem cashless membentuk karakter belanja impulsif kelas menengah. Tidak memegang uang tunai ternyata malah mendorong mereka untuk membeli barang yang tidak dibutuhkan dan berbelanja tanpa rencana (impulsive shopping) karena proses transaksi menjadi lebih mudah dan cepat. Padahal, cashless society seharusnya bisa membantu kita menghemat karena aktivitas belanja bisa lebih terukur.

Di sinilah kita perlu mengendalikan diri dan memastikan perencanaan keuangan tetap berjalan. Jangan sampai kemudahan hidup dengan sistem cashless berbalik menjadi boomerang finansial.

 

Pilihan aplikasi banyak, haruskah miliki semua?

Cashless payment gateway seperti Go-Pay dan aplikasi e-wallet seperti OVO, DANA, dan LinkAja kian melengkapi uang elektronik yang lebih dulu hadir dengan wujud kartu, seperti Flazz BCA, TapCash BNI, atau E-Money Bank Mandiri.

Dengan berkembangnya teknologi, kini lahir banyak aplikasi e-wallet lainnya yang memiliki fungsi dan peran yang serupa. Dengan proses download yang cepat dan promo yang mereka tawarkan, banyak yang tergoda untuk mendaftarkan diri menjadi pengguna lebih dari satu aplikasi cashless. Namun, ketika terlalu banyak menggunakan aplikasi diwaktu yang bersamaan, hal yang mungkin terjadi adalah kesulitan dalam melakukan financial planning karena terlalu banyaknya dompet yang perlu dijaga.

Karena itu, ada baiknya kita membatasi untuk memiliki aplikasi yang paling fungsional saja. Sedikit tips; miliki 2 aplikasi saja yang terbukti paling menguntungkan bagi Anda.

Misalnya, pilih aplikasi yang membolehkan Anda untuk mengisi ulang saldo tanpa biaya administrasi. Karena meskipun biaya tersebut tidak terlihat banyak, namun tetap akan menjadi dana yang hilang, terutama jika Anda sering mengisinya. Jika Anda menghindari terkena banyak biaya administrasi sehingga mengisi saldo dengan frekuensi jarang namun dalam jumlah yang besar dalam sekali isi, saldo besar tersebut nantinya juga bisa menjadi godaan untuk dibelanjakan.

Anda juga bisa memilih payment geateway yang berada didalam super app, dimana disediakan pula produk-produk fungsional lainnya dalam applikasi tersebut. Atau, pilih aplikasi yang paling banyak memberikan penawaran promo dan diskon.

Cari tahu: Asuransi Cashless

Optimalkan fleksibilitas saat atur dana

Atur porsi dana di tiap aplikasi yang telah dipilih. Contohnya, Anda memanfaatkan e-wallet untuk jajan-jajan ringan saja, seperti beli snackngopi, sekaligus untuk ongkos transportasi. Maka, Anda bisa mengalihkan alokasi budget jajan bulanan di e-wallet tersebut.

Setelah melakukan financial planning untuk dana di aplikasi cashless, lindungi keuangan Anda dengan memiliki asuransi jiwa.

Dengan memiliki asuransi jiwa, keluarga Anda akan mendapatkan dana jika Anda tutup usia. Dana tersebut dapat mereka gunakan untuk melanjutkan hidup ketika Anda tak lagi bisa mencari nafkah untuk mereka. Sehingga, keuangan keluarga akan terlindungi meskipun Anda tak bisa bersamanya lagi.

Tak hanya financial planning yang butuh untuk dilakukan dengan fleksibelitas, sejatinya asuransi jiwa juga perlu fitur yang fleksibel.

Flexi Life adalah asuransi jiwa ultra fleksibel pertama di Indonesia yang memberikan perlindungan untuk keuangan Anda hingga Rp5 Miliar sampai usia 85 tahun. Fleksibelitas dalam fiturnya memudahkan Anda untuk #AturSendiri harga premi dan besar perlindungannya kapanpun Anda mau dengan semudah membuka ilovelife.co.id.

Jadi, dengan segala kemudahan yang diberikan era transaksi cashless, jangan lupa pegang kendali dalam mengatur dan melindungi keuangan agar tak menjadi less cash.

Related Posts

Menghargai Nilai Diri Bersama Andhika Diskartes

How much do you value yourself? Kalau harus memberi nilai diri sendiri, berapa angka yang menurut kamu layak? Dala...

Cara Menemukan Asuransi Jiwa yang Cocok menurut Indah Hapsari

"Dalam proses financial planning, asuransi jiwa adalah sebuah pondasi." - Indah Hapsari. Co-Founder & Head of Adv...

Gaji Dipotong atau Terkena PHK, Bagaimana Cara Mengakali Anggaran Keluarga?

Kaget, sedih, stres. Mungkin ini yang dirasakan 150.000 orang yang terkena PHK selama pandemi (Kementerian Tenaga Kerja,...




« | »
Read previous post:
cara menangani stres di tempat kerja
Bagaimana Cara Menangani Stres di Tempat Kerja?

Lakukanlah apa yang Anda cintai dan bekerjalah di bidang yang Anda senangi. Namun, meskipun seseorang sudah bekerja sesuai passion, ada kalanya...

Close