Cara Mempersiapkan Dana Darurat untuk Kebutuhan Mendadak

mempersiapkan dana darurat

Kebutuhan mendadak bisa datang kapan saja. Agar rutinitas tetap aman terkendali, Anda perlu memenuhi kebutuhan mendadak pada saat itu juga tanpa merusak alokasi dana untuk kebutuhan yang lainnya. Jika Anda tidak siap, bisa-bisa Anda harus berutang, menjual aset, atau memakai tabungan yang sudah direncanakan untuk kebutuhan lain demi memenuhi kebutuhan mendadak tersebut. Agar tidak terjebak dalam situasi tersebut, penting bagi Anda untuk mempersiapkan dana darurat. Berikut ini cara mempersiapkan dana darurat untuk kebutuhan mendadak yang perlu Anda ketahui.

Apa fungsi mempersiapkan dana darurat?

Dalam mengelola keuangan, pertama-tama Anda perlu menyusun goals atau tujuan-tujuan keuangan. Menurut perusahaan penasihat keuangan Jouska Indonesia dalam bukunya “Jouska: The Principles of Personal Finance”, tujuan terbagi menjadi dua, yakni tujuan wajib atau compulsory goals dan tujuan tambahan atau additional goals.

Yang termasuk tujuan wajib ialah dana darurat, asuransi, restrukturisasi utang, dana pensiun, dan dana pendidikan anak. Sementara yang termasuk tujuan tambahan ialah tujuan yang dapat dipenuhi jika tujuan wajib sedang berlangsung. Misalnya: dana pembelian properti, dana pembelian mobil, dana liburan, dan modal usaha.

Dana darurat di sini berfungsi sebagai bumper atau dana siaga  yang harus disiapkan dan tidak boleh ditunda. Beberapa kebutuhan mendesak yang bisa menjadi tujuan penggunaan dana darurat misalnya biaya pengobatan orangtua yang jatuh sakit atau biaya reparasi mobil yang tiba-tiba rusak dan butuh perbaikan mesin.

Kegagalan menyiapkan dana darurat bisa menyebabkan Anda terpaksa harus menguras dana tabungan yang semestinya dipergunakan untuk tujuan keuangan lain seperti menikah, beli rumah, dan menyekolahkan anak di sekolah internasional. Akibatnya, Anda terancam tidak dapat mencapai tujuan lain tersebut dan rencana masa depan akan berantakan.

Petakan penghasilan dan pengeluaran bulanan

Sebelum menentukan jumlah yang harus disisihkan setiap bulan untuk mempersiapkan dana darurat, Anda perlu memetakan penghasilan dan pengeluaran rutin setiap bulan. Menurut Jouska, pemetaan penghasilan dan pengeluaran penting dilakukan agar rencana keuangan yang akan disusun sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang.

Anda perlu mengenali 2 kunci utama dalam keuangan pribadi yakni penghasilan (income) dan kekayaan (wealth). Dalam hal ini, penghasilan memiliki sifat yang dinamis atau selalu berubah dari waktu ke waktu. Sedangkan kekayaan cenderung bersifat statis dan stabil.

Nah, penghasilan akan dipergunakan untuk operasional harian dan pengeluaran-pengeluaran lainnya, baik primer, sekunder maupun tersier. Sedangkan kekayaan tidak akan dipergunakan untuk membiayai pengeluaran rutin. Tapi di masa depan, kekayaan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup meskipun Anda sudah tidak memiliki penghasilan lagi.

Orang yang memiliki penghasilan tinggi belum tentu memiliki kekayaan yang besar pula. Jika penghasilan dapat dikelola dengan baik, maka hasilnya adalah kekayaan yang terus bertumbuh. Sebaliknya, jika salah kelola penghasilan maka jumlah kekayaan tidak akan mengalami peningkatan.

Agar pertumbuhan penghasilan dapat berjalan beriringan dengan kekayaan yang dimiliki, pemetaan pengeluaran harus dilakukan secara jeli. Anda bisa membedakan pengeluaran menjadi empat kategori, yakni: pengeluaran primer, pengeluaran kewajiban, pengeluaran sekunder, serta tabungan atau investasi.

Pengeluaran primer merupakan pengeluaran pokok pribadi maupun keluarga yang harus dikeluarkan setiap bulan untuk menjamin keberlangsungan hidup. Contohnya: belanja bulanan, transportasi, listrik air dan gas, televisi dan internet, komunikasi, dan kebutuhan anak.

Sedangkan pengeluaran kewajiban adalah pengeluaran yang harus dikeluarkan kepada pihak lain untuk menerima manfaat kemudahan tertentu. Contohnya premi asuransi, cicilan utang, gaji asisten rumah tangga (ART), dan biaya pendidikan anak.

Lalu, pengeluaran sekunder merupakan pengeluaran yang hanya dikeluarkan setelah pengeluaran primer dan kewajiban terpenuhi. Contohnya keangotaan gym, perawatan diri, belanja, make up, hiburan akhir pekan dan liburan.

Selanjutnya, tabungan dan investasi yang harus diperlakukan selayaknya pengeluaran wajib. Misalnya tabungan uang pangkal anak sekolah, tabungan uang muka pembelian mobil, investasi dana haji, investasi dana pensiun dan investasi pembelian rumah.

Pelajari: Jurus Rahasia Sukses Menabung & Investasi

Tentukan target dana darurat yang harus disiapkan

Lebih lanjut Jouska dalam bukunya berpendapat, besaran dana darurat yang mesti disiapkan setiap orang tidak bisa disamaratakan. Karena, setiap orang memiliki kebutuhan dana darurat berbeda-beda,  tergantung pada profil risiko setiap orang yang berbeda-beda.

Profil risiko seseorang ini dapat dibedakan menjadi beberapa kategori. Pertama, dari status pernikahan, seseorang harus dibedakan antara yang belum menikah, belum menikah ada tanggungan, sudah menikah tidak punya tanggungan, sudah menikah dan punya tanggungan. Dana darurat seseorang yang belum menikah tidak punya tanggungan tentu berbeda dengan seseorang yang belum menikah tapi punya tanggungan.

Dari sisi penghasilan, mereka juga harus dibedakan antara yang single incomedouble income, lebih dari satu sumber penghasilan serta tidak memiliki penghasilan tetapi mendapatkan bantuan rutin dari keluarga.

Seseorang yang sudah menikah dengan single income dengan orang lain yang sudah menikah dengan double income tentu memiliki kondisi keuangan yang berbeda. Besaran dana darurat bagi seorang single income juga harus lebih besar.

Selain itu, profil risiko juga perlu dibedakan dari jenis pekerjaan misalnya karyawan, self-employed dan pengusaha. Faktor usia juga akan mempengaruhi besaran dana darurat yang harus disiapkan misalnya usia first jobber dari 22 tahun hingga 25 tahun, usia masa produktif dari 25 tahun hingga 55 tahun dan usia pensiun 55 tahun.

Dimana instrumen untuk mulai menabung dana darurat?

Tempatkan dana darurat di instrumen yang likuid yang bisa diambil sewaktu-waktu. Anda bisa menempatkan tabungan dana darurat pada rekening bank yang berbeda dengan rekening tabungan yang lain.

Sebagian orang juga menempatkan dana darurat pada perhiasan emas. Selain harganya relatif stabil dan cenderung naik, perhiasan emas juga bisa dipergunakan untuk mempercantik diri. Perhiasan emas juga bisa dijual sewaktu-waktu dengan cukup mudah.

Jika ingin mendapatkan gain dari dana yang disimpan, Anda juga bisa menempatkan dana darurat pada deposito atau reksa dana pasar uang. Namun harus dipastikan, Anda memiliki fleksibilitas untuk mencairkan dana tersebut jika sewaktu-waktu membutuhkannya.

Siapkan perlindungan risiko

Selain mempersiapkan dana darurat, Anda juga memerlukan asuransi jiwa untuk menjaga rencana keuangan jangka panjang tetap aman. Asuransi jiwa akan memproteksi keluarga jika Anda tutup usia.

Untuk kebutuhan dasar, sebaiknya Anda memiliki asuransi jiwa murni. Asuransi jiwa murni dapat memberikan manfaat uang pertanggungan (UP) kepada keluarga yang ditinggalkan jika Anda berpulang. Asuransi jiwa juga bisa menjadi warisan bagi orang-orang yang paling Anda cintai.

Untuk kebutuhan proteksi asuransi jiwa, Anda bisa memilih produk dari Astra Life bernama Flexi Life yang bisa memberikan perlindungan hingga Rp5 miliar. Flexi Life merupakan asuransi jiwa murni ultra fleksibel yang memudahkan kita #AturSendiri kebutuhan proteksi yang tepat sesuai perubahan tahapan hidup.

Berbeda dengan asuransi-asuransi jiwa umumnya, Flexi Life memberikan kita kebebasan mengatur sendiri kebutuhan proteksi sesuai dengan kondisi keuangan Anda saat itu. Jenis dan cakupan proteksi juga bisa Anda ubah-ubah sesuai kebutuhan di setiap tahap kehidupan.

Baca juga: Yuk, Kenalan dengan Flexi Life: Asuransi Ultra Fleksibel Pertama di Indonesia

Gunakan dana darurat hanya pada kondisi darurat

Ingat, dana darurat hanya boleh dipergunakan dalam kondisi darurat. Dana ini hanya bisa dipergunakan untuk membiayai kebutuhan tak terduga di luar pengeluaran yang sudah dianggarkan sebelumnya. Jangan gunakan dana darurat untuk pengeluaran lain, apalagi pengeluaran konsumtif.

Jika dalam kondisi tertentu kita terpaksa menggunakan dana darurat, maka uang yang digunakan tersebut harus diperlakukan sebagai utang. Dengan statusnya sebagai utang, Anda punya kewajiban untuk mengembalikannya. Dengan demikian, jumlah dana darurat tidak berkurang. Anda juga tidak akan seenaknya saja menggunakan dana darurat untuk kebutuhan lain.

Bagaimana, sudah paham tentang pentingnya mempersiapkan dana darurat? Kini saatnya Anda mulai membentuk dana darurat agar  tujuan-tujuan keuangan Anda di masa depan dapat tercapai.

Related Posts

10 Tips Aman Berobat ke Rumah Sakit di Masa New Normal

Fase new normal memang sudah datang, tapi kita tak boleh berhenti wasapada. Risiko terkena COVID-19 masih ada. Beberap...

Menghargai Nilai Diri Bersama Andhika Diskartes

How much do you value yourself? Kalau harus memberi nilai diri sendiri, berapa angka yang menurut kamu layak? Dala...

Gaji Dipotong atau Terkena PHK, Bagaimana Cara Mengakali Anggaran Keluarga?

Kaget, sedih, stres. Mungkin ini yang dirasakan 150.000 orang yang terkena PHK selama pandemi (Kementerian Tenaga Kerja,...




« | »
Read previous post:
transaksi cashless
Atur Transaksi Cashless Agar Tak Jadi Less Cash

Consumer Payment Attitudes Study yang dirilis Visa (2016) mencatat, 34% orang Indonesia membawa lebih sedikit uang tunai dibandingkan 5 tahun...

Close