Ibu Galau Mau Resign? Siapkan Dulu 4 Hal Ini

Meskipun kamu memiliki kebebasan secara mutlak untuk memilih tetap bekerja di kantor atau resign, tapi jangan sampai gegabah dalam mengambil keputusan.

Ingin Resign Siapkan 4 Hal Ini

Ibu Galau Mau Resign? Siapkan Dulu 4 Hal Ini

Meskipun kamu memiliki kebebasan secara mutlak untuk memilih tetap bekerja di kantor atau resign, tapi jangan sampai gegabah dalam mengambil keputusan.

Resign atau tetap berada di kantor? Sebagai individu dewasa kamu sangat memiliki kebebasan untuk memilih. Tentu semua ada konsekuensinya. Namun pilihan terkadang terasa lebih sulit jika tanggung jawab kamu sudah semakin banyak. Terutama bagi para ibu yang bekerja. Lalu apa saja sih hal yang perlu kita pertimbangkan dan siapkan jika mau betul-betul resign dari kantor?

Merasa kurang berkembang, suasana kerja yang tak menyenangkan, hingga tak ada yang menjaga anak biasanya membuat seseorang diselimuti perasaan galau: harus resign atau tidak? Hal ini terutama seringkali dirasakan oleh seorang ibu yang bekerja, yang seakan terpojok pada pilihan: memilih karir atau keluarga?

Tantangan Ibu Bekerja

Wah ini kan sudah masa modern, apakah benar tantangan tersebut hanya terjadi pada wanita? Ya, memang benar sekarang kita sudah memasuki masa modern di mana kesetaraan gender antara wanita dan pria sudah lebih baik. Namun demikian, fakta di lapangan masih menunjukkan adanya tantangan yang harus dihadapi bagi para wanita, apalagi di masa pandemi akibat Covid-19 ini.

Berdasarkan riset UN Woman pada Oktober 2020 lalu menyebutkan bahwa krisis yang terjadi selama pandemi Covid-19 lebih rentan terdampak pada wanita. Badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan tersebut mengungkapkan bahwa memang semua orang turut berperan membantu aktivitas di rumah, tetapi perempuan masih melakukan lebih banyak pekerjaan.

Dalam laporan tersebut UN Woman menyebutkan bahwa dari penelitiannya sekitar 39% wanita cenderung mengambil alih tugas mengajar, membimbing, serta melatih anak-anak di rumah. Sementara itu proporsi pria yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk tugas-tugas tersebut sejak dimulainya pandemi tercatat sekitar 29%. Adapun, untuk pekerjaan rumah tangga lainnya tercatat sekitar 19% perempuan mengalami peningkatan intensitas pekerjaan tersebut sedangkan laki-laki tercatat 11%.

Dari riset tersebut dapat tergambar bahwa meskipun sudah berada di masa modern, pekerjaan domestik rumah tangga masih tetap lebih banyak diperankan atau dilimpahkan kepada perempuan. Hal ini seakan menjadi penguat juga bahwa perasaan galau memilih karir dan keluarga cenderung lebih banyak dirasakan oleh wanita, apalagi untuk dia yang sudah menikah dan memiliki anak. Apakah kamu juga merasakan hal serupa?

Berani Terbuka Tentang Keinginan Resign

Jika iya, tak perlu merasa sedih, karena hal itu sangat wajar jika kamu rasakan. Namun, jika kamu tak merasakan masalah tersebut juga tak perlu merasa aneh karena mungkin saja kamu telah memiliki support system dan kesepakatan bersama dengan lebih baik.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati beberapa tahun lalu pun pernah mengungkapkan bahwa pilihan karir dan keluarga menjadi tantangan terberat yang masih dihadapi oleh wanita. Sri Mulyani, seperti dikutip dari Liputan6.com menyebutkan bahwa tak hanya dibutuhkan karakter yang tangguh sebagai seorang wanita, tetapi juga pendamping yang bisa mengerti apa yang tengah dijalankan oleh pasangannya.

Dia pun menghimbau agar para perempuan harus berani berbicara dengan pasangan secara terbuka dan membahas risiko seputar Hasrat untuk resign dari pekerjaan, tentang tanggungjawab untuk memilih antara karir dan keluarga. Dalam hal ini diperlukan juga pasangan yang bisa memahami dan mendengarkan kebutuhan pasangannya.

Persiapan Sebelum Resign

Namun, di samping bernegosiasi dengan pasangan dan support system lainnya, kamu harus lebih dahulu meyakinkan dirimu sendiri. Apakah benar sudah siap untuk resign atau tetap melanjutkan pekerjaan kantoran?

Berikut ini merupakan hal-hal yang perlu kamu pertimbangkan dan siapkan sebelum benar-benar mengajukan surat pengunduran diri:

1. Persiapan mental

Jika kamu merasa lelah bekerja sebagai karyawan kantoran dengan segala peraturannya, maka resign bukan berarti kamu tidak akan merasa lelah dengan kondisi yang akan dihadapi. Kamu harus menyadari bahwa akan banyak segala ketidakpastian yang muncul. Misalnya saja soal kondisi finansial yang akan berubah drastis dari yang sebelumnya double income menjadi single income. Lalu, rutinitas harian yang akan berubah mungkin hingga 180°. Siapkah mental kamu menghadapi semua perubahan ini?

2. Persiapan modal

Mempersiapkan modal ini menjadi salah satu hal yang penting untuk kamu lakukan. Resign dari pekerjaan tentunya berakibat pada perubahan pendapatan yang awalnya double income menjadi single income tentu membutuhkan penyesuaian juga terhadap aktivitas dan kebutuhan sehari-hari. Bagaimana dengan pengeluaran rutin bulanan rumah tangga, anggaran pendidikan anak-anak, anggaran tak terduga lainnya. Apakah modal yang kamu miliki sudah cukup untuk menghadapi perubahan ini? Berapa banyak dana cadangan yang kamu miliki untuk menghadapi masa transisi ini?

3. Persiapan rencana kegiatan

Hal lain yang perlu kamu siapkan adalah rencana kegiatanmu setelah resign. Apakah benar-benar full menjadi ibu rumah tangga? Atau ingin membangun usaha? Apa usaha yang mau kamu lakukan dan bagaimana persiapannya untuk membangun usaha tersebut? Apakah sudah siap juga menghadapi risiko yang ada, karena untuk membangun sebuah usaha juga diperlukan persiapan yang matang.

4. Persiapan perlindungan kesehatan

Salah satu keuntungan yang bisa didapatkan saat kamu menjadi karyawan adalah soal tunjangan kesehatan atau asuransi. Seperti diketahui, selain menanggung pembayaran iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, sejumlah perusahaan juga menyediakan fasilitas perusahaan asuransi swasta bagi karyawannya. Lalu, bagaimana jika kamu resign? Apakah perlindungan kesehatan cukup melalui BPJS Kesehatan saja atau perlu memakai asuransi swasta juga?

Mungkin ada baiknya sebelum kamu resign kamu cari tahu dulu soal produk asuransi yang bisa memberikan kamu fleksibilitas dalam membayar preminya. Salah satu produk dari Astra Life, yakni Flexi Health layak kamu pertimbangkan karena sifatnya yang lebih fleksibel. Asuransi kesehatan ini memberikan santunan rawat inap hingga Rp1 juta per hari. Asuransi ini cocok untuk melengkapi asuransi kesehatan dari BPJS Kesehatan agar finansialmu tidak terganggu akibat biaya tak terduga selama menjalani perawatan di rumah sakit.

Mari Berhitung

Setelah mengetahui hal-hal apa yang perlu disiapkan, kini waktunya kamu untuk membuat hitung-hitungan secara tertulis, terutama terkait posisi keuangan sebelum resign dan bagaimana perkiraannya setelah kamu tak lagi bekerja kantoran. Ya, menulis tak hanya sebatas membayangkan. Hal ini penting untuk mengukur kesiapan kamu, karena bagaimanapun juga, kondisi keuangan menjadi hal yang paling krusial terasa dampaknya. Lalu, bagaimana cara memulainya? Simak tips berikut:

1. Hitung berapa pengeluaran rutin bulanan

Menghitung berapa besar pengeluaranmu setiap bulan dapat memberikan gambaran kasar berapa besar beban keuangan yang harus kamu dan pasangan tanggung setiap bulannya. Sejumlah pengeluaran rutin itu bisa berasal dari biaya listrik, biaya makan dan hidup sehari-hari, biaya transportasi harian, biaya sekolah anak, cicilan rumah/mobil, dan sebagainya.

2. Hitung utang yang masih dimiliki

Selain utang KPR atau cicilan mobil, apakah kamu masih memiliki utang yang perlu kamu bayar? Misalnya saja ada tagihan kartu kredit ataupun utang konsumtif lainnya. Jika memungkinkan kamu bisa melunasi sebagian utang kamu terlebih dahulu, terutama yang bersifat konsumtif dan memiliki tenor pendek. Hal ini penting agar setelah resign beban keuangan untuk membayar cicilan setidaknya sedikit berkurang. Setelah itu, coba kendalikan dirimu agar tak mudah tergiur dengan diskon dan promo cashback saat ingin membeli barang.

3. Hitung penghasilan bulanan

Kamu perlu mengetahui secara persis berapa penghasilan yang kamu dan pasangan dapatkan setiap bulannya. Dari situ kamu bisa mengukur jika kamu tidak lagi bekerja, apakah dengan penghasilan suami saja sudah cukup menutupi biaya bulanan dan cicilan utang seperti yang sudah dihitung di atas. Jika belum, bagaimana rencana kamu dan pasangan untuk bisa menutupinya meski tanpa lagi bekerja kantoran.

4. Tentukan masa transisimu

Kamu sebaiknya juga telah memiliki rencana terkait kegiatan apa yang ingin kamu lakukan setelah resign. Sah-sah saja jika kamu ingin bersantai dulu setelah resign. Namun tentukan berapa lama bersantainya? Jika setelah itu mau membangun usaha, hitung juga secara matang berapa lama kira-kira usaha kamu akan menghasilkan. Hal ini penting untuk menghitung juga dana tabungan atau cadangan yang kamu punya setelah resign. Sejumlah perencana keuangan menyarankan untuk minimal memiliki dana cadangan sebanyak 3-6 kali biaya pengeluaran bulanan. Dalam artian, setidaknya kamu bisa tetap merasa tenang meskipun kondisi keuangan belum kembali stabil dalam 3-6 bulan setelah resign.

5. Jangan lupa anggaran kesehatan

Salah satu hal yang perlu diperhitungkan juga adalah anggaran kesehatan. Tentu tidak ada yang menginginkan atau merencanakan sakit. Namun, sakit merupakan potensi yang bisa terjadi pada siapapun dan kapanpun. Jika saat kamu bekerja, kamu tak terlalu memikirkan hal ini, tapi setelah resign anggaran perlindungan kesehatan ini penting untuk dibuat. Apakah setelah resign kamu cukup memakai BPJS Kesehatan atau perlu menambah asuransi kesehatan swasta. Tidak ada patokan pasti berapa anggaran yang harus disiapkan, tetapi sejumlah perencana keuangan mengimbau setidaknya kita mengalokasikan sekitar 5%-10% penghasilan untuk membayar premi asuransi. Tapi, tentu kamu perlu menyesuaikan lagi dengan kebutuhan dan kondisimu.

Selain asuransi kesehatan, asuransi jiwa menjadi salah satu hal penting untuk dimiliki. Jika belum memilikinya, kamu bisa coba mencari produk asuransi yang memberikan kamu fleksibilitas dalam membayar premi. 

Flexi Life, produk asuransi jiwa dari Astra Life, layak kamu pertimbangkan karena asuransi ini sangat fleksibel. Kamu bisa #AturSendiri preminya dan disesuaikan dengan perubahan tahap hidupmu. Asuransi ini juga mencakup perlindungan atas risiko Covid-19.

Jadi, meskipun kamu memiliki kebebasan secara mutlak untuk memilih tetap bekerja di kantor atau resign, tapi jangan sampai gegabah dan justru membuat kamu semakin pusing lagi. Hitung segala kemungkinan dengan hati dan kepala yang dingin, bukan berdasarkan emosi sesaat. Jangan sampai kamu menyesal karena mengambil langkah yang salah. Untuk menghitung anggaran perlindungan kesehatan, kamu juga bisa mengunjungi ilovelife.co.id untuk mempelajari informasi produk lainnya yang lebih lengkap. Kamu juga bisa melakukan simulasi terkait biaya premi dan uang pertanggungan yang kamu inginkan lho.

Jangan lupa follow Instagram @AstraLife untuk mendapatkan tips-tips bermanfaat lainnya. Urusan Sehat Jadi Tenang. #IGotYourBack

Artikel Lainnya

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Subscribe ke LoveLife Daily Blog untuk mendapatkan newsletter artikel ter-update!

Selamat Anda telah tergabung menjadi subscriber blog LoveLife

Terdapat kesalahan dari permintaan anda. Mohon coba lagi.

Love Life will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.