Ada Banyak Lowongan! Ini Cara Mendapatkan Pekerjaan Lewat Sosial Media

Cara Mendapatkan Pekerjaan Lewat Sosial Media astra life

Media sosial tak lagi cuma sarana perkawanan dan unjuk eksistensi. Kebutuhan profesional pun kini terwadahi, dari informasi paling aktual terkait bidang profesi sampai urusan rekrut-merekrut pegawai. LinkedIn, misalnya. Dari banyak ragam media sosial, LinkedIn masih jadi jejaring profesional terbesar di dunia dengan 500 juta akun di dalamnya. Riset bahkan mendapati, perekrut pekerjaan cukup serius mempertimbangkan bobot akun pelamar di platform ini dalam menindaklanjuti lamaran pekerjaan. Buat kamu yang ingin cari tahu bagaimana cara mendapatkan pekerjaan lewat sosial media, teruskan membaca.

Pencantuman profil komprehensif LinkedIn di dalam biodata dan lamaran disebut mendongkrak peluang panggilan pekerjaan hingga lebih dari 70%. Bahkan, fitur rekomendasi dari teman soal skill kita di LinkedIn diklaim memberi peluang 3x lipat lamaran pekerjaan lebih diperhatikan oleh perekrut.

Bila seserius itu pengaruh media sosial, bagaimana cara mendapatkan pekerjaan lewat sosial media? Apa saja yang harus diperhatikan dan sebaliknya dihindari para pelamar kerja dalam penggunaannya? Misal, apakah memiliki bahkan aktif di semua media sosial akan menguntungkan atau malah bisa jadi bumerang?

Cara Mendapatkan Pekerjaan Lewat Sosial Media

Apa dan siapa?

Waktu mau mencari pekerjaan pastikan profil kita tertangkap utuh oleh para penyedia kerja, termasuk dari status dan tampilan kita yang berserak di media sosial. Bukan harus garing juga media sosial kita. Tapi jangan sampai maksud hati tampil seru, malah dianggap buruk atau tak sesuai dengan citra yang dibangun perusahaan perekrut.

Karena itu, tidak perlu juga punya akun di semua platform media sosial. Bagaimana pun, setiap media sosial punya “karakter” dan peruntukan komunitas. Jangan sampai kita pernah terlalu asyik bercanda di TikTok, perusahaan perekrut jadi jengah melihatnya dan batal merekrut meski segala kompetensi dan kualifikasi lain terpenuhi.

BACA JUGA: Investasi Sebagai Penunjang Finansial bagi Para Freelancer

Kembali ke LinkedIn, beragam riset menguatkan bahwa inilah platform media sosial yang paling banyak jadi bahan intipan perekrut. Salah satunya hasil survei SHRM. Karenanya, mencantumkan link profil LinkedIn bisa jadi penambah peluang. Namun, isi akun juga menentukan. Semakin komprehensif, semakin tebal peluang dilirik perekrut. Ingat, yang melamar pekerjaan bukan hanya kita.

Karena media sosial pada dasarnya adalah jejaring perkawanan dan atau relasi, siapa yang menjadi jejaring kita juga dapat berkontribusi pada profil apa yang terbaca atas diri kita. LinkedIn bukan perkecualian.

Saran dari beragam pakar dan konsultan kepegawaian adalah jangan hanya berteman di LinkedIn dengan orang yang kita kira bakal memberi kita kesempatan kerja. Semakin luas jejaring, kesempatan pun makin membentang. Terkadang, kesempatan berkarier malah datang dari koneksi tingkat kedua atau bahkan ketiga, alias teman dari teman kita.

BACA JUGA: Sembilan Strategi Agar Mampu Bersaing di Dunia Kerja

Mengikuti grup yang relevan dengan bidang kerja dan ketertarikan kita juga sangat disarankan untuk menambah besar peluang informasi lowongan tak terlewatkan. Sebaliknya, meminta pertemanan apalagi berkomunikasi dengan manajer terkait perekrutan melalui LinkedIn sebaiknya dihindari. Ini demi menghindari kepercayaan diri berlebihan bakal menempati posisi yang ditawarkan ketika kepastian belum di tangan.

Namun, saat lowongan atau proses perekrutan tak berlanjut, justru disarankan untuk berteman dan berterima kasih kepada jajaran manajemen terkait kesempatan yang sudah dijalani. Konon, ini untuk peluang yang bisa saja datang lagi pada masa mendatang.

Full-time, part-time, atau sementara?

Era digital juga membuka lebih banyak peluang, termasuk kategori tawaran pekerjaan. Tak hanya lowongan pekerjaan permanen, banyak pula bertebaran tawaran kerja sementara dan paruh waktu. Asal kita jeli, beragam fleksibelitas dalam lowongan kerja tersedia juga di lini masa media sosial.

Meski demikian, fleksibelitas juga bak sisi lain mata uang dari risiko yang harus diantisipasi. Misal, tawaran kerja permanen saat ini tak selalu memberikan benefit bernama perlindungan risiko atau asuransi. Alasan fleksibelitas soal waktu kerja atau gaji yang sudah tinggi untuk garapan tak harus datang ke kantor bisa saja jadi alasannya. Kalau pekerjaan full-time saja begitu, apalagi pekerjaan sementara dan part-time, bukan?

BACA JUGA: Enam Side Jobs untuk Pekerja Kantoran

Jangan berkecil hati. Untuk kamu yang menyukai fleksibilitas tersebut, di-era digital ini, perlindungan risiko juga tak kalah fleksibel, kok. Salah satunya adalah asuransi jiwa yang fleksibel, yaitu perlindungan untuk risiko keuangan kita jika kita terkena risiko tutup usia.

Sebut saja produk Flexi Life dari Astra Life. Ini adalah asuransi jiwa ultra fleksibel yang dapat memberikan perlindungan hingga Rp5 miliar. Dengan fitur yang fleksibel, kita dapat menaikkan dan menurunkan nilai Uang Pertanggungan (UP) kapan saja, menyesuaikan dengan prioritas dalam perencanaan keuangan dan rencana kehidupan kita. Berapapun penghasilan atau jalan karier kita, pilihan premi yang ditawarkan Flexi Life bisa sefleksibel tawaran dan perekrutan kerja lewat media sosial.

BACA JUGA: Apa yang Sebaiknya (dan Tidak) Anda Lakukan di Hari Pertama Kerja

Dengan mengetahui cara mendapatkan pekerjaan lewat sosial media, yuk, kita menjadi lebih pintar dalam menggunakan media sosial sebagai senjata berkarir dan mulai miliki asuransi jiwa fleksibel untuk perlindungan keuangan!

Related Posts

5 Langkah Mudah Meningkatkan Ketahanan Finansial Tanpa Perlu Gaji Besar

Pernahkan kamu berpikir tentang kehidupan yang nyaman, tenang, dan memiliki banyak waktu dengan keluarga tanpa perlu kha...

Dengan Kondisi Finansial di Masa Pandemi, Perlukah Financial Planner?

Urgensi memakai financial planner untuk membantu membenahi permasalahan keuangan pribadi akan berbeda-beda dan ditentu...

Manajemen Keuangan bagi Lajang dan Keluarga Baru di Era New Normal

Apa yang harus kamu lakukan di tengah kondisi perekonomian yang belum pulih di era new normal? Kelola dan kendalikan ua...




« | »
Read previous post:
penunjang finansial bagi para freelancer astra life
Investasi Sebagai Penunjang Finansial bagi Para Freelancer

Menjadi pekerja lepas atau freelancer memang berkesan bebas dan fleksibel. Begitu juga membuka usaha sendiri, baik usaha rintisan (startup) maupun wiraswasta konvensional....

Close