Kenali dan Cegah Difteri Agar Keluarga Terlindungi

difteri

Difteri. Tentu dalam beberapa beberapa bulan terakhir, Anda kerap mendengar kata itu, bukan?

Menjelang penghujung 2017, penyakit yang dibawa bakteri Corynebacterium diphtheriae memang tengah mewabah kembali di Indonesia. Bahkan menurut data Kementerian Kesehatan, penyakit ini merebak di sekitar 20 provinsi, dengan rentang usia pasien 3,5 tahun hingga 45 tahun.

Mengapa difteri dikatakan mewabah kembali? Sebab sesungguhnya, difteri merupakan penyakit kuno, yang sudah dikenal sejak 1920-an dan 1930-an. Seiring dengan perkembangan dunia kedokteran, penyakit ini mulai menghilang dari peredaran. Di Indonesia, difteri dinyatakan telah menghilang sekitar tahun 1990-an.

Namun pada tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) difteri kembali menghantui Nusantara. Bahkan sepanjang 2011-2016, tercatat 3.353 kasus difteri di Indonesia dan membuat negeri ini menempati urutan ke-2 setelah India. Sementara sejak Januari-November 2017 telah terjadi 593 laporan difteri, dengan 32 kasus kematian di antaranya, pada 95 kabupaten/kota di 20 provinsi. Angka ini sendiri, melonjak 42 persen dari tahun sebelumnya, yakni 415 kasus difteri dengan 24 kematian.

Mengapa Difteri Kembali Merebak?

Satu penyebab utama kemunculan kembali difteri adalah kurangnya pemahaman orang tua akan pentingnya vaksinasi bagi bayi dan balita. Tak hanya kurang paham, tingkat penolakan akan vaksin juga tinggi di kalangan orang tua Indonesia. Kompas.com sempat mendaftar beberapa alasan yang kerap diajukan orang tua yang menolak mengimunisasi anaknya. Diantaranya alasan status kehalalan, khawatir menyebabkan autisme, penyakit yang dicegah dianggap tidak berbahaya, dll. Hingga prosentase vaksinasi bayi atau balita di Indonesia masih di bawah 80 persen dan memperbesar kemungkinan kemunculan penyakit menular kembali merebak.

Kondisi ini diperkuat dengan data World Health Organization (WHO) yang menyatakan, hampir 90% dari penderita, tidak mempunyai riwayat imunisasi difteri lengkap dan juga belum pernah diimunisasi sama sekali.

Menurut Dokter Soedjatmiko, Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), idealnya setiap orang atau anak telah memperoleh vaksin DPT (difteri, pertusis, dan tetanus) sebanyak tiga kali, sampai usia 1 tahun; empat kali hingga umur 2 tahun; atau lima kali hingga usia 5 tahun.

“Tapi kenyataannya, sering orang tua mengatakan kalau anaknya sudah diimunisasi walaupun mereka tidak bisa menunjukkan bahwa itu imunisasi difteri,” ujar Soedjatmiko. “Mereka juga kerap membela diri sudah imunisasi lengkap, di sisi lain, ternyata itu imunisasi polio, atau campak, dan DPT satu kali.”

Bagaimana Difteri Menyerang Tubuh?

Difteri merupakan penyakit menular. Penularannya pun bisa sangat mudah terjadi, di antaranya dengan:

1. Percikan ludah saat pengidap bersin atau batuk.
2. Terpapar dari barang milik penderita, seperti handuk yang sudah terkontaminasi.
3. Sentuhan langsung pada luka terbuka akibat difteri, pada kulit penderita difteri.

Baca juga: Sudah Tahu 7 Cara Cuci Tangan yang Tepat untuk Cegah Penyakit

Dari penularan itu, bakteri difteri akan membentuk racun yang nantinya mematikan sel sehat pada tenggorokan. Selanjutnya, sel mati ini akan membentuk menjadi membran (lapisan tipis) berwarna abu-abu di tenggorokan. Tak berhenti di sana. Racun tersebut juga bisa menyebar ke aliran darah, bahkan merusak ginjal, jantung, serta sistem saraf.

Bagaimana Gejala Difteri?

Menurut Jurnal Pediatri, pada umumnya, difteri memiliki masa inkubasi sekitar 2-4 hari, sejak bakteri masuk ke tubuh hingga gejala penyakit muncul. Gejala difteri itu sendiri antara lain:

  • demam dan menggigil
  • munculnya lapisan tipis abu-abu dan menutupi tenggorokan serta amandel
  • sakit tenggorokan dan suara serak
  • kelenjar limfe pada leher membengkak
  • sulit bernapas
  • tubuh terasa lelah dan lemas, juga pilek, yang diawali cairan encer yang kelamaan menjadi kental dan kadang bercampur darah.

Selain area tenggorokan, difteri juga bisa menyerang kulit dan menimbulkan luka seperti borok. Luka ini dapat sembuh dalam beberapa bulan, namun akan meninggalkan bekas.

Tapi ada juga kondisi di mana difteri tidak menunjukkan gejala apa pun. Bila ini terjadi, tentunya penderita tidak menyadari bila dirinya terinfeksi, hingga akhinya mudah menularkan bakteri itu ke orang lain, terutama yang belum pernah memperoleh imunisasi.

Cara Mengobati Difteri

Untuk langkah pengobatannya, Anda akan diminta menjalani cek sampel lendir pada tenggorokan, hidung, dan luka kulit di laboratorium. Tapi bisa juga, dokter akan langsung melakukan tindakan bila Anda diduga kuat mengidap bakteri ini.

Selain menjalani perawatan di ruang isolasi sepanjang dua hari, Anda akan memperoleh dua macam obat. Yakni antitoksin untuk menetralisir racun difteri dalam tubuh, dan antibiotik guna membunuh bakteri serta menyembuhkan infeksi. Dosis penggunaan antibiotik tergantung pada tingkat keparahan gejala dan lama pasien menderita difteri.

Dalam masa pengobatan, Anda perlu minum obat secara rutin selama dua minggu. Namun bila dokter masih menemukan bakteri difteri di dalam tubuh Anda, pengobatan antibiotik akan dilanjutkan selama 10 hari ke depan.

Yang Terjadi Bila Difteri Tidak Segera Diobati

Apabila penyakit ini tidak segera ditangani, akan memicu beberapa komplikasi yang akan mengancam jiwa. Misalnya, penyakit ini bisa memicu komplikasi lainnya, bahkan mengancam jiwa. Misalnya:

  • Sel-sel yang mati di tenggorokan dapat menghambat pernapasan. Bahkan partikel membrannya bisa luruh ke paru-paru hingga memicu peradangan dan gagal napas.
  • Racun difteri juga bisa menimbulkan masalah sulit menelan, masalah pada saluran kemih, juga pembengkakan pada saraf tangan dan kaki.
  • Toksin difteri bisa pula masuk ke jantung dan menimbulkan peradangan otot jantung. Kondisi ini pun bisa berbuntut pada detak jantung yang tak teratur, gagal jantung, hingga kematian mendadak.

Baca juga:Tetap Fit di Musim Hujan dengan Makanan Penambah Imunitas Tubuh

Lakukan Ini Bila Terkena Difteri

Selain berobat ke dokter, ini yang perlu Anda lakukan agar lekas pulih kembali:

  • Bed rest alias istirahat total di tempat tidur selama beberapa minggu, hingga tubuh benar-benar pulih.
  • Sebisa mungkin, batasi atau kurangi aktivitas fisik, terutama bila jantung ikut terpapar.
  • Tidak bersosialisasi dengan orang lain, sehingga mengurangi kemungkinan bakteri difteri tersebar ke orang lain.
  • Menyantap asupan sehat, terutama sayuran dan buah-buahan, seperti brokoli serta alpukat.

Agar Anda dan Keluarga Terhindar dari Difteri

Untuk yang satu ini, sudah pasti Anda harus memastikan bila seluruh anggota keluarga telah menjalani imunisasi DPT secara lengkap, seperti dianjurkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia. Anda juga perlu menerapkan pola makan sehat. Misalnya selalu melengkapi menu utama di rumah dengan sayuran dan lauk yang kaya vitamin, mineral, dan asam lemak.

Selain itu, Anda bisa mulai menerapkan kebiasaan mencuci tangan. Terutama sebelum makan, sesudah buang air, usai berkegiatan di luar ruangan. Juga selalu menjaga kebersihan lingkungan, terutama tempat tinggal, hingga bakteri difteri tidak berkembang biak dan menyerang anggota keluarga tercinta.




« | »
Read previous post:
dessert sehat
Lezat dan Sehat, Dessert Penuh Selera Tanpa Gula

Bagi Anda penyuka makanan manis, pasti Anda tak tahan setiap melihat kue atau camilan yang instagrammable. Begitu melihat fotonya di...

Close