Menghadapi Rasa Kehilangan Kala Pandemi

Tak hanya muncul saat ada keluarga yang wafat, kehilangan hal-hal penting lain dalam hidup pun juga dapat memicu perasaan duka yang begitu mendalam.

Menghadapi Rasa Kehilangan

Menghadapi Rasa Kehilangan Kala Pandemi

Tak hanya muncul saat ada keluarga yang wafat, kehilangan hal-hal penting lain dalam hidup pun juga dapat memicu perasaan duka yang begitu mendalam.

Hidup di tengah-tengah berbagai ketidakpastian dan risiko memang bukan hal yang mudah untuk dilalui. Seperti untuk tetap bertahan di tengah-tengah pandemi Covid-19 yang tak kunjung reda ini. Begitu banyak peristiwa di luar dugaan terjadi setiap harinya. Tak hanya itu, rasa khawatir dan takut akan kehilangan sesuatu, seperti pekerjaan atau keluarga pun juga terus menghantui.

Tak dapat dipungkiri, pandemi Covid-19 telah memberikan begitu banyak dampak pada hampir seluruh sektor dan aspek kehidupan. Mulai dari bidang kesehatan, ekonomi, hingga sosial. Nyawa jutaan orang telah melayang dalam waktu satu tahun, berbagai macam pekerjaan terpaksa dihentikan, dan macam-macam acara sakral yang mestinya menjadi momen kebahagiaan beberapa pihak pun tak dapat dilaksanakan. Akibatnya, rasa kehilangan dan duka pun mau tidak mau hadir di tengah-tengah kondisi ini. Bahkan, banyak orang yang kehilangan lebih dari satu hal penting dalam hidupnya. Lalu, bagaimana ya cara menghadapi rasa duka saat pandemi Covid-19 ini?

Berbagai Duka Saat Pandemi

Rasa duka tak hanya muncul saat ada sanak keluarga yang wafat. Kehilangan hal-hal penting lain dalam hidup pun juga dapat memicu hadirnya rasa duka yang begitu mendalam. Seperti kehilangan pekerjaan, mengalami kebangkrutan bisnis, atau melewatkan berbagai momen besar yang telah lama dinanti.

5 Fase Berduka Yang Perlu Dipahami

Seorang praktisi psikiatri asal Amerika, Elisabeth Kubler-Ross, merancang sebuah model untuk memahami fase yang terjadi pada seseorang ketika ia mengalami suatu kehilangan yang amat mendalam. Meski di awal penelitiannya Kubler-Ross menitik beratkan pada duka akibat kematian, namun ia telah melakukan koreksi. Menurutnya, lima fase berduka yang terjadi pada manusia ini relevan jika dikaitkan dengan kehilangan hal lain yang tergolong penting oleh mereka yang mengalaminya.

Meski dalam teori model ini terdapat lima fase, namun pada kenyataannya seseorang tak harus melewati kelima fase tersebut. Perjalanan fase berduka ini berbeda-beda pada tiap orang dan sangat tergantung pada kasusnya. Meski begitu, model ini sangat baik untuk dipahami agar penanganan yang dapat dilakukan pun bisa lebih tepat. Berikut adalah lima fase berduka oleh Kubler-Ross.

1. Penyangkalan

Pada fase yang pertama ini, umumnya seseorang yang baru saja mengalami kehilangan akan merasa bahwa apa yang baru saja terjadi adalah ilusi dan tidak nyata. Saat melewati fase ini, seseorang akan berpikir dan berharap bahwa akan datang kenyataan lain yang bertolak-belakang dengan apa yang baru saja terjadi.

Misalnya ketika seseorang sangat sedih akibat terkena PHK massal, saat melalui fase ini, ia akan cenderung terus berharap mendapat kabar dari perusahaannya bahwa apa yang terjadi adalah sebuah kesalahan dan ia akan segera mendapatkan pekerjaannya kembali.

2. Kemarahan

Fase kedua yang akan terjadi adalah kemarahan. Pada tahap ini, seseorang akan cenderung merasa marah dan menyalahkan pihak tertentu atas apa yang menimpanya. Sebenarnya, perasaan marah ini adalah salah satu bentuk luka batin yang dialami seseorang.

Pada beberapa orang, fase ini juga bisa berupa keadaan di mana mereka mempertanyakan kenapa harus mereka yang mengalami ini. Menurut Kubler-Ross, rasa marah ini adalah sesuatu yang sangat wajar. Terkadang, perasaan ini juga diikuti oleh beberapa emosi lainnya seperti kecewa atau gelisah.

3. Tawar-menawar

Orang yang melalui fase ini, biasanya memiliki harapan untuk bisa mengubah keadaan yang telah terjadi. Mereka rela melakukan berbagai macam pengorbanan demi mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik mereka.

Misalnya ketika seorang pengusaha mengalami kebangkrutan bisnis, pada fase ini ia akan berpikir hal-hal semacam “Saya bersedia melakukan apa saja demi mendapatkan dana modal yang lebih banyak agar bisnis tidak surut.” Biasanya fase ini juga akan memunculkan banyak rasa bersalah di dalam diri.

4. Depresi

Saat melewati tahap ini, seseorang biasanya akan merasa sangat sedih atas apa yang menimpanya. Di kondisi tersebut, biasanya mereka sudah mulai menerima fakta bahwa tak ada lagi yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya duka.

Dalam model Kubler-Ross, fase depresi ini berbeda dengan kondisi kesehatan mental yang sering disebut dengan depresi klinis meski gejalanya mirip. Mereka yang melalui fase ini akan merasakan sedih berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, kehilangan minat dalam melakukan segala aktivitas, hingga timbulnya rasa lelah fisik meski tak banyak beraktivitas.

5. Penerimaan

Fase yang terakhir adalah penerimaan. Fase ini bukan berarti seseorang bisa kembali ceria dan menjalankan hari-harinya dengan penuh canda tawa. Namun, di fase ini, mereka sudah bisa sepenuhnya menerima fakta bahwa apa yang menjadi hal paling penting dalam hidupnya kini sudah tak lagi ada dan mereka harus belajar melanjutkan hidup dengan kondisi tersebut.

Biasanya di fase ini, seseorang akan merasa lebih mudah dan terbuka untuk bercerita tentang apa yang terjadi kepada rekan-rekan terdekatnya meskipun masih ada rasa sedih yang tersisa. Kemauan untuk terus menyembuhkan luka juga semakin menguat seiring dengan adanya fase penerimaan ini.

Cara Berdamai Dengan Kehilangan

Setelah memahami fase apa saja yang akan dilewati seseorang ketika ia sedang berduka, pertanyaan selanjutnya adalah apa yang bisa dilakukan agar proses melewati fase-fase tersebut bisa dilewati dengan baik hingga akhirnya dapat sampai ke fase penerimaan dengan baik. Berikut adalah 4 cara yang bisa diterapkan.

1. Mengizinkan emosi muncul

Hal paling dasar dari semua proses penyembuhan luka batin atau psikologis adalah dengan tidak menantang dan menyimpan sendiri perasaan atau emosi negatif yang muncul. Meski terkadang membuat tidak nyaman, namun segala emosi perlu dikeluarkan.

Beberapa orang memang tidak ingin terlihat menangis ketika ia sedang merasa sedih, sebenarnya menyalurkan emosi tidak hanya soal menangis. Ada cara lain yang bisa dilakukan juga, misalnya dengan menulis surat kepada objek atau orang yang sedang kita pikirkan dan memunculkan rasa sedih. Tulislah sebuah surat tentang apa yang ingin dikatakan kepada mereka dengan jujur.

2. Mengatur pola hidup

Salah satu cara untuk mengelola emosi yang lebih baik adalah dengan mengatur pola hidup sehat. Usahakan dalam sehari tubuh melakukan aktivitas fisik setidaknya 30 menit. Tidak harus olahraga, bisa dengan bersih-bersih rumah, mencuci, atau berjalan kaki.

Selain itu, selama emosi masih belum stabil, beri asupan gizi dan vitamin yang baik kepada tubuh dengan lebih banyak mengonsumsi buah, sayur, dan air putih. Pasalnya, kestabilan emosi juga bisa dipengaruhi oleh asupan yang masuk ke dalam tubuh lho.

3. Meminta bantuan profesional

Terakhir, jika memang kamu merasa apa yang sedang kamu alami begitu berat dan tak tahu harus melakukan apa, maka meminta bantuan profesional dapat menjadi opsi. Kamu bisa menghubungi psikolog yang menyediakan layanan konseling virtual atau berkonsultasi dengan dokter spesialis kesehatan jiwa melalui aplikasi digital dari rumah.

4. Berolahraga ringan

Di dalam dunia psikologi, terdapat terapi yang disebut dengan perilaku aktivasi. Tujuan dari adanya terapi perilaku aktivasi ini adalah untuk meningkatkan perasaan atau mood seseorang dan menghindari rasa sedih atau depresi yang mungkin datang di kemudian hari.

Salah satu cara untuk melakukan terapi perilaku aktivasi ini adalah dengan berolahraga ringan di pagi dan sore hari. Saat pagi hari tiba, upayakan tubuhmu terkena paparan sinar matahari dan mulai bergerak ringan. Bisa dengan bersepeda, senam, ataupun sekedar jalan santai. Jangan lupa untuk ulangi kegiatan ini di sore atau malam hari selepas berkegiatan. Jangan lupa pastikan kamu tetap terhidrasi selama melakukan olahraga ringan ini ya.

5. Kembali ke kesibukan

Meski tak mudah, namun mencoba kembali menyibukkan diri setelah masa berduka adalah hal yang baik. Dengan kembali bekerja, otak akan mulai memikirkan hal lain dan mendistraksi pikiran atau bayangan buruk yang mungkin dapat merusak perasaanmu.

Sebagai permulaan, kamu bisa mencoba dengan mengerjakan tugas yang mudah terlebih dahulu dan fokus saat mengerjakannya. Apabila mulai terasa akan timbul stress, istirahat sejenak, lakukan pengaturan nafas, ambil segelas air putih, lalu tenangkan kembali pikiranmu sebelum melanjutkan pekerjaan.

Berada di kondisi yang serba tidak pasti memang sangat meresahkan. Makanya, penting untuk selalu menjaga diri dan keluarga agar saat hal-hal yang tak diinginkan datang, mereka sudah siap. Salah satu cara yang bisa kamu lakukan untuk melindungi dirimu dan keluarga adalah dengan memilih produk Astra Flexi Life.

Astra Flexi Life adalah produk asuransi jiwa dari Astra Life yangn bisa kamu beli di ilovelife.co.id, kamu bisa atur sendiri sesuai dengan kebutuhan kamu. Mulai dari ketika kamu belum berkeluarga hingga nanti ketika sudah punya tanggungan. Selain itu, Astra Flexi Life juga sudah menanggung perlindungan atas risiko terpapar Covid-19 lho. Lengkap sekali bukan?

Untuk mengetahui manfaat lengkap layanan Astra Life, kunjungi laman astralife.co.id dan follow Instagram @AstraLife untuk terus tahu informasi dan tips-tips menarik lainnya.

Urusan Sehat Jadi Tenang #IGotYourBack

Artikel Lainnya

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!