Minyak Goreng Mahal? Kurangi Saja Konsumsinya, Manfaatnya Banyak!

Bingung karena minyak goreng mahal? Tak perlu khawatir, justru momen ini bisa kita manfaatkan untuk mengurangi konsumsinya dan hidup lebih sehat. Yuk, simak artikelnya!

Durasi baca: 4 menit

Minyak-Goreng-Mahal-Kurangi-Saja-Konsumsinya-Manfaatnya-Banyak

Minyak Goreng Mahal? Kurangi Saja Konsumsinya, Manfaatnya Banyak!

Bingung karena minyak goreng mahal? Tak perlu khawatir, justru momen ini bisa kita manfaatkan untuk mengurangi konsumsinya dan hidup lebih sehat. Yuk, simak artikelnya!

Durasi baca: 4 menit

Sejak akhir tahun 2021, harga minyak goreng terpantau terus melambung tinggi. Padahal seperti yang kita tahu, minyak goreng merupakan salah satu dari sembilan kebutuhan pokok. Bisa dibayangkan, pengaruh kenaikan harga minyak goreng ini berdampak cukup signifikan pada kebutuhan setiap rumah tangga.

Momen naiknya harga minyak goreng ini, sebenarnya bisa menjadi alasan kuat bagi kita untuk mengurangi konsumsinya demi kesehatan. Misalnya, dengan mengganti cara memasak, ataupun mengganti minyak goreng kelapa sawit dengan jenis minyak lain yang lebih sehat.

Selain untuk menekan anggaran belanja dalam rumah tangga, dengan mengurangi konsumsi minyak goreng dan menggantinya dengan minyak yang lebih sehat, maka hal tersebut bisa menjadi awal yang baik untuk memulai investasi kesehatan bagi tubuh kita.

Eits, meskipun demikian, tidak ada salahnya kita mengetahui apa saja sih yang menyebabkan harga minyak goreng naik akhir-akhir ini? Yuk, simak penjelasannya dalam artikel ini. Baca sampai selesai, ya!

Apa Penyebab Kenaikan Harga Minyak Goreng?

Melansir dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga minyak goreng nasional per tanggal 29 November 2021 sudah tercatat Rp18.750/kg, atau naik sebesar 29,76% dari awal tahun. Cukup tinggi bukan? Kenaikan ini diramalkan oleh Oke Nurwan, selaku Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, akan terus berlanjut hingga kuartal pertama di tahun 2022.

Bukan tanpa alasan, kenaikan harga minyak goreng yang terus melambung tinggi ini dikarenakan pasokan Crude Palm Oil atau CPO, sebagai bahan baku utama yang turun secara global. Selain itu, di Indonesia masih banyak produsen minyak goreng yang tidak berafiliasi dengan kebun sawit sebagai produsen CPO.

Hal inilah yang menyebabkan harga minyak goreng sangat bergantung pada harga CPO. Tingginya harga CPO global memang memberikan peluang ‘cuan’ dari ekspor yang lebih besar. Jadi, tidak heran apabila rata-rata 67,4% produksi minyak sawit Indonesia dijual ke luar negeri, yang mengakibatkan kurangnya pasokan yang ada di dalam negeri.

Sebagai salah satu kebutuhan pokok, kenaikan harga minyak goreng ini merupakan momok tersendiri bagi setiap rumah tangga. Perannya yang cukup krusial di dapur, membuat sejumlah ibu rumah tangga harus memutar otak dalam mengatur anggaran belanja karena kenaikan harga minyak goreng ini.

Lantas, apa yang dapat kita lakukan untuk menekan anggaran belanja akibat kenaikan harga minyak goreng ini?

Kurangi Konsumsi Minyak Goreng, Yuk!

Mengonsumsi terlalu banyak makanan yang berminyak, ternyata tidak terlalu baik untuk kesehatan kita, lho. Kadar minyak yang tinggi dari makanan yang kita konsumsi bisa menjadi sumber berbagai penyakit.

Menurut para ahli gizi, untuk memenuhi kebutuhan kalori dalam satu hari, kita sebaiknya mengonsumsi 25% lemak dari total kalori yang kita santap. Sedangkan, batasan mengkonsumsi minyak idealnya 5 sendok makan, atau 60 ml sehari yang terserap dalam tubuh. Bukan jumlah minyak yang digunakan untuk memasak.

Perlu dicatat dan diingat bahwa memakan makanan yang digoreng dalam jumlah banyak sama saja dengan menumpuk lemak dan kolesterol dalam tubuh. Mengonsumsi makanan yang digoreng atau gorengan secara rutin atau berlebih dapat menimbulkan banyak masalah kesehatan.

Berikut adalah beberapa alasan kesehatan mengapa ada baiknya kita mengurangi konsumsi minyak goreng:

1. Meningkatkan risiko obesitas

Konsumsi gorengan atau makanan yang dimasak dengan cara digoreng dalam jumlah berlebih tentu akan menumpuk lemak dan minyak di dalam tubuh. Konon, satu gorengan yang kita makan ternyata bisa menyerap minyak sebanyak 5 ml, lho. Hmm, banyak juga ya?

Kandungan minyak dan lemak yang berlebih dalam tubuh ini akan membuat kita menjadi rentan mengalami risiko obesitas.

2. Memicu diabetes

Diabetes merupakan penyakit yang cukup erat kaitannya dengan pola makan tinggi gula dan lemak. Karena itu, tidak heran apabila konsumsi minyak berlebih dapat memicu gula darah naik secara drastis. Melansir dari beberapa sumber, lemak yang menumpuk di dalam tubuh juga akan mempersulit kerja hormon insulin dalam mengontrol gula. So, kurang-kurangin konsumsi makanan yang mengandung minyak berlebih, ya!

3. Memicu penyakit jantung

Bahaya lain yang timbul akibat konsumsi minyak goreng berlebih adalah penyakit jantung. Kolesterol dan lemak jenuh yang kita konsumsi secara berlebihan akan memicu pembentukan plak arteri yang memicu penyakit jantung koroner.

4. Menambah racun dalam tubuh

Konon, makanan yang digoreng tidak dapat diolah dengan sempurna oleh tubuh kita. Makanan yang dimasak dengan cara digoreng akan menyisakan ‘jejak’, baik di ginjal, hati, prostat maupun usus besar. Apabila kita terbiasa mengonsumsi makanan yang mengandung minyak goreng secara berlebih dalam waktu yang lama, sama saja kita sedang menimbun racun dalam tubuh yang dapat menjadi bumerang bagi kesehatan sewaktu-waktu.

5. Memicu batuk

Makanan yang mengandung minyak goreng berlebih ternyata dapat memicu batuk, lho. Penumpukan senyawa akrolein yang berasal dari minyak akan memicu alergi yang mengganggu saluran tenggorokan dan pernafasan sehingga menyebabkan batuk. Hal ini terjadi terutama jika minyak goreng digunakan lebih dari satu kali.

Jadi, apabila kamu adalah penggemar gorengan, maka kamu perlu berhati-hati, ya. Konsumsi gorengan yang berlebihan dapat menjadi sangat berbahaya bagi kesehatan, lho. So, yuk, kurangi makan gorengannya!

Masakan Tetap Lezat dan Lebih Sehat Tanpa Digoreng? Begini Cara Memasaknya!

Dalam rangka mengurangi konsumsi minyak goreng yang berlebih, kamu dapat mencoba beberapa alternatif memasak makanan selain dengan menggoreng. Berikut adalah alternatif cara memasak selain menggoreng yang tak kalah lezatnya, tetapi lebih sehat:

1. Sauteing atau stir-frying

Sauteing, atau dikenal dengan menumis, adalah salah satu cara masak yang cukup populer di dapur. Dengan menumis, kita hanya perlu menggunakan sedikit minyak dan juga membutuhkan waktu yang singkat hingga sajian matang. Cocok banget nih buat kamu yang masaknya diburu-buru waktu.

2. Dikukus

Mengukus masakan atau biasa dikenal juga dengan steaming adalah cara memasak yang populer, sehingga tidak perlu dijelaskan lagi. Biasanya, cara memasak ini digunakan untuk memasak hidangan seperti siomay, bothok, pepes, hingga bolu.

3. Dipanggang

Cara memasak hidangan dengan memanggang dipercaya dapat menghasilkan makanan yang tidak hanya menggiurkan tapi juga lebih sehat. Kandungan kalori dan lemak pada lauk yang dipanggang lebih rendah daripada lauk pauk atau hidangan yang digoreng. Hmm, menarik bukan

4. Roasting dan baking

Teknik roasting dan baking ini memang terlihat cukup identik. Pasalnya, kedua teknik ini adalah metode memasak dengan menggunakan oven. 

Roasting biasa digunakan untuk memasak pakanan yang bertekstur padat, untuk menghasilkan luaran yang renyah dan empuk di dalam. Sementara baking adalah metode memasak yang digunakan untuk mengolah hidangan yang mengandung ragi atau pengembang.

5. Braising dan stewing

Braising dan stewing adalah proses memasak yang hampir mirip. Stewing merupakan teknik memasak dengan menyemur. Braising juga sama, hanya saja membutuhkan proses yang jauh lebih lama. Pada teknik braising, daging yang akan diolah atau disemur direndam terlebih dahulu dalam waktu kurang lebih 12 hingga 24 jam. Lama sekali bukan?

Hal ini dilakukan agar bumbu meresap dengan sempurna ke dalam daging sehingga makanan menjadi kaya rasa. Setelah itu, daging akan dipanggang hingga warnanya coklat keemasan sebelum akhirnya direbus dengan sisa bahan rendaman daging hingga cairan yang ada menguap.

6. Au Bain Marie atau ngetim

Memasak hidangan dengan cara ngetim bukanlah hal yang asing di Indonesia. Selayaknya membuat nasi tim, memasak dengan teknik ngetim dilakukan dengan menggunakan pengukus. Panci pengukus diletakkan lagi dalam panci berisi air yang kemudian ditaruh dandan yang berisi bahan makanan yang akan ditim.

7. Boiling dan poaching

Boiling, atau merebus, adalah cara paling mudah dalam mengolah makanan. Kita hanya perlu memasukkan makanan ke dalam air mendidih dan menunggu hingga masakan tersebut matang.

Sementara itu, teknik poaching adalah teknik yang mirip dengan boiling. Hanya saja, pada teknik ini bahan makanan dimasak dengan api sedang dan perlahan untuk menghasilkan makanan yang matang di luar dan juicy di dalam.

Di atas adalah beberapa alternatif mengolah makanan yang lezat dan minim pemakaian minyak goreng, tentunya. Selain bisa menekan anggaran belanja rumah tangga saat harga minyak goreng naik, cara memasak di atas juga dipercaya lebih sehat, lho.

5 Alternatif Pengganti Minyak Goreng Kelapa Sawit, Lebih Sehat!

Hingga detik ini, minyak goreng sawit memang masih menjadi jenis minyak goreng yang memegang peranan krusial di dapur keluarga Indonesia, baik untuk menggoreng maupun menumis. Terdapat beberapa minyak goreng yang dapat dijadikan alternatif sebagai pengganti minyak goreng kelapa sawit. Meskipun beberapa produk pengganti ini secara harga akan lebih mahal, tetapi demi kesehatan, tak ada salahnya untuk kamu coba.

Berikut adalah beberapa di antaranya:

1. Minyak wijen

Minyak yang sering kali ditemui pada masakan ala Tiongkok ini memiliki rasa yang cukup kuat.  Minyak wijen ada dua jenis, yaitu minyak wijen panggang dan biasa. Minyak wijen biasa bisa digunakan seperti halnya minyak goreng pada umumnya; memiliki rasa netral dan dapat menahan panas tinggi. Umumnya, dipakai dalam berbagai jenis masakan oriental sebagai pengganti minyak goreng untuk menumis.

Sedangkan minyak wijen panggang biasanya baik digunakan dengan metode memasak dengan api kecil, atau ditambahkan di akhir atau setelah memasak untuk memperkaya cita rasa.

2. Minyak kanola

Minyak yang berasal dari tanaman kanola ini juga biasa digunakan untuk memasak makanan yang diolah dengan panas api yang tinggi. So, kalau kamu ingin menggoreng ringan, jangan gunakan minyak kanola ini, ya!

Beberapa penelitian mengungkap bahwa minyak ini mampu meningkatkan sensitivitas insulin, yang artinya minyak ini mampu membantu mengurangi kadar kolesterol dibandingkan dengan jenis minyak sawit pada umumnya.

3. Minyak zaitun

Minyak yang dikenal dengan olive oil ini biasanya terbagi ke dalam dua jenis, yakni olive oil biasa dan extra virgin olive oil. Umumnya, extra virgin olive oil ini digunakan untuk campuran salad. Memiliki titik asap yang relatif rendah, maka kamu perlu menggunakan api kecil menuju sedang saat memasak menggunakan olive oil ini.

4. Minyak bunga matahari

Minyak yang dihasilkan dari bunga matahari ini memiliki titik asap yang tinggi dan rasa yang cukup kuat. Namun, tidak disarankan bagi kamu untuk mengonsumsi minyak ini dalam jumlah berlebih. Mengapa demikian? Minyak bunga matahari mengandung omega-6 yang cukup tinggi sehingga dapat menyebabkan peradangan bagi tubuh.

5. Minyak kacang

Minyak kacang mengandung lemak nabati yang dapat membantu menurunkan kolesterol, sehingga minyak ini bagus untuk kesehatan jantung. Memiliki titik asap yang tinggi, kamu dapat menggunakan minyak kacang untuk berbagai jenis hidangan yang digoreng, dipanggang dan juga ditumis.

Kenaikan harga minyak goreng sudah pasti akan mempengaruhi cash flow keluarga. Selain bisa diatasi dengan mengatur ulang anggaran belanja, mengurangi konsumsi minyak goreng dapat kita manfaatkan untuk meningkatkan kesehatan kita. Akan lebih baik lagi, jika dibarengi dengan menambah konsumsi buah dan sayuran.

Selain dengan memperhatikan nutrisi yang kita makan, kamu juga dapat menjaga cash flow kamu dari risiko yang tidak terduga di masa depan dengan memiliki asuransi. Astra Life memiliki produk perlindungan bernama AVA iBright Protector yang memberikan perlindungan lengkap dari risiko meninggal dunia, terminal illness, dan juga cacat total ataupun tetap hingga tertanggung berusia 99 tahun. Untuk manfaat yang lebih maksimal, AVA iBright Protector bisa ditambahkan dengan rider Medicare Premier, agar kamu mendapatkan penggantian biaya rawat inap, rawat jalan, dan operasi di rumah sakit secara cashless di seluruh dunia sesuai dengan plan yang kamu pilih. Keluarga sehat, keuangan juga terkendali.

Apabila kamu tertarik untuk mencari informasi lebih lengkap terkait AVA iBright Protector, Medicare Premier, dan produk asuransi dari Astra Life lainnya, maka kamu dapat langsung mengunjungi laman astralife.co.id.

Jangan lupa mantengin akun Instagram @astralifeid untuk update soal kesehatan dan dunia keuangan. Urusan Sehat, No Worries. #iGotYourBack

Artikel Lainnya

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!