Si Kecil Senang Bermain Game? Jangan Resah, Ikuti Panduan Ini

Bermain video game menjadi kegiatan yang menyenangkan, apalagi buat anak-anak. Namun, pilihan games yang beragam dan bisa membuat anak kecanduan terkadang justru membuat banyak orang tua resah. Jika si kecil sedang senang-senangnya bermain games, jangan resah dulu. Ikuti panduan berikut ini.

Durasi baca: 4 menit

Si-Kecil-Senang-Bermain-Game-Jangan-Resah-Ikuti-Panduan-Ini

Si Kecil Senang Bermain Game? Jangan Resah, Ikuti Panduan Ini

Bermain video game menjadi kegiatan yang menyenangkan, apalagi buat anak-anak. Namun, pilihan games yang beragam dan bisa membuat anak kecanduan terkadang justru membuat banyak orang tua resah. Jika si kecil sedang senang-senangnya bermain games, jangan resah dulu. Ikuti panduan berikut ini.

Durasi baca: 4 menit

Roblox, Minecraft, Among Us merupakan beberapa contoh games yang banyak digandrungi anak-anak. Permainan yang bisa diakses melalui gadget baik secara online ataupun offline, membuat anak bisa asyik sendiri saat bermain. Selain untuk mengusir rasa bosan, banyak anak yang merasa tertantang untuk bisa menaklukan level-level dalam permainan tersebut. Itulah mengapa, banyak anak yang akhirnya jadi ketagihan untuk terus menghabiskan waktu dengan games.

Pengawasan dari orang tua tentu diperlukan, apalagi buat anak-anak yang berusia dini. Tak hanya soal waktu bermain games, konten dari permainan yang dimainkan anak-anak juga perlu dipantau. Apalagi sering kita mendengar ditemukannya konten dewasa yang masuk di dalam games anak-anak dan remaja.

Panduan Batasan Usia Anak Bermain Game

Sama seperti menonton televisi, Youtube, ataupun streaming film berbayar, bermain games juga memiliki panduan batasan usia, yang biasanya tertera saat pertama kali kita ingin mengunduh aplikasi games. Untuk itu kita perlu mendampingi dan mengarahkan anak-anak agar bisa bermain games yang sesuai dengan usianya.

Panduan batasan usia ini bukan hanya melihat tingkat kesulitan games saja tetapi juga melihat kesesuaian konten dengan kelompok usia penggunanya. Kementerian Komunikasi dan Informatika pun telah membuat pemeringkat games untuk memberi panduan tersebut. Dalam pemeringkat yang disebut Indonesia Game Rating System (IGRS), ada lima klasifikasi yang bisa dijadikan panduan:

1. Klasifikasi Semua Umur

Games dengan klasifikasi ini umumnya tidak mengandung unsur darah, kekerasan, maupun horor.

2. Klasifikasi 3+

Games dengan klasifikasi ini diperuntukkan bagi anak usia 3 tahun ke atas. Tidak mengandung konten yang mengkhawatirkan tetapi orang tua tetap bertanggung jawab melakukan pengawasan dan mendampingi anak saat anak sedang mengakses games tersebut.

3. Klasifikasi 7+

Games dengan klasifikasi ini untuk anak usia 7 tahun ke atas. Berpotensi mengandung unsur darah di dalam permainannya. Pengawasan dan bimbingan orang tua masih tetap dibutuhkan anak pada saat bermain games tersebut.

4. Klasifikasi 13+

Games dengan klasifikasi ini dibuat untuk anak usia 13 tahun ke atas. Di dalamnya berpotensi mengandung unsur kekerasan. Meskipun sudah untuk remaja, pendampingan orang tua tetap dibutuhkan.

5. Klasifikasi 18+

Selain mengandung konten kekerasan, games dengan klasifikasi ini berpotensi unsur darah, narkotika, seksual, judi, dan horor. Oleh karena itu, games ini ditujukan untuk pemain berusia 18 tahun ke atas.

Konten dan Tipe Game yang Perlu Diawasi

Setelah memilih game sesuai dengan batasan usia, orang tua juga tetap perlu memantau konten yang ada di dalamnya. Perlu dilihat kembali apakah games pilihan anak tidak mengandung unsur kekerasan, pornografi, bullying atau tindakan kriminal lainnya. Karena, tak hanya perilaku karakter di games, bahasa yang digunakan dalam video permainan juga bisa memengaruhi anak-anak. Setidaknya ada beberapa konten dan tipe games yang perlu kita awasi:

1. Action Game

Games yang bergenre action menjadi salah satu konten dan tipe yang harus diawasi jika dimainkan oleh anak-anak. Genre games ini biasanya dikelompokan ke dalam beberapa jenis, seperti shooter games, survival games dan fighting games. Di dalam games ini rentan ditemukan konten kekerasan, sadis, dan tak jarang pornografi yang berbahaya bagi anak. 

2. Adventure Game

Games dengan genre adventure memiliki cerita yang yang berhubungan di setiap levelnya. Sebetulnya, games ini bisa mengajarkan anak untuk memecahkan masalah. Namun tak jarang, konten yang ada di dalamnya mengandung kekerasan, seperti game “Life After” yang bercerita tentang dunia yang dipenuhi zombie dan menyuguhkan aksi sadis yang belum cocok untuk dimainkan oleh anak-anak.

3. Simulation Game

Jenis games ini sedang banyak peminatnya karena menawarkan pengalaman bagi pemainnya untuk melakukan sesuatu melalui simulasi. Beberapa subgenre simulation games antara lain construction and management simulation (simulasi konstruksi pembangunan, perluasan dan manajemen bisa berupa membuat kota, industri, atau pemerintahan), life simulation (simulasi kehidupan manusia termasuk kegiatan merawat hewan tertentu), vehicle simulation (simulasi kendaraan seperti bis atau pesawat).

Pada games jenis ini perlu diawasi karena bisa ada simulasi dari adegan yang tak seharusnya diperuntukkan bagi anak-anak seperti kekerasan hingga sex. Seperti yang belum lama ini dikabarkan yakni ditemukan konten dewasa di games Roblox dan Sakura School Simulator.

4. Multi-player Game

Jenis games ini menyuguhkan permainan yang melibatkan banyak orang. Biasanya juga dimainkan secara online. Para pemain di dalamnya bisa saling berinteraksi baik melalui chat atau suara. Pada games jenis ini orang tua perlu mengawasi interaksi anak terhadap pemain lainnya. 

Beberapa jenis dari multi-player games online ini seperti: Massively Multiplayer Online Role-Playing Games/MMORPG (biasanya permainan ini mengarah ke kolaborasi sosial), Massively Multiplayer Online First-Person Shooter Games/MMOFPS (permainan ini melibatkan banyak orang dan biasanya mengambil setting peperangan dengan senjata-senjata militer), Massively Multiplayer Online Real-Time Strategy Games/MMORTS (permainan ini menuntut pemain untuk mengatur strategi permainan).

Batasan Waktu Bermain Game untuk Anak

Hal yang juga perlu diperhatikan adalah batasan waktu bermain bagi anak-anak. Mengingat video games dimainkan di beragam aneka gadget, maka kita bisa mengikuti panduan penggunaan gadget dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, yakni:

  1. Usia 0 – 1,5 tahun: hindari gadget, kecuali untuk video call dengan kerabat terdekat.
  2. Usia 1,5 – 2 tahun: hanya program berkualitas tinggi dan edukatif, serta adanya pendampingan.
  3. Usia 2 – 5 tahun: 1 jam per hari dengan pendampingan.
  4. Usia 6 tahun ke atas: tentukan batas waktu yang konsisten dan jenis media yang digunakan.

Sisi Positif dan Negatif Bermain Game bagi Anak

Bermain games dengan porsi yang tepat bisa memberikan sejumlah dampak positif bagi anak. Beberapa diantaranya adalah merangsang logika berpikir dan melatih berpikir cepat, meningkatkan konsentrasi, melatih kerja sama, mengenalkan sportivitas, serta mengurangi stress dan kejenuhan.

Namun demikian, orang tua juga perlu memberikan batasan waktu bermain games pada anak. Jangan sampai anak kecanduan bermain games hingga sulit lepas dan melupakan aktivitas lainnya. Karena ada beberapa dampak negatif yang bisa ditimbulkan jika anak sudah kecanduan games, seperti memicu perilaku agresif, antisosial, berbicara kasar, gangguan motorik, serta penurunan prestasi akademik.

Jadi, jika si kecil sedang senang-senangnya bermain games, tak perlu khawatir sepanjang kita bisa melakukan pengawasan dengan baik. Menyesuaikan games pilihan anak dengan klasifikasi usia, memantau konten yang ada di dalamnya, serta memberikan batas waktu bermain yang tepat merupakan upaya yang bisa dilakukan agar anak tidak terjerumus dalam kecanduan games.

Sebagai orang tua, kita perlu mendiskusikan hal ini dengan anak. Misalnya membuat kesepakatan aturan bermain. Kapan boleh bermain, berapa lama, di mana dimainkannya, dan games apa saja yang boleh dimainkan. Akan lebih baik juga jika kita bisa ikut bermain sehingga benar-benar memahami isi games yang dimainkan anak tanpa anak merasa dipantau berlebihan. Bermain games bersama anak juga bisa ikut meningkatkan bonding atau keterikatan anak dan orang tua.

Untuk bisa terus mendampingi anak-anak berkegiatan, maka kita juga perlu menjaga kesehatan. Supaya lebih tenang, kamu juga bisa menambah perlindungan kesehatan dengan asuransi. 

AVA iFamily Protection bisa jadi solusi untukmu dan keluarga. Proteksi jiwa ini memberikan Manfaat Pengembalian Premi 100%*, dan memungkinkan kamu menerima berbagai manfaat kesehatan serta perlindungan jiwa sebagai keluarga. Manfaat yang ditawarkan pun tak main-main. Kamu bahkan bisa mendapatkan biaya pendukung (santunan) rawat jalan hingga senilai 1,5 juta rupiah per harinya.

Untuk mengetahui informasi lengkap dan melihat pilihan produk asuransi tepercaya lainnya, kamu bisa langsung kunjungi laman astralife.co.id. Jangan lupa follow Instagram @astralifeid untuk update informasi soal kesehatan, keuangan, dan kehidupan. Urusan Sehat Jadi Tenang. #IGotYourBack.

Artikel Lainnya

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!