Usia Muda, Mungkinkah Terkena Penyakit Kritis?

penyakit kritis

Penyakit kritis adalah penyebab utama kematian di dunia (Katadata, Juni 2019). Sekarang, penyakit kritis tengah mengintai bukan hanya pada mereka yang berusia lanjut tapi juga berusia produktif. Apalagi dengan gaya hidup buruk yang kerap menghinggapi kehidupan anak muda, risiko terkena penyakit kritis atau critical illness semakin tinggi.

Apa itu penyakit kritis?

Penyakit kritis adalah penyakit yang menyebabkan kondisi kesehatan seseorang kritis, kronis, atau stadium lanjut. Kendati begitu, penyakit tersebut sebenarnya menyerang secara perlahan, tidak serta-merta. Namun seringkali penyakit tersebut baru diketahui ketika sudah berada pada level yang membahayakan nyawa seseorang.

Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Risdikes) 2018 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi kanker pada usia produktif cukup tinggi. Prevalensi kanker pada usia 25-34 tahun mencapai 1,21% dan usia 35-44 tahun mencapai 2,58% per 1.000 penduduk di Indonesia.

Baca juga: 7 Tips Hindari Penyakit Jantung

Lalu prevalensi penyakit stroke pada usia 25-34 tahun mencapai 1,4% dan 35-44 tahun mencapai 3,7%. Sedangkan prevalensi penyakit jantung pada usia 25-34 tahun sebesar 0,8% dan usia 35-44 tahun sebesar 1,3% per 1.000 penduduk di Indonesia.

Tiga penyakit kritis yang paling sering menyerang usia produktif:

Penyakit jantung

The Institute for Health Metrics and Evaluation (IMHE) pada 2016 menyebutkan, penyakit kritis yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah menjadi penyebab terbesar kematian di masyarakat yakni 32,26%. Penyakit jantung terjadi ketika kinerja jantung mengalami gangguan seperti gangguan pada pembuluh darah jantung, irama jantung, katup jantung, atau bawaan lahir. Pada umumnya, penyakit jantung dibagi dalam beberapa jenis yakni penyakit jantung koroner (penyempitan pembuluh darah jantung), aritmia (gangguan pada irama jantung), dan kardiomiopati (gangguan pada otot jantung). Selain itu ada penyakit katup jantung, penyakit infeksi jantung akibat bakteri, virus, atau parasit serta kelainan jantung sejak lahir.

Kanker

Kanker menyumbang 16,32% untuk angka total kematian masyarakat (IMHE, 2016). Penyakit kanker dapat menyerang semua golongan umur termasuk anak muda. Namun, penyakit kanker bisa dicegah lebih dini dengan mengenali gejala-gejala awal yang timbul. Yayasan Kanker Indonesia menyebutkan gejala-gejala kanker di antaranya adalah adanya gangguan waktu buang air besar atau kecil, gangguan alat pencernaan dan susah menelan serta suara serak atau batuk yang tak sembuh-sembuh.

Gejala lainnya yang bisa menunjukkan adanya kanker adalah muncul benjolan di payudara atau tempat lain, tahi lalat menjadi semakin besar dan gatal, keluar darah atau lendir yang tidak normal serta adanya koreng atau borok yang tak sembuh-sembuh.

Ada 12 jenis kanker yang paling sering ditemui menurut Yayasan Kanker Indonesia yakni kanker darah atau leukemia, kanker hati, kanker payudara, kanker kulit atau melanoma, kanker lambung, kanker lidah, kanker mulut, kanker mata, kanker otak, kanker tiroid, kanker serviks dan kanker paru.

Stroke

Saat ini, stroke juga menjadi ancaman serius bagi yang masih berusia produktif. Pada dasarnya, penyakit stroke adalah kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke otak terganggu atau berkurang akibat penyumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Tindakan penanganan yang cepat sangat diperlukan untuk mengurangi kerusakan otak dan timbulnya komplikasi.

Jika sudah terjadi komplikasi maka akan membahayakan nyawa seseorang. Komplikasi yang muncul akibat stroke di antaranya adalah deep vein thrombosis atau penggumpalan darah di tungkai yang mengalami kelumpuhan, hidrosefalus atau komplikasi yang terjadi akibat menumpuknya cairan otak di dalam rongga otak (ventrikel).

Pengobatan penyakit kritis

Pengobatan medis pada orang yang sudah terkena penyakit kritis bersifat wajib. Karena jika tidak ditangani dengan tindakan medis yang tepat, penyakit tersebut dapat merenggut nyawa seseorang.

Baca juga: Cegah Kebangkrutan Keluarga Akibat Penyakit Kritis dengan Langkah Ini

Biaya perawatan medis untuk menangani penyakit kritis juga terkenal mahal. Seseorang harus merogoh ratusan juta rupiah untuk biaya pengobatan penyakit kelas berat ini.

Katadata mencatat, biaya operasi bypass jantung pada penderita kardiovaskular mencapai Rp150 juta hingga Rp300 juta. Sedangkan biaya pemasangan ring jantung biayanya mencapai Rp50 juta hingga Rp100 juta. Biaya perawatan penyakit kanker juga sangat besar antara Rp102 juta hingga Rp106 juta per bulan.

Meskipun biaya yang harus dikeluarkan sangat mahal, pengobatan penyakit kritis tetap harus dilakukan. #AmitAmit kalau sampai terkena penyakit kritis dan pengobatan terhambat karena biaya. Untuk itu, kita semua harus siap dengan memiliki asuransi penyakit kritis.

Kenapa begitu?

Dengan asuransi penyakit kritis, Anda tidak harus takut akan menjadi beban bagi keluarga tersayang, karena jika #AmitAmit Anda terkena penyakit tersebut, perusahaan asuransi jiwa akan memberkan Uang Pertanggungan yang dapat Anda pakai untuk biaya perawatan.

Salah satu produk asuransi penyakit kritis yang bisa dimiliki adalah Flexi Critical Illness dari Astra Life. Produk asuransi ini akan memberikan perlindungan atas tiga penyakit kritis yang paling sering menyerang usia produktif, yaitu stroke, jantung, kanker termasuk kanker tahap awal. Flexi Critical Illness memberikan Uang Perlindungan hingga Rp2 Miliar tanpa perlu cek medis.

Baca juga: Mencari Asuransi Penyakit Kritis yang Tepat? Cek 4 Jurus Ini!

Dalam berasuransi, Anda tidak perlu takut untuk berkomitmen panjang, seperti harus membayar premi hingga 10 tahun kedepan. Karena dengan Flexi Critical Illness, Anda dapat memiliki asuransi kesehatan yang dapat dibayar per-tahun hingga Anda berusia 85 tahun. Anda juga bisa #AturSendiri harga premi dan besar Uang Perlindungan yang akan Anda dapatkan kapanpun Anda mau, sehingga asuransi Anda sesuai dengan kebutuhan di setiap tahapan hidup Anda.

Kini, Anda tak perlu lagi khawatir dengan risiko biaya pengobatan yang besar akibat penyakit kritis. Penyakit kritis memang patut diwaspadai, namun tak perlu dikhawatirkan, karena Anda bisa menghindari risiko pengeluaran yang besar dengan memiliki asuransi penyakit kritis.

Related Posts

Ayo, Keluar dari Beban yang Ganggu Kesehatan Mental Kamu

Pagi ini, kamu bangkit dari tempat tidur dengan enggan dan tidak ada hal yang membuatmu bersemangat ketika membayangkan ...

Menikah saat Pandemi, Apa Saja Finansial dan Protokol Kesehatan yang Harus Disiapkan?

“Saya sudah membayangkan pernikahan yang saya impikan dari tahun sebelumnya. Tapi, begitu ada pandemi, impian itu haru...

Pilih Masker atau Face Shield? Ini yang Perlu Kamu Pahami

Efektivitas masker menghalau virus corona sudah terbukti. Banyak penelitian yang membuktikan masker penutup wajah efekti...




« | »
Read previous post:
Penyakit Kritis
Cegah Kebangkrutan Keluarga Akibat Penyakit Kritis dengan Langkah Ini

International Health Metrics Monitoring and Evaluation (IMHE) pada 2017 mengungkapkan, penyakit kritis yang menjadi penyebab utama kematian di Indonesia adalah stroke, diikuti...

Close