Waspada Sedentary Lifestyle, Gaya Hidup Kurang Gerak di Kala Pandemi

Gaya hidup kurang gerak atau sedentary lifestyle selama pandemi bisa menjadi masalah kesehatan. Untuk menghindarinya, kamu perlu work-life balance.

Waspada Sedentary Lifestyle, Gaya Hidup Kurang Gerak di Kala Pandemi

Waspada Sedentary Lifestyle, Gaya Hidup Kurang Gerak di Kala Pandemi

Hindari bahaya kurang gerak selama pandemi yang dapat menimbulkan penyakit di kemudian hari.

Gaya hidup kurang gerak atau yang dikenal dengan nama sedentary lifestyle menjadi masalah kesehatan besar selama pandemi virus corona melanda. Ulasan dari Harvard Health Publishing yang diterbitkan Harvard Medical School menjelaskan, kehidupan tanpa banyak bergerak dapat mempengaruhi kesehatan dengan cara yang tidak kita sadari.

Menurut penelitian yang dilakukan Harvard terhadap lebih dari 15.000 orang menunjukkan bahwa orang yang paling banyak menonton televisi memiliki risiko 70% lebih besar untuk menderita trombosis vena, yaitu pembekuan darah yang berpotensi fatal di pembuluh darah dalam di kaki dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah atau jarang menonton TV.

Bahaya sedentary lifestyle juga dipertegas dalam penelitian yang dilakukan oleh The Sedentary Behavior Research Network (SBRN) pada tahun 2017. Sedentary lifestyle yang biasanya hanya duduk dan berbaring hanya membakar energi yang sangat rendah.

Pengukuran pengeluaran energi mengacu pada ekuivalen metabolik (MET), di mana aktivitas yang mengeluarkan energi 1,5 MET atau kurang disebut sebagai aktivitas tidak banyak bergerak. Berdasarkan riset SBRN, hanya 21% orang dewasa yang memenuhi kriteria melakukan aktivitas fisik, sementara kurang dari 5% melakukan aktivitas fisik selama 30 menit per hari.

Masalah kesehatan akibat sedentary lifestyle

Penelitian juga menunjukkan bahwa menjalani gaya hidup kurang gerak dapat menyebabkan masalah kesehatan berikut:

Obesitas

Obesitas sering kali terjadi karena kalori yang masuk lebih banyak daripada yang dibakar melalui olahraga dan kegiatan normal sehari-hari. Obesitas terjadi ketika indeks massa tubuh (IMT) seseorang adalah 30 atau lebih besar dari IMT yang normal, yaitu 18,5 sampai 25. Gejala utama obesitas adalah kadar lemak tubuh yang berlebihan, yang meningkatkan risiko timbulnya masalah kesehatan lain yang serius. 

Sejumlah penelitian di atas menunjukkan bahwa kita perlu memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan, atau work-life balance untuk mencegah sedentary lifestyle.

Diabetes tipe 2

Diabetes tipe 2 merupakan kondisi kronis di mana kadar gula atau glukosa dalam darah melebihi batas normal, yang disebabkan oleh gaya hidup. Pada orang dengan diabetes tipe 2, tubuh tidak memproduksi cukup insulin untuk membuat kadar gula darah normal. Gejala diabetes tipe 2 berupa rasa haus yang meningkat, sering buang air kecil, lapar, lelah, dan penglihatan kabur. Pada beberapa kasus, diabetes tipe 2 ada juga yang tidak memiliki gejala.

Penyakit kardiovaskuler

Penyakit kardiovaskular terjadi karena adanya gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Penyakit jantung dan stroke merupakan dua penyakit kardiovaskuler yang paling banyak dikenal, namun ada juga penyakit kardiovaskuler yang lain.

Kematian dini

Sedentary lifestyle juga bisa mengakibatkan kematian dini. Tubuh yang tidak aktif  dalam waktu lama dapat mengurangi metabolisme dan mengganggu kemampuan tubuh untuk mengontrol kadar gula darah, mengatur tekanan darah, dan memecah lemak. Satu studi bertajuk Sedentary Behaviors and Subsequent Health Outcomes in Adults menganalisis data yang dikumpulkan selama 15 tahun dan menemukan bahwa gaya hidup menetap ada kaitannya dengan peningkatan risiko kematian dini.

Kesehatan mental

Fakta lainnya, gaya hidup kurang gerak juga berdampak negatif pada kesehatan mental. Kombinasi dampak fisik dan mental terhadap kesehatan membuat gaya hidup kurang gerak menjadi bermasalah. Satu penelitian berjudul Physical Activity, Sedentary Index, and Mental Disorders in the SUN Cohort Study menunjukkan bahwa gaya hidup yang kurang gerak meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental. Perilaku sedentary lifestyle pun ternyata meningkatkan risiko depresi.

Pentingnya work-life balance

Sejumlah penelitian di atas menunjukkan bahwa kita perlu memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan, atau work-life balance untuk mencegah sedentary lifestyle. Gaya hidup yang lebih aktif secara signifikan dapat mengurangi masalah kesehatan yang timbul akibat sedentary lifestyle.

Salah satu cara untuk mencapai work-life balance adalah dengan mengurangi jumlah waktu yang dihabiskan untuk duduk dan menambah waktu olahraga. Menurut 2008 Physical Activity Guidelines for America, yakni panduan gaya hidup sehat yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat (AS), orang dewasa setidaknya harus melakukan 150 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang setiap minggu.

Di sisi lain, melakukan gerakan ekstra di siang hari juga berdampak positif mengurangi sedentary lifestyle. Misalnya, berdiri lebih banyak dapat membantu kamu menurunkan berat badan. Kegiatan sehari-hari yang melibatkan lebih banyak berjalan juga dapat membangun otot kakimu sehingga bisa membantu hidup lebih lama.

Di samping olahraga, ada lima hal yang bisa kamu lakukan agar work-life balance dapat tercapai:

1. Prioritaskan self wellness

Ketika pekerjaan dan kehidupan pribadi mulai tumpang tindih, ada baiknya untuk mulai menginvestasikan waktu lebih terhadap kesehatan diri baik itu kesehatan fisik, mental, atau sosial. Dengan memberikan perhatian lebih terhadap self wellness, maka aktivitas sehari-hari akan lebih mudah dan enak untuk dilakukan.

2. Berlaku simpel

Dalam keadaan yang tidak menentu seperti ini, sebaiknya jangan mempersulit apa yang dilakukan. Jadikan semuanya lebih simpel mulai dari jadwal, aktivitas, dan hal-hal lainnya yang menyangkut pekerjaan maupun pribadi. Pembagian beban kerja yang lebih efektif dengan rekan kerja dan tim juga bisa menjadi solusi terbaik.

3. Makan makanan sehat

Dengan memakan makanan yang lebih sehat, telah terbukti dapat memperbaiki mood dan juga mengurangi stres akibat pekerjaan. Gantilah makanan yang tinggi gula dengan sayuran atau buah-buahan.

4. Coba kebiasaan baru

Ubah kebiasaan lama kamu, dan bentuk ulang kebiasaan baru di masa new normal, seperti tetap berpakaian selayaknya pergi ke kantor meskipun harus bekerja dari rumah. Selain itu, jadwalkan makan siang dan ambil istirahat sebentar untuk sekedar meregangkan otot dan menghirup udara segar.

5. Prioritaskan kesehatanmu

Di saat pandemi seperti sekarang, kesehatan harus menjadi prioritas utama kamu. Sebab, semakin banyak hal mulai dari klien, keluarga, rekan kerja yang mungkin lebih bergantung kepada kamu dibanding biasanya. Belum lagi jika ditambah beban pribadi yang dapat menguras tenaga dan pikiran yang bisa menyebabkan kesehatan terganggu.

Untuk melindungi diri dari risiko finansial karena sakit, lindungi kesehatanmu dengan produk asuransi kesehatan yang sesuai. Salah satu asuransi kesehatan yang bisa kamu jadikan pilihan adalah Flexi Health dari Astra Life. Perlindungan kesehatan dengan santunan rawat inap harian hingga Rp1 juta per hari yang bisa double claim.

Berguna untuk meringankan beban finansial dari berbagai biaya tak terduga ketika dirawat di rumah sakit. Jadi, tunggu apalagi? Saatnya tinggalkan sedentary lifestyle dan mulai kebiasaan baru yang lebih sehat dan seimbang bersama Flexi Health. Jangan lupa ikuti juga tips seputar gaya hidup sehat dan asuransi dengan follow Instagram @astralifeid. #iGotYourBack

Artikel Lainnya

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Subscribe ke LoveLife Daily Blog untuk mendapatkan newsletter artikel ter-update!

Selamat Anda telah tergabung menjadi subscriber blog LoveLife

Terdapat kesalahan dari permintaan anda. Mohon coba lagi.

Love Life will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.