5 Langkah Exit Strategy Seorang Open-Faced Sandwich Generation

Bagaimana jika hidup mengharuskanmu menjadi bagian dari open-faced sandwich generation? Sebuah generasi di usia sekitar 20-30 tahun yang harus membantu orang tua menanggung biaya yang diperlukan oleh orang tua atau kakak dan adiknya.  Apakah kamu siap menjalaninya?

Durasi baca: 5 menit

5-Langkah-Exit-Strategy-Seorang-Open-Faced-Sandwich-Generation

5 Langkah Exit Strategy Seorang Open-Faced Sandwich Generation

Bagaimana jika hidup mengharuskanmu menjadi bagian dari open-faced sandwich generation? Sebuah generasi di usia sekitar 20-30 tahun yang harus membantu orang tua menanggung biaya yang diperlukan oleh orang tua atau kakak dan adiknya.  Apakah kamu siap menjalaninya?

Durasi baca: 5 menit

Belakangan ini, pembahasan mengenai generasi sandwich menjadi hal yang menarik untuk didiskusikan. Tak hanya masalah keuangan seputar biaya-biaya, tetapi juga masalah tekanan batin yang dialami oleh generasi ini pun turut menjadi keprihatinan berbagai kalangan. Bayangkan saja, di tengah situasi pandemi yang tak menentu seperti ini, memikul beban biaya beberapa generasi sekaligus pasti tidaklah mudah.

Mengenal Open-Faced Sandwich Generation

Bagi mereka yang sudah ada di usia matang, dengan kestabilan karier dan penghasilan, tantangan menjadi generasi sandwich mungkin bisa mereka atasi dengan baik. 

Namun sayangnya, tuntutan hidup tak pernah mengenal usia, betul? Tak jarang, tantangan ini harus dihadapi oleh mereka yang masih berusia relatif muda, yang saat ini justru mendominasi jumlah penduduk di Indonesia. 

Menurut data dari survei KIC-Astralife yang dilakukan bulan September 2021 lalu, prevalensi open faced sandwich menempati urutan kedua terbanyak dari jumlah responden generasi sandwich, yaitu sebesar 14,2%, dengan proporsi terbesar terdiri atas para Gen Y.

Kondisi ini bisa dibayangkan cukup rumit, lantaran selain harus fokus mengembangkan kariernya, mereka juga harus fokus membiayai orang tua atau kakak dan adiknya. Apakah kamu bisa membayangkan rumitnya kondisi tersebut? Inilah yang harus dihadapi oleh open-faced sandwich generation.

Apa Itu Open-Faced Sandwich Generation?

Open-faced sandwich generation adalah jenis lain dari generasi sandwich, selain traditional sandwich generation dan juga club sandwich generation. Open-faced sandwich generation merupakan mereka di kisaran usia 20 hingga 30 tahun yang selain harus berfokus pada karier dan pekerjaannya, juga harus membantu keuangan keluarga. Dalam hal ini, mereka membiayai orang tua atau kakak-adiknya. Dikarenakan tanggungannya yang berjumlah 1 lapis, makanya mereka diibaratkan seperti open-faced sandwich

Menurut temuan dari KataData Insight Center (KIC) dan Astra Life, ternyata ada varian lain dari open-faced sandwich generation, yakni extended open-faced sandwich generation. Mereka adalah para open-sandwich generation dengan beban ekstra yang harus menanggung kerabat lain di luar orang tua dan kakak/adiknya. 

Kondisi inilah yang membuat mereka wajib mengelola pikiran, tenaga, dan keuangannya dengan sangat baik.

Tantangan Open-Faced Sandwich Generation

Mungkin saat ini kamu sudah bisa membayangkan bagaimana rumitnya menjalani hidup sebagai open-faced sandwich generation. Namun, untuk memberikan gambaran fenomena ini dengan lebih utuh, simak ilustrasi berikut: 

Romi adalah pemuda berusia 24 tahun yang memiliki latar belakang pendidikan S-1 akuntansi. Saat ini, ia bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta dengan penghasilan yang cukup. Gajinya memang di atas UMR, namun bukan termasuk nominal yang istimewa. 

Di rumah, ia tinggal bersama kedua orang tuanya. Ayahnya adalah seorang guru di sekolah swasta yang tak lama lagi pensiun dan ibunya tidak bekerja, alias ibu rumah tangga. Bukan hanya kedua orang tuanya, ia juga tinggal bersama adiknya – Rini (19 tahun) dan kakaknya – Danu (28 tahun). 

Romi merasa senang bisa hidup dekat dengan keluarganya. Meski demikian, ia saat ini berada dalam situasi yang rumit. Ia harus membantu orang tuanya dalam menanggung biaya kehidupan adiknya yang masih kuliah, dan juga kakaknya, yang baru terkena PHK dan tidak memiliki tabungan.

Dalam hati kecilnya, tentu Romi merasa bahwa ini bukanlah situasi yang ideal baginya. Alih-alih dapat menyisihkan uang gajinya untuk ditabung, kadang ia merasa bahwa ia tidak bisa menikmati hasil keringatnya sendiri. Ia harus menyisihkan sejumlah uang untuk membantu membiayai kehidupan adik dan kakaknya. Bahkan, sepulang kerja, kadang ia harus mencari pekerjaan tambahan agar bisa menghasilkan pendapatan ekstra. 

Di usianya yang masih muda, ia harus bekerja keras dan berjuang tanpa lelah.   

Benar bahwa cerita di atas adalah sebuah ilustrasi belaka. Namun, open-faced sandwich generation maupun extended open-faced sandwich generation ini bukanlah fenomena fiktif yang mengada-ada, lho. Banyak anak muda sekarang yang berada dalam situasi ini. Di saat mereka harus menyiapkan masa depannya dengan sebaik-baiknya, mereka juga harus dapat membantu menyejahterakan keluarganya. Kondisi yang tak mudah untuk dijalani, bukan?

Cara Memutus Rantai Open-Faced Sandwich Generation

Seperti kategori sandwich generation lainnya, meski terasa sulit dan menantang untuk dilalui, rantai open-faced sandwich generation harus segera diakhiri. 

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik RI, Angka Harapan Hidup (AHH) masyarakat Indonesia pada tahun 2020 adalah 73,4 tahun bagi wanita dan 69,5 tahun bagi pria. Data ini menunjukkan bahwa dalam 3 tahun terakhir, AHH yang kita miliki teruslah meningkat. 

Nah, tren meningkatnya harapan hidup masyarakat ini mengingatkan kita untuk terus berusaha memutus rantai sandwich generation secepatnya. Kita tidak mau kondisi ini terus mengakar dalam keluarga dan membuatnya turun-temurun. 

Coba bayangkan jika kita hidup sampai usia 75 tahun. Itu artinya, dengan anggapan kita pensiun di usia 60 tahun, maka kita akan hidup selama 15 tahun dengan hanya mengandalkan uang pensiun. Jika tidak memiliki persiapan yang matang, alih-alih memutus rantai sandwich generation, kita justru akan memunculkan generasi sandwich lainnya di dalam keluarga.

Pertanyaannya sekarang, bisakah kita memutus rantai open-faced sandwich generation

Bisa! Di bawah ini adalah 4 hal yang setidaknya bisa kamu lakukan untuk memutus rantai open-faced sandwich generation. Baca ulasannya sampai akhir, ya.

1. Edukasi Dirimu Sebaik Mungkin, Sedini Mungkin

Kesalahan utama anak muda yang terjebak dalam open-faced sandwich generation adalah pasrah dengan keadaan. Mereka beranggapan bahwa apa yang terjadi adalah takdir yang tidak bisa diubah. Hal ini adalah kesalahan yang besar. Meski makin banyak orang yang terjebak dalam sandwich generation, tak sedikit dari mereka yang berhasil keluar dari impitan tersebut, lho. 

Mumpung masih muda, bekali dirimu dengan banyak pengetahuan dan keterampilan kehidupan. Pelajari hal-hal positif yang mendukung pengembangan karier, keuangan, kesehatan, dan hal-hal penting lainnya. Dengan bekal pengetahuan dan kemampuan yang baik, kamu akan memiliki kesempatan untuk hidup dengan bahagia dan sejahtera. 

Jadi, tunggu apa lagi? Miliki komitmen diri untuk membekali diri dengan pengetahuan sebaik dan sedini mungkin, ya!

2. Mulai Berinvestasi Sejak Dini

Secara umum, bisa kita lihat bahwa tak banyak generasi muda yang melek investasi. Beberapa dari mereka cenderung cuek atau bahkan belum mengerti seluk beluk serta keuntungan investasi.

Kalau kamu termasuk dalam kategori di atas, pelajari dan mulailah berinvestasi dari sekarang. Dengan melakukannya, kamu akan mendapatkan beragam keuntungan. Misalnya, kamu akan membentuk kebiasaan menyusun manajemen keuangan yang baik buat masa depan. Selain itu, kamu juga bisa meningkatkan nilai aset dan kekayaanmu, sekaligus terhindar dari inflasi. Asyik, ‘kan?

Bahkan, dengan investasi yang baik, kamu juga bisa meningkatkan peluang untuk meraih kebebasan finansial di masa depan, lho. Tentu hal ini akan membantumu dalam memutus rantai open-faced sandwich generation. Beberapa instrumen investasi yang bisa kamu coba sebagai pemula di antaranya adalah deposito, reksa dana, dan emas.  Jika saat ini kamu masih awam dengan ketiga instrumen itu, tidak ada salahnya mulai mencari tahu dari sekarang ya.

3. Bantu Orang Tua Mempersiapkan Masa Pensiunnya

Kondisi ketika orang tua tidak mempersiapkan masa pensiunnya dengan baik menjadi salah satu alasan utama munculnya generasi sandwich. Ketidakmampuan orang tua untuk hidup mandiri secara finansial setelah pensiun, kerap membuat anak menanggung beban finansial tambahan. Namun, menyalahkan orang tua akan hal ini tentu bukanlah hal yang bijak.

Lalu, apa yang sebenarnya bisa kita lakukan? 

Bantulah orang tua kita dalam menyiapkan masa pensiunnya dengan baik. Salah satu caranya adalah dengan menyadarkan orang tua kita akan pentingnya memiliki asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Seperti yang kita tahu, kondisi sakit atau kehilangan yang seseorang alami kadang menjadi salah satu risiko keuangan besar bagi dirinya dan juga keluarga. Apalagi, saat ini kita sedang menghadapi masa pandemi dan juga biaya kesehatan makin tinggi.

Bayangkan jika orang tua sakit tanpa memiliki asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Bisa jadi, tujuan atau rencana keuangan keluarga berantakan. Inilah yang pada akhirnya menjadi pemicu munculnya generasi sandwich.

4. Menjalani Hidup bersama Pasangan Terbaik

Ketika kita sudah menikah dan memiliki anak, cepat atau lambat anak-anak akan meninggalkan kita saat dewasa nanti. Mereka akan berkeluarga dan menjalani hidupnya sendiri. Maka dari itu, memilih pasangan yang terbaik untuk mendidik anak bersama-sama dan menyiapkan hari tua adalah salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk memutus rantai sandwich generation.

Ketika kita memiliki pasangan yang satu visi dengan kita, maka kelak kita akan bisa menghadapi beragam tantangan bersama. Kita akan dapat menyelesaikan masalah-masalah dalam hidup, termasuk masalah pengelolaan keuangan – salah satu faktor munculnya sandwich generation

Jika saat ini kamu belum menikah, mulailah memilih pasangan yang memiliki visi denganmu. Jika kamu sudah menikah, tak ada salahnya untuk menyatukan kembali visimu dan merencanakan masa depan bersama dengan sebaik-baiknya. . Setelahnya, pastikan juga kamu mengomunikasikan tujuan dan rencanamu itu pada orang tua ya. Komunikasi yang baik antara pasangan dan orang tua juga jadi elemen penting dalam membuat rencana keluarga, serta memutus rantai sandwich generation.

5. Miliki Asuransi sebagai Proteksi Diri

Upaya lain yang dapat kamu lakukan sebagai seorang open-faced sandwich generation adalah dengan memproteksi diri dan keluargamu dengan asuransi. Sebagai pencari nafkah utama, maka sangat penting bagi sandwich generation tipe apapun untuk memiliki asuransi. Jenis asuransi yang disarankan untuk tipe open-faced sandwich generation adalah asuransi jiwa untuk melindungi biaya kehidupan pasangan dan orang tua yang ditinggalkan, serta asuransi kesehatan dan penyakit kritis untuk melindungi aset supaya tidak tergerus biaya kesehatan apabila harus menjalani perawatan kesehatan.

Sedangkan, untuk extended open-faced sandwich generation, kamu dapat menambahkan asuransi jiwa untuk melindungi kakak ataupun adik yang ditanggung dengan rasio uang pertanggungan (UP) yang lebih kecil dibanding UP asuransi jiwa untuk melindungi pasangan dan orang tua.

Astra Life memiliki beragam produk asuransi jiwa yang bisa kamu pilih, misalnya Flexi Life yang akan membayarkan 100% UP apabila pihak yang diasuransikan meninggal dunia. Hanya dengan membayarkan uang premi mulai dari Rp58.000,- per tahun, Flexi Life bisa memberikan UP hingga Rp5.000.000.000,-. Nilai UP, masa pertanggungan, dan masa pembayarannya pun dapat diubah sesuai dengan kebutuhan. Ditambah lagi, kamu tidak perlu melakukan pemeriksaan medis untuk membeli polis Flexi Life. Menarik sekali, ‘kan?

Menjadi bagian dari open-faced sandwich generation memang penuh tantangan. Tapi yakinlah bahwa kamu bisa menghadapi dan melewati semua tantangan ini dengan baik. Ingat, selain persiapan pengetahuan dan persiapan mental, perhatikan juga fisikmu dengan baik, ya.

Jika setelah membaca ulasan ini kamu merasa adalah bagian dari open-faced sandwich juga, maka barangkali kamu bisa memastikannya dengan mengenali tipe sandwich generation apakah kamu pada tautan ini. Dengan mengenali tipe sandwich generation-mu, pastinya akan lebih mudah untuk mengambil keputusan ke depannya.

Untuk mengetahui manfaat lengkap layanan Astra Life, kunjungi laman astralife.co.id dan ilovelife.co.id.. Jangan lupa follow Instagram @AstraLifeID untuk terus tahu informasi dan berbagai tip bermanfaat.

Urusan Sehat Jadi Tenang. #IGotYourBack.

Artikel Lainnya

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!