Inilah 7 Daftar Hoax Seputar Vaksin yang Wajib Kamu Waspadai

Di pandemi yang ada ternyata hoax seputar vaksin terus berkembang di masyarakat. Apa saja daftar hoax yang ada dan bagaimana sebenarnya fakta dibaliknya?

Hoax Seputar Vaksin

Inilah 7 Daftar Hoax Seputar Vaksin yang Wajib Kamu Waspadai

Di pandemi yang ada ternyata hoax seputar vaksin terus berkembang di masyarakat. Apa saja daftar hoax yang ada dan bagaimana sebenarnya fakta dibaliknya?

Tren angka kasus positif Covid-19 yang kembali meroket akhir-akhir ini mengingatkan kita bahwa pandemi di Indonesia masih belum berakhir. Hal ini membuat pemerintah terus melakukan serangkaian upaya demi memperlambat dan menghentikan laju penyebaran virus. Pelaksanaan program Vaksinasi Nasional menjadi salah satunya. Sayangnya, bergulirnya beragam hoax dan isu negatif seputar vaksin justru memunculkan banyak keraguan di tengah masyarakat.

hoax seputar vaksin kerap kita temui di media sosial. Bahkan, seperti dilansir dari liputan6.com, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melaporkan bahwa hingga 25 Juni 2021 setidaknya ada 1.723 konten hoax vaksin covid-19 yang menyebar di berbagai platform media sosial. Hal ini tentu sangat disayangkan karena kalau kita tidak bijak menerima dan memilah informasi, kita akan mendapatkan pemahaman yang salah seputar vaksin Covid-19.

Mengenal Cara Kerja Vaksin

Sebelum membahas tentang daftar hoax dan fakta seputar vaksin Covid-19, secara singkat mari berkenalan dengan cara kerja vaksin. 

Sama halnya dengan vaksin pada umumnya, vaksin Covid-19 berfungsi untuk membantu sistem kekebalan tubuh. Setelah divaksin, tubuh kita akan menghasilkan antibodi. Antibodi inilah yang nantinya akan membuat tubuh kita mampu mengenali dan melawan virus yang masuk. Alhasil, tidak hanya mencegah gejala berat yang disebabkan oleh virus Covid-19, vaksin juga diharapkan bisa memunculkan Herd Immunity yang berpotensi membuat pandemi segera berakhir.

Daftar 7 Hoax Seputar Vaksin Covid-19

1. Vaksin Covid-19 Mengandung Magnet Microchip

Jagat media sosial sempat diramaikan dengan video yang memperlihatkan menempelnya uang logam pada lengan seseorang, tepat di titik dimana ia disuntik vaksin Covid-19. Isu bahwa vaksin Covid-19 mengandung magnet microchip pun segera tersebar. 

Faktanya hal ini merupakan hoax karena seperti dilansir dari situs covid19.go.id, vaksin tidak mengandung logam, melainkan berisi protein, garam, lipid, dan pelarut. Adapun dosis yang disuntikan hanya 0.5cc dan akan segera menyebar di seluruh jaringan sekitar, sehingga tak ada cairan yang tersisa. Selain itu, Prof. Wiku Adisasmito – Koordinator Tim Pakar dan Jubir Pemerintah Penanganan Covid-19, juga menekankan bahwa koin bisa saja menempel di lengan seseorang karena adanya keringat, bukan karena adanya kandungan logam magnet di dalam vaksin. Uang logam terbuat dari bahan nikel dan nikel bukan bahan yang bisa menempel karena daya magnet.

2. Vaksin Covid-19 Membuat Kita Lebih Mudah Terinfeksi

Dalam sebuah unggahan di Facebook, sebuah akun menulis bahwa tubuh akan lebih mudah terinfeksi virus Covid-19 setelah menerima vaksin pertama. Menurutnya, hal ini terjadi karena imunitas tubuh belum terbentuk sempurna.

Faktanya hal ini merupakan hoax. Menanggapi isu tersebut, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid. menjelaskan bahwa seseorang yang sudah divaksin namun antibodinya belum sempurna, tidak akan lebih rentan terinfeksi, melainkan memiliki risiko yang sama dengan mereka yang belum divaksin. Ia juga menggarisbawahi bahwa vaksin tidak mencegah penularan, namun mengurangi risiko sakit berat akibat paparan virus Covid-19.

3. Vaksin Covid-19 Mempercepat Kematian

Seolah tak mau kalah heboh dengan beragam misinformasi yang ada, tersebar pula hoax yang mengatakan bahwa vaksin Covid-19 mempercepat kematian. Informasi tersebut ditulis sebagai berita eksklusif dari mantan vice president Pfizer yang menyebutkan bahwa pemberian vaksinasi oleh pemerintah ditujukan untuk mengurangi vaksinasi secara besar-besaran.

Faktanya hal ini merupakan hoax karena jelas semua jenis vaksin yang digunakan dalam program vaksinasi telah lulus uji klinis dan dipastikan aman. Jika mempercepat kematian, tentu saja vaksin yang digunakan tidak akan lulus uji klinis, betul? Senada dengan fakta ini, Prof. Hindra Irawan Satari – Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) juga menegaskan bahwa sejauh ini tidak ada orang yang meninggal karena vaksinasi COVID-19.

4. Vaksin Covid-19 Sebabkan Kemandulan

Beredar isu di media sosial Twitter yang menyatakan bahwa vaksin Covid-19 bisa menyebabkan kemandulan pada pria dan juga wanita. Isu ini beredar karena vaksin Covid-19 disebut bekerja dengan menutup akses protein yang membantu pembentukan plasenta pada ibu hamil. Diinformasikan bahwa protein tersebut disebut syncytin-1, yang mana diduga terdapat di vaksin Covid-19 yang dikembangkan. Benarkah hal tersebut?

Jawabannya adalah tidak. Faktanya, hal ini merupakan hoax seperti yang disampaikan Dr. Katherine O’Brien, Direktur program imunisasi WHO: “Vaksin yang diberikan tidak bisa menyebabkan kemandulan. Isu ini juga kerap menyebar pada banyak vaksin lain, namun hal ini tidaklah benar. Tidak ada vaksin yang dapat menyebabkan kemandulan.”

Dikutip dari Healthline, Dr. Jill Rabin – profesor Feinstein Institutes for Medical Research di New York, pun mengatakan hal yang serupa. Ia menekankan bahwa tidak ada bukti nyata jika vaksin Covid-19 berdampak pada kesuburan pria dan wanita.

5. Vaksin Covid-19 Mengubah DNA Manusia

Sebuah unggahan di Instagram dan Facebook ramai menjadi perbincangan setelah menyebutkan bahwa vaksin Covid-19 dapat mengubah DNA manusia. Tak hanya itu, dalam postingan-postingan yang beredar, disampaikan juga bahwa kemampuan mengubah DNA membuat vaksin Covid-19 sangatlah berbahaya untuk manusia. 

Faktanya hal ini merupakan hoax, karena Kominfo, melalui laman resminya, mengklaim bahwa informasi ini adalah hoax. Fakta menyebutkan bahwa tidak ada kandungan dalam vaksin yang mampu berintegrasi dan mengubah DNA manusia secara genetik. Vaksin berfungsi untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh dapat mengenali virus dan patogen yang menginfeksi manusia. Turut disebutkan bahwa Peneliti dari Aliansi Sains Universitas Cornell, Mark Lynas, menyatakan bahwa tidak ada kandungan dalam vaksin yang mampu yang akan mempengaruhi DNA manusia.

6. Vaksin Sinovac Memiliki Efek Samping Memperbesar Kelamin Pria

Sebuah kabar bahwa vaksin Covid-19 dari Cina yaitu Sinovac memiliki efek samping. Disebutkan pada sebuah postingan Twitter membagikan foto artikel koran yang menyebutkan bahwa vaksin Sinovac bisa memperbesar ukuran penis pria, bahkan sampai 3 inci atau lebih dari 7cm.

Faktanya hal ini merupakan hoax. Mengutip dari laman Detik Health, disebutkan bahwa isu ini telah dibantah oleh Jubir vaksinasi Covid dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Tak hanya itu, disebutkan bahwa penelusuran index dari artikel tersebut tidak pernah ada.

7. Vaksin Mengandung Vero Cell dan Bahan Tidak Halal

Sebuah informasi melampirkan kemasan vaksin sinovac yang bertuliskan komposisi dan deskripsi produk yang menuliskan bahwa kandungan di dalam vaksin tersebut berasal dari Vero Cell atau jaringan Kera hijau Afrika. Hal ini lantas membuat masyarakat muslim kaget, karena artinya tidak halal untuk umat Islam. Jadi, bagaimana sebenarnya penjelasan atas berita ini?

Faktanya hal ini merupakan hoax. Berdasarkan informasi yang berasal dari laman Kompas, disebutkan bahwa ahli biologi molekuler Ahmad Rusan Utomo menyebutkan bahwa “Vero” merupakan singkatan dari Verda Reno yang berarti “Ginjal Hijau” yang berasal dari Kerja Hijau.Disebutkan bahwa Sinovac memproduksi vaksin dengan cara menumbuhkannya di sel Vero. Namun, penggunaan Vero Cell ini hanya berfungsi sebagai media kultur untuk tumbuh kembang virus dan memperbanyak virus sebagai bahan baku vaksin. Pada akhirnya Vero Cell tersebut tidak terbawa dalam proses akhir pembuatan vaksin. Seluruhnya menggunakan virus yang sudah dimatikan dan juga tidak mengandung virus hidup yang dilemahkan.

 

Bijak Menghadapi Hoax Seputar Vaksin

Dalam era digital seperti sekarang ini, satu informasi yang muncul di internet bisa dengan cepat menyebar luas ke masyarakat. Tentu hal ini membuat kita harus lebih bijak untuk menyikapi informasi yang kita terima, termasuk beragam informasi seputar vaksin Covid-19. Banyaknya hoax vaksin Covid-19 yang tersebar selama ini membuat masyarakat bingung dan berpotensi memperlambat pelaksanaan program vaksinasi. 

Bukan hanya hoax seputar vaksin, hoax yang mengatakan bahwa pandemi Covid-19 adalah sebuah teori konspirasi pun banyak beredar. Alhasil, banyak kelompok masyarakat yang menyepelekan wabah ini dan cenderung tidak patuh menjaga protokol kesehatan. Padahal, hoax ini telah dibantah oleh para ahli. Salah satunya adalah dr. Reisa Broto Asmoro, anggota tim Komunikasi Percepatan Penanganan Covid-19. 

Dalam salah satu konferensi pers BNPB, ia pernah menekankan:

Saya perlu sampaikan virus ini benar-benar ada, saudara-saudari. Ilmuwan-ilmuwan kita dari Lembaga Biologi Molekuler LBM Eijkman telah memetakan beberapa Whole Genome Sequence atau WGS alias rinci identitas virus dari pasien yang ada di Indonesia. Data ini bermanfaat untuk penelitian lanjut demi mengetahui epidemiologi virus, pengembangan vaksin, dan obat antivirus.

Nah, untuk menghindari hoax, cobalah lakukan 3 cara sederhana ini: 

1.Berhati-hati dengan berita yang memiliki judul provokatif,

2.Menilai kredibilitas sumber informasi, dan

3.Cari tahu fakta lebih mendalam tentang informasi yang tersebar.

Melindungi Diri dan Keluarga Dengan Vaksin

Kita semua pasti ingin pandemi Covid-19 ini segera berakhir, betul? 

Percayalah bahwa selain disiplin diri untuk terus menerapkan protokol kesehatan, program Vaksinasi Nasional menjadi salah satu kunci sukses untuk melindungi diri dari penyebaran Covid-19. Jika belum divaksin, kamu tidak perlu ragu lho untuk segera mendaftarkan diri dan melakukan vaksin.

Jangan khawatir dengan beragam hoax yang beredar di internet karena pemerintah telah menggunakan vaksin Covid-19 yang terbukti aman, telah lulus uji klinis, dan mendapatkan Emergency Use of Authorization (EUA) dari BPOM. Ingat bahwa vaksin tidak hanya melindungi diri sendiri, tapi juga bisa melindungi kerabat dan keluarga kita yang tidak dapat menerima vaksin karena riwayat kesehatannya.

Untuk menambah perlindungan diri dan keluarga, tak ada salahnya juga untuk memiliki asuransi jiwa yang memberi perlindungan dari Covid-19. 

Miliki Flexi Life, asuransi jiwa murni dari Astra Life yang memberikan perlindungan hingga Rp 5 Miliar tanpa perlu cek medis juga mencakup perlindungan atas risiko COVID-19.

Lengkapi juga perlindungan kesehatanmu dengan asuransi tambahan Medicare Premier dari Astra Life, yang memberi jaminan rawat inap dengan fasilitas “one bed one bathroom” serta menanggung biaya perawatan sesuai tagihan RS, sehingga kamu tidak usah khawatir akan inflasi.Untuk info lebih lanjut, yuk kunjungi astralife.co.id dan temukan solusi untuk perlindungan kesehatanmu. Follow juga instagram @AstraLife untuk mendapatkan tips-tips bermanfaat lainnya. Urusan Sehat Jadi Tenang, #iGotYourBack.

Artikel Lainnya

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!