Sering Mendengkur Saat Tidur? Waspadai Obstructive Sleep Apnea

Kamu atau pasangan sering mendengkur saat tidur? Atau sering terbangun pada malam hari? Atau cepat lelah sepanjang hari padahal tidur terasa cukup? Waspadailah gangguan tidur Obstructive Sleep Apnea. Yuk, kenali gejala, risiko, hingga penanganannya!

Durasi baca: 4 menit

Sering-Mendengkur-Saat-Tidur-Waspadai-Obstructive-Sleep-Apnea

Sering Mendengkur Saat Tidur? Waspadai Obstructive Sleep Apnea

Kamu atau pasangan sering mendengkur saat tidur? Atau sering terbangun pada malam hari? Atau cepat lelah sepanjang hari padahal tidur terasa cukup? Waspadailah gangguan tidur Obstructive Sleep Apnea. Yuk, kenali gejala, risiko, hingga penanganannya!

Durasi baca: 4 menit

Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan salah satu jenis gangguan tidur karena adanya obstruksi atau sumbatan pada jalan napas atas. Hal ini membuat orang yang mengalaminya bisa berhenti bernapas dalam waktu sekitar 10-60 detik dan beberapa kali dalam sejam. 

Obstructive Sleep Apnea bisa terjadi berulang yang menyebabkan orang sering terbangun di malam hari dan membuat seseorang merasa lelah meskipun sudah tidur cukup 6-8 jam. OSA ini bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Penyebab Obstructive Sleep Apnea

Secara umum, Obstructive Sleep Apnea terjadi akibat jalan napas yang sempit, biasanya karena jaringan lunak di bagian belakang tenggorokan memblokir saluran napas dan membuat aliran oksigen menurun. Kurangnya oksigen inilah yang menyebabkan otak kamu panik dan akhirnya membangunkan tubuhmu untuk bisa bernapas kembali.

Pada anak-anak, OSA bisa disebabkan karena amandel yang besar atau karena obesitas. Adapun pada orang dewasa, OSA disebabkan oleh orang yang mengalami obesitas dan struktur leher yang pendek dan lebar.

Faktor Risiko Obstructive Sleep Apnea

Berikut ini ada beberapa faktor risiko yang bisa juga meningkatkan terjadinya Obstructive Sleep Apnea, diantaranya adalah:

1. Berat Badan Berlebih

Orang dengan berat badan berlebih atau obesitas lebih berisiko mengalami OSA. Hal yang harus diwaspadai terutama jika ada timbunan lemak di sekitar saluran napas bagian atas yang bisa menghambat pernapasan.

2. Usia Lebih Tua

Orang yang berusia lebih tua juga memiliki risiko OSA lebih tinggi. Namun, pada usia sekitar 60-70 tahun potensi mengalami OSA justru menurun.

3. Jenis Kelamin

Dilihat dari jenis kelamin, seorang pria memiliki kemungkinan mengalami OSA 2 hingga 3 kali lebih tinggi dibandingkan wanita yang belum menopause. Namun, risiko OSA bisa meningkat pada wanita yang telah menopause.

4. Tekanan Darah Tinggi

Risiko terkena OSA juga terjadi pada orang yang memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi. Berdasarkan laporan AHA Journals, separuh dari pasien yang mengalami OSA diketahui juga memiliki hipertensi.

5. Diabetes

Jurnal American College of Chest Physicians mengungkapkan adanya hubungan antara OSA dan orang yang mengidap diabetes tipe 2. Hal itu mengingat neuropati diabetik bisa berpengaruh pada kontrol pusat pernapasan dan refleks saraf saluran napas bagian atas. Hal inilah yang bisa membuat gangguan pernapasan saat tidur.

6. Asma

Penderita asma juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami Obstructive Sleep Apnea.

7. Merokok

Orang yang memiliki kebiasaan merokok meningkatkan risiko mengalami OSA.

8. Faktor Genetik

OSA juga bisa diakibatkan karena faktor genetik, dalam artian jika ada anggota keluarga yang mengalami OSA maka akan ada anggota keluarga lainnya yang juga bisa mengalami OSA.

Gejala Obstructive Sleep Apnea

Meskipun terkait erat dengan gangguan tidur di malam hari, gejala Obstructive Sleep Apnea bisa terlihat pada siang dan malam hari. Berikut gejala OSA yang perlu diwaspadai, baik bagi orang dewasa maupun anak-anak:

Gejala di Siang Hari

– Sakit kepala di pagi hari

– Mulut terasa kering saat bangun tidur 

– Mengantuk di siang hari

– Sulit berkonsentrasi

– Daya ingat menurun

– Mudah marah

– Tiba-tiba tidur saat melakukan kegiatan rutin

Gejala di Malam Hari

– Mendengkur keras secara terus menerus, lebih dari 3 malam per minggu

– Mengalami jeda dalam bernapas

– Tersedak atau terengah-engah

– Suara napas seperti tercekik

– Merasa gelisah saat tidur 

– Sering terbangun untuk ke kamar mandi selama waktu tidur.

Jika kamu atau anggota keluargamu mengalami beberapa gejala di atas dan terjadi berulang ada baiknya segera periksakan diri ke dokter.

Diagnosis Obstructive Sleep Apnea

Mengutip informasi dalam laman resmi Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, gangguan tidur karena OSA dapat didiagnosa oleh dokter menggunakan sleep study atau pengamatan saat tidur.

Seseorang yang diduga mengalami OSA akan diminta untuk tidur semalam di rumah sakit untuk dilakukan polysomnogram yakni mengukur aktivitas dan respons dari berbagai macam sistem organ selama tidur. 

Polysomnogram ini biasanya meliputi EEG yang mengukur aktivitas gelombang otak, EOM yang mengukur pergerakan bola mata, EMG yang mengukur aktivitas otot, EKG yang mengukur irama dan perlistrikan jantung, dan oksimetri yang mengukur kandungan oksigen darah. 

Pemeriksaan OSA di rumah sakit ini juga sangat penting untuk melihat seberapa parah OSA yang dialami.

Cara Menangani Obstructive Sleep Apnea

Secara umum, ada dua hal yang bisa dilakukan untuk menangani seseorang yang telah mengalami OSA. Pertama, melalui intervensi gaya hidup. Kedua, intervensi medis yang dilakukan untuk menjaga jalan napas tetap terbuka selama tidur.

1. Intervensi Gaya Hidup

Jika kamu mengalami OSA, maka kamu perlu melakukan perubahan gaya hidup yang lebih sehat. Penurunan berat badan diperlukan bagi yang memiliki berat badan berlebih. Tidak boleh merokok dan mengkonsumsi alkohol. Tidur dengan posisi berbaring ke samping, baik kanan ataupun kiri. Intervensi gaya hidup bisa dilakukan bagi kamu yang mengalami OSA yang belum terlalu parah.

2. Intervensi Medis

Sementara itu, jika kamu mengalami OSA berat kamu mungkin butuh intervensi medis. Biasanya dokter akan melakukan CPAP (continuous positive airway pressure) untuk memberikan udara tekanan positif ke dalam saluran pernapasan. Penggunaan CPAP ini akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang.

Selain itu ada pula pertimbangan untuk menggunakan alat-alat penyangga oral yang mencegah jatuhnya lidah atau pun rahang ke belakang, yang merupakan salah satu penyebab utama dari sumbatan jalan napas. 

Terakhir, pembedahan juga dimungkinkan sebagai upaya mengobati OSA. Pembedahan ini dilakukan untuk mengangkat jaringan di sekitar tenggorokan untuk melonggarkan jalan napas.

Cara Pencegahan Obstructive Sleep Apnea

Mengingat OSA merupakan gangguan tidur karena adanya sumbatan pernapasan yang bisa terjadi karena beberapa risiko di atas, maka untuk mencegahnya perlu menerapkan gaya hidup sehat, terutama menghindari risiko pencetus sumbatan pernapasan. 

Beberapa pencegahan hal yang bisa kamu lakukan:

  1. Jaga berat badan yang ideal sesuai indeks massa tubuh
  2. Berolahraga dengan teratur
  3. Konsumsi alkohol secukupnya, jika bisa tidak sama sekali. Jangan mengkonsumsi beberapa jam sebelum tidur
  4. Berhenti merokok
  5. Tidur dalam posisi miring, baik ke kanan ataupun ke kiri

Seringkali seseorang yang mengalami OSA tidak menyadarinya di awal sehingga bisa berlangsung selama bertahun-tahun sebelum mendapat diagnosa dari dokter. Jika gangguan tidur ini tidak ditangani atau diobati, maka dalam jangka panjang bisa menyebabkan penyakit lain yang lebih berat seperti jantung, stroke, hingga menyebabkan kematian mendadak.

Oleh karena itu, jika kamu merasakan gejala-gejala di atas dan sudah berulang dalam suatu periode, ada baiknya untuk memeriksakan diri ke dokter. Mencegah tentu akan lebih baik dari pada mengobati. Kalaupun memang ternyata kamu mengalami OSA, jika diketahui lebih cepat maka penanganannya bisa lebih cepat pula.

Jangan pernah menyepelekan masalah gangguan tidur karena jika dibiarkan maka bisa menjadi kebiasaan yang susah diperbaiki. Terus lindungi kesehatan dirimu dan keluarga agar bisa menikmati kebersamaan dalam waktu yang panjang.

Kamu juga bisa menambah perlindungan diri dan keluarga dengan asuransi kesehatan. Ada beberapa pilihan asuransi dari Astra Life yang bisa kamu pertimbangkan.

Pertama, Flexi Health.

Asuransi kesehatan ini memberikan santunan rawat inap hingga Rp1 juta per hari. Asuransi ini cocok untuk melengkapi asuransi kesehatan dari kantor atau BPJS Kesehatan agar finansialmu tidak terganggu akibat biaya tak terduga selama menjalani perawatan di rumah sakit.

Kedua, Flexi Critical Illness.

Produk asuransi ini bisa memberikanmu perlindungan dari penyakit kritis seperti stroke, jantung, kanker, dan kanker tahap awal tanpa perlu melakukan cek medis. Asuransi penyakit kritis ini juga dirancang sesuai kebutuhanmu dan bisa kamu #Atur Sendiri. Nilai perlindungan yang diberikan bisa hingga Rp2 miliar.

Untuk kamu yang ingin mengetahui lebih lengkap terkait Flexi Health atau Flexi Critical Illness, kamu bisa langsung kunjungi ilovelife.co.id. Follow juga Instagram @astralifeid untuk mendapatkan tips-tips bermanfaat lainnya. Urusan Sehat Jadi Tenang, #iGotYourBack.

Artikel Lainnya

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!