Waspadai Obesitas Saat WFH, Begini Cara Mengatasinya

Kementerian Kesehatan RI mencatat kasus obesitas di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Penting untuk mewaspadai obesitas saat WFH.

Waspadai Obesitas Saat WFH

Waspadai Obesitas Saat WFH, Begini Cara Mengatasinya

Kementerian Kesehatan RI mencatat kasus obesitas di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Penting untuk mewaspadai obesitas saat WFH.

Adakah yang merasa berat badan selama pandemi meningkat dibandingkan biasanya? Tak dapat dipungkiri, makanan menjadi salah satu pelarian bagi sebagian orang dalam menghilangkan rasa bosan selama di rumah saja, apalagi bagi orang yang bekerja dari rumah (WFH). Dengan tingkat stress yang tinggi tetapi tak bisa kemana-mana, makanan menjadi andalan untuk menghibur diri. Tentu saja hal itu boleh dilakukan asal jangan berlebihan. Jika terus diikuti, maka kamu perlu waspada dengan risiko kenaikan berat badan hingga obesitas selama WFH. Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Di Indonesia, kasus berat badan berlebih hingga obesitas masih menjadi salah satu masalah gizi utama selain kekurangan gizi. Masalah ini memang telah terjadi sebelum masa pandemi datang. Namun, kondisi pembatasan aktivitas selama pandemi rentan membuat masalah obesitas semakin meningkat.

Kementerian Kesehatan RI mencatat kasus obesitas di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Sebanyak 1 dari 3 orang dewasa di Tanah Air tercatat mengalami obesitas. Sementara itu, 1 dari 5 anak usia 5-12 tahun juga tercatat mengalami berat badan berlebih. Kasus obesitas ini terutama banyak dijumpai di masyarakat perkotaan.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa masalah kenaikan berat badan pada orang dewasa meningkat hampir dua kali lipat menjadi 35,4% pada 2018 dari 19,1% pada 2007. Tak hanya di Indonesia, masalah obesitas pun menjadi masalah global. Tercatat ada lebih dari 800 juta orang di dunia mengalami obesitas, seperti dikutip dari Antara.

Memahami Obesitas

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan obesitas sebagai kondisi seseorang yang mengalami penumpukan lemak berlebihan akibat ketidakseimbangan asupan energi dengan energi yang digunakan dalam waktu lama.

Ukuran seseorang dikatakan obesitas atau tidak salah satunya adalah dengan melihat indeks massa tubuh (IMT) yaitu sebuah indeks yang mengukur perbandingan antara berat badan terhadap tinggi badan. Secara umum, seseorang dikatakan masuk kategori obesitas ketika IMT berada di atas 25.

Menghitung Indeks Masa Tubuh

Lalu bagaimana cara menghitung indeks massa tubuh atau IMT? Berdasarkan definis di atas maka IMT bisa dihitung dengan membagi berat badan seseorang dalam satuan Kg dibagi tinggi badan dalam satuan M². Misalnya kamu memiliki berat badan 75 kg dengan tinggi badan 155 cm. Maka, cara menghitung IMT kamu adalah 75 x (1,55)² = 31,22. Artinya, IMT kamu sudah jauh di atas 25 dan masuk dalam kategori obesitas.

Adapun, klasifikasi obesitas juga sedikit berbeda antara nasional dan WHO.

Berikut data yang diperoleh dari situs Kementerian Kesehatan:

Penyebab Terjadinya obesitas

Mengapa obesitas bisa terjadi? Banyak faktor yang menyebabkannya mulai dari faktor genetik, pola hidup tak sehat, hingga obat-obatan dan hormonal. Berikut penjelasannya:

1. Faktor Genetik

Obesitas ternyata bisa terjadi juga karena faktor genetik. Jika salah satu orang tua mengalami obesitas, maka anak-anaknya memiliki peluang mengalami obesitas juga hingga 40%-50%. Sementara itu jika kedua orang tuanya obesitas maka peluang keturunannya mengalami hal yang sama juga meningkat menjadi 70%-80%.

2. Pola Makan Berlebih

Jika kamu memiliki kebiasaan mengkonsumsi makanan dengan kepadatan energi yang tinggi seperti tinggi lemak, gula, serta kurang serat secara berlebihan maka hal tersebut dapat menyebabkan ketidakseimbangan energi dalam tubuh. Selama WFH, pola makan berlebih ini juga rentan terjadi. Siapa yang suka merasa tak lengkap jika bekerja di rumah tanpa kehadiran stok camilan?

3. Kurangnya Aktivitas Fisik

Selain itu, pola aktivitas fisik sedentary alias kurang gerak sangat rentan membuat kamu mengalami berat badan berlebih hingga obesitas karena energi yang masuk tidak dikeluarkan secara maksimal. Apalagi jika kamu kurang gerak tetapi banyak mengkonsumsi makanan dengan kepadatan energi yang tinggi. Hal ini juga rentan terjadi selama WFH dimana aktivitas fisik kita berkurang tetapi keinginan untuk ngemil makanan tak sehat justru bertambah.

4. Obat-Obatan

Apakah kamu pernah merasa nafsu makan berlebih setelah mengkonsumsi jenis obat tertentu? Ternyata memang obat-obatan jenis steroid bisa meningkatkan nafsu makan kamu. Biasanya, obat-obatan jenis ini digunakan dalam jangka waktu yang lama untuk terapi asma, osteoartritis, dan alergi.

5. Hormonal

Hal lain yang bisa memicu kamu memiliki berat badan berlebih adalah dari hormonal. Sejumlah hormon yang berperan dalam memicu obesitas diantaranya adalah hormon leptin, ghrelin, tiroid, insulin, dan estrogen. Biasanya untuk para perempuan yang sudah menikah, mengkonsumsi beberapa pil KB juga bisa membuat kamu terus merasa lapar, karena adanya kandungan estrogen yang terlalu tinggi. Tak hanya itu, riset dari FASEB Journal (Federation of American Societies for Experimental Biology) menunjukkan adanya perubahan hormon progesteron dan estrogen pada wanita menjelang masa menstruasi dan menyebabkan nafsu makan bertambah dan lebih menyenangi makanan yang tinggi karbohidrat dan gula.

Bahaya Obesitas

Obesitas merupakan masalah kesehatan yang serius dan perlu segera diatasi karena bisa memicu munculnya penyakit lain bahkan memperburuk kondisi yang ada. Apalagi saat masa pandemi seperti saat ini, orang dengan obesitas memiliki risiko yang lebih tinggi jika sampai terserang virus Covid-19. Berikut sejumlah dampak yang bisa ditimbulkan dari obesitas dan berbahaya bagi tubuh, seperti dikutip dari data Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan:

1. Dampak Metabolik

Lingkar perut pada ukuran tertentu yakni pria >90 cm dan wanita >80 cm, bisa memicu peningkatan trigliserida, penurunan kolesterol HD, serta meningkatkan tekanan darah. Kondisi ini disebut dengan metabolik.

2. Dampak Penyakit Lain

Dampak lain yang perlu diwaspadai adalah munculnya atau memburuknya penyakit lain seperti perburukan asma, osteoartritis lutut dan pinggul, pembentukan batu empedu, sleep apnea atau henti nafas saat tidur, low back pain atau nyeri pinggang, hingga bisa memicu penyakit jantung, diabetes, stroke, dan kanker.

Pentingnya Ubah Pola Hidup Saat WFH

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Setidaknya kamu bisa mencoba mengubah pola hidup yang lebih sehat saat WFH dengan mencoba cara-cara berikut:

1. Ubah Pola makan

Berbicara pola makan artinya mencakup jumlah atau porsi, jenis, jadwal makan serta pengolahan bahan makanan. Porsi sayur dan buah disarankan dua kali lipat lebih banyak dari karbohidrat. Selanjutnya, protein porsinya disetarakan dengan karbohidrat. Sementara itu, Kementerian Kesehatan menganjurkan konsumsi gula, garam, dan lemak juga dibatasi. Untuk gula 50 gram sehari atau setara dengan 4 sdm gula per orang per hari. Untuk garam dibatasi 5 gram atau setara 1 sdt garam per orang per hari. Adapun minyak dibatasi 67 gram atau 5 sdm minyak per orang per hari.

2. Perbanyak Aktivitas Fisik

Pola hidup aktif merupakan salah satu upaya untuk menyeimbangkan asupan energi yang masuk. Untuk mencegah atau mengatasi obesitas maka kamu perlu meningkatkan aktivitas fisik secara berkelanjutan dan konsisten. Olahraga secara teratur dengan tingkatan bertahap bisa dimulai dari yang intensitas rendah, sedang, tinggi sesuai kondisi masing-masing tubuh. Kondisi di rumah saja juga seharusnya tak menghalangi kamu untuk tetap berolahraga. Banyak olah raga yang bisa kamu lakukan selama di rumah seperti yoga, sit up, push up, atau sekadar lari-lari kecil. Selain olah raga kamu juga bisa perbanyak kegiatan fisik dengan mengerjakan pekerjaan rumah sendiri seperti pel, menyapu, beres-beres ruangan. Di rumah saja bukan berarti kamu hanya bisa tiduran kan?

3. Mindful Eating

Banyak orang yang akhirnya mengalami obesitas karena memiliki kebiasaan makan berlebih untuk makanan yang tidak sehat seperti tinggi gula, tinggi garam, dan lemak. Selain itu, kebiasaan makan banyak ini biasanya lebih sering disebabkan oleh faktor emosional sesaat bukanlah karena memang lapar. Misalnya saja saat kamu WFH. Saat rasa stress dan bosan melanda, bisa saja kamu mengalihkannya melalui makan, dan terkadang sudah makan banyak pun terasa tidak kunjung kenyang. Hal itu terjadi karena kamu makan tanpa disadari. Dengan demikian, kamu bisa mencoba melatih diri dengan makan dengan penuh kesadaran atau mindful eating. Bukan sekadar mengikuti emosi sesaat.

4. Perbaiki Pola Tidur

Kurang tidur bisa mengakibatkan hormon kamu terganggu sehingga membuat rasa lapar tak terkontrol. Jika hal tersebut terjadi maka kamu berpotensi untuk makan lebih banyak dan cenderung memilih makanan yang tidak sehat. Sayangnya banyak orang yang mengeluh bahwa aktivitas bekerja dari rumah atau WFH ternyata lebih tak mengenal waktu dan membuat pola tidurmu juga terganggu. Padahal, secara umum kuantitas tidur yang cukup berkisar 6-8 jam.

5. Kelola Stress

Hal yang tak kalah penting selain menjaga kesehatan fisik adalah menjaga kesehatan mental dan pikiranmu. Saat kamu stress atau  mental dan pikiranmu tertekan, hormon kortisol atau hormon stres pun ikut meningkat. Akibatnya kamu lebih merasa ingin mengkonsumsi makanan manis, asin, dan berlemak. Untuk itu, selain mencoba makan dengan penuh kesadaran kamu juga perlu mengelola stress misalnya dengan meditasi dan latihan pernapasan.

Mengubah kebiasaan makan dan pola hidup tentu bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika hal itu sudah menjadi kebiasaan yang kamu lakukan tak hanya selama WFH tetapi juga sejak kecil. Tapi sebelum terlambat dan demi kualitas hidup yang lebih baik maka perbaikan perlu coba dilakukan. Lebih baik memulai dengan langkah kecil tapi berkelanjutan daripada langsung dengan perubahan besar tetapi hanya sekali.

Selain mengubah kebiasaan yang lebih baik kamu juga bisa melakukan upaya lain dengan melengkapi perlindungan kesehatan buat kamu dan keluarga. Karena kita tidak pernah tahu risiko apa yang akan kita hadapi dan kapan bisa terjadi. Sebelum terlambat, kamu bisa melengkapi perlindungan kesehatanmu dan keluarga.

Bagi kamu yang mengutamakan kenyamanan, kamu bisa mencoba salah satu produk asuransi kesehatan Medicare Premier dari Astra Life yang memberikan kenyamanan bagi kamu dan keluarga saat dirawat di rumah sakit hingga ke mancanegara.

Dengan Medicare Premier, kamu dan keluarga akan selalu mendapatkan layanan rawat inap dalam satu kamar dengan kamar mandi sampai kapan pun. Tidak usah khawatir dengan kenaikan nilai inflasi kamu bisa fokus menjalankan perawatan kesehatan. Medicare Premier juga akan membayarkan manfaat sesuai tagihan secara cashless hingga ke mancanegara.

Lebih baik berjaga-jaga sebelum risiko buruk menimpa bukan? Kunjungi Astralife.co.id untuk melihat pilihan perlindungan kesehatan lainnya. Follow juga Instagram @AstraLife untuk mendapatkan tips-tips kesehatan lainnya. Urusan Sehat No Worries, #iGotYourBack.

Artikel Lainnya

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!