Gemar Olahraga Lari Maraton? Kenali Dulu 4 Risiko Kesehatan Ini

olahraga lari

World Health Organization (WHO) merilis setiap orang minimal membutuhkan waktu 150 menit dalam sepekan untuk berolahraga. Namun, ternyata banyak orang yang salah kaprah melakukannya, termasuk olahraga lari. Karena ingin mengejar hasil instan, banyak yang terjebak berolahraga secara berlebihan. Padahal, terlalu berlebihan melakukannya justru bisa memicu masalah kesehatan, lho. Anda yang gemar olahraga lari tentunya perlu mengecek apa saja risiko kesehatan bila terlalu berlebihan olahraga lari, berikut ini:

Cedera Lutut

Bagian bedah ortopedi University of California, San Francisco, merilis hasil penelitian jika tidak dilakukan dengan benar, berlari dengan jarak jauh dalam waktu lebih dari 30 menit tidaklah selalu aman. Kondisi ini berisiko cedera pada lutut, yang  disebabkan pergeseran di bagian sekitar tulang akibat jaringan tulang muda (cartilage) lutut yang kehilangan kekuatannya.

Baca juga: Apa Saja Pertolongan Pertama Saat Mengalami Cedera Olahraga?

Istilah risiko cedera lutut dalam olahraga lari biasa disebut runner’s knee, yang mengacu pada kelainan di area patellofermoral atau tempurung lutut dan paha. Nyeri akibat cedera ini dirasakan di bagian depan lutut. Akibat cedera ini, seseorang akan merasakan nyeri saat naik tangga atau joging menanjak.

Kenapa lari menimbulkan risiko masalah pada tempurung lutut? Diambil dari berbagai sumber, tempurung lutut (patella) yang terletak di bagian depan sendi lutut dan membantu otot paha besar (quadriceps) menekuk dan meluruskan lutut dengan mekanisme mirip dengan sistem katrol cukup rawan.

Dengan gerakan lutut menekuk dan lurus, tempurung lutut akan bergerak naik turun sepanjang alur di ujung paha. Jika dilakukan terus menerus seperti gerakan berlari atau berjalan, bisa menimbulkan sindrom nyeri pattelofemoral.

Cedera jenis ini bisa terjadi akibat kesalahan dalam pelatihan. Misalnya mempercepat frekuensi tekanan saat berlari secara mendadak atau tidak dilakukan pemanasan yang memadai. Selain itu, berlari panjang dan berat juga bisa menyebabkan cedera ini, bahkan risiko ini juga terjadi pada atlet profesional sekalipun.

Gejala yang terjadi jika mengalami cedera ini biasanya ditandai dengan pembengkakan pada lutut. Selain itu, lutut akan terasa kaku dan sakit jika terlalu lama ditekuk. Misalnya saat mengendarai mobil atau terlalu lama jongkok.

Baca juga: Penting, Berolahraga Harus Rutin Anda Lakukan secara Bertahap

Sulit hamil

Benar adanya jika olahraga sangat membantu kesuburan hormon wanita, terutama bagi mereka yang memiliki program untuk memiliki anak. Tapi, bila olahraganya dilakukan berlebihan yang terjadi justru bisa sebaliknya.

Berdasarkan penelitian Boston University School of Public Health, seperti dikutip oleh Fertility and Sterility Journal, beberapa waktu lalu, olahraga yang keras dan berlebihan sangat berhubungan dengan penurunan tingkat kesuburan pada perempuan yang memiliki berat badan normal.

Penelitian dilakukan terhadap ribuan responden perempuan di Denmark. Olahraga berlebih dengan intensitas tinggi, bisa mengganggu sel telur yang berhasil terbuahi dan sudah menempel pada dinding rahim.

Sehingga, wanita yang tidak memiliki obesitas dan berat badannya cenderung normal, dianjurkan hanya melakukan olahraga secukupnya 30 menit per hari seperti berjalan kaki atau olahraga ringan lainnya.

Bagi wanita yang sedang merencanakan kehamilan, dianjurkan tidak melakukan olahraga berat seperti lari, bersepeda kencang, gymnastik, atau berenang lebih dari lima jam dalam sehari.

Heat Stroke

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology menyimpulkan bahwa di iklim hangat, seorang pelari berisiko terserang Heat Stroke karena suhu tubuh sangat panas dan kurang minum. Suhu tubuh bisa naik secara cepat hingga mencapai 40 derajat celcius.

Jika seorang pelari mengalami Heat Stroke, maka akan ditandai dengan mengalami kulit kering, kemerahan dan panas, kelelahan, sakit kepala atau pusing, denyut nadi cepat dan kuat, berhalusinasi hingga tak sadarkan diri. Hal ini bisa terjadi karena berlari dengan jarak cukup jauh di bawah terik matahari, sehingga tubuh akan mengeluarkan banyak cairan melalui keringat.

Risiko Heat Stroke akibat olahraga lari sebenarnya bisa dihindari. Hal utama adalah mengetahui batasan diri Anda saat melakukan olahraga lari. Jika merasa sudah tidak kuat, jangan memaksakan terus berlari, apalagi jika dilakukan dalam cuaca yang mencapai 28 derajat celcius.

Serangan jantung mendadak

Insiden meninggalnya seorang pelari secara mendadak dalam ajang lari marathon di Bali pada tahun lalu, menambah catatan panjang kematian mendadak pelari di lintasan. Diduga penyebabnya adalah henti jantung atau cardiac arrest.

Sebuah laporan National Center for Biotechnology Information, US National Library of Medicine yang bertajuk “Marathon Cardiac Deaths: the London Experience”, melaporkan terkait pemeriksaan 650 ribu catatan kesehatan peserta olahraga lari maraton London dari 1981 hingga 2006.

Kesimpulan dalam laporan tersebut, dari perhelatan olahraga lari maraton itu, 1 dari 80 ribu peserta ternyata sangat berpeluang mati mendadak disebabkan masalah jantung yang sebelumnya tidak menimbulkan gejala. Kematian mendadak di lintasan maraton ditengarai dipicu karena olahraga ini memiliki intensitas tinggi yang dilakukan dalam waktu lama.

Faktor kematian mendadak juga dikaitkan pada usia muda dan pengetahuan kurang memadai tentang risiko kardiovaskular. Kurangnya pemahaman membuat olahraga dilakukan sembarangan.

Langkah Antisipasi

Tentu tak ada yang ingin mengalami kejadian-kejadian bagi Anda yang gemar olahraga lari. Langkah antisipasi untuk mengurangi risiko harus dilakukan sejak dini agar berolahraga tetap aman dan menyehatkan bagi tubuh.

Baca juga: 6 Alasan Perlunya Cari Pasangan Berolahraga

Salah satu langkah tepat yang bisa dilakukan adalah memberikan perlindungan untuk diri Anda dalam aktivitas olahraga dengan iSport dari Astra Life, asuransi pertama di Indonesia yang menyediakan perlindungan khusus bagi Anda yang berolahraga, baik untuk yang sudah profesional maupun bagi Anda yang sebatas menjalani hobi.

Manfaat yang ada pada iSport adalah penggantian biaya rawat jalan darurat akibat kecelakaan saat olahraga hingga santunan patah tulang akibat kecelakaan saat olahraga lari. Misalnya, saat ingin mengikuti lari maraton, Anda bisa melengkapi perlindungan dengan manfaat fisioterapi dan patah tulang, seharga Rp64.700 untuk perlindungan dengan UP Rp50 juta, manfaat Penggantian Biaya Rawat Jalan Darurat saat olahraga Rp5 juta, serta manfaat biaya fisioterapi dan santunan patah tulang akibat kecelakaan olahraga masing-masing Rp2,5 juta.

Untuk Triathlon, disarankan untuk memperbesar manfaat UP hingga Rp100 juta, dengan manfaat Penggantian Biaya Rawat Jalan Darurat olahraga sebesar Rp10 juta, serta manfaat biaya fisioterapi dan santunan patah tulang akibat kecelakaan olahraga masing-masing Rp5 juta, hanya dengan premi Rp129.300.

Sementara itu, Anda juga bisa merasakan manfaat iSport jika tertarik mencoba olahraga yang lebih berisiko dan menantang andrenalin. Misalnya, olahraga ekstrem, seperti panjat tebing, wind surfing, flyboarding, hingga terjung payung, yang juga dijamin perlindungan iSport. Lengkapnya, Anda bisa mengecek kategorisasi olahraga di iSport di sini, serta menghitung biaya preminya dengan kalkulator di sini.

Jadi, dengan adanya langkah antisipasi ini, Anda dapat berolahraga dengan tenang tanpa rasa takut karena Anda tahu anda terlindungi.




« | »
Read previous post:
karyawan jadi pengusaha
Dari Karyawan, Ingin Jadi Pengusaha? Lakukan Persiapan Finansial Ini

Setelah sukses meniti karier sebagai karyawan selama sekian tahun, ada kalanya seseorang ingin berubah haluan menjadi pengusaha. Boleh jadi, tujuannya...

Close