Tak Perlu Stres Selama Pandemi, Kelola Pikiran Positif Dengan 4 Cara Ini

Wajar jika seseorang mengalami stres di masa pandemi. Banyaknya ketakutan, kekhawatiran, dan ketidakpastian bisa mempengaruhi kesehatan mental seseorang.

Tak Perlu Stres Selama Pandemi

Tak Perlu Stres Selama Pandemi, Kelola Pikiran Positif Dengan 4 Cara Ini

Wajar jika seseorang mengalami stres di masa pandemi. Banyaknya ketakutan, kekhawatiran, dan ketidakpastian bisa mempengaruhi kesehatan mental seseorang.

Apakah kamu sering merasa tidak produktif? Sering mempertanyakan kinerja dan pencapaian diri sendiri

Tenang, kamu tidak sendiri. Banyak orang dihantui dengan pikiran negatif seperti ini. Tak hanya itu, susah tidur, khawatir secara berlebihan, tidak bersemangat dan menjadi lebih emosional adalah sederet keluhan yang sering disebutkan selama 2 tahun belakangan. Ya, masa pandemi sudah berlangsung cukup lama, tetapi sebagian orang masih digeluti ketakutan bahkan sampai menimbulkan stres. 

Berdasarkan data surveymeter.com, orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan mental, baik berupa kecemasan dan depresi di masa pandemi, memang lebih besar, yakni sekitar 55%-57,9%. Kecemasan dan depresi itu dialami baik dalam tingkatan ringan, sedang, hingga berat.

Perasaan kosong atau kelelahan terus menerus tanpa bisa menyebutkan secara jelas latar belakangnya bisa jadi salah satu tanda kamu mengalami stres. Jika kamu benar merasakan kedua hal ini, ada baiknya kamu berhenti sejenak dan mulai mengistirahatkan dirimu. Perhatikan kembali gaya hidup pertemanan dan pekerjaanmu atau pola makan dan tidur. Apakah semuanya sudah berjalan secara seimbang? atau ada satu faktor yang berat sebelah? Ingat, hidup produktif itu tak hanya melakukan banyak hal bermanfaat tapi juga benar-benar menikmati setiap prosesnya. Alih-alih menjadi kegiatan yang produktif, gaya dan pola hidup yang salah justru bisa jadi toxic.

Selama masa pandemi, kita selalu dituntut untuk menjadi serba bisa dan cepat. Bisa tak bisa, siap tak siap semuanya harus bisa diselesaikan dengan baik. Kemampuan beradaptasi sangatlah dituntut di sini. Namun kemampuan setiap orang akan berbeda-beda. Ada  sebagian dari kita ada yang sudah terbiasa dengan kondisi saat ini, tetapi sebagian dari kita mungkin tidak. Ada yang masih harus berjuang untuk tetap sehat secara fisik dan mental menghadapi hari-harinya. 

Stres di Masa Pandemi

Sebelum masa pandemi dan ditetapkannya pembatasan sosial, secara disadari atau tidak, kita mungkin dengan mudah mengalihkan stres pekerjaan pada kegiatan lainnya. Dari mulai janjian makan siang dengan teman di coffee shop terdekat hingga mengatur jadwal liburan singkat. Namun, memasuki masa pandemi banyak kegiatan yang menjadi sangat terbatas, bahkan interaksi sosial pun lebih sering dilakukan secara virtual. 

Reynitta Poerwito, Bach. Of Psych., M. Psi menjelaskan bahwa memang wajar jika seseorang mengalami stres di masa pandemi. Banyaknya ketakutan, kekhawatiran, dan ketidakpastian bisa memicu stres dalam diri seseorang. Bahkan, stres tersebut bisa saja membuat seseorang kesulitan saat menjalani fungsi kesehariannya. Kesehatan mental terganggu, hingga ada pula yang memengaruhi kesehatan fisik.

Mengelola Stres

Stres bukanlah suatu hal yang dapat kita hindari. Namun kecemasan atau stres itulah yang membuat kita tetap hidup, tetap bergerak.

ungkap salah satu psikolog di Iradat Konsultan tersebut, saat menjadi pembicara dalam webinar dengan Astra Life beberapa waktu lalu.

Reynitta menegaskan bahwa rasa cemas merupakan hal yang baik dan diperlukan oleh setiap orang. Hanya saja porsinya perlu diatur dan dikelola. Sama halnya dengan tidur, yang merupakan suatu aktivitas yang diperlukan untuk mengembalikan kebugaran serta menjaga kesehatan seseorang. Namun, jika waktu tidur terlalu lama, maka bisa menimbulkan masalah lain pada diri kita.

3 Kepribadian Rentan Stres

Reynitta menyebutkan setidaknya ada tiga kepribadian seseorang yang rentan mengalami stres, dan harus memperhatikan kesehatan mental dengan lebih baik lagi.

1. Tipe A

Orang dengan tipe ini cenderung selalu berkompetisi. Mengeluh selalu kekurangan waktu untuk melakukan pekerjaan. Cenderung fokus terhadap diri sendiri. Multitasking dan tidak sabaran.

2. Neurotik

Orang dengan tipe ini biasanya selalu merasa khawatir, cemas, ketakutan, merasa iri, moody, dan kesepian. Seseorang dengan tipe ini bisa saja stres hanya karena melihat kondisi atau pencapaian temannya di media sosial.

3. Perfeksionis

Orang dengan tipe ini memiliki standar yang tidak realistis. Mengerjakan segala sesuatu harus sempurna. Dan memiliki perasaan takut gagal.

Cara Memperbaiki Kondisi dan Kesehatan Mental

Pada dasarnya, Reynitta  mengatakan ada empat cara yang bisa kita coba lakukan untuk memperbaiki kondisi mental kita yang stres, agar kesehatan mental terjaga. Keempat cara itu adalah:

1. Mengenal Stres

Langkah pertama yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kondisi dan kesehatan mental adalah berkenalan dulu dengan stres itu sendiri. 

Apa sih stres itu? Stres merupakan kondisi ketegangan fisik maupun psikologis. Hal ini bisa terjadi salah satunya karena ada ketidaksesuaian antara situasi dengan kondisi fisik, psikologis, dan sosial yang dimiliki seseorang. 

Jadi stres merupakan sebuah hasil dari dua faktor.

Pertama, manusianya atau kita. Kedua, apa yang sedang kita hadapi.

2. Pahami Sumber Stres

Selanjutnya, untuk mengatasi sebuah masalah maka seseorang perlu memahami dan mengenal situasi apa yang sedang mereka hadapi, termasuk stres ini. Kita perlu mengetahui dari mana sumber stres itu berasal. Dengan memahaminya, maka solusi yang kita jalani untuk memelihara kesehatan mental kita juga bisa lebih baik dan tepat sasaran.

Reynitta mengatakan, setidaknya sumber stres bisa berasal dari dua hal.

Pertama, kondisi eksternal seperti perubahan situasi secara mendadak, lingkungan yang tak mendukung, sikap atau perkataan orang lain, masalah finansial, trauma masa lalu, pola asuh, dan lainnya.

Kedua, kondisi internal seperti faktor keturunan, kepribadian yang rentan terhadap stres, pola pikir negatif, emosi yang tak stabil, rasa bersalah, dan lainnya.

3. Bangun Sistem Kekebalan Mental

Tak hanya kekebalan tubuh secara fisik, tetapi penting untuk kita menjaga kekebalan mental. Bagaimana caranya?

- Tenang

Kita bisa memulainya dengan melakukan kegiatan yang membuat tenang. Setiap orang memiliki cara berbeda untuk menenangkan dirinya. Bisa dengan membersihkan kamar atau rumah, memasak, bermusik, menulis, dan lainnya.

Sempatkan juga untuk “me time”. Tak harus keluar rumah. Tetapi kita perlu mengatur waktu yang tepat. Selanjutnya adalah istirahat saat lelah. Tak hanya mengistirahatkan fisik, tetapi juga pikiran kita.

- Reaksi

Cobalah belajar untuk bereaksi dengan akal sehat, dan bukan bereaksi saat kita emosi. Karena emosi sifatnya sementara, maka bisa saja kita menyesali apa yang kita ucapkan atau lakukan terhadap seseorang atau sesuatu.

- Perkuat Batin

Salah satu cara untuk memperkuat batin adalah dengan bersyukur. Kamu bisa membuat daftar hal-hal apa saja yang bisa membuat kamu bersyukur setiap hari. Bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti masih bisa bernapas dengan nyaman, bertemu dengan keluarga. 

Cara lain untuk memperkuat batin adalah dengan beribadah. Melakukan aktivitas sosial meskipun secara virtual, serta berbagi.

- Kelola Pikiran

Berusahalah untuk mengurangi bahkan menghapus “what if “question dalam pikiran kita. Hilangkan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa kita jawab. Hilangkan juga pikiran yang sering tiba-tiba muncul tetapi cepat hilang (repetitive thoughts). Misalnya: kapan pandemi akan berakhir? Reynitta turut menyebutkan

Kita perlu membedakan antara perencanaan dan kekhawatiran. Perencanaan adalah sesuatu yang bisa kita jawab. Kita perlu berlatih untuk meminimalisir pikiran yang irasional.

4. Belajar Mengubah Persepsi

Langkah selanjutnya dalam menjaga kesehatan mental kita adalah dengan belajar mengubah persepsi yang memengaruhi tingkat stres. Dalam diri kita, ada yang namanya core belief system. Ini yang membentuk kita memiliki persepsi terhadap diri kita sendiri, orang sekitar, serta dunia.

Persepsi ini bisa dibentuk dari kejadian masa lalu, masa kecil, kebudayaan atau tradisi keluarga dan tempat tinggalnya, karakter, termasuk pengaruh genetik.

Apabila kita memahami apa yang membentuk persepsi kita, maka kita bisa lebih mudah memahami bahwa orang lain juga memiliki persepsi masing-masing. Tak semua orang perlu sejalan dengan apa yang kita pahami. Hal ini juga akan berhubungan dengan ekspektasi kita terhadap seseorang.

Belajar Memilah Masalah

Dengan mengetahui hal-hal di atas dan belajar memahami kondisi yang kita lakukan, maka diharapkan kita bisa lebih baik dalam menjaga kesehatan mental kita sendiri, serta dapat mengelola segala tekanan atau stres yang muncul dalam kehidupan.

Cobalah berlatih untuk menjabarkan stres yang kita hadapi, dan memilah mana masalah yang ada dalam dan di luar kontrol kita. Dengan memahaminya, maka kita bisa mengetahui apakah hal tersebut memang perlu terus kita pikirkan atau bisa kita lepaskan dulu.

Reynitta mengingatkan bahwa penting untuk kita bisa melepaskan stres atau beban yang belum—bahkan tak dapat—dijawab atau diselesaikan. Hindari juga memaksa diri untuk selalu memikirkan masalah atau menanggung perasaan tertekan.

Ibarat kita sedang mengangkat remote dan menggenggamnya. Jika 1-2 menit saja, mungkin tidak membuat kita sakit, pegal. Tetapi jika terus kita genggam selama berhari-hari, maka akan ada efek tidak enak pada badan kita. Begitu juga dengan stres. Kita bisa melihat lagi apakah hal yang membuat stres itu besar atau kecil. Apakah perlu terus dipikul atau bisa diletakkan dahulu.

Jika kita bisa mengaplikasikan cara-cara tersebut dalam keseharian dan dilakukan secara konsisten, maka hal itu bisa menurunkan tingkat stres kita. Pasalnya, tak hanya kondisi fisik yang perlu dijaga di masa pandemi, tetapi juga kesehatan mental atau jiwa.

Reynitta pun menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental atau jiwa bukanlah sebuah tujuan tetapi sebuah perjalanan. Jadi semua butuh proses yang dilakukan secara konsisten.

Salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk mengelola diri dari stres berlebihan adalah dengan memberikan proteksi lebih   bagi diri dan keluarga. Adanya ketidakpastian dari pandemi ini sering memunculkan sesuatu secara tiba-tiba dan akhirnya membuat kita stres. Adanya proteksi dari asuransi tentunya bisa menjadi tempat melepas beban atas ketakutan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Asuransi kesehatan bisa jadi salah satu jawabannya. Dengan asuransi, tak hanya kesehatan yang kita lindungi tetapi juga risiko finansial yang bisa terjadi saat kita atau keluarga sakit.

Untuk kamu yang senang dengan fleksibilitas, ada produk asuransi dari Astra Life yang bisa kamu pertimbangkan yakni Flexi Health. Asuransi ini memiliki berbagai macam manfaat. Mulai dari perlindungan jiwa, santunan rawat inap, hingga manfaat perlindungan kesehatan tambahan lainnya yang menguntungkan.

Untuk mengetahui lebih lanjut manfaat Flexi Health, kunjungi laman astralife.co.id. Kamu juga bisa follow Instagram @AstraLife untuk melihat tips seputar kesehatan dan keuangan. Urusan Sehat, No Worries  #IGotYourBack

Artikel Lainnya

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Tentang –

Kami menghadirkan cerita dan kisah hidup yang inspiratif serta tips terbaik untuk menyadarkan kita agar terus mencintai hidup.

Terus Dapatkan Inspirasi, Subscribe Sekarang!

Subscribe ke LoveLife Daily Blog untuk mendapatkan newsletter artikel ter-update!

Selamat Anda telah tergabung menjadi subscriber blog LoveLife

Terdapat kesalahan dari permintaan anda. Mohon coba lagi.

Love Life will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.