Melatih Anak Bermental Tangguh dan Bisa Menerima Kekalahan

Melatih anak agar bermental tangguh

Sebuah jurnal yang diterbitkan oleh US National Library of Medicine, National Institutes of Health (Agustus 2017) menyebutkan, jika seorang anak memiliki mental yang tangguh sejak kecil, maka ia memiliki modal utama untuk berhasil dalam pendidikan, pekerjaan, kepribadian, serta atribut psikologis lainnya.

Anak yang punya mental tangguh tidak akan mudah menyerah, gigih mencoba hingga berhasil, berani bertanggung jawab atas perbuatannya, serta berhati lapang ketika gagal. Nah ternyata, sebanyak 50% dari mental tangguh ini diperoleh dari faktor genetis. Sementara 50% lainnya, terbentuk dari lingkungan sosial. Artinya, mental tangguh pada anak juga bisa dilatih dan dibentuk. Yuk, simak beberapa langkah yang bisa melatih anak agar bermental tangguh berikut ini.

1. Dorong dengan kata-kata positif

Agar anak menguasai suatu keahlian tertentu, tentu memerlukan proses belajar terus-menerus. Ada kalanya anak Anda jenuh, putus asa, dan berhenti berusaha ketika melalui proses belajar tersebut. Meskipun belum berhasil, dukungan orangtua berupa kata-kata yang positif sangat penting.

Ketika mereka kesulitan menyelesaikan soal matematika dan bilang, “Saya tidak bisa matematika,” Anda bisa mendorongnya dengan menjawab, “Kamu pasti bisa, nak.” Anda bisa mengucapkan “good job” atas hasil karya prakarya atau menggambar anak. Atau, ketika anak cemas akan sesuatu, dorong dengan kata-kata yang menenangkan seperti “Tidak usah cemas, semua akan baik-baik saja.” Ungkapan-ungkapan positif ini akan meningkatkan rasa percaya diri anak, menyadarkan anak bahwa mereka berharga, dan mendorong anak untuk terus berusaha.

Ketika anak melakukan kesalahan atau tidak sesuai dengan harapan Anda, jangan lekas-lekas mengucapkan kata-kata yang mengecilkan mental anak. Seperti misalnya, ketika mereka belum bisa menulis dengan baik, padahal anak seusianya sudah bisa lancar menulis, sebaiknya jangan berucap, “Gimana sih, kok belum bisa menulis? Makanya, jangan malas latihan.” Sebaliknya, dorong anak dengan berucap, “Bagus, dilatih lagi menulisnya ya nak, biar tulisannya semakin bagus.” Dengan begitu, anak merasa usahanya tidak sia-sia dan termotivasi untuk lebih baik.

 

Baca juga: Lewat Uang Saku, Anak Bisa Belajar Mengatur Uang Sejak Dini

 

2. Melatih anak menguasai emosinya

Ketika berinteraksi dengan orang lain, anak sering meluapkan emosi seperti marah, senang, sedih, takut, atau kaget. Menyatakan emosi, walaupun terkadang tampak drama, sebenarnya sah-sah saja. Yang perlu dilatih ialah bagaimana cara anak mengendalikan emosi tersebut agar tidak menjadi hal yang negatif. Contohnya, ketika anak berebut mainan dengan teman, anak boleh saja marah dan menangis. Namun, ingatkan anak untuk tidak meluapkan kemarahan tersebut dengan memukul atau mendorong teman.

Begitu pula ketika anak menangis karena tidak dibelikan mainan di mal, sah-sah saja jika mereka menangis. Namun, jika anak sudah mulai tantrum dengan meraung-raung di lantai dan berteriak meminta agar keinginannya dikabulkan, ingatkan mereka bahwa sikap itu tidak benar. Ketika anak sedang tantrum, cara yang bisa Anda lakukan ialah dengan memberikan anak waktu dua menit untuk meluapkan kemarahan. Jangan buru-buru mengabulkan permintaan anak ketika tantrum, karena ini bisa jadi kebiasaan buruk di kemudian hari.

Jika anak Anda berusia 2 tahun ke atas, ia harusnya sudah bisa berkomunikasi. Maka, setelah memberikan ia waktu untuk marah, ajak ia berkomunikasi tentang keinginannya, dan mengapa Anda tidak memberikan keinginannya tersebut. Anda bisa juga bernegosiasi dengan anak, seperti mengganti keinginannya dengan hal lain yang lebih positif. Misalnya, mengganti keinginannya untuk jajan permen dan mainan, dengan memasakkan makanan kesukaannya di rumah yang jelas lebih sehat dan hemat. Jika negosiasi tidak juga berhasil, Anda bisa mengenakan time out atau hukuman. Time out ini bisa berupa menyuruh anak berdiri di pojok ruangan selama dua menit, ditempatkan di kamar selama dua menit, dan lain-lain. Time out berfungsi memperkenalkan anak pada disiplin dan agar ia mengerti bahwa tantrum itu tidak baik.

Selain memberikan anak waktu menyalurkan amarah dan bernegosiasi, sebetulnya ada beberapa cara yang bisa Anda coba untuk menyalurkan emosi anak pada hal yang positif. Artikel CNBC.com (Maret 2019) menyebutkan, cara ini berbeda-beda untuk setiap anak, ada yang dengan menggambar saja atau mendengarkan musik untuk menghilangkan kesedihan.

 

3. Latih anak menyelesaikan masalahnya sendiri

Sejak usia balita, latihlah anak menyelesaikan masalah yang ia hadapi sendiri. Sebagai contoh, ia lupa membawa botol minum ke sekolah. Jika Anda ingin melatih anak, jangan langsung mengantarkan botol minum yang tertinggal ke sekolah. Beri ia kesempatan untuk menemukan jalan keluar sendiri atas masalah yang ia temui hari itu. Kemudian sepulang sekolah, Anda bisa menanyakan apa yang ia lakukan ketika menyadari botol minumnya ketinggalan.

 

Baca juga: Siasat Jitu Tinggalkan Anak Pergi Bekerja

 

4. Melatih mental agar siap menerima kekalahan

Membangun jiwa sportivitas anak yang paling efektif ialah dengan mengikutsertakan mereka pada perlombaan yang ia minati. Anda bisa mengikutkan anak pada perlombaan sesuai dengan jenjang yang ia bisa ikuti. Misalnya, saat usia 3 tahun, ikutkan anak Anda pada lomba mewarnai. Ketika menginjak usia 5 tahun, Anda dapat mengikutkan anak pada level lomba yang lebih sulit, yakni menggambar. Di usia 6 tahun, Anda bisa mendorong anak untuk mengikuti lomba dengan latihan fisik yang lebih sulit, seperti lomba bela diri atau berenang.

Sejak kecil tanamkan prinsip bahwa dalam berlomba, yang terpenting bukanlah menjadi juara, namun bagaimana bersaing secara sehat dengan teman-teman. Melalui perlombaan, anak akan mengenal istilah menang atau kalah. Saat anak kalah, ajarkan pada anak untuk menerima dengan lapang dada dan dorong mereka untuk berlatih menjadi lebih baik lagi. Namun saat menang, berikan anak apresiasi dan ajarkan untuk tetap rendah hati.

 

5. Melatih anak mencoba hal baru

Lebih lanjut artikel CNBC.com menuliskan, penting pula mendorong anak pada suatu hal yang baru, walaupun hal itu membuat tidak nyaman, agar anak terlatih beradaptasi dan memiliki daya juang yang tinggi. Contoh yang paling nyata untuk melatih hal ini ialah dengan membiarkan anak melakukan kegiatan alam seperti berkemah, naik gunung, atau mandi di sungai. Dengan mencoba hal yang baru, ia akan cepat beradaptasi akan lingkungan baru dan mengenal orang baru.

Tak hanya mental yang tangguh, anak juga memerlukan perlindungan finansial

Sambil melatih anak agar memiliki mental yang tangguh, Anda juga perlu menyiapkan perlindungan finansial bagi masa depan anak dengan asuransi jiwa. Salah satu asuransi jiwa yang patut Anda pertimbangkan ialah Flexi Life persembahan dari Astra Life. Dengan kemudahan untuk #AturSendiri premi, besar perlindungan dan masa pembayaran premi, Anda bisa menutup kesenjangan proteksi di tiap tahap kehidupan keluarga Anda. Selain itu Flexi Life memberikan uang perlindungan (UP) hingga Rp5 miliar tanpa perlu cek medis dengan jaminan harga optimal.

Untuk mengetahui ilustrasi jumlah premi yang perlu Anda bayar setiap bulan di Flexi Life, Anda bisa cek di sini. Jika Anda adalah seorang ibu berusia 30 tahun dan menginginkan UP sebesar Rp500 juta, maka dengan Flexi Life, Anda hanya perlu membayar premi sebesar Rp86.000 per bulan.

Menyiapkan anak agar bermental tangguh adalah wujud nyata perhatian Anda bagi kesuksesan si kecil. Nah, memiliki asuransi jiwa adalah salah satu upaya Anda mendukung anak untuk meraih kesuksesannya di masa mendatang. Yuk, #ILoveLife dan berikan perhatian yang optimal bagi keluarga dan si kecil.

Info Lanjut Flexi Life

Related Posts

Lewat Uang Saku, Anak Bisa Belajar Mengatur Uang Sejak Dini

Pada 2017, platform iklan dan konten digital ramah anak TotallyAwesome mengumumkan hasil survei yang dilakukan sejak 201...

Awalnya Sahabat, Akhirnya Menikah dan Lebih Lekat

Bagi Anda yang masih belum menemukan jodoh, tak perlu jauh-jauh mencari. Bisa jadi salah satu teman Anda adalah calon pa...

Tips Bangun Hubungan Ayah dengan Anak ala Seleb

Peranan ayah kini mengalami pergeseran. Tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah keluarga, ayah juga dapat berperan a...




« | »
Read previous post:
Semangat Kembali Kerja
Balikan Semangat Kerja Setelah Libur Lebaran, dengan Tips Berikut

Rasa malas kerap menghantui pikiran saat kembali bekerja setelah libur panjang. Pikiran masih terbayang suasana liburan tentunya. Tak ayal, dibutuhkan...

Close