7 Hal yang Perlu Anda Persiapkan Ketika Beralih dari Dual Income ke Single Income Family

single parent

Nanda (27) dan Ryan (29) adalah pasangan yang telah menikah selama 3 tahun. Mereka bertemu di sebuah acara seminar yang diikuti kedua perusahaan tempat mereka bekerja dahulu. Hanya setahun pacaran keduanya memutuskan untuk memasuki jenjang baru, yakni pernikahan. Tak butuh waktu lama sampai akhirnya mereka berdua melengkapi anggota keluarga dengan kehadiran seorang bayi mungil yang lucu. Saat itulah, keraguan menghinggapi hati Nanda. Hatinya terpanggil untuk mengabdikan waktu dan perhatian sepenuhnya untuk si kecil. Keputusan untuk berhenti bekerja diambil bukan tanpa pertimbangan matang. Salah satunya, memastikan sumber penghasilan keluarga tetap dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Apalagi kebutuhan mereka kini bertambah dengan kehadiran seorang bayi.

Baca juga: Ibu Bekerja vs Ibu di Rumah, Pilihan yang Semestinya Tidak Perlu Jadi Pertentangan

Menurut Agustina Fitria Aryani, perencana keuangan OneShildt Financial Planning, hal tersebut adalah salah satu penyebab peralihan keluarga dari double ke single income. Selain alasan tersebut masih ada berbagai macam latar belakang yang menjadi penyebab peralihan ini.

Suami yang dipindahtugaskan ke luar kota sehingga istri harus berhenti bekerja karena ikut suami misalnya. Kecelakan yang menimpa suami atau istri juga menjadi penyebab peralihan dari dual income kesingle income. Begitu pula kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan atau suami/istri yang beralih dari bekerja kantoran menjadi pengusaha dengan penghasilan yang tidak dapat diprediksi kestabilannya.

Perubahan dari dual income ke single income tentu membutuhkan persiapan agar kondisi keuangan keluarga aman. Apa saja hal yang perlu disiapkan?

1. Siapkan dana darurat dari jauh hari

Menyiapkan dana darurat adalah hal yang patut dilakukan oleh pasangan suami istri baik yang berencana akan single income maupun tidak. Perbedaannya, menurut Agustina, jika suami-istri bekerja, maka alokasi dana darurat yang harus disiapkan ialah minimal 3x pengeluaran bulanan. Namun, jika pasangan ada rencana untuk single income, maka pasangan harus segera mengalokasikan dana darurat sebesar minimal 6x pengeluaran bulanan. Ini bisa dicapai misalnya dengan memasukan seluruh penghasilan istri ke akun dana darurat. “Dana darurat ketika single income harus lebih besar karena hanya ada satu orang yang bekerja dan keluarga tersebut bergantung penuh pada satu orang pencari nafkah tersebut,” tutur Agustina.

single income family

2. Cek kemampuan angsuran

Jika pasangan sedang mengangsur suatu aset, baik rumah (KPR) atau kendaraan (KKB), maka pasangan perlu berdiskusi dengan bank untuk sama-sama mencari solusi seumpama angsuran yang dibayar melebihi 30% dari penghasilan pencari nafkah. Umumnya, menurut Agustina, bank akan menawarkan produk kredit yang cocok dengan kondisi keuangan pasangan. Pasangan juga dapat bernegosiasi dengan bank untuk diberikan jangka waktu lebih panjang dalam mengangsur. Pasangan juga dapat berdiskusi mengenai bunga floating yang dapat disepakati agar kredit tersebut dapat berjalan dan meminimalisir risiko gagal bayar. Untuk kredit konsumsi seperti kartu kredit atau KTA, pasangan dapat melunasi kredit tersebut agar penghasilan saat single income dapat terkonsentrasi untuk melunasi kredit yang lebih penting.

3. Cek kecukupan uang pertanggungan asuransi jiwa

Hal lain yang perlu disiapkan ialah mengecek uang pertanggungan asuransi jiwa jika pencari nafkah meninggal. Pastikan uang pertanggungan tersebut bisa menggantikan penghasilan sang pencari nafkah. Jika suami-istri bekerja, ada kemungkinan uang pertanggungan asuransi jiwa lebih kecil dengan asumsi jika salah satu pasangan meninggal, maka masih ada sumber pencaharian lain selain uang pertanggungan asuransi.

Baca juga: Hindari 6 Kesalahan ini Ketika Membeli Asuransi Jiwa

Budi Raharjo, perencana keuangan OneShildt Consulting mengatakan, uang pertanggungan asuransi jiwa ketika pasangan dalam kondisi single income haruslah dapat menjadi pengganti penghasilan sepenuhnya. “Uang pertanggungan ini harus cukup sebagai warisan untuk memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga, final expense seperti biaya pemakaman, pendidikan anak, penunaian kewajiban seperti utang, pendidikan anak hingga ke jenjang yang diinginkan, dan modal usaha,” papar Budi. Menurut Budi, uang pertanggungan asuransi jiwa yang mencukupi ialah yang dapat menggantikan penghasilan pencari nafkah selama 6 -15 tahun. Sementara menurut Agustina, uang pertanggungan yang ideal untuk pendapatan keluarga selama 6-10 tahun ialah penjumlahan dari (pengeluaran rutin selama waktu tersebut + total utang yang dimiliki) dikurangi benefit dari perusahaan yang diatur dalam UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 dan Jamsostek.

Sebagai contoh, pengeluaran keluarga setiap bulan ialah Rp15 juta. Bila dikalikan 10 tahun, maka total pengeluaran keluarga yang perlu disiapkan ialah Rp 1,8 miliar. Kemudian perhatikan juga utang KPR yang tersisa sebesar Rp300 juta. Lalu, kantor mendiang pasangan menyediakan uang kompensasi bagi karyawan yang meninggal Rp 100 juta dan uang pertanggungan dari Jamsostek sebesar Rp100 juta. Maka uang pertanggungan yang ideal ialah Rp 1,8 miliar + Rp300 juta – Rp200 juta = Rp 1,9 miliar.

4. Cek kecukupan manfaat asuransi kesehatan

Begitu pula halnya dengan manfaat asuransi kesehatan. Ketika sebuah keluarga meiliki dua pendapatan, mungkin suami dan istri menikmati proteksi yang disediakan oleh kantor masing-masing. Namun ketika salah satu pasangan berhenti, maka fasilitas kesehatan dari kantor, baik itu asuransi maupun plafon, juga ikut berhenti. Agustina berpendapat, pasangan suami-istri harus menyiapkan asuransi kesehatan secara mandiri untuk memproteksi anggota keluarga yang tidak ditanggung kantor akibat hanya memperoleh pendapatan dari satu sumber saja.

Baca juga: Asuransi Kesehatan untuk Melengkapi BPJS Kesehatan Anda

Untuk mempermudah proteksi keluarga, pilihlah asuransi kesehatan yang bekerjasama dengan rumah sakit yang dekat dengan rumah. Atau, gunakan asuransi kesehatan dengan sistem reimbursement agar pasangan dapat leluasa memilih rumah sakit yang dituju.

5. Periksa keranjang investasi untuk tujuan keuangan keluarga

Ketika masih memiliki dua sumber pendapatan, mungkin dana yang dialokasikan untuk investasi lebih besar. Namun ketika beralih ke single income, pasangan harus membuat skala prioritas. Jika sebelumnya investasi untuk dana liburan lebih besar, maka ketika single income investasi untuk dana liburan dapat dikecilkan, sementara dana investasi untuk pendidikan anak dan pensiun jumlahnya tetap atau lebih besar.

6. Sesuaikan gaya hidup dengan kondisi keuangan yang baru

Perubahan penghasilan menjadi single income tentu menuntut sebuah keluarga melakukan penyesuaian gaya hidup agar tidak lebih besar pasak daripada tiang. Budi Raharjo menyarankan agar keluarga menyusun anggaran baru dengan kondisi penghasilan yang baru.

Agustina berpendapat, hal mendasar seperti pendidikan, mungkin tidak masalah jika tidak berubah. Misalnya, ketika pasangan masih dual income, anak bersekolah di sekolah nasional plus. Hal ini dapat dilanjutkan hingga anak menuntaskan suatu jenjang pendidikan. Baru setelah anak lulus dari TK, atau SD, atau SMP, anak dapat pindah ke sekolah lain dengan biaya terjangkau. Gaya hidup yang paling mudah untuk diubah ialah kebiasaan tersier seperti makan di restoran ketika akhir pekan atau ketika jam makan siang di kantor dan di sekolah. “Ini bisa diubah dengan membawa bekal ke kantor atau ke sekolah,” kata Agustina.

Gaya hidup lain yang bisa disesuaikan ialah transportasi. Jika sebelumnya keluarga memiliki dua mobil, dapat dipertimbangkan untuk mengurangi salah satu mobil atau mengganti dengan moda transportasi lain yang lebih irit, baik dari segi bensin, tol, maupun perawatan. Perubahan gaya hidup lain juga bisa dilakukan dengan mengurangi asisten rumah tangga (ART), dari misalnya sebelumnya 2 orang ART dan 1 sopir menjadi 1 orang ART. Kendalikan pula pos-pos biaya untuk pulsa handphone, pakaian, tas, hiburan, dan mainan anak.

7. Mencari alternatif penghasilan

Mencari alternatif penghasilan sebetulnya bisa dilakukan baik oleh suami maupun istri. Bagi istri, ada beberapa alternatif pekerjaan yang dapat dilakukan dari rumah seperti menjadi penerjemah, freelancer, bisnis online, jasa katering, atau menjahit. Namun, ada kalanya ketika istri mengurus anak-anak yang masih kecil, waktunya akan tersita untuk mereka. Dalam hal ini suami bisa lebih giat meningkatkan pendapatan baik dengan mencari alternatif penghasilan atau mencari pekerjaan baru dengan penghasilan yang lebih besar.

Jangan lupa, kerjasama yang solid antara suami dan istri akan membuat persiapan peralihan dual income ke single income ini untuk berjalan lebih mulus. #AyoLoveLife dan pertahankan kesejahteraan keluarga dengan persiapan yang tepat!




« | »
Read previous post:
virus ZIKA
Awas, Virus Zika Kembali Mengancam!

Virus Zika kembali mengancam Indonesia. Ancaman kali ini berasal dari negeri tetangga, Singapura. Sampai 28 Agustus lalu, Kementerian Kesehatan Singapura...

Close