Hendra Wijaya, Ultraman asal Indonesia

Saya senang bertualang sejak kecil atau SD. Saya suka bermain-main di alam bebas. Bukan menantang alam bebas, tapi saya menikmati dan merasakan kekuasaan Tuhan.

Love begins here

Setelah mengalami kecelakaan sepeda gunung, yang membuat saya syok berat karena tangan kiri dan kanan saya patah pada Juni 2008, saya merasa menjadi orang yang tidak berguna. Masa depan saya seakan suram dalam olahraga maupun karier. Padahal, waktu itu saya maniak semua olahraga, kecuali lari.

Setelah beberapa bulan lamanya, akhirnya saya tidak perlu disuapi lagi. Saya mulai bisa menggaruk hidung atau punggung sendiri kalau gatal. Saya pun bisa mandi sendiri dan melakukan kegiatan lain.

Tiba saatnya untuk balas dendam. Sambil menunggu kesembuhan saya dan juga melupakan semua yang terjadi, apakah tangan saya bisa sempurna kembali, saya membangun sekaligus dua pabrik yang sebetulnya jauh di luar kemampuan waktu itu. Saya juga berlari dan berenang. Semuanya saya lakukan supaya fokus kepada pekerjaan dan melupakan bahwa saya cacat.

Hendrawijaya2

Tanpa disengaja saya membaca di surat kabar Kompas ada perguruan “Shaolin” (Nikeplus) pada akhir September 2009. Maka bergurulah saya secara bertahap di “Shaolin”. Saya mulai berlatih yang ringan-ringan mulai dari berlari 1 km, 3 km, 5 km dan seterusnya. Sampai akhirnya stabil di 30 km per hari tiap pagi dan sore. Pada tiga bulan pertama di “Shaolin”, betis saya membatu, telapak kaki sangat sakit, rambut serasa ditarik-tarik, kening sangat perih. Setiap tidur, bantal basah kuyup, kasur basah kuyup. Bangun tidur merangkak dan ngesot menuruni anak tangga (turun sambil duduk). Memulai bergerak dengan berjalan 2 km secara bertahap, kemudian saya baru bisa lari.

Karena saya bukan atlet dan malu dengan tetangga lantaran takut disebut tidak waras, saya setiap hari berlari di pekarangan/kebun belakang rumah. Satu putaran sekitar 200 meter. Rata-rata saya melakoni 50-100 putaran setiap hari pagi dan sore. Apabila hujan, saya berlari di garasi rumah yang panjangnya 25 meter. Saya bolak-balik 400-500 kali. Karena perguruan ‘Shaolin’ menuntut saya agar selalu mengikuti virtual challenge dan tentunya harus nomor 1, target nomor 1 sebetulnya untuk memotivasi saya agar lekas sembuh. Dengan banyak beraktivitas, itu akan merangsang pertumbuhan tulang agar cepat tersambung.

Setiap hari, saya berlari pagi dan sore. Apapun yang terjadi walau ada rapat-rapat penting di Jakarta. Pokoknya jam 16.00 saya harus sudah sampai rumah dan berlari. Sekiranya tidak bisa pulang sore, lebih baik meeting-nya dibatalkan. Sebab, saya tidak mau membayar utang saya keesokan harinya dengan berlari 60 km. Jatah saya 30 km per hari saja.

HendraWijaya1

Pada 2010 dan 2011 ada Indo Run Challenge yang digagas mas Reza Puspo. Mata saya berbinar binar melihatchallenge ini. Kebetulan sekali, selain challenge-nya, dalam pikiran saya kesembuhan luka saya bisa lebih cepat.

Sambil berguru di ‘Shaolin’, mulailah saya turun gunung langsung mencoba race pertama saya di Sundown Ultra Marathon 100 km pada Juni 2011 di Singapore. Sepanjang sejarah saya belum pernah ikut race walau jarak pendek. Juga belum pernah keluar negeri sama sekali, karena takut tidak bisa bahasa Inggris. Dengan bantuan bli Nyoman Suka Ada, saya menghadapi race pertama ini dengan grogi. Tapi bukan karena lari 100 km. Lantaran khawatir pelanggaran-pelanggaran yang akan saya lakukan tanpa sengaja. Mikirin kalau saya salat akan didenda dan lain-lain. Pengetahuan saya tentang lari saja masih minim. Saya tidak mengenal namanya carbo loading, istirahat sebelum race dll. Sampai pagi hari pun saya masih berlari. Padahal sorenya akan berlari 100 km. Tidak membawa botol minuman apalagi hydrobag, jadilah saya minum setiap 10 km di check point saja. Dan selanjutnya-selanjutnya.

Ibarat perguruan Shaolin yang sudah meluluskan muridnya, maka tugas berikutnya berkelahi terus (ikut race). Karena dengan berkelahi akan mendapat banyak pengalaman, mental semakin kuat, dan selalu ingin menjajaki lawan yang lebih tangguh supaya mendapat ilmu yang lebih banyak lagi.

Setiap sebelum lomba, saya latihan fisik secara teratur dan sangat keras seperti berlari, bersepeda, dan berenang. Saya bisa berlatih 10 jam setiap hari selama berminggu-minggu jika menghadapi lomba yg sangat keras semisal Deca Ultra Triathlon atau Deca (10x) Ironman. Selain itu istirahat dan asupan gizi yang cukup dan teratur.

Lomba terberat yang pernah saya alami adalah Event 6633 Ultra 566 km, yaitu lomba lari di wilayah Alaska Kutub Utara dengan limit waktu 192 jam (8 hari). Mengapa berat dan keras, karena :

a. Udara sangat dingin -32 Celsius. Angin sangat kencang sehingga terasa seperti –50 Celsius. Kelembapan sangat rendah atau sangat kering.

b. Membawa beban makanan, minuman, bivy (tenda), sleeping bag, dan semua pakaian/jaket yang diperlukan serta perlengkapan survival lainnya seperti stove dan bahan bakar dll di dalam gerobak beroda (sledge) seberat 40 kg yang ditarik berlari/berjalan sejauh 566 km.

c. Cek poin berjumlah tujuh yang jaraknya rata-rata 80km.

d. Di setiap cek poin hanya diberi air minum saja di antaranya air panas di 4 cek poin saja.

e. Jika mengantuk ingin istirahat di salju kutub utara harus masuk dalam bivy dan sleeping bag.

Sehingga lomba lari ini “not just running but survival“.

Setelah finish saya tidak akan melakukan lomba yang sama di tempat yang sama. Saya sudah punya lomba ekstrem/endurance lainnya yang sudah menanti.

Saya juga tidak punya target, karena saya belum berpikir untuk berhenti. Semuanya saya lalui satu per satu bahkan sekaligus dua. Seperti tahun depan saya akan mengikuti lomba Transpyrenea 900 km dengan gain 56.000 m (di jalur pegunungan Pyrenees di perbatas Prancis- Spanyol). Mungkin ini setara dengan lari 2.000 km lebih di jalan raya tanggal 18 Juli-4 Agustus 2016. Dilanjut Deca Ultra Triathlon (Swim 38km – Bike 1.800 km – Run 420km) di Swiss pada 24 Agustus – 2 September.

Mungkin saja saya akan spontan mengikuti lomba lainnya. selain yang saya sebutkan ini. Saya menjalaninya seperti kehidupan yang mengalir.

Bagaimana cara saya menikmati hidup? Pada dasarnya saya mencintai kehidupan. Kita diciptakan Tuhan untuk beribadah. Dengan tuntunan ibadah, hidup kita akan bahagia baik dunia maupun akhirat. Kecintaan kita terhadap dunia tidak melupakan akhirat.

Baca Juga :

Marathon Sambil Berkeliling Dunia
Perjuangan Tim Basket Putri Indonesia dalam Mengharumkan Nama Bangsa
Mendampingi Penderita Kanker Payudara dengan Kasih