Sri Lestari: Menyebarkan Semangat untuk Mencintai Hidup Lewat Ribuan Kilometer di Atas Kursi Roda

sri lestari

“Di atas motor aku merasa bebas. Ini ironis. Karena sepeda motorlah yang merenggut kebebasanku.”

Kalimat itu meluncur dari mulut Sri Lestari, 42 tahun. Wanita asal Klaten ini mengalami paraplegia. Dalam dunia kedokteran, paraplegia merupakan kelumpuhan pada bagian bawah tubuh akibat cedera sumsum tulang belakang.

Baca juga: Satu Kaki Tak Cukup Hentikan Keinginan Sabar Gorky Capai Seven Summit

Menemui titik balik di kursi roda

Sri Lestari mengalami paraplegia sejak usia 23 tahun. Saat itu, dia membonceng motor saat melintasi kampung. Ketika berbelok di tikungan, pengendara motor itu membanting kemudi secara mendadak untuk menghindari truk. Sri pun terlempar. Saat tersadar, dia sudah berada di rumah sakit dengan kaki yang mati rasa.

Paraplegia yang dialaminya membuat Sri depresi. Selama hampir 10 tahun dia tak mau keluar rumah. Kegiatannya sehari-hari hanya membuat kristik. Dia masih mengingat bagaimana keluarganya harus membantu menggotong tubuhnya agar bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Pada 2007, hidupnya berubah. Dia menerima kursi roda dari UCP Wheels for Humanity, organisasi internasional yang mengadvokasi hak penyandang disabilitas di negara-negara berkembang. Tak hanya menerima bantuan, hati Sri pun tergugah untuk menjadi relawan kemanusiaan. Dia membantu sekolah anak tuna netra dan para korban gempa yang menjadi penyandang disabilitas.

Dia juga tergerak melihat temannya yang duduk di kursi roda bisa bepergian dengan motor roda tiga. Perlahan-lahan Sri menabung. Sampai akhirnya pada 2009 dia membeli motor. Sri pun memodifikasi sepeda motornya hingga berubah seperti saat ini. Sri kini menjadi anggota Tim Pelayanan di UCP Roda untuk Kemanusiaan yang berkerja di lapangan. “Motor inilah yang menjadi titik balik hidup saya,” kata Sri.

Meski lumpuh separuh badan, ia diterima menjadi pekerja sosial di UCP Wheels for Humanity. Dari atas motornya itu ia bergerak dari satu rumah ke rumah para penyandang difabel untuk mendata penderita cerebral palsy (CP). Sri pun memotivasi para penyandang difabel untuk semangat menjalani hidup.

Baca juga: Kisah Safrina, Penderita Cerebral Palsy yang Berjuang Meraih Mimpinya Lewat Pendidikan

Bersama Stevano Repi, sesama pengidap paraplegia.
Bersama Stevano Repi, sesama pengidap paraplegia.

Misi perjalanan inspirasi pun dimulai

Dengan tekad untuk meningkatkan kesadaran akan hak-hak kaum berkebutuhan khusus, akhirnya Sri melakukan misi perjalanan dengan nama “Perjalanan untuk Perubahan.” Perjalanan panjang itu dilakukan dengan motor roda tiganya. Tidak hanya sekali misi itu dia lakukan. Pada misi pertama, Sri mengendarai motor dari Yogyakarta menuju Malang.

Sedangkan pada misi kedua, Sri melakukan perjalanan Jakarta-Bali sejauh 1.200 kilometer. Perjalanan yang dimulai 9 Mei 2013 ini memakan waktu 20 hari. Sri sampai di Ubud, Bali pada 28 Mei 2013. Dia menjelajahi 21 kabupaten/kota di wilayah Pulau Jawa dan Bali.

Sepanjang perjalanan, Sri didampingi adiknya, Kabul Santosa, 40 tahun. Ada pula tim yang akan mengambil dokumentasi aktivitasnya selama perjalanan.

Terakhir, pada akhir 2015, Sri menempuh 1.871 kilometer menjelajahi Manado, Gorontalo, Palu, Poso, Rantepao, hingga Makassar dalam waktu 23 hari.

Dalam perjalanan menjelajahi Pulau Sulawesi, Sri bertemu sahabat penanya, Stevano Repi atau Vano. “Dulu saya setiap hari aktif bekerja dari pagi sampai malam. Namun sejak kecelakaan mobil satu setengah tahun lalu, saya tidak bisa apa-apa,” kata Vano kepada Sri.

Vano mengalami kecelakaan pada April 2014. Akibat musibah tersebut, dia sempat putus asa, tidak mau makan, marah-marah, bahkan ingin bunuh diri.

Dalam kunjungan tersebut, Sri mengajarkan Vano untuk ‘mandiri’. Salah satunya dengan mendorongnya mengendarai motor modifikasi untuk pertama kali. “Saya mengerti sekali bagaimana susahnya bangkit dari rasa putus asa. Saya dulu pun mengalaminya,” tulis Sri dalam blog perjalanannya.

“Ketika kembali ke rumah, saking terharunya Vano sampai menitikkan air mata. Ketika ditanya bagaimana rasanya bisa membawa motor lagi, Vano tidak bisa berkata-kata dan hanya mengacungkan dua jempol.”

Sri mengatakan bahwa dirinya adalah “contoh nyata bagaimana seorang difabel mampu berkembang dan mandiri” karena memperoleh hak atas akses dan didukung oleh lingkungan dan masyarakat. “Saya bermimpi, akan muncul difabel lain yang jauh lebih berpotensi dan mandiri.” Dan Sri yakin, mimpi itu bukanlah hal yang sulit dilakukan.

Baca kisah inspiratif lainnya di sini.




« | »
Read previous post:
7545579_L
4 Tes Kesehatan Mudah Yang Bisa Anda Lakukan di Rumah

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Itulah salah satu alasan pentingnya cek kesehatan bagi setiap orang. Maka tidak salah jika...

Close